Gigi dan Mengantri


Tadinya biar lebih deket aku memutuskan untuk ke Puskesmas buat tambal gigi atau cabut lah parah-parahnya, daripada keriesku selalu bikin ribed. Minggu lalu aku pergi ke sana. Dengan sedikit berbasa basi akhirnya dokter memeriksa gigiku.

“Wah besar ya lubangnya”

“Iya Dok, itu awalnya karena kemasukan biji jambu batu, baru ketahuan beberapa minggu yang lalu karena saya merasa di bagian itu agak aneh rasanya setiap ngegigit. Saya congkel pake tusuk gigi, akhirnya keluar juga tuh si biji jambu.”

Tapi rupanya dokter tidak tertarik dengan ceritaku, padahal ceritanya cukup dramatis karena dari sebuah biji jambu batu itu menyisakan lubang besar itu di gusi kiriku. Sakitnya baru terasa kalau secara tidak sengaja makananku masuk ke lubang itu. Nyut! Rasanya…Sakit sekali. Setelah aku korek makanan itu keluar nyut nyut an nya mulai berkurang. Dan baru pergi kira-kira 5-10 menit. Setelah itu biasa lagi.

Gara-gara lubang ini, aku harus sedia ‘dongkrak’ ke manapun aku pergi. Kalau enggak, bisa fatal akibatnya. Dokter mengoleh-olehiku dua buah jenis obat untuk aku makan. Biasanya sih gitu, maksudnya biar ga sakit dulu, baru ditambal atau dicabut pada pemeriksaan selanjutnya. Jadi, tanpa banyak komentar akupun pulang dengan optimis dan puas karena tidak lama lagi lubang gigiku ini akan segera sirna dan aku bisa bebas dari dongkrak atau rasa nyut-nyut an itu.

Obat pun habis, karena keesokan harinya Sabtu, aku memutuskan untuk pergi ke puskesmas itu lagi hari Senin, minggu berikutnya karena  setahuku Puskesmas tutup hari Sabtu. Karena banyak yang aku urus karena baru saja pergantian pengasuh, maka aku pun agak siang pergi ke Puskesmas. Pembantu lama menyisakan banyak sekali pekerjaan untukku sebelum pengunduran dirinya. Tapi masih tersisa sedikit harap karena biasanya jam 12:00 baru tutup atau istirahat.

Aku pun pergi ke puskesmas. Ternyata sudah sepi. Di ruang tunggu hanya ada bapak-bapak yang sedang duduk. Lalu ku tanya dengan bahasa Sunda.

“Tos tutup kitu Pak?”

(Udah tutup gitu pak?)

“Duka, Cobi taroskeun ka lebeut.”

(Enggak tahu, coba tanya ke dalam.)

Jawabnya sambil menunjuk ke arah ruang pendaftaran yang di dalamnya ada sekitar 4-6 orang Ibu-ibu berseragam PNS yang sedang mengobrol seru.

“Ibu, udah tutup? Mau ke Poli gigi.”

“Oh udah Neng, no antriannya udah abis, sehari dijatah cuma sampai 200 nomor. Besok aja datang lagi”

Katanya ingin segera meng-close pembicaraan dengan ku.

“Oh. Gitu, soalnya kemaren disuruh ke sini lagi kalau udah abis obat.”

“Iya, kenapa atuh bukan tadi pagi.”

Hmm..iya sih, jam 11 udah siang. Aku pun mengalah dan akhirnya pulang ke rumah dengan sedikit kecewa. Namun, dalam hati semakin mengukuhkan diri kalau besok, aku harus datang lebih pagi. Aku sudah tidak sabar ingin segera mengakhiri deritaku dengan gigi berlubangku.

Keesokan harinya akupun bersiap sedari pagi. Bangun pagi-pagi membereskan semua pekerjaan rumah di pagi hari. Jam 09:30 aku pun ke puskesmas untuk yang ke tiga kalinya. Wow…ramai sekali. Berbeda dengan dua hari sebelumnya ketika aku ke sana. Di loket kali ini aku harus mengantri, dibuatkan buku dan kartu juga hingga harus membayar 2000 lebih mahal dari sebelumnya.

Seperti biasa, ada ibu-ibu yang menyerobot. Heran ya, di daerah tuh budaya ngantri kayaknya memang tidak berlaku. Ini mengingatkanku pada pengalamku ketika seorang teman menikah di Tasik. Kebetulan acaranya dilaksanakan di gedung. Formatnya standing party, sehingga membuat kita harus mengantri untuk mendapatkan makanan atau snack-snack yang ada di beberapa stand yang disediakan.

Aku dan temanku sudah mengantri cukup lama, datanglah seorang Ibu-Ibu dan temannya, langsung menyerobot, dan MMh…bau badannya itu loh…Bikin aku sampai batuk-batuk. Udah nyerobot, ngasih racun pula…Jadi pengen ngasih Rexona deh ke si Ibu itu. Tapi niatku ku batalkan, soalnya aku gak tahu haru beliin c.Ibu Rexona di mana di deket gedung itu.hehe..

Enggak hanya itu aja, di kantor pos juga sama. Ini kejadiannya setelah aku pulang dari Puskesmas yang  pertama. Aku mau bayar beberapa tagihan, sekalian masukin uang ke dompet isi ulangku di sana. Sedang anteng-antengnya ngantri, eh…tiba-tiba Ibu-Ibu heboh datang dengan dua orang temannya. Tapi kali ini aku gak mau ngalah, soalnya lagi butuh cepet pulang. Solanya sendal ku putus sebelah di tempat parkir kantor  Pos, jadi harus cepat pulang.

Heran ya, padahal aku juga Ibu-Ibu, (walaupun baru) tapi aku mau kok ngantri, dan aku berjanji, untuk mau mengantri di mana pun yang memang mengharuskan aku mengantri. Ini kan untuk kemudahan kita juga. Kalau antriannya lancar, urusan pun akan cepat dibereskan. Kalau kaya gitu kan semua senang, semua bahagia. Kalau datangnya lebih akhir, ya sabar aja. Suruh siapa datangnya telat?

Kembali ke Puskesmas, setelah dapat buku dan kartu akupun masuk ke poli Gigi. Langsung masuk karena rupanya kurang peminatnya. Dengan sedikit kata pengantar mengingatkan Bu.Dokter bahwa obatku sudah habis dan Ia menyuruhku kembali menemuinya kalau obatnya sudah habis. Dokter pun mempersilahkan aku duduk untuk diperiksa.

“Gimana dok?”

“Harus dikasih obat lagi, nanti kalau udah abis ditambal atau dicabut giginya, tapi harus ke rumah sakit.”

Aku langsung diam. Heran, Aku pikir hari ini aku ke sana untuk ditambal atau dicabut gigi, eh taunya..dikasih obat lagi…10 rb perak mending aku beliin ponstan aja deket rumah klo sakit gigi lagi, jauh lebih efisien. Terus aku mikir, kebanyakan masalah gigi di Indonesia tuh pasti karies. Masalah itu tuh pasti akhirnya jalan keluarnya kalau enggak ditambal ya dicabut gigi. Biar ga penasaran aku tanya aja alasannya.

“Soalnya engga ada alatnya, kursinya enggak bisa di naik turunin.”

Jawab sang dokter.

Jadi intinya dari penjelasan Sang Dokter, di Puskesmas tempatnya bertugas enggak bisa cabut gigi tetap dewasa, tambal gigi juga enggak bisa, kecuali anak-anak.

“Terus ngapain aku di suruh ke sini lagi kalau cuma buat di kasih obat lagi?” Tanyaku dalam hati.

“Kerjaan dia apa di sini?” “Mau makan gaji buta aja?” Kelaut aja deh Bu……

Sekarang aku jadi tahu kalau ternyata Puskesmas itu ya layanan seadanya, klo engga bisa ya di Rumah Sakit/Dokter. Tapi agak kecewa aja, kok ga bisa tambal atau cabut gigi hanya dengan alasanya kursinya enggak bisa dinaik turunin. Yang penting kan alat buat nambal atau nyabutnya. Gimana kalau kondisinya dia lagi di desa terpencil, jangankan ada kursi buat periksa gigi yang dinaik turunin, kursi yang biasa aja enggak ada. Harusnya sebagai seorang dokter yang mengabdi untuk rakyat, ia bisa mengoptimalkan sarana prasarana yang ada untuk membantu masyarakat kan?

Arti Sahabat


Arti sahabat itu apa sih?
Banyak yang  bilang sahabat sejati itu ada saat kita senang atau saat kita sedih. Teman berbagi suka dan duka, selalu ada kapanpun kita membutuhkannya begitupun sebaliknya. Sahabatlah yang paling mengerti kita. Sahabat tidak akan meninggalkan kita ketika orang lain meninggalkan kita. Banyak lagi arti sahabat yang kurang lebih semuanya mengatakan seolah sahabat itu adalah bagian yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Namun ternyata hal itu tidak berlaku lagi ketika kita atau sahabat kita sudah menikah. Arti sahabat itu tidak seberarti ketika masih lajang atau ketika kita sama-sama sendiri. Keadaan berubah 180 derajat karena sahabat kita menjadi sahabat suaminya, dan kita pun tanpa kita sadari menjadi sahabat suami kita sendiri. Dialah orang yang menjadi sahabat kita sepenuhnya, yang selalu menemani dalam suka dan duka.

Lalu ke mana sahabat kita? Ia akan datang saat kita membutuhkannya. Tapi saat kita sudah menikah, tentunya yang kita bagi hanya kebahagiaan saja. Suami kita sendirilah tempat kita berbagi duka, luka atau bahkan derita. Bukan karena kita sombong atau tidak menganggap sahabat kita itu bukan sahabat kita lagi, tapi karena kita memberikan ruang untuknya untuk menjadikan suaminya juga menjadi sahabat untuknya.

Selain itu, Ia juga harus diberi ruang untuk mendewasakan dirinya sendiri dengan tidak tergantung kepada kita sahabatnya. Namun, memberikan ia peluang untuk bergantung pada suaminya. Tempat yang memang paling layak untuknya bersandar dan mengadukan semua suka dan dukanya tanpa ada batas sedikitpun. Sahabat tetaplah akan menjadi sahabat, hanya sedikit menambah jarak antar persahabatan itu denga ikatan pernikahan kita atau sahabat kita.

Bersahabat layaknya sebuah metamorfosa. Karena itulah memerlukan waktu yang cukup lama untuk bersahabat. Jika hanya sebentar atau sambil lalu itu bukanlah sahabat, karena kita tidak pernah melewati masa metamorfosis itu bersamanya. Bukanlah sahabat jika tidak tahu setiap langkah dan perubahan yang terjadi pada sahabatnya. Bukanlah sahabat jika tidak bersamanya ketika ia melewati setiap fase dalam metamorfosa kehidupannya. Karena sahabat itu selalu ada di hati kita, secara kita sadari ataupun tidak.

Akan datang suatu masa atau waktu di mana kita merindukannya. Merindukan kebersamaannya dalam melewati suatu masa. Ke warnet sama-sama, makan sama-sama, kuliah duduk bersebelahan, mengerjakan tugas bersama, belanja bersama, berjalan bersama, mengobrol lama di sepanjang jalan, seakan cerita tidak ada habisnya. Semuanya itu dilakukan bersamanya, bersama sahabat yang kini telah bermetamorfosa menjadi seorang istri dan Ibu untuk anaknya yang juga menjadi sahabatnya.