Mak Nyai, Ibu yang Bukan Ibu Kandungku

Ibu yang bukan Ibu kandung? Tadinya mau ikut posting serentak KEB, tapi tahunya salah tema ya…hahaha…Ya sudah gpp, Lanjut…

Jika berbicara tentang Ibu yang bukan Ibu kandung salah satu nama yang langsung terbersit di pikiranku tentu Mak.Nyai. Pengasuhku dari waktu aku masih bayi. Sesudah aku besarpun perilakunya tak ubah seperti seorang Ibu pada anaknya. Dia masih sering memeluk dan menciumiku bahkan setelah aku mempunyai seorang putri.

Beberapa minggu setelah kelahirku, Ibuku harus bekerja kembali karena cuti melahirkannya sudah habis. Maklum, Ibuku cuti lebih awal karena perintah bosnya mengingat usia Ibuku yang masih kecil, badan mungil dan perutnya yang semakin membesar. Ini membuat bosnya khawatir dan memerintahkan Ibuku untuk mengambil cuti lebih cepat dari seharusnya. Hasilnya setelah melahirkan justru waktu bersama saya, anaknya semakin sempit lagi.

Mak.Nyai-lah yang menjadi harapan Ibu saya untuk bisa menjagaku selama ia bekerja. Setelah menikah bertahun-tahun ia dan suaminya memang masih belum juga dianugerahi keturunan. Itulah yang membuatnya begitu cinta dengan anak-anak. Bahkan ia pun akhirnya ‘mengadopsi’ anak. Tentu dengan tetap membiarkan anak tersebut mengenal dan seringkali bertemu dengan orang tuanya.

Aku dalam pengasuhannya hingga berumur 4 tahun-an. Ketika aku sudah masuk TK dan uwa yang tinggal serumah denganku berkepentingan yang mengharuskannya meninggalkankupun seringkali masih menitipku padanya. Hingga akhirnya aku tahu bahwa meskipun ia bukan Ibu kandungku tapi semua yang ia lakukan sudah cukup membuatku merasa ia seperti Ibu kandungku sendiri bahkan lebih.

Dia yang mengurusi urusan minum susu, bubur, sakit hingga sehatku, hingga imunisasiku. Salah satu treatmen kesehatan yang justru dibenci Ibuku karena akan membuatnya kelelahan akibat kerewelanku menahan benda asing yang masuk ke tubuhku. Ini tentu membuat insentisitas istirahatnya terganggu sementara besok paginya Ibuku harus bekerja lagi. Tapi karena Emak Nyai ingin aku sehat, maka ia tidak pernah menghiraukan permintaan Ibuku untuk tidak memberikan imunisasi padaku. Ia tetap saya membawaku ke Posyandu dan memberi imunisasi untuku hingga lengkap.

Begitulah sosok Mak.Nyai, Ibu yang bukan Ibu kandungku ini. Dia mencurahkan segenap kasih sayangnya untuku padahal aku bukan anak yang terlahir dari rahimnya. Ia tak lelah untuk menjagaiku bahkan tanpa digaji sekalipun. Baginya mengasuh anak-anak, termasuk aku adalah salah satu pekerjaan yang dicintainya. Karena ia tahu, bahwa hanya anak-anaklah yang benar-benar bisa merasakan tulusnya perasaan cinta begitupun ketika mereka bisa mencintai dengan tanpa syarat pula.

Setiap bertemu tak lupa untuk selalu kupeluk. Ia pun tak bosan untuk mengelusku sambil membisikan doa-doa tulusnya untuku. “Amin” Kata-kata itu yang selalu kulontarkan setiap ia mendoakanku. Semoga doa-doa Ibu yang bukan Ibu kandungku ini dikabulkan Allah Begitupun doaku untuknya.

mothers day

Ibu…Selamat hari Ibu. Walaupun engkau tak pernah mengandung, melahirkan bayi-bayi mungil dari rahimmu engkau tetaplah seorang Ibu untuku. Semoga engkau selalu diberi kesehatan, panjang umur, selalu diberi berkah dan keselamatan dari Allah. Hatimu selalu dipenuhi kehangatan dari orang-orang engkau sayangi dan menyayangimu.

Terima kasih telah menyayangi aku, menjagaku, melakukan tugas yang seharusnya dilakukan Ibu kandungku dengan baik. Bahkan engkau sudah siap mengorbankan jiwamu untuk menyelamatkanku ketika api hampir melalap habis tubuh mungilku dulu. Terima kasih Ibu…Bagiku engkau tetaplah Ibu walaupun bukan Ibu kandungku.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s