Mencari Uang Sambil Belajar (Part 3)


Seneng deh, kamu masih mau baca tulisan yang tentang cara cari uang sambil belajar yang super panjang ini. Hehe…abis kalau udah nulis niat cuman sedikit jadi panjang dikali lebar begini nih. Hehehe…. Masih belajar menulis nih, tapi kali ini lagsung dari ahlinya dengan menjadi ‘pekerjanya’.

Belajar Menulis Buku dari Ahlinya

Tidak lama setelah itu saya juga mendapat informasi dari seorang teman seorang penulis terkenal dengan beberapa bukunya yang masuk best seller sedang mencari penulis tetap untuk Jasa penulisan yang ia miliki. Dengan beberapa kali wawancara on-line, by email saya diterima menjadi salah satu penulis tetapnya. Tentunya dengan semangat 45 saya terima tawarannya. Gajinya jauh lebih besar daripada saya ngantor dulu, dan saya enggak harus keluar rumah untuk ngerjain kerjaannya.

Setiap bahan naskah yang masuk harus saya selesaikan dalam waktu 2 minggu. Untuk artikel bahkan hanya 24 jam dengan panjang tulisan sekita 8-10 halaman. Di sini saya belajar banyak tetang menulis buku dan berbagai keilmuan yang saya tulis. Mulai dari Buku psikologi, bisnis, agama, kisah-kisah inspiratif para tokoh inspiratif, dll. (Ini nih yang bikin saya selalu saya bilang kalau menjadi penulis itu bisa jadi lebih pinter.)

Walaupun sedikit kecewa karena sudah tehenti 6 bulan sebelum waktunya perjanjian kontrak kerja berakhir. Alasannya perusahaan tidak mampu membayar saya karena pembayaran penerbit yang tersendat-sendat (katanya). Tapi ya sudahlah… Saya sudah cukup mendapatkan banyak ilmu dari beliau. Terutama motivasi-motivasi hebatnya untuk membuat saya tidak pernah berhenti bermimpi untuk menjadi seorang penulis hebat.

Beliau selalu bilang “Yakin, apapun yang Irma tulis pasti diterbitkan.” Katanya… Saya malu sendiri nulisnya. Tapi mungkin inilah yang dinamakan bahasa sugestif. Bikin saya Pede kalau ide-ide saya bisa jadi buku. Syukur-syukur bisa jadi best seller. Amin… Apapun yang beliau arahkan ketika tugas diberikan selalu saya ikuti. Hasilnya saya dapet bonus karena kata beliau naskah-naskah tulisan saya selalu sesuai dengan keinginan pemesan. Cihuyy…Guling-guling lagi. Ini nih beberapa karya saya bersama Si Bos:

Beberapa Karyaku

                                   Beberapa Karyaku

 

Tapi itu masa lalu yang tidak disesali tentunya. Karena akhirnya saya berani mengajukan Out Line, berani menerima tawaran menulis dari penerbit, dan berani menawarkan diri untuk menulis buku ke penerbit. Karena selain menulis adalah hobi dan pasion saya, dari  menulis saya juga bisa jadi Ibu dan istri yang tetap berpenghasilan walaupun tidak punya kantor. Rumah adalah kantor saya dan saya bersyukur karenanya. Walaupun sebagian orang mungkin mencibir. “Ngapain kuliah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya nyuci, masak, ngepel, di rumah-rumah aje”

Eits, jangan salah…Ketidak mungkinan saya untuk bisa ngantor justru membawa banyak berkah untuk saya. Selain membuat saya lebih kreatif juga membuat saya bisa berpenghasilan jauh lebih besar daripada saya ngantor dulu. Harus pergi subuh atau bahkan pulang tengah malam. Ngomong begitu-begitu aja setiap hari. Sampai hafal skenario on-line waktu jadi call center dulu. Engak disesali juga sih karena akhirnya berkat pekerjaan ini saya bisa nabung buat beli mesin cuci, buat nambahin biaya nikah, buat jalan-jalan, dan mandiri secara finansial hehehe…

Sekarang saya bisa kerja kapan saja saya mau. Kecuali kalau sedang dikejar dead line urusan domestik terpaksa harus sabar menanti. 😀 Ketika seseorang memberi kepercayaa pada saya maka itu adalah sebuah kehormatan untuk saya yang tidak akan saya sia-siakan. I’ll do the best for them. Saya akan berusaha untuk tepati dead line sampai titik darah penghabisan. #terbawa suasana kemerdekaan, kan besok agustusan. Merdeka!

Akhinya saya selalu percaya betapa baiknya Tuhan kepada saya. Semua kondisi memaksa yang Dia hadapkan pada saya membuat saya belajar banyak Hal. Banyak ilmu kehidupan yang justru tidak diajarkan secara tersurat pada setiap jenjang pendidikan formal yang saya lalui. Tapi saya belajar dari semua tugas, semua keadaan, dari semua situasi dan kondisi. Saya bersyukur bisa mencari uang sambil belajar. Terima kasih ya Allah, semua jalan yang Engkau bukakan selalu menuntun saya untuk terus berproses menjadi lebih baik. ***

Note:

Sudah tamat loh pembacaku yang setia. Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai selesai ya. Semoga tulisan ini menginspirasi, terutama untuk kalian yang merasa tidak bisa apa-apa…Salah tuh! Ketika kalian mencoba untuk berproses maka yakinlah akan banyak kemudahan selama kita terus berusaha dan memaksakan diri untuk bisa. Apapun itu. Sekarang percaya kan kalau kita bisa cari uang sambil belajar? 😉

Mencari Uang Sambil Belajar (Part 2)


Masih penasaran gimana caranya bisa cari uang sambil belajar? Yuk…terusin baca tulisannya sampai tamat ya. Hehehe…

Belajar Menulis Artikel untuk Web Content

Pada awalnya karena kedekatan dengan seorang sahabat yang memiliki agensi naskah. Selepas resign dari bekerja sebagai call center (pekerjaan terlama tanpa pernah naik jabatan) saya diberi kesempatan untuk mengikuti On The Job Training dengan langsung menulis artikel untuk web content salah satu website milik pelopor internet marketing di Indonesia. Beliau tinggal di Bandung Selatan juga, sama-sama perempuan juga…Tapi Beliau jauh lebih Hebat dari saya. Ilmu saya belum ada setai kukunya beliau kali…(Sambil menunduk malu).

Kalu diberi kesempatan saya pengen banget jadi karyawannya. Soalnya katanya, karyawan-karyawannya sering dikasih liburan gratis ke luar negeri, umroh atau bahkan naik haji. Wiiiwww…Ngiler. Tapi kesempatan itu belum juga datang. Saya hanya menjadi pengagumnya dari jauh dan terus berharap agar suatu saat kesempatan itu benar-benar datang. (Enggak tahu kapan…).  Tapi biarlah harapan itu tetap ada…Mungkin…seseorang yang membaca tulisan ini akan mengaminkannya untuk saya…Amin 🙂 (Terima kasih…GR)

Belajar Bernegosiasi

Selain dulu waktu kuliah juga belajar negosiasi (lupa mata kuliah apa ya?). Pekerjaan-pekerjaan yang pernah saya jalani juga sedikit banyak membuat saya terus belajar untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi tujuan saya dari negosiasi yang saya lakukan. Mulai dari berhasil bertemu narasumber, memperoleh kesempatan wawancara, mendapat ACC penerbit untuk jual buku dengan sistem konsinyasi,  bisa menenangkan pelanggan yang marah-marah karena pulsanya belum direfund atau yang pulsanya kepotong karena SMS Push. Bahkan baru-baru ini saya dapat project menulis artikel content langsung dari empunya website, dapet kepercayaan nulis buku saya sendiri (bukan buku pesanan penerbit) dari penerbit langsung, dan semoga menyusul yang lainnya lagi. Amin…

Belajar Menulis dari Tawaran Pertama Menulis Buku

Awalnya shock dengan tawaran pertama saya. Ini juga masih dari sahabat saya pemilik agency naskah yang cukup solid hingga saat ini. Project buku pertama saya mungkin seperti katalog. (Sampai sekarang bukunya belum terbit karena penerbit yang order bangkrut-katanya). Untungnya karena sistem jual putus, saya sudah dapat honor dari dulu, beberapa bulan setelah naskah selesai dibuat.

Agak merasa bersalah sih sebetulnya terutama kepada semua pihak yang telah saya janjikan untuk saya promosikan gratis melalui buku ini. Bahkan ada salah seorang ahli pengobatan yang hingga beliau meninggal belum sempat melihat tulisan yang saya tulis tentang profil pengobatan alternatifnya di buku tersebut. Ini sudah 3 tahunan yang lalu. Saya juga mungkin akan angkat tangan kalau harus up date semua profil pengobatan-pengobatan alternatif itu jika harus terbit sekarang. Langsung kibar bendera putih dan ngajak ngopi bareng sahabat saya yang kasih order buku ini 😀

Buku ke-3 'Totok Saraf' malah udah terbit :)

                                         Buku ke-3 ‘Totok Saraf’ malah udah terbit 🙂

Masih belum selesai loh ceritanya. Makin seru nih akhir ceritanya tentang caranya mencari uang sambil belajar. Ini nih lanjutannya -> (PART 3)

Mencari Uang Sambil Belajar


Ini nih yang dicari

Ini nih yang dicari

“Gimana caranya cari uang sambil belajar?”

Disela-sela ketiadaan waktu untuk menulis karena harus bertemu realita bahwa tanggung jawab atas sebuah kepercayaan jauh lebih penting dari blogku sendiri. Maka untuk sementara semua ide untuk bahan tulisan di blog hanya dalam bentuk draft-draft saja. Berharap suatu saat bisa menjadi tulisan utuh.

Dua hari ini mencoba memetik motivasi kembali untuk mencoba mendekati kembali ilmu-ilmu para suhu internet marketing yang selalu membuat gelisah dengan pertanyaan “Kenapa sih saya enggak bisa seperti mereka?”…Hiks…

Walaupun sebenarnya saya juga tahu jawabannya “Karena kamu tidak fokus.”. Apa kabar ya fokus? Hehehe… “Nyari uang terus,kapan belajarnya?” Berharap sambil nyari uang sambil belajar. Toh selama ini saya belajar dari semua pekerjaan yang pernah saya jalani.

Belajar Jualan
Saya belajar jualan karena saya pernah jadi PR marketing di Toko buku komunitas yang pernah saya buat bersama beberapa sahabat. Di sana saya dipaksa untuk bisa bertemu dengan orang baru untuk berkomunikasi, menjaga hubungan baik dengan penerbit, dengan pembeli, cara membuat laporan bulanan, promosi, stategi marketing, dll.

Ilmu ini juga saya dapat karena saya pernah menjabat sebagai PR Marketing untuk Media Kampus Indi yang saya dan teman-teman sekelas saya buat sewaku kuliah dulu. (Pejabat ni yee…haha). Saya cukup berjibaku mencari pengiklan agar bisa menutupi biaya cetak dan foto copy media kami waktu itu.

Belajar Berkomunikasi & Berstrategi
Saya bisa berkomunikasi dan berani bertemu orang baru bahkan bisa menjadi seseorang dengan penuh strategi. Kenapa? Karena selain saya kuliah di fakultas komunikasi, saya mengambil bidang kajian jurnalistik yang memaksa saya untuk bertemu orang baru, mencari narasumber, bertanya sebanyak dan sedetil mungkin untuk menjadi bahan tulisan saya.

Bahkan saya bisa memikirkan banyak strategi untuk bisa bertemu narasumber yang terkadang so sibuk atau so seleb sampai akhirnya saya mendapatkan bahan yang lengkap untuk tulisan saya. Strategi ini saya aplikasikan juga ketika harus berhadapan dengan penerbit dan membuat mereka memberikan kepercayaan untuk menitipkan buku mereka untuk di jual di toko buku kami.

Belum abis loh cara cari uang sambil belajarnya…Ini nih lanjutannya yang pastinya lebih seru lagi -> (PART 2)

Gila Durian


Gila durian adalah salah satu istilah yang seringkali melekat pada mereka pencinta durian, termasuk saya. Salah satu makanan yang pastinya tidak akan pernah saya tolak. Sayangnya harganya cukup mahal dibanding buah-buahan lain, apalagi kalau di luar musimnya. Jangan harap bisa dapet durian dengan harga termurah 15-10 rb. Beberapa waktu yang lalu dengar cerita seorang teman yang kebetulan mudik Bandung-Padang. Mereka sekeluarga melalui jalan darat – laut untuk sampai ke Padang, kampung halaman mereka.

 

Lima hari perjalanan membuat beberapa kali mereka melakukan perhentian untuk beristirahat. Termasuk di beberapa titik yang masih bisa dikatakan hutan. Di sanalah mereka menemukan banyaknya penjual durian Medan. Membuat teman saya beserta keluarga bisa menikmati durian sepuasnya. Beneran deh bikin ngiler…sampai akhirnyapun sampailah foto ini. Foto durian yang akan mereka santap yang tentunya membuat saya semakin ngiler.

Oleh-Oleh Uchie

Oleh-Oleh Uchie

 

Bayangin aja, katanya rasanya manis, legit, lembut, enggak kalah sama durian monthong.  Wangi duriannya sampai nempel di baju. Bahkan di mobilpun parfum mobil kalah harumnya dengan bau durian.  Nempel di mana-mana baunya, dari baju, mobil sampai badan mereka. Ini nih namanya mabok durian. Tambah ngiler lagi pas denger harganya. Untuk melahap 10 biji durian mereka hanya merogoh kocek Rp15.000,- saja.

 

What? Ga salah denger??  Beneran ternyata, musim durian kali ini pas dengan musim mudik. Kalau udah kaya gini sepertinya harus diagendakan nih. Musim durian berikutnya atau berikutnya lagi untuk berwisata ke Jambi, kota kelahiran suamiku.  Biarlah dia asyik bercengkrama dengan teman-teman sekolahnya dulu.  Saya mojok aja makan durian sepuasnya…Hahahaha….

 

Akhirnya berniat untuk menitip lempok durian yang katanya satunya hanya seharga Rp13.000,- aja dengan ukuran loyang cake yang besar. Sayangnya makanan ini tidak bertahan lama. Pastinya sampai Bandung sudah basi dan berakhir di tong sampah. Adakah yang berencana ke Bandung di musim durian kali ini dengan menggunakan jalan udara? Kalau ada titip lempok duriannya ya! Ngarep beneran nih kalau udah begini.

 

Enggak tahu kenapa ya saya kok bisa suka banget ya sama durian. Membuat saya memahami tetang kegilaan para pencinta petai dan jengkol. Dua makanan yang paling saya benci karena baunya. Karena faktanya tidak sedikit orang yang bahkan membenci juga buah durian ini. Baru mencium baunya saja nampak jijik, sejijik saya ketika mencium aroma petai dan jengkol. Apalagi kalau sudah mengkontaminasi toilet. Kaboooor!!!

 

Dan hingga tulisan ini berakhir kengileran saya makan durian belum juga berakhir. Untungnya sedikit terobati dengan makan Es durian Merak di Pekalongan. Tunggu artikel berikutnya ya tentang si Es Durian Merak ini. Mungkin sesampainya di Bandung saya juga akan berburu Es Durian Tubagus yang pastinya ngalahin si Es Durian Merak ini yang kata orang sini paling mantap di Pekalongan. Apakah bisa mengobati kengileran si gila durian ini? Keep Reading!***

Puas Makan Nasi Kebuli Puas


Entah kenapa makanan yang berbau kambing identik dengan makanan khas orang Arab seperti nasi kebuli ini. Tentunya dengan bau khas minyak samin yang khas yang juga tercium ketika saya nikmati nasi kebuli di Kota Batik Pekalongan ini. Di kota ini WNI yang berdarah campuran atau murni Arab cukup mendominasi bahkan bermukim di beberapa kawasan yang dikenal dengan kampung Arab.

Itulah sebabnya ke manapun kaki melangkah dengan mudah ditemukan wajah-wajah Arab dengan hidung mancung dan alis tebalnya. Begitupun dengan makanan-makanan khas Arab seperti nasi kebuli yang satu ini. Salah satu tempat yang banyak diburu untuk menikmati nasi kebuli ini berada di Jl. Surabaya No.32.

Rumah Makan Puas

Rumah Makan Puas

Sekilas tempat ini memang tidak nampak seperti sebuah restoran karena memang penampilannya jauh dari kesan itu. Seperti rumah-rumah pada umumnya yang berada di kiri kanannya. Benar-benar tidak mencolok atau unik sama sekali, pun engan interiornya. Untungnya sebuah plang berlabel Rumah Makan PUAS cukup membantu menemukan lokasi kuliner yang satu ini.

Setelah masuk barulah suasana rumah makan mulai terasa. Beberapa meja dan kursi makan berbahan rotan berwarna cokelat tua berjejer rapi memenuhi setiap ruang di rumah makan ini. Kipas berbentuk baling-baling juga bergelantungan di langit-langit setiap ruangan yang cukup mendinginkan setelah berpanas-panas di kota Pekalongan. Kota pantai yang suhunya bisa mencapai 40°C pada siang hari yang terik.

Jika ingin lebih nyaman lagi dan tanpa asap rokok Anda bisa pilih di ruangan ber-AC. Itupun jika beruntung karena seringkali ruangan ini menjadi ruang yang sering di pesan untuk meeting, arisan atau acara-acara lainnya. Begitupun hari ini kami harus puas menempati kursi di ruang tak ber-AC.

Pesananpun datang…inilah sang primadona, apalagi kalau bukan nasi kebuli yang menjadi salah satu menu andalan di rumah makan ini. Satu piring lengkap dengan daging kambing bumbu kecap dan rendang ditambah acar buah yang didominasi nanas yang lengkap dengan wortel dan potongan cabai beraneka warna.

Nasi Kebuli Puas

Nasi Kebuli Puas

Wanginya membuat tak sabar untuk mencicipi nasi kebuli yang sudah terhidang di atas meja dengan cantiknya. Suapan pertama merasakan nasi kebulinya yang benar-benar kaya rasa. Selanjutnya daging kambing bumbu kecap, rendang, dan acarnya. Tapi kenikmatan itu benar-benar terasa setelah mencoba mencampurkan bumbu rendang dan nasi kebulinya ditambah acar buah yang segar.

Wih…uenak tenan! Walaupun perut rasanya sudah cukup kenyang tapi tak tega rasanya membiarkan nasi kebuli di piring saya bersisa. Porsi kenyang ini hanya dibandrol dengan haga Rp22.500,- saja. Tidak hanya memuaskan lidah tapi juga memuaskan perut.

Selain nasi kebuli masih banyak menu lainnya yang kebanyakan serba kambing mulai dari gulai sumsum kambing, sate ati kambing, dll. Minumannya juga cukup bervariasi mulai dari berbagai macam teh atau teh manis, jus, susu, dll. Tinggal pilih yang paling pas dengan selera Anda dan tentunya dengan kapasitas perut Anda.

Alasanya karena beragam es yang tersedia ternyata porsinya tak kalah mengenyangkan dengan nasi kebulinya. Tak salah jika rumah makan yang berdiri sejak 35 tahun silam ini diberi nama Puas karena memang membuat kita merasakan Puas yang sesungguhnya.***