Biarkan Menjadi Kejutan Idul Fitri

Sesuai rencana, sebelum kami pindah dari Bandung, aku dan suami berencana memiliki anak ke-2. Alasannya tentu karena anaku yang pertama Raqilla sudah hampir 5 tahun dan sudah meminta adik untuk menjadi temannya. Pun aku yang tak mau hamil di usia tua. Alasannya tentu karena semuanya terpikir akan begitu berat untuku. Dengan kondisi kesehatanku, pun dengan masa depannya kelak. Jadi kupikir usia 32 adalah saat yang tepat untuk memiliki anak ke-2.

Dari awal menikah kami sangat menginginkan anak laki-laki sebagai anak pertama, sekaligus cucu laki-laki pertama untuk oma, abah, eyang uti dan eyang kakungnya. Menurutku dan suamiku sudah seharusnya anak pertama itu laki-laki. Itu karena pengalaman kami sebelumnya. Aku sebagai anak perempuan yang merasa terlalu berat harus menjadi yang pertama dalam segala hal. Pun untuk suamiku yang merasa seringkali tidak didengar aspirasinya sebagai anak bungsu.

Tapi bukan itu poin pentingnya, kami hanya ingin merencanakan sesuatu yang kami pikir akan lebih baik untuk masa depan anak-anak kami. Tapi ternyata anak pertama kami lahir berjenis kelamin perempuan. Kami sudah tahu dari USG pada minggu ke-20. Seiring berjalannya waktu kami pun berangsur menerima dan mencari pembenaran di balik kenyataan yang kami dapat bahwa calon anak pertama kami seorang perempuan.

“Enggak apa-apa ya yang, anak perempuan juga bisa jadi kakak yang baik buat adik-adiknya. Bisa mandiri, bisa menjadi pembimbing buat adik-adiknya. Dan yang pasti dia bisa berperan sebagai Ibu untuk adik-adiknya kelak.”

“Iya yg” Kata suamiku membenarkan sambil memeluku dan calon bayi pertama kami di perutku.

k2k4k7

Sejak itu pula kami memanggilnya kakak. Berharap Ia bisa menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya kelak. Berperan sebagai kakak yang sesungguhnya. Sosok anak pertama yang kami dan adik-adiknya butuhkan kelak. Akhirnya ia lahir sesuai dengan keinginan kami di tanggal cantik 8-9-10 (8 September 2010) dengan kelahiran spontan pukul 05:55.

Untuk kehamilanku yang ke-2 kamipun berencana untuk memiliki anak laki-laki. Maksud hati agar anak kami cukup sepasang saja sesuai dengan anjuran pemerintah. Setelah ini tugas kami selanjutnya yaitu untuk membesarkan mereka dan menjadikan mereka anak yang shaleh dan shalehah. Berpendidikan dan berperangai yang baik serta bisa melindungi dan bertanggung jawab setidaknya untuk diri mereka sendiri.

Berbagai artikel kami baca untuk memperogram anak ke-2.Kamipun mencoba untuk megatur asupan kami selema merencanakan kehamilan ke-2. Namun apa boleh buat, kondisi kami yang tidak tingga serumah tidak memungkinkan untuk mengatur menu makanan yang akan kami santap setiap harinya. Usaha lainnya yaitu dengan menentukan kapan saat yang tepat untuk membiarkan pembuahan itu terjadi. Mulai dari kalender china hingga kalkulator masa subur kami pelajari. Namun ternyata hal inipun terlampau sulit untuk kami. Lagi-lagu kondisi kami yang tinggal berjauhan seringkali membuat kami melanggarnya.

Akhirnya kamipun pasrah. Hanya satu harapanku yaitu Yang Kuasa yang berkuasa menentukan takdir untuk kami. Ia yang menentukan anak ke-2 kami ini laki-laki atau perempuan. Sampai sekarang, saat usia kehamilanku sudah menginjak 28 minggu aku masih tetap berdoa dan berharap agar janin yang ada di rahimku ini laki-laki. Tapi kini doaku hanya di dalam hati saja karena aku tahu calon bayiku sudah bisa mendengar apa yang aku ucapkan. Setiap shalat malam atau sehabis shalat wajib aku selalu megelus perutku yang semakin membuncit dan menyampaikan permintaanku Pada Yang Maha Kuasa.

Aku dan Raqilla anak Pertamaku

Aku dan Raqilla anak Pertamaku

Kini kelahirannya semakin dekat. Alhamdulillah Allah memperkenanku bertemu dengan Ramadhan sebelum kelahirannya. Bulan suci ini akan menjadi tumpuan terakhirku untuk berdoa. Dengan permintaan yang sama. Setelah itu tinggal menunggu hari keahirannya yang diperkirakan akan jatuh pada hari Jumat, tangga 31-Juli-2015. Dimana takdir itu akan benar-benar nyata. Dan kami tidak ingin tahu atau menebak-nebak lagi apa jenis kelaminnya.

Biarkan semuanya jadi rahasia Allah sampai tiba saatnya ia memberikan kami sebuah kejutan  setelah kami merayakan hari raya Idul Fitri. Namun apapun kejutan yang tiada lain adalah takdir yang akan kami terima kelak kami sudah berjanji kami akan menerimanya dengan berlapang hati. Kami tahu, Dia memiliki rencana terbaik untuk kami. Perempuan ataupun laki-laki nantinya anak ke-2 kami, kami akan tetap mencintai dan menyayanginya sepenuh hati. Mendidik dan membesarkannya agar menjadi anak yang shaleh atau shalelhah. Sampai bertemu nanti nak, sehat selalu ya…Ayah dan Bunda menunggumu sebagai kejutan di penghujung Idul Fitri nanti.***

Tulisan ini diikutsertakan ke dalam Pregnancy Story Writing Competition

nuk ok

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s