3 Tempat Wisata di Bandung yang Melegenda


Tempat wisata di Bandung yang melegenda adalah julukan yang saya berikan untuk 3 tempat wisata yang memang sudah ada sedari dulu hingga kini. Berbagai lokasi wisata yang tetap lestari yang selalu menjadi tujuan wisata baik para wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Berkunjung ke tempat-tempat wisata ini selalu membawa cerita dan menjadi kenangan yang tak terlupakan dari dulu hingga kini.

Kawah putih 2

                      Sekeliling Kawah Putih

Kawah Putih

Kawah Putih adalah salah satu tempat wisata di Bandung yang Melegenda terutama karena keangkerannya. Konon Kawah di gunung Patuha ini adalah tempat bersemayamnya roh-roh halus para Prajurit Siliwangi yang sakti. Ketakutan masyarakat ternyata menyembunyikan kawah putih yang indah ini yang baru mulai terekspos setelah DR. Franz Wilhelm Junghuhn menemukan kawah indah ini di tahun 1837.

kawah putih 3

                           Kawah Putih

Cuaca yang dingin apalagi saat hujan atau mendung serta tajamnya bau belerang kalah dengan keindahan yang tersaji di kawah Putih ini. Siapapun Anda akan takjub dibuatnya. Hingga dulu, pertama kali saya melihat fotonya bahkan sempat terucap bahwa tempat ini seperti surga di dunia. Begitu menyaksikan dan merasakan sendiri berada di sana ketakjuban itu semakin bertambah dan saya bersyukur pernah singgah, melihat dan menikmati keindahan Kawah Putih yang berlokasi di Ciwideuy ini.

Kebun Teh

                            Kebun Teh

Situ Patenggang

Masih di Kawasan Ciwideuy, yang menurut saya masuk kategori tempat wisata yang melegenda di Kota Kembang, Kota kelahiran saya. Tidak hanya danaunya saja yang indah melainkan sepanjang perjalanan menuju lokasi ini. Deretan kebun teh dengan batu-batu besar alami di beberapa titik yang membuat pemandangan yang tak hanya menjadi lebih indah dan segar tapi juga eksotis.

Situ Patenggang

                          Situ Patenggang

Batu Cinta

                              Batu Cinta

Di tengah danau ini ada sebuah pulau kecil bernama Pulau Sasuka yang terkenal dengan batu cinta. Dinamakan batu cinta karena konon di batu itulah tempat bertemunya kembali Dewi Rengganis dan Ki santang setelah sekian lama terpisah. Airnya tiada lain adalah air yang berasal dari sungai Cirengganis yang konon adalah air mata keduanya karena perpisahan mereka. Mitosnya jika Anda dan pasangan berfoto di batu ini maka Cinta Anda dan pasangan akan menjadi cinta abadi.

tangkuban perahu

                          Kawah Ratu

Tangkuban Perahu

Kisah legenda tentang tangkuban perahu tentu sudah Anda ketahui. Bagaimana perahu yang ditendang oleh Purbasari yang marah karena anaknya Sangkuriang ingin memperistrinya. Kisah yang tidak hanya terkenal di Jawa barat tapi di seluruh Indonesia. Lokasinya yang berada di dataran tinggi lembang membuat lokasi wisata ini cukup dingin bahkan kabut seringkali terlihat jika udara sedikit mendung menjelang sore hari atau selepas dilanda hujan.

tangkuban perahu 2

               Gunung Tangkuban Perahu

Walaupun sempat dinyatakan siaga 1 beberapa kali namun kawasan wisata ini tetap menjadi salah satu lokasi wisata favorit di Lembang, dari dulu hingga kini. Itulah sebabnya saya memasukanya menjadi salah satu tempat wisata di Bandung yang melegenda. Di sini Anda akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan dari gunung tangkuban perahu lengkap dengan kawahnya yang tidak hanya terdapat di satu area tapi beberapa area.

Itulah 3 tempat wisata di Bandung yang melegenda yang harus Anda kunjungi jika Anda bertandang ke Bandung. Walaupun saat ini sudah banyak sekali lokasi wisata yang terdapat di bandung, 3 tempat wisata ini selalu menjadi juaranya. Lokasi wisata yang tak pernah sepi pengunjung yang menyediakan arena luas tak terbatas. Membuat Anda dan keluarga bisa menikmati keindahan ketiga tempat tersebut dengan leluasa, sepuasnya.***

Cara Merawat Rambut Rusak Karena Pewarnaan


Satu-satunya cara merawat rambut rusak yang saya tahu kala itu setelah mengalami kejadian ini. Makarizo hair Repair mask adalah salah satu produk dari Makarizo yang memperkenalkan saya dengan Brand ini. Perkenalan yang tidak disengaja karena dia ternyata telah menjadi penyelamat rambutku. Ceile segitunya… Iya, memang seperti itu keadaannya dan ini bukan rekayasa. Sayangnya foto-foto lama jaman itu sudah tertumpuk dan  saya tinggal di Bandung. Jadi saya tidak bisa memperlihatkan betapa mengkhawatirkannya rambut saya kala itu.

 

Akibatnya Tidak Punya Jati Diri

Kalau masalah jati diri, ya usia-usia itu untuk saya memang masih terlalu labil. Terutama untuk  masalah penampilan. Jujur, Ibu saya tidak pernah terlalu banyak mencampuri saya urusan ini. Karena beliau pikir saya sudah dewasa dan tahu mana yang baik untuk diri saya sendiri. Tapi pada kenyataannya tidak dengan ‘merawat rambut’ saya.

 

Sayapun terpengaruh untuk ikut trend diwarnai waktu itu. Pilihan saya blue black. Ini warna seingat saya nge-Hits banget jaman itu. Terbayang rambut hitam yang menjadi kebiruan saat terkena cahaya matahari. Itulah bayangan saya sebelum memutuskan untuk mengecat rambut saya. Sepupu sayalah yang menjadi biangnya. Sampai niat banget ngundang orang salon datang ke rumah kita hanya untuk bantuin warnain rambut kita. Hasilnya jadi deh, rambut blue black saya.

 

Akibat Diwarnai

Masalahpun muncul ketika warna rambut sudah mulai memudar dan rambut saya sudah mulai memanjang. U know What? Warna rambut saya jadi aneh. Bagian paling atas yang baru tumbuh terlihat lebih hitam karena warna asli rambut saya memang hitam. Lalu…warna Blue Black itu berubah menjadi kemerahan.

Rambut saya jadi terlihat kering dan kusam. Bercabang di mana-mana. Dan ini jelas membuat saya tidak percaya diri. Melihat rambut saya di cermin adalah salah satu aktivitas yang saya benci. Jadi kalau perlu seharian saya tidak pernah bercermin. Efeknya saya tampil seadanya, menyisir sekenanya, dan rambut yang paling saya suka rambut basah setelah keramas. Alasannya karena rambut basah itu menyembunyikan rambut kering dan kusam saya.

 

Akhirnya saya sadar, semua itu karena ulah saya mewarnai rambut saya. Padahal aslinya warna rambut saya tuh udah bagus. Hitam berkilau dari sananya ciptaan Tuhan. Tapi apa boleh buat, menyesal saja tidak ada gunanya. Namun ada satu kebiasaan baru saya yang bertambah. Kebiasaan itu adalah kebiasaan mengeluh tentang rambut saya ketika teman dekat saya waktu itu memandangi rambut saya.

 

Mengeluh dengan penyesalan dan sedikit pembelaan meyakinkannya bahwa rambut asli saya bukan seperti itu. Keluhan ini berulang kali saya ucapkan. Hingga dia jengah dan diam-diam mencarikan solusi untuk mengatasi kerusakan yang terjadi pada rambut saya. Hingga suatu hari dia memberikan saya Makarizo Hair Repair Mask.

Makarizo Hair Repair Mask

Penyelamat Rambutku

Saya pun akhirnya mencobanya dengan setengah tidak percaya akan khasiat dari produk ini. Dua hari sekali saya aplikasikan cream Makarizo Hair Repair Mask ini pada rambut saya yang mulai lembab setelah keramas. Didiamkan beberapa menit, selanjutnya dibilas. Terus saya lakukan hingga habis satu tube kemasan Makarizo Hari Repair Mask ini.

 

Alhamdulillah…rambut saya mulai menghalus sedikit demi sedikit. Hingga saya tidak pernah mengeluhkan rambut rusak saya lagi. Dari pengalaman ini saya tahu cara merawat rambut rusak yang seharusnya. Thanks god saya sudah diperkenalkan dengan Makarizo.***

Angelina oh Angelina…


Angelina yang Manis

Angelina

Angelina…Begitulah nama anak manis yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir hampir semua orang di Indonesia. Kematiaan anak 8 tahun ini menyisakan banyak teka teki yang membuat semua orang ingin berbicara mengenai kematiannya. Mulai dari penelantaran anak, ekploitasi anak, hingga perkara warisan. Ah, entahlah… Namun satu hal yang dapat kita cermati bahwa rupanya penelantaran anak bukanlah hal baru di Indonesia.

Penemuan 5 anak yang ditelantarkan orangtuanya di Bogor mulai menguak satu persatu kasus penelantaran ini. Hampir sama dengan pelecehan seksual pada anak yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Pemberitaan media membantu terangkatnya kasus ini. Alhasil semua kalangan menjadikan isu mengenai anak ini sesuatu yang memang menarik dan memerlukan perhatian.

Peran media dalam pemberitaan yang super duper dari kasus ini membuat hampir di setiap stasiun TV berisi berita yang sama seputar penelantaran anak ini. Permasalahan menjadi semakin terbuka. Setidaknya cukup membuka mata kita bahwa penelantaran anak memang selayaknya menjadi perhatian kita bersama.

Anak adalah anugerah yang diberi dari Sang Pencipta. Dia tidak sembarangan menumbuhkan janin dan membiarkannya tumbu dan berkembang di rahim seorang Ibu. Itulah sebabnya ada beberapa orang yang memiliki banyak anak sementara adapula yang tidak dikaruniai anak sama sekali. Penyebabnya banyak, mulai dari alasan kesehatan, organ reproduksi yang tidak berfungsi dengan baik, faktor kesuburan yang kurang, termasuk permasalahan yang kerap kali dialami oleh para suami yang divonis mandul.

Itulah sebabnya berbagai upaya tak jarang dilakukan oleh mereka yang sangat menginginkan memiliki momongan. Mulai dari cara yang tradisional hingga modern sekalipun. Bahkan yang sudah menggunakan teknologi canggih untuk mendapatkan momongan. Sejumlah uangpun digelontorkan demi mendapatkan keturunan.

Sebaliknya di sisi lain, tidak sedikit pula mereka yang sudah dikarunia anak justru malah menelantarkan anak mereka. Tidak mengurusi anak mereka dengan baik. Bahkan tak jarang mereka memperjual belikan anak mereka. Mulai dari menyewakan anak-anak mereka, mempekerjakan anak-anak mereka hingga ‘menjual’ anak mereka.

Eksploitasi Anak

Eksploitasi Anak

Entahlah, apa yang ada di kepala mereka. Sembilan bulan bukan waktu yang sebentar mengandung anak hingga mereka lahir ke dunia. Sembilan bulan bukan waktu yang tanpa perjuangan mengingat banyak hal yang terjadi pada masa-masa itu. Mulai dari perubahan bentuk tubuh sang Ibu, perubahan hormon yang ia alami hingga memiliki sensitifitas yang lebih dibandingkan biasanya. Hingga keluhan-keluhan lain yang seringkali dialami Ibu hamil.

Lalu setelah bayi itu lahir, tak jarang pula mereka hanya membesarkan alakadarnya lalu akhirnya mengekploitasinya. Bahkan bayi-bayi yang lahir ini hanya mereka jadikan komoditi. Seperti pabrikan yang memproduksi anak lalu kemudian mengkomersilkannya. Padahal janin yang tumbuh di rahim seorang ibu adalah titipan yang harus dijaga, dipelihara, dibesarkan, dididik hingga mereka mengerti mana yang baik dan mana yang buruk dalam kehidupan mereka. Dan semua itu akan dipertanggungjawabkan kelak.

Eksploitasi Anak

Eksploitasi Anak

Semoga kasus Angelina ini segera menemukan titik terang. Mereka yang bersalah dan patut diberi hukuman diberikan hukuman yang seberat-beratnya. Apalagi jika memang terbukti adanya ekploitasi hingga kekerasan seksual pada Angelina. Bocah lugu yang tak berdosa yang harus mengalami kegetiran ini.

Angelina…Mungkin ini cara Tuhan menyelamatkanmu. Memanggilmu lebih cepat walaupun dengan cara yang tidak beradab yang dilakukan manusia yang berotak iblis. Tapi mungkin kematian lebih baik bagimu dibandingkan engkau harus hidup dalam trauma dan pengalaman buruk masa lalu. Semoga engkau lebih bahagia di sana bersama-Nya. Menjadi salah satu malaikat kecil tanpa dosa yang mendapat tempat terbaik di sisinya***

Sumber gambar:

http://www.kanalwan.com; www.forumanakjakarta.blogspot.com; www.beritasatu.com

Ospek Kreatif, Gokil, dan Seru Versi Gue


Klo ditanya “Ospek Kreatif, Gokil dan Seru yang Ada di Pikiran Lo?” Dengan senang  hati akan gue jawab secara panjang x lebar. Soalnya gemes aja dengan ngelihat ospek-ospek yang ada di Indonesia saat ini. Setiap penerimaan mahasiswa baru, pasti ada aja berita tentang ospek yang enggak banget. Nah loh, penasaran kan ospek yang enggak banget yang kaya gimana?

Ospek yang enggak banget:

  • Ospek yang bikin capek setengah mati mahasiswa mahasiswinya. Ospek yang bikin calan Mahasiswa Baru (Maba) enggak tidur semaleman karena ngerjain tugas ospek semacam tas atau prakarya berbentuk aneh, atau mengukir sandal jepit berwarna tak lazim menjadi karya seni, dll yang besoknya harus udah jadi. Sementara pada hari itu MaBa baru pulang ospek jam 7 malam. Mana toko udah pada tutup jam segitu, belum lagi rumah yang jauh di pinggiran kota…pengalaman adik gue ini…kasian bgt deh mpe bikin dia nangis-nangis. #Hug
  • Ospek yang pake kata-kata kasar. Walau bagaimanapun MaBa juga manusia maka seyogyanya diperlakukan sebagai manusia tentunya dengan prikemanusiaan. Jadi kampungan banget kalau ada Senior yang marah-marah pake kata-kata kasar. Apalagi sampai bawa semua penghuni kebun binatang. Sekalian aja jadi penjaga marga satwa Mas!
  • Ospek yang ada acara-acara senior melecehkan juniornya. Pelecehan apapun alasannya sangat tidak dibenarkan. Bulying itu menyakitkan dan enggak banget tau!! Apalagi sampai bikin Maba Trauma enggak mau kuliah karena malu, atau takut sama Senior. Nah Loh? Padahal orangtuanya udah keluar duit banyak banget buat daftarin anaknya masuk ke kampus itu. Belum lagi usaha dia mati-matiaan buat bisa diterima di universitas tersebut. Bisa kalian bayangkan bagaimana tragisnya sisa hidup mahasiswa atau mahasiswi baru ini? Oh my goodness….
  • Ospek yang enggak masuk akal. Enggak masuk akal karena harus bawa sesuatu yang emang sebenernya enggak ada alias akal-akalan aja biar Senior bisa marah-marah dan mencaci maki juniornya karena dianggap eggak becus.
  • Ospek yang buang-buang duit. Buat masuk kuliah aja udah muahal banget sekarang. Dan percaya deh, dari tahun ke tahun selalu naik. Enggak yang negeri apalagi yang swasta. Apalagi kalau ditambah biaya Ospek dan berbagai keperluannya yang sampai beratus-ratus ribu. Kasian sih mereka yang enggak mampu. Masa gara-gara Ospek jadinya mereka enggak bisa jadi Mahasiswa Baru?
  • Ospek yang penuh dengan kekerasan. Ini juga udah enggak jaman keless… Sekalipun dengan alasan menguji mental dan fisik MaBa. Enak aja Senior nyiksa-nyiksa Junior. Apalagi sampai berdarah-darah atau bahkan berakhir dengan kematian. Hey, mahasiswa itu bukan Algojo! Kalian berpendidikan, kok masih musim pake kekerasan. Please deh….

Nah, dari beberapa poin yang tadi kita bahas, tentunya kita bisa ambil kesimpulan Ospek seperti apa yang Kreatif, Gokil dan Seru versi Gue. Tentunya yang pertama adalah dengan tidak adanya unsur-unsur yang terdapat pada poin-poin yang udah gue sebutin di atas.

Ospek Versi Gue

Ospek Versi Gue

Ospek dilakukan sesuai dengan tujuannya yaitu sebagai Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Saat Ospek adalah saatnya mahasiswa baru dikenalkan pada berbagai hal yang menyangkut kampusnya. Mulai dari mengenal semua sudut-sudut kampus serta kegunaannya. Kalau perlu dikenalkan dengan semua staf-stafnya. Jadi pas udah kuliah nanti mereka enggak canggung lagi untuk mengurus ini itu.

Dikasih tahu juga ruangan-ruangan dan berbagai fasilitas yang disediakan oleh kampus yang bisa mereka gunakan. Pun prosedur untuk menggunakannya. Biar mereka enggak katro ketika akan mempergunakan berbagai fasilitas kampus tersebut. Selain itu juga pada berbagai kegiatan yang ada di kampus. Tujuannya untuk memberi gambaran sejelas-jelasnya tentang bagaimana perkuliahan akan berlangsung, seperti apa dosen-dosennya, tugas-tugasnya, dll. Sekali lagi ini bukan untuk menakut-nakuti ya, tapi untuk memberi gambaran yang jelas. Jadi tolong jangan diperbuas ya…

Dengan begitu para mahasiswa baru ini tahu pasti apa yang harus mereka rencanakan dari awal kuliah hingga akhirnya mereka bisa lulus dengan baik dari kampus tersebut. Rencana yang matang tentu akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik pula dibandingkan yang setengah matang bukan? Mereka tahu mata kuliah apa saja yang akan mereka pelajari serta tahapan-tahapan yang harus mereka lalui untuk bisa lulus dan memperoleh gelar tertentu seperti apa yang mereka atau orang tua mereka cita-citakan.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan. Saat Ospek adalah saat mereka menjajaki universitas tempat mereka akan menuntut ilmu. Tempat mereka akan didewasakan terutama dalam pola pikir. Itulah sebabnya Ospek juga menjadi ajang untuk menananmkan rasa kecintaan dan kebanggaan kepada para Mahasiswa Baru akan Universitas tempatnya menuntut ilmu termasuk para seniornya. Dengan begitu segala hal yang ia lakukan kelak tentunya mampu ia pertanggungjawabkan. Selalu menjaga nama baik kampus kebanggaannya dengan bertindak baik dan benar sesuai dengan visi misi universitas pilihannya itu.

Semua itu diracik panitia ke dalam rangkaian acara Ospek yang menyenangkan. Tidak hanya bagi Senior tapi juga bagi Junior yang menjadi pesertanya. Jadi sekalipun tujuannya serius semua dilakukan dengan santai dan kekeluargaan. Banyak permainan ataupun kegiatan yang bisa diadaptasi baik dari dalam maupun luar negeri untuk dijadikan sebagai rangkaian acara ospek. Tentunya dengan sasaran yang diinginkan. Mulai dari tim building, kepemimpinan, kemandirian, loyalitas, mentalitas tinggi, dll.

Kalau sudah begini semua mahasiswa baik senior maupin junior, serta pihak universitas tentu bisa bersinergi untuk memajukan almamaternya. Selain itu semua pihak turut serta menjadi agen perubahan universitas tersebut ke arah yang lebih baik. Hasil akhirnya tentu lulusan universitas tersebut yang memiliki kualitas yang baik yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa, dan para calon pemimpin bangsa yanga kan membawa bangsa kita menjadi bangsa yang lebih baik lagi. Karena walau bagaimanapun pendidikan adalah salah satu tonggak kemajuan suatu bangsa.

That’s all…Ospek kreatif, gokil, dan seru versi gue. Setidaknya menjadi Ospek ideal yang ada di angan-angan gue. Jadi kalau suatu saat gue punya universitas maka ospek yang seperti ini yang akan gue terapkan di Kampus Gue. Ayo siapa yang mau daftar? Huahahahahah….#ngimpi.***

GIVE-AWAY-banner

Biarkan Menjadi Kejutan Idul Fitri


Sesuai rencana, sebelum kami pindah dari Bandung, aku dan suami berencana memiliki anak ke-2. Alasannya tentu karena anaku yang pertama Raqilla sudah hampir 5 tahun dan sudah meminta adik untuk menjadi temannya. Pun aku yang tak mau hamil di usia tua. Alasannya tentu karena semuanya terpikir akan begitu berat untuku. Dengan kondisi kesehatanku, pun dengan masa depannya kelak. Jadi kupikir usia 32 adalah saat yang tepat untuk memiliki anak ke-2.

Dari awal menikah kami sangat menginginkan anak laki-laki sebagai anak pertama, sekaligus cucu laki-laki pertama untuk oma, abah, eyang uti dan eyang kakungnya. Menurutku dan suamiku sudah seharusnya anak pertama itu laki-laki. Itu karena pengalaman kami sebelumnya. Aku sebagai anak perempuan yang merasa terlalu berat harus menjadi yang pertama dalam segala hal. Pun untuk suamiku yang merasa seringkali tidak didengar aspirasinya sebagai anak bungsu.

Tapi bukan itu poin pentingnya, kami hanya ingin merencanakan sesuatu yang kami pikir akan lebih baik untuk masa depan anak-anak kami. Tapi ternyata anak pertama kami lahir berjenis kelamin perempuan. Kami sudah tahu dari USG pada minggu ke-20. Seiring berjalannya waktu kami pun berangsur menerima dan mencari pembenaran di balik kenyataan yang kami dapat bahwa calon anak pertama kami seorang perempuan.

“Enggak apa-apa ya yang, anak perempuan juga bisa jadi kakak yang baik buat adik-adiknya. Bisa mandiri, bisa menjadi pembimbing buat adik-adiknya. Dan yang pasti dia bisa berperan sebagai Ibu untuk adik-adiknya kelak.”

“Iya yg” Kata suamiku membenarkan sambil memeluku dan calon bayi pertama kami di perutku.

k2k4k7

Sejak itu pula kami memanggilnya kakak. Berharap Ia bisa menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya kelak. Berperan sebagai kakak yang sesungguhnya. Sosok anak pertama yang kami dan adik-adiknya butuhkan kelak. Akhirnya ia lahir sesuai dengan keinginan kami di tanggal cantik 8-9-10 (8 September 2010) dengan kelahiran spontan pukul 05:55.

Untuk kehamilanku yang ke-2 kamipun berencana untuk memiliki anak laki-laki. Maksud hati agar anak kami cukup sepasang saja sesuai dengan anjuran pemerintah. Setelah ini tugas kami selanjutnya yaitu untuk membesarkan mereka dan menjadikan mereka anak yang shaleh dan shalehah. Berpendidikan dan berperangai yang baik serta bisa melindungi dan bertanggung jawab setidaknya untuk diri mereka sendiri.

Berbagai artikel kami baca untuk memperogram anak ke-2.Kamipun mencoba untuk megatur asupan kami selema merencanakan kehamilan ke-2. Namun apa boleh buat, kondisi kami yang tidak tingga serumah tidak memungkinkan untuk mengatur menu makanan yang akan kami santap setiap harinya. Usaha lainnya yaitu dengan menentukan kapan saat yang tepat untuk membiarkan pembuahan itu terjadi. Mulai dari kalender china hingga kalkulator masa subur kami pelajari. Namun ternyata hal inipun terlampau sulit untuk kami. Lagi-lagu kondisi kami yang tinggal berjauhan seringkali membuat kami melanggarnya.

Akhirnya kamipun pasrah. Hanya satu harapanku yaitu Yang Kuasa yang berkuasa menentukan takdir untuk kami. Ia yang menentukan anak ke-2 kami ini laki-laki atau perempuan. Sampai sekarang, saat usia kehamilanku sudah menginjak 28 minggu aku masih tetap berdoa dan berharap agar janin yang ada di rahimku ini laki-laki. Tapi kini doaku hanya di dalam hati saja karena aku tahu calon bayiku sudah bisa mendengar apa yang aku ucapkan. Setiap shalat malam atau sehabis shalat wajib aku selalu megelus perutku yang semakin membuncit dan menyampaikan permintaanku Pada Yang Maha Kuasa.

Aku dan Raqilla anak Pertamaku

Aku dan Raqilla anak Pertamaku

Kini kelahirannya semakin dekat. Alhamdulillah Allah memperkenanku bertemu dengan Ramadhan sebelum kelahirannya. Bulan suci ini akan menjadi tumpuan terakhirku untuk berdoa. Dengan permintaan yang sama. Setelah itu tinggal menunggu hari keahirannya yang diperkirakan akan jatuh pada hari Jumat, tangga 31-Juli-2015. Dimana takdir itu akan benar-benar nyata. Dan kami tidak ingin tahu atau menebak-nebak lagi apa jenis kelaminnya.

Biarkan semuanya jadi rahasia Allah sampai tiba saatnya ia memberikan kami sebuah kejutan  setelah kami merayakan hari raya Idul Fitri. Namun apapun kejutan yang tiada lain adalah takdir yang akan kami terima kelak kami sudah berjanji kami akan menerimanya dengan berlapang hati. Kami tahu, Dia memiliki rencana terbaik untuk kami. Perempuan ataupun laki-laki nantinya anak ke-2 kami, kami akan tetap mencintai dan menyayanginya sepenuh hati. Mendidik dan membesarkannya agar menjadi anak yang shaleh atau shalelhah. Sampai bertemu nanti nak, sehat selalu ya…Ayah dan Bunda menunggumu sebagai kejutan di penghujung Idul Fitri nanti.***

Tulisan ini diikutsertakan ke dalam Pregnancy Story Writing Competition

nuk ok

Saya Hanya Wanita Biasa


Ya, saya haya wanita biasa seperti wanita kebanyakan yang seringkali meneteskan air mata ketika saya sedih atau kecewa. Saya juga seringkali terpancing emosi ketika seseorang bertindak tidak sesuai dengan hati saya. Apalagi saat sedang mengandung anak ke 2 saya. Saya merasa perasaan saya jauh lebih peka dari biasanya.

Bahkan jika dihitung mungkin sudah tidak terhitung lagi berapa kali air bening yang berasa asin ini menetes membasahi kedua kelopak mata saya. Terus mengalir hingga membasahi pipi saya. Membuat seringkali mata saya membengkak pada pagi harinya.

Penyebabnya macam-macam…dari mulai sakit gigi, tidak nyaman dengan kondisi hormon yang labil, berbagai masalah-masalah sepele, dan tek tek bengek lainnya yang semuanya tetap berada dalam satu benang merah yaitu perasaan.

Terutama berbagai perasaan yang menyentuh hati saya sebagai wanita biasa. Ada kalanya diri ini ingin segala sesuatu berjalan dengan indahnya. Seperti pelangi atau hamparan laut biru yang menyatu dengan awan yang menjadi pemandangan kesukaan saya. Tapi hey, itu tidak mungkin. Dunia tidak bisa sesempurna apa yang kau bayangkan. Kenyataan tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Bahkan tak berharap apapun seringkali yang didapat adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hati.

Sebagai wanita biasa yang sedang mengandung saya merasa menjadi orang yang seringkali melankolis. Selalu saja ada sisi yang membuat perasaan saya tersentuh hingga membuat saya menitikan air mata. Sampai seringkali saya katakan pada diri sendiri ‘ya ampun…cengeng banget sih kamu!’ Tapi ya begitulah…sekuat apapun saya mencoba untuk tidak menangis pada akhirnya selalu berujung dengan berurai air mata.

Sampai mereka bilang saya lebay…tapi begitulah yang terjadi. Seandainya mereka mengerti dan berada di posisi saya yang hanya wanita biasa yang sedang hamil ini saya yakin mereka pasti mengerti. So, mereka akan membuat saya selalu merasa aman, nyaman, dipenuhi dengan kasih sayang, perhatian, cinta, kehangatan, dll… Intinya makes me happy dah.

Tapi itu hanya mimpi di siang bolong ternyata. Yang terjadi justru sebaliknya.. Saya lebih banyak menitikan air mata dibandingkan tertawa. Atau setidaknya tersenyum bahagia.

Tapi sudahlah… Percuma mimpi di siang bolong. Yang harus saya lakukan adalah menyenangkan diri saya sendiri. Agar semua perasaan yang membuat saya berurai air mata itu bisa pergi dengan sendirinya. Seperti butiran debu yang hilang sirna oleh hujan yang sangat deras. Ayo wanita biasa, jadilah bahagia demi janin yang ada di rahimmu!

Mak Nyai, Ibu yang Bukan Ibu Kandungku


Ibu yang bukan Ibu kandung? Tadinya mau ikut posting serentak KEB, tapi tahunya salah tema ya…hahaha…Ya sudah gpp, Lanjut…

Jika berbicara tentang Ibu yang bukan Ibu kandung salah satu nama yang langsung terbersit di pikiranku tentu Mak.Nyai. Pengasuhku dari waktu aku masih bayi. Sesudah aku besarpun perilakunya tak ubah seperti seorang Ibu pada anaknya. Dia masih sering memeluk dan menciumiku bahkan setelah aku mempunyai seorang putri.

Beberapa minggu setelah kelahirku, Ibuku harus bekerja kembali karena cuti melahirkannya sudah habis. Maklum, Ibuku cuti lebih awal karena perintah bosnya mengingat usia Ibuku yang masih kecil, badan mungil dan perutnya yang semakin membesar. Ini membuat bosnya khawatir dan memerintahkan Ibuku untuk mengambil cuti lebih cepat dari seharusnya. Hasilnya setelah melahirkan justru waktu bersama saya, anaknya semakin sempit lagi.

Mak.Nyai-lah yang menjadi harapan Ibu saya untuk bisa menjagaku selama ia bekerja. Setelah menikah bertahun-tahun ia dan suaminya memang masih belum juga dianugerahi keturunan. Itulah yang membuatnya begitu cinta dengan anak-anak. Bahkan ia pun akhirnya ‘mengadopsi’ anak. Tentu dengan tetap membiarkan anak tersebut mengenal dan seringkali bertemu dengan orang tuanya.

Aku dalam pengasuhannya hingga berumur 4 tahun-an. Ketika aku sudah masuk TK dan uwa yang tinggal serumah denganku berkepentingan yang mengharuskannya meninggalkankupun seringkali masih menitipku padanya. Hingga akhirnya aku tahu bahwa meskipun ia bukan Ibu kandungku tapi semua yang ia lakukan sudah cukup membuatku merasa ia seperti Ibu kandungku sendiri bahkan lebih.

Dia yang mengurusi urusan minum susu, bubur, sakit hingga sehatku, hingga imunisasiku. Salah satu treatmen kesehatan yang justru dibenci Ibuku karena akan membuatnya kelelahan akibat kerewelanku menahan benda asing yang masuk ke tubuhku. Ini tentu membuat insentisitas istirahatnya terganggu sementara besok paginya Ibuku harus bekerja lagi. Tapi karena Emak Nyai ingin aku sehat, maka ia tidak pernah menghiraukan permintaan Ibuku untuk tidak memberikan imunisasi padaku. Ia tetap saya membawaku ke Posyandu dan memberi imunisasi untuku hingga lengkap.

Begitulah sosok Mak.Nyai, Ibu yang bukan Ibu kandungku ini. Dia mencurahkan segenap kasih sayangnya untuku padahal aku bukan anak yang terlahir dari rahimnya. Ia tak lelah untuk menjagaiku bahkan tanpa digaji sekalipun. Baginya mengasuh anak-anak, termasuk aku adalah salah satu pekerjaan yang dicintainya. Karena ia tahu, bahwa hanya anak-anaklah yang benar-benar bisa merasakan tulusnya perasaan cinta begitupun ketika mereka bisa mencintai dengan tanpa syarat pula.

Setiap bertemu tak lupa untuk selalu kupeluk. Ia pun tak bosan untuk mengelusku sambil membisikan doa-doa tulusnya untuku. “Amin” Kata-kata itu yang selalu kulontarkan setiap ia mendoakanku. Semoga doa-doa Ibu yang bukan Ibu kandungku ini dikabulkan Allah Begitupun doaku untuknya.

mothers day

Ibu…Selamat hari Ibu. Walaupun engkau tak pernah mengandung, melahirkan bayi-bayi mungil dari rahimmu engkau tetaplah seorang Ibu untuku. Semoga engkau selalu diberi kesehatan, panjang umur, selalu diberi berkah dan keselamatan dari Allah. Hatimu selalu dipenuhi kehangatan dari orang-orang engkau sayangi dan menyayangimu.

Terima kasih telah menyayangi aku, menjagaku, melakukan tugas yang seharusnya dilakukan Ibu kandungku dengan baik. Bahkan engkau sudah siap mengorbankan jiwamu untuk menyelamatkanku ketika api hampir melalap habis tubuh mungilku dulu. Terima kasih Ibu…Bagiku engkau tetaplah Ibu walaupun bukan Ibu kandungku.***