Keajaiban Ramadhan


Ramadhan…
Bulan puasa
Bulan yang selalu ku rindu
Keajaibannya,
Suasananya,
Ibadahnya,
Makanannya  ;D

Di bulan ini kejaibanpun terjadi padaku
Saat yang tak terlupakan seumur hidupku
Kelahiran putri pertamaku
Raqilla Felicita Ramadhani Nugroho
Keajaiban Ramadhanku

Di malam-malam terakhir Ramadhan
Penantianku akan lahirmu di dunia
Malam-malam dimana Al-Quran selalu mengiringi tidurmu dalam rahimku
Siang-siang dimana kata-kata indah terdengar mendoakanmu

Doa yang terbaik untukmu
Dari orang-orang pilihan
Agar kau lahir dengan sempurna
Agar kelak kau menjadi anak yang shaleh
Sesuci bulan kelahiranmu…
Ramadhan…Ramadhani…
Bulan puasa…Bulan Suci…

Bulan yang akan slalu ku rindu…
Selalu kunantikan…
Seperti ketika aku menantikanmu
Melahirkanmu bagai Ramadhan yang melahirkan orang-orang yang fitri
Se fitri dirimu ketika dilahirkan

Semoga Ramadhan selalu mengingatkanmu
Mengingatkanku,
Mengingatkan ayahmu,
Akan keajaibannya…
Ramadhan…

Bulan ketika pintu neraka ditutup
Saat Pintu surga dibuka selebar-lebarnya
Dan Malaikatpun mengiringi kelahiranmu
Allah SWT memberkahimu
Orang-orang shaleh mendoakanmu

Di malam-malam terakhir Ramadhan
Sepertiga malam terakhir menjelang Subuh
Saat doa-doa dikabulkan…
Begitupun Doaku…Doamu…Doa Ayahmu…
Selamat datang kembali Ramadhan…
Ramadhan yang penuh keajaiban…

 

(Satu hadiah lagi untuk my Bebeb Raqilla Felicita Ramadhani Nugroho, gpp kalah puisinya yang penting kata-kata di puisi ini keluar dari lubuk hati yang paling dalam…Hallah…hehehe)

Pesimis Membunuhku


Tiba-tiba terngiang-ngiang kata-kata “Klo lagi banyak….banyak banget, klo lagi ga ada ga da banget'”

Yah..itulah yang kadang terjadi di kehidupan kita. Kehidupaku tepatnya :). Mungkin inilah yang disebut hadiah dari alam semesta.

Beberapa bulan yang lalu hati kecil ku berkata “Habis lebaran kerja lagi.”

dan benar saja, setelah lebaran banyak sekali informasi lowongan pekerjaan dan tawaran-tawaran kerja, yang datang pada saat yang hampir bersamaan.

Sebagai manusia normal terpikir untuk mengambil semuanya, walaupun itu tidak mungkin. Terpikir juga pikiran-pikiran negatif untuk pesimis akan mendapatkan pekerjaan itu dengan cemerlang. Akhirnya terpikir juga untuk mencoba mengintip masa depan, yang memang sudah menjadi rahasia Allah SWT. Agar dapat mengambil langkah dan keputusan yang tepat dan terbaik pastinya.

Hmm…jadi ingin istikharah 🙂

Saat ini yang sudah di tangan 1 project, menjadi penulis seperti apa yang aku impikan selama ini. Cita-cita terpendam untuk profesi yang ingin digeluti setelah menikah dan mempunyai anak. Niatnya, agar bisa bekerja di rumah sambil mengurusi anak, suami, dan urusan-urusan rumah tangga. Setidaknya ilmu akademik yang ku dapat tidak sia-sia setelah menikah. Selain itu menulis memang hobiku dari kecil. Tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Ataukah ini yang namanya godaan.

Ah..entahlah…Belum apa-apa aku sudah terbentur dengan keterbatasan sarana, waktu…hari pertama mulai ‘kerja’ udah siap-siap bikin kopi, baru mulai googling…eh…si kecil nangis pengen mimik, (alarm aktif yang tidak dapat ku tolak), di mimik-in deh, lama…banget, sampai aku ketiduran dan terbangun karena alarm yg sama, hanya kali ini…membuatku terjaga untuk menjalankan kewajibanku untuk menjadi seorang penulis yang profesional.

 

Akhirnya dapat referensi buku sejenis, dan “Wow..seperti ini isinya, berarti aku harus bikin yang lebih bagus dari ini, lebih lengkap dari ini…bisa ga yah? :(” (Dilema seorang penulis buku pemula)

Mulai pesimis lagi deh…dengan waktu pengerjaan yang tidak lebih dari 3 minggu dengan kondisi waktu dan laptop yang sedikit tidak bersahabat. What should i do Gusti??

Tapi aku yakin aku bisa…Bismillah…

Ini kesempatanku untuk membuktikan bahwa aku bisa menjadi seorang penulis profesional. Dengan bertambahnya tawaran-tawaran selanjutnya tentunya.

Nah loh, lalu kerja di kantorannya gimana??

yang ini juga wajib, untuk kestabilan ekonomi dan kelangsungan masa depan keluargaku nantinya. Ada beberapa alasan kenapa HARUS:

  1. Dapat gaji tetap tiap bulannya
  2. Status karyawannya jelas
  3. Ada asuransi kesehatan dan Jamsostek
  4. Ada THR dan tunjangan-tunjangan lainnya
  5. Mumpung usiaku belum expired untuk jadi karyawan swasta

 

Sebetulnya sudah kurencanakan untuk apply lamaran dengan posisi yang sama sebelum aku resign, tapi rencananya aku baru akan apply kalau project buku ini udah kelar. Tapi, tiba-tiba datang sms dari teman dekatku yang sekarang masih bekerja di perusahaan tempat bekerja dulu, dia memberi informasi kalau saat ini ada posisi staff yang notabene ‘lebih baik’ dari posisiku sebelumnya. Ini posisi ke 2 berarti yang akan aku apply diluar posisiku sebelumnya yang belum pernah naik-naik. Terus aja di situ (karena aku sempat resign dan masuk mulai lagi dari nol lagi, resign lagi…dan…kalau aku masuk lagi dengan posisi yang sama HARUS mulai dari Nol lagi (Hiks…), kapan naik pangkatnya???

Sementara teman-teman seangkatanku sudah ada yang menempati ‘posisi’ yang lebih baik dari sebelumnya. Ada yang salah denganku atau pekerjaanku? (Tapi kalau ada yang salah, harusnya aku dipecat dari dulu, nilai rapotku tiap bulan Bagus terus sampai aku dapet rekomendasi untuk masuk lagi yang ternyata sekarang sudah expired karena sudah lewat dari 6 bulan, prestasiku juga lumayan diketahui oleh beberapa orang atasanku, termasuk ‘kasus’ yang pernah ku buat.)

yang terakhir, itu sebetulnya masalah personal, dan efek dari kasus itu juga baik untuk perusahaan koq 🙂 bukan bela diri yah, tapi memang seperti itu keadaannya 😉

Tapi…aku harus apply sebelum project buku ku selesai, dan itu artinya akan ada proses recruitment yang mau tidak mau harus menyita waktu pengerjaan buku pertamaku. Artinya….pesimis lagi deh.. 😦

Satu lagi yang lebih penting. Ternyata meninggalkan si kecil makin hari malah semakin berat. Apalagi saat ini aku sedang berusaha untuk membuatnya mau makan, tanpa paksaan dan masuk ke perut mungilnya.

Arrgh…..Aku mau sembunyi dulu ah, Mudah-mudahan segera mendapatkan solusinya untuk pilihan-pilihan yang masih menunggu jawaban ini. Pilihan yang tetap berdetak seperti bom waktu yang terus menunggu untuk meledak. Ya Allah…beri aku petunjukmu…***

 

Dan Lahirlah


Semakin hari kandunganku semakin besar saja. Berjalan menjadi semakin berat dan lama karena seringnya aku berhenti atau melambat ketika merasa bayi di dalam rahimku berkontraksi. Namun aku tetap bersemangat untuk bekerja sambil menanti kelahiran bayi pertamaku. Kehamilanku ini malah membuatku bertambah giat. Mulai dari membersihkan rumah, memasak, dan membuatku semakin senang bepergian. Ke mana saja, asalkan kaki ini melangkah dan ditemani suami atau teman yang dapat memastikan bahwa semuanya aman untukku dan calon bayiku. Kehamilanku ini diprediksi dokter akan lahir pada pertengahan September 2010.

Dag-dig-dug rasanya bagaimana aku harus mengatur waktu yang tepat agar semuanya bisa berjalan sebagaimana mestinya. Dari periksa dalam yang ia lakukan, ia memprediksi bahwa keeseokan harinya aku akan melahirkan.

“Wah, ini mah besok juga lahir, Bu. Sekarang saya kasih resep obat untuk melenturkan vagina, besok pagi jalan-jalan yang banyak. Kalau udah mulai kerasa langsung ke sini setelah Zuhur perkiraan udah bisa lahir.” Tutur dr. Acca yang tiada lain adalah asisten dr. Raclif yang merupakan salah satu dokter kandungan senior di Bandung. Hampir setiap malam pasien antri di rumah sakit bersalin ini, bahkan bisa sampai jam 12 malam.

Mendengar keterangannya aku dan suamiku hanya berpandangan seakan tak percaya.

“Masa sih, Dok?”

“Iya…Gimana si ibu teh, udah pegel kan? Pengen cepet-cepet keluar, mau keluar malah gak mau.” Jawabnya dengan dialek Sunda menjawab ketidakpercayaanku. Saat itu tak lain adalah 1 bulan sebelum tanggal prediksi. Jadi, sangat jauh dari perhitungan baik dari Dokter Raclif ataupun dari Bidan yang merupakan tempatku mengecek kandunganku.

“Bukan gitu, Dok. Soalnya kecepetan dari prediksi, mana belum buat surat cuti dan lain-lain.”

“Ya tinggal bikin aja, gampang ko, nanti kita buatkan.” Jawabnya seakan menyepelekan. Karena pada kenyataannya, di perusahaan tempat kubekerja semua harus diperhitungkan dengan baik.

“Oh, iya deh Dok…Makasih.” Kataku sambil bergegas untuk keluar dari ruangannya didampingi suamiku. Kami pun masuk ke ruang obat mengambil resep yang dokter berikan.

Hal ini tentunya membuatku panik dan gelisah. Vonis itu sangat jauh dari prediksi dokter Raclif atau dari bidan yaitu tanggal 12-09-2010. Tepat sehari setelah hari raya Idul Fitri. Suamiku yang melihatku gelisah menenangkanku, tapi tetap tak bisa membuatku tenang. Sepulang dari dokter sekitar jam 12 malam, aku menyetrika baju-baju bayi untuk persiapan kalau-kalau yang dikatakan dokter Acca benar, padahal keesokan harinya aku sudah harus berangkat ke kantor pukul 05:15 pagi.

*

Keesokan harinya aku tetap bekerja seperti biasa dan tidak terjadi apa-apa. Semua berjalan normal. Malamnya seperti rencana hari sebelumnya, suamiku pun mengantarku ke bidan Ira untuk diperiksa. Memastikan kebenaran prediksi dokter Acca.

“Belum ko, masih jauh. Prediksi tanggal 12, bisa lebih cepet seminggu atau lebih lama seminggu.” Kata bidan Ira setelelah memeriksa kandunganku dengan memegang perutku untuk memastikan posisinya dan mendengarkan detak jantungnya.

“Jadi, kalau ada kontraksi di tanggal-tanggal tersebut bisa telepon dulu, atau langsung ke sini.”

“Oh…iya deh!” Jawabku sambil melepas keteganganku yang belum usai setelah

mendapatkan kabar dari asisten dokter Raclif.

Aku pun lebih tenang setelah mendengar jawaban dari bidan Ira. Aku memang

merencanakan akan melahirkan di sana, selain bidannya terkenal sabar, ramah, baik, biayanya juga murah, tidak semahal jika kita melahirkan di rumah sakit. Tempatnya juga memiliki fasilitas yang cukup baik untuk sarana medis setingkat bidan. Dan yang terpenting bidan yang baik biasanya pasti akan mengusahakan dan membantu proses kelahiran yang normal, seperti apa yang aku mau. Karena ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa ketika kaki bayi menyentuh lubang vagina si ibu maka saat itu ia memberikan pelajaran untuk menjadi seorang ’ibu’ kepada ibunya.

Aku pun tentu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku ingin merasakan menjadi seorang wanita sempurna dengan merasakan kelahiran anak-anaku kelak. Agar aku tahu bagaimana perjuangan seorang Ibu mulai dari mengandung anaknya selama 9 bulan,sampai proses kelahirannya.

Sepulang dari bidan Ira, hatiku pun lebih tentram. Persiapan administrasi menjelang kelahiran anak pertamaku aku urus dengan baik. Semua aku bautkan checklist agar terencana dengan baik dan tidak ada yang terlewat. Urusan kantor sudah beres, persiapan hari kelahiran yang harus dibawa di dalam tas sudah ok.

Tuhan memang kuasa atas segalanya. Doaku dikabulkan, semua lancar sesuai dengan apa yang aku harapkan. Mulai dari pengajuan cuti, permintaan libur, dan waktu kelahiran yang tepat dan akhirnya tanggal 1-10 September aku sudah tidak bekerja lagi. Tanggal 10 September yang merupakan hari terakhirku juga kuambil menjadi cuti, jadi aku memang sudah siap sepenuhnya.

Dari tanggal 1 September aku menyiapkan diriku untuk lebih santai. Membuat hatiku selalu riang. Mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan. Semua yang kulakukan hanya untuk menyenangkan diriku. Setidaknya membuatku tersenyum dan membagi kebahagiaan ini dengan bayi yang saat itu masih berada di rahimku. Aku lebih sering mengajaknya bicara dan yang terpenting. Aku ingin kami menjadi tim yang baik ketika saatnya tiba nanti. Hari kelahirannya ke dunia.

“Kakak.. nanti bantuin Bunda ya, kalau mau lahiran. Bantuin.. biar kakak lahirnya lancar, sehat, kakak dan bunda selamat.” Kataku sambil mengelus-ngelus perutku.

Akhirnya hari itu pun tiba 08-09-10, tanggal yang cantik seperti obrolan suamiku tempo hari.

“Kayaknya bagus tuh kalau lahirnya 080910, tanggal cantik.” Katanya sambil

mengerlingkan mata dan alisnya.

*

Dari siang hari sepertinya ia memang lincah bergerak-gerak. Bergerak sebentar-sebentar tapi memang agak sering. Ternyata itulah yang dinamakan kontraksi. Kontraksi menjelang kelahiran si jabang bayi ke dunia.

Aku memiliki keyakinan jika saatnya memang sudah tiba maka ia akan lahir. Aku hanya berdoa agar ia lahir pada waktu yang tepat dan di tempat yang tepat. Agar semuanya dapat dipersiapkan dengan baik. Setelah malam itu, hampir setiap malam, menjelang tidur aku selalu mengajak ngobrol kakak.

“Sayang… sabar yah.. tunggu Bunda selesaikan dulu semuanya. Jadi, Bunda bisa

tenanng menunggu hari kelahiranmu.”

“Nanti pas lahir bantuin Bunda yah.. biar kita berdua bisa selamat. Kamu lahir sempurna, sehat, dan bunda juga kuat, sehat biar bisa cepet pulih dan bisa ngurusin Kakak.”

Aku dan suamiku memang memanggilnya ‘kakak’. Terutama sejak tahu kalau bayi yang ada di dalam kandungakku perempuan. Kami ingin agar ia tumbuh menjadi seorang Kakak yang baik untuk adik-adiknya walaupun ia seorang perempuan yang konon sangat lemah, tudak bisa diandalkan, dll; yang intinya tidak cocok untuk menjadi anak pertama.

Akhirnya saat yang dinantikan tiba. Malam itu aku dan suamiku menonton DVD. Acara rutin yang harus ada dalam satu minggu. waktunya menonton film-film baru, atau film-film yang memang layak untuk ditonton, termasuk malam itu. Saat itu badanku rasanya tidak bersahabat. Aku kesulitan untuk mendapatkan posisi yang nyaman untuk menonton. Begini salah begitu salah. Kontraksinya semakin sering. Gerakannya seakan menyuruhku untuk segera tidur.

Akhirnya, pukul 1 dini hari film pun usai. Kami menuju kamar tidur untuk beristirahat. Seperti biasa kipas angin kunyalakan karena memang di kamar itu selalu panas terutama di malam hari. Keringatku seringkali sampai membasahi sekujur tubuhku. Membalik badan sudah sangat sulit. Sangat tidak nyaman, jika boleh aku ingin tidur dalam keadaan duduk, bukan berbaring.

Ketika pukul 2 pagi, belum lama aku tertidur terasa seperti ada cairan keluar dari vaginaku. Aku pun ke kamar mandi untuk memeriksanya, dan ternyata hanya cairan biasa, seperti keputihan. Aku pun kembali ke kamar. Pukul 3 dalam tidurku aku terbangun rasanya cairan itu semakin banyak dan tak tertahan. Seperti menstruasi hari pertama yang banyak sekali. Aku pun bangun dan kembali mengeceknya, ternyata darah sudah menetes-netes. Aku langsung membangunkan suamiku.

“Yang, kayaknya pendarahan.” Kataku lirih dengan perasaan sedikit takut. Takut terjadi apa-apa dengan kandunganku. Suamiku pun langsung bangun dan mengajaku ke bidan Ira.

“Yuk ke bidan sekarang! Periksa dulu, kalau ternyata ia, nanti B balik lagi bawa tasnya.”

“Iya.” Jawabku singkat karena tak sabar ingin tahu apa yang terjadi.

Kami pun segera berangkat dengan menggunakan motor. Aku masih menggunakan daster dan aku tambahkan legging panjang dan switer agat tidak kedinginan.

Akhirnya sampailah di rumah bersalin bidan Ira. Tak lama setelah memencet bel pintu pun dibukakan oleh bidan Nia yang tiada lain adalah asisten bidan Ira. Aku langsung masuk ke ruang periksa dan diperiksa. Ruangannya memang tidak begitu luas, tapi cukup nyaman karena tertata dan bersih. Rasanya sedikit mules ketika bidan Ira memasukan jarinya ke dalam rahimku.

“Udah bukaan satu. Minum teh manis dulu ya, jalan-jalan, nanti 1 jam lagi kita

periksa lagi.” Kata bidan Nia sambil tersenyum dan memberikanku segelas teh manis hangat.

Rasa mules mulai terasa setelah itu, tapi aku tak menghiraukannya. Aku tahan sambil terus menerus menarik dan mengeluarkan nafas sambil berdzikir. Percaya atau tidak, ini jitu untuk mengusir rasa mules menjelang kelahiran si kecil. Belum 1 jam bidan Nia memanggilku untuk diperiksa lagi.

“Yuk diliat lagi!” Ajaknya ke ruang bersalin.

“Kan belum satu jam” jawabku.

“Gak apa-apa.” jawabnya sambil tersenyum. Akhirnya jari bidan Ira masuk lagi ke rahimku.

“Bukaan 4, bukaan 7, bukaan 8…” katanya sambil terus memainkan tangannya di rahimku.

“Coba miring ke kanan!” Rasa sakit karena mules itu semakin terasa. Lebih sakit dari sebelumnya.

“Yuk siap-siap.. kalau mules, kayak yang pengen pupp berarti dedenya mau keluar.

Langsung ngeden yah!” Katanya sambil menyemangatiku.

Entah kenapa semua yang kupelajari cara ngeden, tarik nafas untuk melahirkan benar-benar hilang. Rasanya sulit, semua tidak seperti yang kupelajari sebelumnya. Tak banyak waktu untuk belajar atau mengingat-ngingat kembali untuk dipraktekan. Saat itu yang ada dipikiranku hanya mengeluarkan bayi yang ada dalam perutku secepat mungkin.

Karena kesalahan teknik ‘ngeden’ maka tenagaku pun sudah habis sebelum waktunya. Hanya sedikit tenaga tersisa, mungkin hanya tinggal 40% lagi. Tapi aku tetap berusaha untuk berjuang sendiri tanpa bantuan alat, sampai akhirnya 15 menit berlalu, rasa mules itu hanya terasa sedikit sehingga tidak memancing tenagaku untuk ngeden. Akhirnya aku diinfus, diberi induksi untuk memancing rasa mules.

Aku pun berjuang kembali sekuat tenaga menahan rasa mules. Setelah diinduksi mulesnya ya ampun…. sakit… sekali. Bidan Ira dan Nita terus menahan kedua kakiku dan juga tanganku dengan kuat. Sabar menungguku hampir 1 jam proses kelahiran anak pertamaku. Suamiku di belakangku, memegangiku sambil sesekali mengusap keningku dan mengelus rambutku sambil menyemangatiku.

“Ayo, Ayang bisa, ayang kuat, pasti bisa!”

Sementara aku sudah tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya berdoa dalam hati agar Allah memudahkan, memberi kekuatan kepadaku agar anakku dapat lahir dengan selamat.

“Sayang ayo keluar, Bunda ingin segera melihatmu. Bisiku lirih pada buah hatiku yang masih beluim juga keluar, padahal rambutnya sudah terlihat.

“Ayo ngeden lagi, kasian dede nya udah mau keluar. Tuh rambutnya udah keliatan, hitam banget.” Ia semakin keras memegang kedua kakiku menjaga agar bayiku tidak terjepit.

“Hhhhheuuuuu….!!”

“EA…EA..EA…” anakku menangis setelah cairannya dikeluarkan.

“Alhamdulillah.” kataku dan suamiku hampir berbarengan. Suamiku pun mencium keningku sambil berkata.

“Ayang Hebat!” sambil tersenyum.

Anak kami lahir sehat, sempurna seperti harapan kami. Bertanya 3,6 Kg dengan panjang 51 Cm. Aku tahu ia bangga kepadaku. Dan aku tahu betapa sayangnya ia kepadaku dan juga anak kami. ***

 

Notes:
Base on true story

Please leave a comment after u read this post