Blogging Itu Perjuangan


Blogging adalah salah satu bentuk perjuangan yang dilakukan seorang blogger. Posting artikel setiap hari 1 itu ternyata tidak mudah. Hah Heh Hoh…Istilahnya klo kata saya mah. Hehe…

 

Tapi saya tetap mencoba berjuang agar bisa memenuhi target pribadi saya itu. Namanya juga usaha. Tidak apalah berdarah-darah di awal. Siapa tahu bisa menuai hasil yang manis di kemudian hari. Untuk Blog yang baru saja lahir ini. Blog yang isinya Cinta melulu.

 

Ya, tadinya saya pikir cinta adalah tema yang paling mudah untuk dijadikan bahan tulisan. Tapi pada kenyataannya tidak juga. Tetap diperlukan banyak pemikiran dan menguras otak. Termasuk semua teori dan fakta-fakta seputar cinta ini. Aih!!

 

Jadi seiring perjalanan, ternyata menulis itu tidak cukup dengan cuap-cuap enggak jelas. Selalu harus ada ‘pesan’ yang ingin disampaikan lewat tulisan itu. Walaupun misalnya pesannya hanya ‘Kesetiaan itu harus di jaga’ atau ‘Cinta itu harus mau berkorban’. That’s all.

 

Berharap isi postingan tidak hanya membuat orang membaca tapi juga  mengajak mereka berpikir dan berdiskusi dengan diri sendiri tentang apa yang saya tuliskan dalam postingan tersebut. Jadi jangan pernah menyepelekan profesi seorang penulis ya. Seringan apapun topik yang ingin mereka sampaikan, penulis yang baik tetap berdiskusi alot dengan otak dan perasaannya.

 

Hingga akhirnya, hasil tulisan yang berupa postingan demi postingan tidak hanya enak dibaca tapi juga memberi makna. Sekalipun ia mengambil dari sumber bacaan lain. Dia tetap melakukan seleksi dan berusaha mengemas apa yang ingin ia sampaikan dengan caranya sendiri. Beda lagi sama yang suka posting copy paste aja ya!

 

Saya memang masih belum tahu bisa atau tidak nantinya menuai hasil seperti yang saya harapkan. Tapi, sejauh ini mencoba untuk tetap berusaha untuk bisa. Mencoba membangun blog yang semoga seiring dengan perjalanannya juga tidak hanya bermanfaat bagi saya pribadi tapi juga bagi semua orang yang membaca blog saya itu.

 

Memberi manfaat tidak selalu harus membuat pembaca berpikir keras, tapi jugaberpikir mudah dan praktis. Bahkan tanpa berpikir ia sudah bisa mencerna apa isi pesan yang ingin saya sampaikan di dalam setiap postingan yang saya buat. Itulah prosesnya yang paling penting dalam perjalanan sebuah blog.

 

Semoga perjalanan yang akan dilalui selalu dapat terlewati dengan baik. Terutama dalam mengorbankan beberapa menit untuk menulis dan melahirkan sebuah postingan. Setiap hari…Bahkan jika ada hari yang bolong terlewat karena kesibukan dan lain hal. Saya dapat segera menambalnya di hari lain. Ah, saya tahu memang tidak mudah untuk blogging setiap hari. Tapi saya akan tetap mencobanya. Doakan saya bisa! 😉

 

Belajar Managemen Waktu dengan Shalat 17 Rakaat


“Abang udah Shalat Dzuhur belum?” kata sang Ibu kepada anaknya yang baru masuk ke dalam sebuah rental komputer yang tiada lain adalah rental milik orang tuanya.

“Belum Mi, nanti aja lah shalatnya Abang sekaliin malem ya, 17 rakaat.” katanya dengan polosnya sambil ngeloyor keluar lagi.

Mendengar itu saya yang sedang serius mengetik Tugas Akhir di rental itupun terkekeh. Jawaban anak-anak memang selalu tak terduga. begitupun jawaban si Abang yang waktu itu belum genap berusia 6 tahun ini.

Tetiba saya teringat jaman kuliah dulu. Kejadian ini sewaktu jaman-jamannya perjuangan Tugas Akhir dulu di sebuah rental komputer langganan yang paling nyaman. Walaupun tempatnya sederhana, begitupun fasilitasnya. Tapi tarifnya murah, bisa bantuin kalau tiba-tiba bermasalah dengan komputer hingga teknik pengetikan, dan lengkap dengan toilet dan mushala. Jadi selama apapun mengetik, semua orang bisa shalat ketika waktunya tiba.

Sekilas hal ini terpikir karena baru saja saya melakukan shalat Isya dijamak takhir dengan shalat Magrib karena Baby Allea malah bangun saat magrib dan tidak memungkinkan untuk ditinggal. Antara mau bobo dan pengen main. jadinya serba salah, dan hasilnya sampai waktu Adzan Isya berkumandang shalat magribpun terlewat.

Setelah selesai shalat Isya 3 rakaat. sayapun kembali berdiri untuk melanjutkan Shalat Isyanya. Terpikir untuk mengqosornya. Tapi dalam hati “Nanti kalau rezeki saya diringkas juga sama Allah gimana?” hahaha…konyol memang, tapi..pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat saya takut atau mengurungkan niat ketika mencoba untuk memilih sesuatu yang lebih mudah dalam menjalankan perintah-Nya. Dan ini seringkali bekerja dengan baik. Sayapun mencoba melakukan trik ini dalam bernegosiasi dengan si kecil meyangkut ketaatannya untuk berbuat baik, bersyukur, tidak malas, dll. Dan, seringkali berhasil juga.

Akhirnya saya mengurungkan diri untuk shalat 2 rakaat dan tetap melakukannya 4 rakaat. Walaupun setelahnya rasanya kok badan ini pegal. Sudah terakumulasi juga dengan frekwensi menggendong baby Allea yang sekarang di usianya yang baru 5 bulan berat badannya 8,3Kg dengan tinggi 80cm. Serta, faktor Umur juga mungkin ya. Usia yang sudah tidak belia lagi. Hehehe..

 

Ternyata Allah itu sudah mengatur sedemikian rupa kebutuhan dan kemampuan kita dalam beribadah ya. Shalat sehari 17 rakaat yang dilakukan dalam 5 kali tidak dalam 1 waktu. Shalat subuh 2 rakaat, Dzuhur 4 rakaat,

Managemen Waktu

                             Managemen Waktu

Ashar 4 rakaat, magrib 3 rakaat, dan Isya 4 rakaat. Tapi masih juga kita lalai dalam melakukannya. Padahal, coba deh, gimana bagusnya managemen waktu yang sudah diatur untuk kita.

Shalat Subuh dari jam 04:30. Semakin cepat kita bangun, kita bisa mandi lebih pagi. Setelah mandi kita tenang karena bisa lebih leluasa untuk melakukan berbagai aktivitas. Apalagi untuk Ibu-Ibu ya. Harus ngurusin semua keperluan anak-anak, suami. Belum lagi beres-beres, nyuci, masak, belanja, dan berbagai aktivitas domestik lainnya. Dan saat bangun kesiangan sampai kelewat shalat Subuh itu rasanya ada sesuatu yang terlewatkan, dan pastinya keteteran dengan berbagai hal.

Setelah beres ini itu dan berbagai keriuhan di pagi hari. Untuk Ibu rumah tangga yang terbiasa shalat Dzuha, shalat sunat 2 rakaat ini sedikit memberi jeda waktu beristirahat untuk kita. Merasakan air wudhu dan merasakan ketenangan sejenak dari kesibukan pagi hari itu. Banyak loh manfaat dari Shalat Dhuha ini selain sebagai pembuka pintu rezeki. Hati yang seringkali menjadi kemerungsung di pagi hari bisa kembali seperti sedia kala setelah Shalat Dhuha.

Selanjutnya melanjutkan berbagai aktivitas. Kalau saya sih mengasuh anak disambi dengan berbagai hal yang memungkinkan untuk dikerjakan. Termasuk nemenin Qilla main, ngerjain orderan artikel, ngeblog, belajar, baca, browsing, dll. Sebisa-bisanya memanfaatkan waktu luang yang sempit. Nah loh! Dzuhur Tiba, saatnya istirahat lagi dan mendinginkan hati dan pikiran yang sudah mulai terkontaminasi berbagai hal termasuk emosi yang berlarian karena aktivitas yang baru dilakukan.

Setelah itu lanjut aktivitas ibu-ibu bekerja di rumah dan seperangkat liku-likunya. Mulai dari Kakaknya Allea yang kebanyakan energi yang kadang menguras emosi dan air mata, hallah… Adeknya yang suka bikin bingung maunya apa, gadget yang tiba-tiba error, dll. Tidak hanya menguras energi tapi juga emosi. Akhirnya tiba waktu Ashar. Saatnya kembali cooling down. Membasuh muka dengan air wudhu, bertemu Allah lagi, kadang mengadu dengan berbagai hal yang baru saja dialami. Segar kembali walaupun mulai terasa agak letih. Tapi segar kembali dan siap untuk berjuang lagi dengan kesibukan di sore hari.

Semua aktivitas selesai dan Adzan magribpun berkumandang. Saatnya shalat Magrib, menyegarkan badan yang sudah mulai letih. Terutama dengan memberinya makanan rohani. Shalat magrib dan Isya itu rasanya berbeda dengan shalat lainnya. Waktunya berekatan, tapi jujur…saya termasuk orang yang suka mengakhirkan shalat Isya. Maksudnya biar klo semua aktivitas selesai, wudhu menjadi aktivitas terakhir bersentuhan dengan air. Hingga Shalat Isyapun menjadi rutinitas sebelum tidur. Bonusnya saya tidur dalam keadaan memiliki wudhu. Biasanya tengah malam dibangunkan juga untuk shalat malam. Selain karena baby Allea menangis karena basah atau minta mimik tentunya.

Tapi tentu semuanya tidak selalu berjalan mulus. Kadang ada saja hal yang membuat shalat yang seharusnya bisa saya lakukan tepat waktu menjadi mundur. Bisa jadi seperti hari ini. Shalat magrib terlewat hingga menjama shalat tersebut di waktu Isya. Shalat dzuhurpun tak jauh berbeda. Paling apes ketika terlewat shalat Ashar dan Subuh, karena tidak bisa dikerjakan di waktu yang lain. So, sekarang saya belajar menyegerakan shalat sebelum tidak sempat lagi. Karena saya tidak pernah tahu kapan Baby Allea akan rewel dan tidak bisa ditinggal atau kapan saya bisa menitipkan baby Allea untuk Shalat.

Nah, kalimat terakhir saya tadi oke juga ya kalau diganti. “So, sekarang saya belajar menyegerakan shalat sebelum tidak sempat lagi. Saya juga tidak pernah tahu kapan saya akan mati. Saya juga tidak akan pernah tahu sampai kapan saya sehat dan bisa shalat seperti ini.” Ngeri ya kalau ingat, bahwa di dunia ini hanya sebentar, sementara akhirat itu kekal adanya.

Yuk ah, yang masih bolong-bolong shalatnya, yang masih males-malesan kita perbaiki. Shalat itu nikmat, apalagi kalau bisa shalat dengan khusyu dan penuh rasa syukur. Hanya 17 rakaat, dalam 5 kali waktu yang pas, dan rakaat yang juga pas hingga tidak membuat kita sampai kecapean atau letih karena shalat. Hanya meluangkan waktu 10 menit saja, kenapa tidak bisa? Sementara Allah meluangkan sepanjang waktunya untuk kita saat kita membutuhkannya atau tidak.***

 

 

 

 

 

Saatnya Melepas Perasaan Tak Tahan Lagi


Tak Tahan lagi

                          Tak Tahan lagi

“Tak Tahan Lagi” seperti judul lagunya Melly Guslow ya. Tapi yang ini karena kegalauan saya dalam ngeblog yang tiba-tiba seperti pecah dan menemukan secercah cahaya. Ceile.. Ya, saya tidak peduli lagi apa yang mereka pendapat orang tentang saya. Tapi yang terpenting, mereka pembaca setia blog saya. Iya, kamu!! Makasih ya udah setia selalu berkunjung ke sini.

Saya juga enggak peduli sekalipun ga pernah pernah menang kalau ikutan lomba, give away, atau kontes atau apapun itu. Menjadi peserta saja sepertinya sudah menjadi sebuah proses dalam mendukung mereka yang menyelenggarakan lomba itu. Ya, setidaknya karena lomba itu menyumbang 1 postingan dari saya untuk blog saya sendiri dan bersedekah link untuk panitia lomba atau penyelenggara Give Away. Sedekah mah gimana aja caranya, ga harus uang kan? Keikhlasan menjadi peserta aja udah sedekah. Bener ga?

Saya juga tidak menyesal karena telah terbelenggu hidup jauh dari peradaban hingar bingar launching produk, dll yang memungkinkan seorang blogger mendapatkan goody bag, voucher, tester, uang, atau bahkan hadiah lainnnya yang lebih besar. Selain karena alasan punya bayi kecil yang ndut dan lucu yang tidak memungkinkan saya untuk kemana-mana saat ini. Saya masih berjuang untuk ASI ekslusifnya, dan mudah-mudahan bisa terus memberinya ASI hingga ia berusia 2 tahun sesuai anjuran Agama. Saya percaya, rezeki tidak pernah tertukar. Mungkin rezeki saya bukan dari situ. Kalau sudah saatnya siapa tahu ada event di Pekalongan yang memungkinkan saya datang bahkan sambil bawa si baby Allea. (Who Knows)

Nah, seiring dengan semua perasaan saya sekaligus semangat yang sedang membuncah ini. Saya canangkan kalau ini adalah blog pertama saya yang isinya Gado-Gado. Mulai dari pembicaraan serius sampai obrolan santai ala emak-emak, atau sekadar curhatan saya. Terserah saya dong, kan ini blog saya..hehehe. Termasuk berbagai lomba, kontes atau give away yang saya ikuti. Saya akan gunakan blog ini. Blog lainnya di rumah yang lain untuk urusan komersil. Yakali aja saya juga termasuk blogger yang kecipratan dolar dari mbah google. So, sekarang saya akan bebaskan Blog saya ini dari berbagai link affiliate yang pernah menyertainya.

Seiring dengan perasaan saya yang Tak Tahan Lagi ini. Mulai hari ini saya akan mulai konsisten untuk posting. Minimal satu posting ya seminggu. Jiah..lama amat. Kalau sedang luang mungkin bisa lebih. Kita lihat kondisinya nanti. Karena seringkali job menulis artikel web content untuk website orang lain atau blog klien membuat saya lebih memprioritaskan pekerjaan saya itu dibandingkan menulis postingan untuk blog saya sendiri. Harap maklum ya, karena saya juga tetep butuh pemasukan untuk sekadar uang saku. Emak-emak juga butuh uang saku khususnya untuk berbagai pengeluaran lain agar terhindar dari rasa bersalah karena membeli sesuatu untuk kesenangan diri sendiri.

Dari kemaren-kemaren tekadnya istiqomah, konsisten, tapi prakteknya ternyata memang jauh lebih sulit ya. Bismillah deh. Semoga kali ini terealisasi dengan baik ya. Doakan saya teman-teman, iya kamu! pembaca setia blog saya 🙂 Terakhir, mohon doanya untuk kelancaran semua rencana saya. Setidaknya jangka pendeknya 1 bulan ke depan, berlanjut 2 bulan ke depan, dan seterusnya. Menjaga konsistensi untuk tetap menulis walaupun tidak dibayar. Semangat Irma Essanovia! Semangat Bunda Qilla & Allea. Saatnya untuk tidak menahan perasaan Tak Tahan Lagi. Bismillah…***