Belajar Cari Uang dari Blog


Ah, saya tahu… saya belum apa-apa di dunia blog ini. Banyak sekali para pemain yang sudah malang melintang di perblogeran. Hingga saya hanya bisa berdecak kagum akan kemampuan mereka mengahasilkan banyak uang dari blog nya. Padahal Blog nya juga gratisan (kaya saya).

Kalau yang berbayar, ya jangan ditanya…sudah pasti menghasilkan pundi-pundi rupiah adalah salah satu tujuannya. Sampai bela-belain bayar content writing untuk membuat artikel-artikelnya.  Jelas membuat saya girang, pekerjaan saya…Itu artinya rezeki buat saya. Alhamdulillah.

Nah, iseng-iseng saya blog walking dan sampailah ke sebuah blogpost miliknya Iskael. Katanya di iBlogMarket saya juga bisa menjadikan Blog saya berpotensi untuk mendapatkan penghasilan. Klik link nya dan daftarlah saya di sini.

Ini masih dalam proses pendaftaran. Saat daftar ternyata ada option untuk menjadi content blog yang udah jadi makanan sehari-hari saya. Ya..jajal aja. Kan kita enggak akan pernah tahu kalau kita enggak nyoba. Namanya juga usaha.

Ini dia posting pertama saya bersama iBlogMarket. Semoga besok-besok saya bisa dapet job review sekaligus terima tawaran menulis web content juga. Berharapanya sih begitu. Semoga…Amin…

Tapi kalau kamu mau tahu banget bisa intip keuntungan menjadi blogger.

Cell Phone Is…


Klo ditanya Apa arti sebuah Cell Phone/ponsel/Hand Phone/HP buat saya. Banyak tentunya. Jadi salah besar kalau punya ada yang berpikir kalau punya HP buat gaya-gayaan…buktinya saya enggak pernah ganti HP sampai HP itu rusak dan bener-bener ga bisa dipake… halah…ngeles…bilang aja enggak punya modal buat gonta ganti HP…hehe

Bagi saya Ponsel itu modal buat cari uang, cari teman, cari pacar, cari suami, dll…& saya baru sadar. Kenapa saya suka banget pake “…” Menandakan bahwa saya bukan orang yang suka nyerocos enggak ada juntrungannya. (Bahasa apa itu?). Saya enggak suka banyak ngomong klo enggak perlu, saya juga enggak suka basa basi klo enggak terpaksa. Saya lebih suka bekerja, melakukan apa yang baik dan menurut saya memang seharusnya saya lakukan. Saya juga enggak suka pemer, biarkan orang yang mengenal saya dengan baik yang tahu bagaimana saya yang sebenarnya. Apa saja yang saya kerjakan atau apa saja yang saya berikan pada orang lain.

Cell Phone is My Assistant

Dengan HP saya bisa browsing, dapet informasi apa aja dari internet. Rasanya seperti asisten pribadi sekaligus suhu saya. HP yang selalu ngingetin kapan saya harus bangun, harus bayar ini itu, harus kasih surprise buat orang-orang yang saya sayang, jadi pencatat banyak alamat dan nomor-nomor rekening penting, termasuk pencatat utang dan tabungan saya. Atau waktu jaman-jaman masih pacaran dulu HP jadi penyimpan memory saya untuk banyak kenangan sama si mantan pacar. Mulai dari sms-sms manisnya, sampai foto-foto waktu hang out sama si dia.

Cell Phone is My Teacher

HP jg jadi guru sekaligus orang tua buat saya. Saya tanya apa aja selalu ada jawabannya. Mulai dari masalah agama, menu masakan, parenting, kesehatan, dll. Dia bisa memberi tahu semua dalam waktu singkat. Tanpa saya harus beranjak dari tempat tinggal saya. Hingga akhirnya saya menikmati bekerja di rumah. Pekerjaan yang terserah saya mau mulai kapan, terserah saya juga mau pake baju apa, atau mau sambil ngapain aja. Kantor yang paling bebas lah pokoknya. Hingga saya memutuskan untuk enggak bekerja di kantor lagi. Kecuali kantornya punya saya sendiri.. hehe..

Saya masih bermimpi mempunyai satu buah ruangan untuk saya sendiri. Di situ ada meja kerja lengkap dengan laptop, tlp,  foto saya, suami dan anak-anak, dan setoples penuh cokelat untuk menemani saya bekerja. Di ruangan itu ada buku-buku kesukaan saya dan buku-buku yang saya tulis sendiri. Di sekelilingnya tergantung beberapa piagam pemenang lomba, dll. Hmmm…could it be real?

My Cell Phone is Die

Hingga akhirnya ketika HP kesayangan saya yang saya beli dengan hasil keringat saya sendiri itu nyaris sekarat. Setelah umurnya hampir 8 tahun. 1 x ganti batre, seringkali kebanting dan jatuh, kecelup air pula, still alive sampai sekarang. (Tinggal ganti batre lagi sebenernya). Tapi penampilannya udah enggak banget. Pake Solasi di mana-mana. Susah mau ganti casing ga dapet-dapet. Mau beli yang Ori sayang, lah klo dijual juga paling laku 200rb udah syukur, padahal dulu beli 2 jt tuh udah mahal banget buat saya. Dilema user setia.

Setelah itu, rasanya sudah tidak ada hasrat lagi untuk ganti HP. Udah enggak punya keinginan lagi pengen beli HP apa, dengan teknologi apa di dalamnya, atau fitur-fiturnya yang kini saya serahkan suami sepenuhnya. Apa kata dia. Alhasil…Belum sebulan, cell phone yg katanya pintar itu KO lawan ompol si sulung. LCD sama touch screen-nya kena dan batal garansi. Di-service rugi, dijual apalagi. Jadi pasrah aja deh…rugi dikit daripada rugi banyak.

6120 c

HP kesayangan saya (www.nokia.org)

Mungkin nanti, suatu saat…sampai saya pengen banget sama 1 HP yang harus saya beli dengan keringat saya sendiri juga saya baru bisa ngerasa soulmate lagi sama HP saya. Sekarang sih…judulnya pasrah daripada bisnis enggak jalan. Daripada enggak ada sama sekali. Masalahnya HP Nokia 6120C saya itu udah tahu banyak ttg saya. Semua rahasia saya yang suami saya enggak tahu aja dia tahu. Saking Soulmate nya… rasanya dia jadi saksi semua hitam putih perjalanan hidup saya selama 8 tahun ini.

Sekarang saya hanya bisa merelakan semua kenangan, semua catatan, dll selama 8 tahun ini terkubur sudah. Dia mati…tanpa batre dan carger. Dia sekarat dan saya setengah hati untuk menghidupkannya lagi. Karena saya cukup lelah harus mengantongi 2 atau 3 cell phone ke manapun saya pergi. Saya hanya ingin 1 tapi bisa menyelesaikkan segala urusan saya. Adakah?***

Arti Mukena untuk Seorang Irma


Mukena atau rukuh adalah salah satu benda yang sangat berarti bagi saya. Bukan hanya sekadar karena fungsinya untuk menghadap pada Sang Kholik, tapi memang ada kisah dibaliknya yang memiliki makna khusus dalam kehidupan saya. Tidak hanya dalam kehidupan tapi juga pengalaman ketauhidan saya dengan Nya. Kisah ini berawal ketika saya kecil dulu. Bagaimana saya mengenal Tuhan saya, ketika saya diajarkan shalat dengan dibelikan sebuah buku tata cara shalat lengkap oleh Papa.

Darinya pula saya belajar dan dididik bahwa shalat itu bukan lagi sebuah kewajiban, tapi sebuah kebutuhan. Walaupun ada jamannya ketika kecil saya dulu saya sering berbuat nakal dengan masuk kamar dan berpura-pura shalat di kamar lalu keluar untuk segera bermain kembali karena teman-teman sudah menunggu. Dulu waktu saya masih kecil, Nenek selalu mengingatkan saya untuk shalat. Hal yang pertama ditanyakan ketika kami bertemu bukan sudah makan atau belum tapi sudah shalat atau belum.

Tentunya saya tidak bisa mengelak dari pertanyaan ini karena saya tahu nenek lebih sering menghabiskan waktunya di rumah, sehingga ia pasti tahu kalau saya berbohong. Akhirnya, ya begitulah cara saya mengelabuinya. Masuk kamar membuka lipatan mukena, menggosok-gosoknya sedikit hingga terdengar seperti gerakan orang sedang shalat termasuk dengan beberapa bacaan shalat yang saya keraskan terutama takbir dan salam. Tak segan saya juga sembari menggerakan badan saya seperti sedang shalat.

Hehehe…jika ingat masa itu saya malu, sekaligus ingin tertawa meneertawakan kenakalan saya itu. Padahal sama saja waktu yang dihabiskan untuk kegiatan pura-pura shalat itu dengan shalat sungguhan. Hingga akhirnya kebiasaan nakal saya ini benar-benar tidak saya lakukan lagi. Tentunya seiring dengan bertambahnya pengetahuan saya bahwa shalat adalah salah satu rukun Islam yang harus saya kerjakan. Dari kelas 4 SD shalat menjadi rutinitas yang ‘harus’ saya kerjakan.

Saya masih ingat benda berwarna putih polos untuk shalat ini saya dapatkan sebagai warisan dari sepupu saya. Sebuah rukuh terusan berwarna putih polos dengan kain yang sangat tipis. Barulah ketika kelas 3 papa membelikan saya satu yang baru. Mukena yang berumur paling tua karena seingat saya benda ini adalah salah satu yang paling jarang dibelikan orang tua saya. Padahal untuk baju setidaknya setahun 2 kali saya dibelikan. Lengkap sampai lebih dari satu jenis. Waktunya yaitu ketika saya berulang tahun dan ketika lebaran tiba. Selain itu, jangan harap deh.

Hingga suatu waktu menjelang lebaran saya meminta Mama membelikan saya satu yang baru.

“Mam, beliin Irma mukena dong, liat udah jelek gini…” pinta saya sembari menunjukan lipatan benda berwarna putih yang sudah tidak lagi putih pemberian Papa.

“Beli mukena mah enggak usah sering-sering, justru bagus kalau udah lusuh, berarti sering dipake. Itu artinya Irma rajin shalat.”

Jawaban Mama saat itu cukup meluluhkan hati saya. Sayapun akhirnya berpikir demikian dan tak pernah mempermasalahkannya lagi walaupun kadang timbul rasa iri ketika melihat rukuh-rukuh cantik yang mama koleksi. Rukuh yang hanya ia gunakan pada saat acara-acara khusus. Ya apalagi kalau bukan untuk Shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain bahannya yang beragam, hiasan-hiasannya juga tidak kalah cantik dan terpenting warnanya yang putih kinclong itu. Pun ketika mama memberikan untuk Nenek, atau kakak-kakaknya.

Saya kecewa, sedih, tapi ya sudahlah. Dan ternyata Tuhan mendengar keinginan saya. Akhirnya saya dibelikan satu yang baru. Walaupun itu baru terjadi ketika saya akan masuk SMP. Itupun karena yang lama saya sudah tidak muat lagi. Sejak itu saya sudah lupa dan mulai menganggap benda ini adalah salah satu benda yang memang tidak harus baru, selalu cantik, tapi yang penting masih layak digunakan. Hingga seringkali saya harus menjahit talinya yang copot, mengikat roknya karena karetnya lepas, dll karena saya tidak ingin meminta untuk dibelikan rukuh lagi. Pun untuk benda-benda lainnya.

Bertahun-tahun berlalu hingga akhirnya saya bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Tanpa saya sadari keinginan terpendam saya yang lama ternyata muncul. Mukena menjadi salah satu benda yang sangat menarik hati saya. Selain untuk digunakan sendiri, tentunya untuk diberikan kepada orang-orang yang saya sayangi. Benda ini menjadi hadiah yang istimewa bagi saya. Pun ketika saya memberikannya kepada orang lain.

3 Muken Favoritku

3 Muken Favoritku

Ini adalah 3 setel rukuh yang bisa dibilang menjadi favorit saya diantara rukuh yang lainnya. Mukena pertama pemberian Ibu mertua tersayang, yang ke-2 pilihan mama tersayang sebagai buah tangan sepulangnya dari Bali, dan yang ke-3 pemberian suami tercinta ketika kami menikah dulu. Semuanya nyaman, hingga menjadi pengingat saya untuk selalu kembali kepada Sang Pencipta. Sehari 5 kali untuk yang wajib, tambahan yang lainnya yang rutin saya kerjakan untuk shalat Dhuha, dan shalat malam serta witir ketika sengaja atau tidak saya terbangun di malam hari.

Begitulah berartinya benda istimewa ini untuk saya. Salah satu benda teristimewa dalam hidup. Dan semakin istimewa ketika benda ini sering digunakan. Manfaatnya tidak hanya sampai di dunia tapi juga akhirat. Maka sampai kapanpun hadiah mukena, siapapun yang memberikannya akan sangat berarti untuk saya. Menjadi benda yang pasti saya gunakan sampai kapanpun hingga akhirnya saya dishalatkan untuk yang terakhir kalinya. Tulisan Ini Diikutkan dalam Giveaway Menyambut Ramadhan***

Tahun Ke-5 Menjadi Mrs.Bima


Tahun 2003 pertama kali aku melihat sosok laki-laki bercelana robek+kaos hitam+celana jins dan sepatu kanvas di Stasiun Yogyakarta. Tak terpikirkan sama sekali bahwa ia akan menjadi teman hidupku untuk selamanya.

Perjalanan panjang kita lalui dengan kisah cinta jarak jauh dengan banyak kisah, suka dan duka, beserta semua rasa yang menyertainya. Bahkan pernah mencoba untuk berpisah dan menjalani hidup sendiri-sendiri. Hingga akhirnya kita tahu bahwa  kita tak bisa “hidup” tanpa yang lainnya. Rasa kehilangan satu sama lain akhirnya membuat kita kembali dan mencoba untuk lebih dewasa menjalani hubungan jarak jauh ini.

Berjuang bersama saling menguatkan selalu ketika satu diantara kita merasa tak tahan dengan keadaan dan ingin menyerah hingga 4 tahun Allah menyatukan kita dalam sebuah ikatan suci. Dimana hitungan matematika itu dipatahkan mentah-mentah karena 1+1 bukanlah 2 tapi menjadi 1. Tidak ada lagi aku dan kamu, yang ada hanyalah kita.

Mencoba menapaki selangkah demi selangkah perjalanan cinta kita. 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun…yang tentu tidaklah mudah untuk kita. Berjuang berdua dengan segenap kemampuan yang kita punya. Berkali-kali saling marah, saling mengecewakan, saling menuding, saling berteriak satu sama lain atau sebaliknya ketika perbedaan pendapat atau sikap menghadapi sebuah cobaan yang kerap kali datang di kehidupan kita.

Dan akhirnya hari ini.. genap 5 tahun pernikahan kita. Kita masih terus berjuang dan mencoba untuk menjadikan kehidupan kita lebih baik lagi. Tidak hanya untuk kita, tapi juga untuk orang-orang yang menyayangi kita.

Happy 5’th anniversary ya yang…

Pulau Cinta

Sekian tahun yang lalu…

Terima kasih untuk selalu berusaha menjadi suami yang lebih baik dari sebelumnya. Menjadi imam untuku dan anak kita. Terus berjuang untuk membuat kehidupan kita lebih baik lagi. Semoga Allah terus melimpahkan rahmat, hidayah dan kasih sayangnya untuk kita semua. Selalu membantu kita untuk terus memupuk rasa cinta ini agar selalu diliputi kemuliaan, kesetiaan, dan kasih sayang.

Semoga Allah tak henti untuk terus membimbing dan membukakan jalan-Nya agar kita bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrohmah hingga kita menua bersama. Berbahagia di dunia dan di akhirat kelak. Amin YRA…

Becek-Becekan Sehat


Pasti penasaran kan kenapa becek-becekan yang ini bisa sehat? Dimulai dari curi start mudik dari Tgl 19 Malam karena suami udah libur ngantor di tanggal itu. Walaupun persiapannnya super duper mepet tapi tak apalah yang penting bisa sampai dengan selamat.

Walaupun perjalanan sedikit terhambat karena jembatan Comal yang masih dalam perbaikan waktu itu. Alhasil jalan memutar masuk ke jalan-jalan alternatif sekitar pemalang dan baru keluar di Wiradesa, Pekalongan. Perjalanan yang biasa ditempuh selama 8-9 jam pun dari Bandung harus ditempuh sekira 12 jam.

Beberapa hari yang lalu kebetulan Bunda ada PR Revisi naskah yang membuat bunda harus mengorbankan beberapa jam waktu tidur di malam hari. Ini nih senengnya punya kerjaan yang bisa dikerjain di mana aja…hehe..karena libur setiap hari kerjanya pas dikejar Dead Line atau kalau sedang diserbu banyak ide. Klo lagi nyantai kaya sekarang bisa nulis sesuka hati 😀

Dan, selalu rasa kantuk menyerbu di pagi hari kalau udah kaya gini. Akibatnya walaupun Qilla udah manggil-manggil, lari ke sana kemari, nyanyi-nyanyi, teriak-teriak ini mata tetep aja lengket. Untungnya ada YangTi, YangKung dan Mbak,Keke. Jadinya Qilla tetep bisa anteng main tanpa ganggu bundanya yang ngantuk berat. Walhasil siangan cek FB dapet tag foto-foto ini:

Bergaya dengan piyama

 

Pasti mau ikut becek-becekan juga ya :p

 

Becek-Becekan raqilla 2

Pose! Model Kebanjiran

 

Becek-Becekan Sehat Raqilla 1

Hhhhm…Enaknya ngapain lagi nih??

Oh…ini toh yang bikin anteng. Pantesan kok enggak ada yang rewel-rewel bikin Bunda mau enggak mau harus melek walaupun ngantuk berat karena Qilla udah ngerengek-rengek minta bikin susu, minta ditemenin main, dll. Ternyata Qilla asyik main becek-becekan di halaman rumah Eyang.

Tapi Leganya hati bunda karena becek-becekannya juga sehat. Tuh liat, airnya jernih banget. Enggak kaya genangan air di Bandung. Wih…Cokelat dan keruh. Kadang-kadang malah hitam karena air got depan rumah yang meluap. Baunya enggak enak juga. Jangankan mau becek-becekan keluar rumah aja No Way! “Tunggu airnya surut dulu ya Nak…”

Kalau airnya jernih kaya itu sih rapopo. Bunda tahu banget soalnya betapa senangnya main becek-becekan. Dulu aja waktu bunda kecil malah seneng banget kalau jalan kaki abis hujan dan lewat jalan berlubang. Alasannya mau bersihin sendal yang kotor karena cipratan padahal emang seneng aja main becek-becekan. Hahahaha…

Ternyata begini rahasianya biar becek-becekan jadi sehat. Punya halaman luas, terawat, banyak pohon dan tanaman, batu dan tanah diatur sedemikian rupa, begitupun penggunaan pasir, tanah subur untuk tanaman, dan rumput jepang. Semuanya dirawat dengan baik biar pas hujan kaya gini enggak cuman Qilla aja yang seneng becek-becekan tapi juga semua tanaman di halaman yang bahagia setelah diguyur hujan semalaman.

Abis becek-becekan suenengnya Pool. Kemaren sama sekali enggak ada tangisan atau rengekan karena hati Qilla senang bukan main karena sudah puas main air di halaman. Pake bergaya segala lagi. Satu lagi, udah dua hari ini Qilla hobi banget dengerin dan nyanyiin lagunya ‘Hujan’ Utopia. Terus diputer sampai serak suara tante penyanyinya.

Mudah-mudahan suatu hari nanti kita punya rumah impian kita ya Nak…Rumah yang nyaman, asri, cantik, dengan halaman yang luas dan sehat. Biar kita bisa becek-becekan sehat kaya gini terus kalau hujan sudah reda. Asal jangan sampai banjir aja. Heheh… Banjirnya cukup di kolam renang aja 😉 Amin…***

Cita-Cita Dai Cilik


Suatu hari pada bulan Ramadhan tahun lalu saya menonton sebuah kontes Dai cilik di sebuah stasiun TV swasta. Ketika para Dai cilik ditanya mengenai cita-cita, ternyata jawaban mereka adalah menjadi dokter, presiden, guru, dll. Menjadi Dai ternyata bukanlah cita-cita mereka.

Senang rasanya ketika melihat anak-anak kecil berceramah dengan lantangnya. Ada yang terlihat seperti orang tua, namun tidak sedikit yang tampil percaya diri dengan kepolosan-kepolosan khas mereka.

Sekecil itu sudah hafal dan mengerti isi al quran dan hadits. Menjadikannya sebagai bagian dari materi ceramah mereka dalam kontes tersebut. Masyaallah..saya aja sudah setua ini masih awam dengan Quran dan Hadist. Membacanya hanya ketika merasa membutuhkan informasinya saja.

Perasaan malu memang kerap menyergap namun begitulah realita yang terjadi. Semakin kecil seseorang belajar maka ingatannya akan lebih tajam dibandingkan yang sudah berumur baru mulai untuk menghafal. Walaupun jika dilihat dari segi pemahaman tentu yang lebih berumur lebih bisa memahami ayat Allah dan riwayat nabi tersebut.

Tapi biarlah, toh di kemudian hari mereka masih bisa belajar untuk lebih memahami isi dari apa yang ia baca atau ia hafalkan saat ia masih kecil. Hingga ketika kelak ia dewasa ia tidak hanya hafal tapi juga memahami artinya dan juga bisa mengamalkannya dalam hidup sehari-hari. Itulah esensi yang sebenarnya dari menghafal kitab Allah dan hadist sedari kecil.

Menciptakan generasi muda yang istimewa. Penerus bangsa yang tidak hanya cakap dalam ilmu pengetahuan mereka akan berbagai hal keduniaan tapi juga akhirat. Dengan begitu besar harapan kita bahwa kelak generasi muda inilah yang akan membawa Indonesia menjadi sebuah bangsa yang maju. Karena mereka paham betul tentang arti dari sebuah kekuasaan, bagaimana korupsi di mata Islam, bagaimana caranya memegang amanah, dan bagaimana seharusnya ulil amri atau pemerintah berperilaku yang benar.

Hal-hal yang tidak dimiliki generasi sebelumnya yang hanya mementingkan kepintaran tapi tidak keshalehan. Menjadikan pendidikan mengenai keduniaan adalah segalanya dan mengesampingkan pendidikan agama. Itulah sebabnya keilmuan yang mereka miliki bukannya digunakan untuk kebaikan umat manusia melainkan sebaliknya.  Untuk mencari keuntungan diri sendiri sebanyak-banyaknya dengan berbuat curang, mencuri, menyebarkan fitnah dan keburukan, menteror, memecah belah orang lain hingga menghilangkan nyawa orang lain dianggap hal yang biasa.

Namun sebaliknya, tak jarang kita temui mereka yang mengetahui keakhiratan dengan baik juga menjadi buta mata dan hati mereka akibat tuntutan duniawi. Menjadikan ilmu agama yang mereka miliki dicampuradukan dengan sihir, meminta bantuan jin hingga akhirnya justru malah menjerumuskannya pada syirik, kejahatan, dan kemaksiatan. Hal ini membuat kita sulit membedakan manusia bersorban mana yang sesungguhnya menjadi pembela Allah. Dan lebih prihatin lagi karena ternyata orang tersebut terkenal sebagai seorang Dai Cilik…dulunya.

Bahkan beberapa waktu yang lalu ustadz yang seharusnya menjadi panutan, mengajarkan welas kasih kepada orang lain justru dengan sukses merendahkan martabat manusia lainnya. Ia mencaci maki, berkata kasar hingga merendahkan saudaranya sesama muslim untuk melampiaskan emosinya. Bagaimana ini?

Rupanya kini kebaikan dan kejahatan, orang baik dan orang jahat sungguh tidak bisa dibedakan lagi. Itulah sebabnya kewaspadaan kita harus semakin tinggi menghadapi orang-orang semacam ini. Lebih mudah melihat penjahat yang menampakan diri mereka dibandingkan yang bersembunyi di balik topeng-topeng ‘keshalehan’ mereka.

Saatnya kita bercermin pada diri kita sendiri, termasuk Anda para orang tua Dai cilik ini. Untuk menilai sejauh mana keimanan dan keshalehan kita dan anak kita. Agar kita terhindar dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Agar hidup kita senantiasa berada dalam limpahan cinta dan kasih sayang Nya. Agar kita selalu bisa membedakan dengan jelas mana saudara dan mana musuh kita. Hanya Dia lah tempat kita berlindung dari segala kejahatan.***

Bisakah Aku?


Beberapa waktu yang lalu aku mengantar adikku ke sebuah rumah sakit milik pemerintah untuk membersihkan telinganya yang sudah hampir tiga hari sakit. Mampet kemasukan air sehabis berenang ditambah hidungnya yang juga mampet karena pilek. Alhasil adikku mengeluh pusing dan sakit terus menerus di bagian kepala dan telinga. Dan aku tidak menyangka akan mendapati sebuah pemandangan yang mengharukan sekaligus menjadi pembelajaran untukku. Bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu.

Setelah melewati sekian banyak antrian akhirnya tiba giliran adikku yang dipanggil. Dokter yang baru saja tiba memeriksa dan mendiagnosa adikku tidak lebih dari 5 menit.

“Telinga kiri bengkak, telinga kanan infeksi, ke sana dulu ya.” Sambil menunjuk ke arah dokter lain, atau ahli medis lain berpakaian dokter untuk membantu membersihkan telinga adikku.

Jujur saja, aku agak sanksi dengan pelayanan yang diberikan para medis ketika ia bekerja di rumah sakit pemerintah. Pelayanan yang terkesan asal-asalan, hingga mereka seperti seorang peramal yang dengan mudah memprediksi sakit seseorang. Tak jauh berbeda dengan di tempat ini. Hampir semua yang pasien yang datang pasti melewati bagian pembersihan telinga. Apapun keluhan pasiennya. APAPUN.

Di ruangan itulah para pasien dan yang menemani mereka akhirnya menumpuk sedikit demi sedikit karena diagnosa dokter yang kilat pada hampir semua pasiennya. Hingga membuat antrian baru di tempat pembersihan telinga. Tibalah giliran adikku dibersihkan telinganya. Bukan masalah kotorannya yang meninggalkan esan untukku, melainkan kejadian di sekelilingnya.

Seorang Bapak yang memang mengalami gangguan pendengaran. Gangguan telinga yang membuat dokter harus menarik tangannya untuk membuatnya beranjak dari tempat ia berbaring miring. Menempelkan telinga kirinya di atas meja setelah dimasukan beberapa tetes cairan. Seorang Ibu yang malu-malu karena harus membuka jilbabnya karena telinganya harus diperiksa. Seorang anak lelaki yang menyembunyikan kecemasannya sambil menunggu giliran. Ada juga anak perempuan yang tegang karena takut dirinya juga akan mengalami perlakuan yang sama seperti yang lainnya.

Lubang telinganya dimasukan cairan, lalu disemprot untuk mengikis habis semua kotoran yang ada di telinganya. Padahal semestinya tidak perlu seperti itu karena Tuhan telah menciptakan umatnya dengan sangat sempurna. Kotoran telinga itu akan keluar secara alamiah. Hanya kadang kita tidak menyadarinya. Perlahan, berkala, dan sedikit demi sedikit. Sesuai dengan aktivitas setiap orangnya. Jadi sebetulnya tidak perlu dikorek, dicongkel, atau bahkan dikuras seperti itu. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang memang perlu tindakan ini untuk menyembuhkan penyakit yang dialami di bagian telinga, hidung dan tenggorokannya.

Adikku mengeluh pusing ketika kotoran telinganya dikuras untuk dipaksa keluar. Akhirnya ia disarankan untuk berbaring sejenak di tempat tidur. Kasur khas rumah sakit yang memang disediakan di dalam ruangan ukurannya tentu tak seluas kamar utama seorang presiden. Di sanalah insting jurnalisku kambuh. Memantau kedaan, melihat sekitar, mendengar setiap percakapan yang bisa didengar, melihat lebih dekat dan mencoba mendengar lebih jelas sesuatu yang menarik untukku. Hingga akhirnya mataku tertuju pada seorang anak berbaju kuning yang menangis pelan, dan semakin lama semakin terisak perih hingga sesenggukan.

Ibunya memarahinya karena ia tidak mau dibersihkan telinganya. Sang Ibu rupanya sudah tidak malu lagi untuk meneriaki anaknya bahkan mengancam buah hatinya di tempat umum. Dia tidak tahu kalau anaknya malu diperlakukan seperti itu. Dia tidak tahu kalau adiknya, anak kecil yang masih balita sedih melihat kakaknya yang terpaut usia 6 atau 7 tahun dengannya dimarahi ibunya. Hingga si kecilpun nyaris menangis melihat kakaknya diperlakukan seperti itu.

Tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Air mata ini berlinang tak tertahan hingga menetes dari kelopak mataku.

“Ya Tuhan, bisakah aku untuk tidak seperti Ibu itu? Bisakah aku menahan marahku untuk menjaga harga diri anakku? Bisakah aku membuat anakku dengan sadar melakukan apa yang ku perintahkan? Perintah yang semata untuk kebaikannya, kesehatannya?”

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ternyata membuat air mata menetes di pipiku. Aku selalu bertekad untuk tidak memarahi anakku. Tapi ternyata menahan marah bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika suasana hati kita memang sedang masygul. Banyak pekerjaan, banyak yang harus dipikirkan, dan banyak lagi yang hampir dirasakan semua Ibu sekaligus istri yang bekerja di rumah.

Beberapa hari ini, anakku rewel bukan main. Ia memang sedang sakit, namun adatnya kali ini tidak biasanya. Ia mudah sekali marah, mudah berteriak kesal, histeris, bahkan memukulku jika apa yang dia inginkan tidak ku mengerti atau tidak segera aku laksanakan. Menangis lebih dari 10 menit akhirnya menjadi biasa untukku. Aku mencoba untuk sebisa mungkin untuk tidak marah atau membentaknya.

Dan ternyata itu tidak mudah. Tapi aku berusaha sekeras mungkin. Kucoba bertanya seakan anakku adalah orang dewasa yang mengerti dan bisa menyampaikan apa yang ia inginkan. Aku alihkan perhatiannya pada banyak hal yang biasanya menarik untuknya. Hingga akhirnya ketika semua itu ta mempan kubiarkan ia menangis hingga ia lelah dalam pelukanku, dan ia tertidur dengan belaianku.

Anaku sekarang baru dua tahun. Perangai buruk yang kerap kali dilakukannya sebagai besar adalah sumbangan dari asuhan pengasuhnya. Seorang mantan asisten rumah tangga orang tuaku sewaktu aku kecil dulu. Yang hampir 6×5 jam dalam sehari bersama anakku. Bahkan terkadang anakku dibiarkannya diajak main anaknya yang baru kelas 1 SD bermain bersama teman-temannya, tentu saja tanpa pengawasannya. Bukan menyalahkan, tapi seperti itulah keadannya. Rasanya aku ingin memberhentikanya, tapi sulit karena aku mengerti kondisi ekonominya yang sulit saat ini.

Perasaan tak tega selalu menyelubungi hatiku setiap kali ingin memberhentikannya. Di sisi lain aku juga memang butuh orang lain yang bisa mengasuh anakku sementara aku melakukan pekerjaanku di rumah. Mulai dari semua pekerjaan rumah tangga hingga mengurusi bisnis on line ku. Sementara ini aku selalu berusaha untuk menyaring semua perangai buruk yang ditirunya dari anak pengasuhku atau teman-temannya. Dengan mengatakan bagaimana yang seharusnya ia lakukan, memberitahunya bahwa itu buruk dan tidak usah dilakukannya. Semua menjadi PR untukku setiap hari.

Walaubagaimanapun, dalam hatiku, di setiap sujudku, aku selalu berdoa agar Allah selalu menjaganya. Dimanapun dia berada, bersama siapapun ia bermain, permainan apapun yang dimainkannya. Semoga ia selalu dilindungi dan terhindar dari segala mara bahaya, segalaan kehinaan, segala kebencian, segala keburukan, dan segala yang mengancam fisik maupun batinnya.

Anakku, jadilah anak yang shalehah ya Nak! Jadilah anak yang baik hingga engkau menjadi teladan untuk teman dan saudara-saudaramu.