Saya Hanya Wanita Biasa

Ya, saya haya wanita biasa seperti wanita kebanyakan yang seringkali meneteskan air mata ketika saya sedih atau kecewa. Saya juga seringkali terpancing emosi ketika seseorang bertindak tidak sesuai dengan hati saya. Apalagi saat sedang mengandung anak ke 2 saya. Saya merasa perasaan saya jauh lebih peka dari biasanya.

Bahkan jika dihitung mungkin sudah tidak terhitung lagi berapa kali air bening yang berasa asin ini menetes membasahi kedua kelopak mata saya. Terus mengalir hingga membasahi pipi saya. Membuat seringkali mata saya membengkak pada pagi harinya.

Penyebabnya macam-macam…dari mulai sakit gigi, tidak nyaman dengan kondisi hormon yang labil, berbagai masalah-masalah sepele, dan tek tek bengek lainnya yang semuanya tetap berada dalam satu benang merah yaitu perasaan.

Terutama berbagai perasaan yang menyentuh hati saya sebagai wanita biasa. Ada kalanya diri ini ingin segala sesuatu berjalan dengan indahnya. Seperti pelangi atau hamparan laut biru yang menyatu dengan awan yang menjadi pemandangan kesukaan saya. Tapi hey, itu tidak mungkin. Dunia tidak bisa sesempurna apa yang kau bayangkan. Kenyataan tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Bahkan tak berharap apapun seringkali yang didapat adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hati.

Sebagai wanita biasa yang sedang mengandung saya merasa menjadi orang yang seringkali melankolis. Selalu saja ada sisi yang membuat perasaan saya tersentuh hingga membuat saya menitikan air mata. Sampai seringkali saya katakan pada diri sendiri ‘ya ampun…cengeng banget sih kamu!’ Tapi ya begitulah…sekuat apapun saya mencoba untuk tidak menangis pada akhirnya selalu berujung dengan berurai air mata.

Sampai mereka bilang saya lebay…tapi begitulah yang terjadi. Seandainya mereka mengerti dan berada di posisi saya yang hanya wanita biasa yang sedang hamil ini saya yakin mereka pasti mengerti. So, mereka akan membuat saya selalu merasa aman, nyaman, dipenuhi dengan kasih sayang, perhatian, cinta, kehangatan, dll… Intinya makes me happy dah.

Tapi itu hanya mimpi di siang bolong ternyata. Yang terjadi justru sebaliknya.. Saya lebih banyak menitikan air mata dibandingkan tertawa. Atau setidaknya tersenyum bahagia.

Tapi sudahlah… Percuma mimpi di siang bolong. Yang harus saya lakukan adalah menyenangkan diri saya sendiri. Agar semua perasaan yang membuat saya berurai air mata itu bisa pergi dengan sendirinya. Seperti butiran debu yang hilang sirna oleh hujan yang sangat deras. Ayo wanita biasa, jadilah bahagia demi janin yang ada di rahimmu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s