Harapan di Idul Fitri


Entahlah apa yang ingin saya bagi di Idul Fitri kali ini. Namun yang pasti saya ingin berbagi apa yang bisa saya indrai pada moment Idul Fitri kali ini. Memulai dengan sebulan sebelum puasa yang dramatis dengan berita bahwa kontrak setahun pekerjaan saya harus berakhir dan berganti menjadi freelancer. Membuat semua harapan saya nyaris pupus. Dari seorang yang sudah merasa sudah dibukakan jalan untuk memilih profesi sebagai seorang penulis ternyata harus berganti arah menjadi seorang marketer on line. (Engga pede juga sih menyebut diri saya seorang marketer on line), karena pengetahuan dan pengalaman  saya yang masih sangat sedikit dalam dunia internet marketing ini. Tapi karena kebutuhan, apa boleh buat. Apapun harus saya jalani. Karena saya tahu pasti, ini adalah sebuah pekerjaan yang halal dan terhormat dibandingkan saya harus menengadahkan tangan meminta-minta, menipu orang lain, atau mengambil paksa apa yang seharusnya memang bukan hak saya.

Akhirnya awal puasa, atas kepercayaan seorang teman (atau mungkin kasihan, entahlah….) Akhirnya ia mempekerjakan saya, dengan pekerjaan yang cukup mudah, waktu yang bisa lebih fleksibel (karena tiap hari kejebak macet), Awal puasa, sayapun mulai kerja. Bagian yang terberat adalah ketika anak saya bilang:

“Bunda, jaket Kakak, Kakak ikut” dengan lafal yang belum jelas khas anak yang baru belajar bicara.

Ini pekerjaan pertama saya yang benar-benar membuat saya harus meninggalkan anak saya dengan “orang lain” selama lebih dari 8 jam setiap harinya. Anak yang masih menyusu, yang terpaksa harus saya tinggalkan untuk bekerja.

Sedih rasanya, air mata pun selalu tak tertahankan ketika saya mengingat moment yang berlangsung tak lebih dari lima menit ini. Termasuk ketika saya berbagi kisah ini dengan Anda pada Idul Fitri kali ini. Wajahnya, logat bicaranya, kemanjaan dan keluguannya, membuat saya merasa menjadi Ibu yang paling jahat sedunia. Hingga rasanya tak dapat terbayangkan betapa kejamnya mereka yang rela menggugurkan kandungannya, membuang anak mereka di panti asuhan, atau bahkan menjual bayi-bayi atau bahkan anak mereka demi uang.

Pada saat idul fitrilah mereka ‘dikerahkan’ untuk semakin menambah pundi-pundi uang orang tua mereka. Di saat harga sembako melambung tinggi dari hari-hari biasa karena ulah para penimbun. Di saat anak-anak atau bahka cucu-cucu mereka merengek meminta dibelikan baju lebaran. Saat para istri juga tak mau kalah membuat aneka kue lebaran di hari Idul Fitri. Kebutuhan belanja juga meningkat karena harus menyediakan makan sahur dan tajil untuk berbuka puasa. (Sebuah tradisi yang menyengsarakan).

Hasilnya para pencopet di mana-mana, curanmor, para pelaku gendam, atau bahkan para oknum yang menyelenggarakan paket lebaran mulai dari sembako, parcel anak, daging, atau bahkan uang. Memanfaatkan Idul fitri sebagai moment untuk membuka kedok kejahatan mereka dan menyadarkan bahwa mereka telah berhasil menipu klien-klien mereka. (Maka, tidak ada gunanya paket-paket lebaran, lebih baik menabung yang  banyak dari 1 syawal, akhir Ramadhan, pecahkan celengan dan beli semua yang Anda mau). Ini terkait dengan kebutuhan kita yang ternyata bisa berubah dengan sangat cepat. Masalah kenaikan harga itu hanyalah sebuah resiko musiman dibandingkan dengan menelan air liur atau menggigit jari karena uang yang Anda kumpulkan ternyata dibawa lari panitia. (Sungguh Idul Fitri Indonesia sekali bukan?).

Sedangkan saya, hanya berusaha terus mengejar mimpi. Saya bersyukur karena saya tahu semua hal yang baik dari semua hal buruk yang telah saya alami. Bersukur karena saya tahu rasanya diabaikan, sehingga membuat saya bertekad untuk tidak mengabaikan. Bersyukur karena semua pahit tang saya alami membuat saya semakin kuat untuk terus melangkah. Walaupun seringkali terjatuh, seringkali meneteskan air mata, dan seringkali membuat saya menjadi orang yang tidak pandai bersyukur. Untungnya, ayah saya masih sempat membekali akidah dalam diri saya, sehingga dalam kesendirian saya sekalipun saya masih memilikiNya di manapun dan apapun yang terjadi dalah kehidupan saya selama hampir 30 tahun ini.

Hanya Dia lah yang membuat saya percaya bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan saya adalah yang terbaik menurut-Nya, bukan menurut saya. Walaupun saya selalu berusaha agar semua yang saya anggap baik juga baik menurut-Nya. Doakan saya ya, biar bisa cepet ngumpulin uang biar bisa cepet pindah ke rumah baru saya. Amin. Jadi jangan lupa juga buat add fb: raihan_rajutan dan borong semua bajunya yang dijamin murah 100%. (Loh kok malah promosi??)

Yang pasti, Alhamdulillah 20 hari kerja membuat saya mendapatkan rejeki yang halal yang bisa saya bagi dengan orang-orang yang saya kasihi dan yang berhak. Sebagian ditabung untuk masa krisis karena Alhamdulillah juga suami saya dapet rezeki yang lebih banyak dari yang diperkirakan. Selesai mudik, Semoga Allah semakin membukakan pintu rezekinya dari semua arah agar keinginan saya terwujud. Termasuk mendatangkan rezeki itu pada saya dengan bekerja di rumah kembali. Rumah yang baru, rumah saya sendiri,… Amin Ya Rabbal Alamin.

Selamat Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin.

Pentingnya Berbagi Episode Kehidupan


Pentingnya berbagi tidak hanya sekedar harta, tetapi juga berbagi suka duka, atau berbagi pegalaman mulai dari yang menyenangkan hingga yang menyedihkan. Ada satu hal yang terkadang sulit untuk diceritakan karena hal tersebut tiada lain adalah cela atau aib diri sendiri. Namun, terkadang manusia hanyalah seorang manusia yang mempunyai batas kesanggupan untuk tetap memendam hal tersebut hingga ia tutup usia. Ia merasa tak sanggup untuk menyimpan rahasia yang ada pada dirinya sendiri karena baginya hal itu bagiya adalah sebuah aib atau cela, padahal belum tentu.

Tapi tahukan teman, aib itu juga bisa dibagi sebebas kita membaginya kepada Sang Khalik di tegah malam sujud-sujud kita. Kepada siapa kita dapat membaginya? Jawabannya adalah seorang teman yang amanah. Di tangannya rahasia kita aman. Ia akan rela dan dengan senang hati memegang rahasia itu hingga ia mati. Demi temannya, demi sahabatnya, demi saudaranya yang tidak ingin aibnya diketahui oleh orang lain tapi tak sanggup untuk terus menyimpan kisah itu seorang diri. Kisah yang semakin dipendamnya, semakin ditutupinya, semakin membuatnya menderita.

Maka, bagilah episode kehidupan itu padanya. Seorang teman yang amanah. Dia yang akan membantumu meringankan beban di pundakmu. Meringankan semua kegalauan yang ada di hatimu. Meringankanmu dalam melangkah menyongsong masa depanmu dan membiarkan rahasia masa lalumu bersamanya hingga akhir hayatnya. Alasanya hanya satu, yaitu menjadi seseorang yang bisa diandalkan olehmu.

Sebuah rahasia bagaikan sebuah kotak yang tidak mudah dibuka dan hanya kamulah yang tahu apa yang ada di dalamnya. Hanya kamu dan bagian dalam kotak itu yang tahu. Maka dia adalah kotak tempatmu menyimpan rahasia itu. Rahasia terbesar dalam hidupmu yang bahkan membuat dirimu sendiri tak sanggup menyimpannya sendiri. Maka, temukan kotak rahasiamu secepatnya agar kamu bisa berbagi sepenggal episode daam kehidupan masa lalumu. Masa lalu yang menjadi bagian dari perjalanan hidupmu.***