Bisakah Aku?


Beberapa waktu yang lalu aku mengantar adikku ke sebuah rumah sakit milik pemerintah untuk membersihkan telinganya yang sudah hampir tiga hari sakit. Mampet kemasukan air sehabis berenang ditambah hidungnya yang juga mampet karena pilek. Alhasil adikku mengeluh pusing dan sakit terus menerus di bagian kepala dan telinga. Dan aku tidak menyangka akan mendapati sebuah pemandangan yang mengharukan sekaligus menjadi pembelajaran untukku. Bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu.

Setelah melewati sekian banyak antrian akhirnya tiba giliran adikku yang dipanggil. Dokter yang baru saja tiba memeriksa dan mendiagnosa adikku tidak lebih dari 5 menit.

“Telinga kiri bengkak, telinga kanan infeksi, ke sana dulu ya.” Sambil menunjuk ke arah dokter lain, atau ahli medis lain berpakaian dokter untuk membantu membersihkan telinga adikku.

Jujur saja, aku agak sanksi dengan pelayanan yang diberikan para medis ketika ia bekerja di rumah sakit pemerintah. Pelayanan yang terkesan asal-asalan, hingga mereka seperti seorang peramal yang dengan mudah memprediksi sakit seseorang. Tak jauh berbeda dengan di tempat ini. Hampir semua yang pasien yang datang pasti melewati bagian pembersihan telinga. Apapun keluhan pasiennya. APAPUN.

Di ruangan itulah para pasien dan yang menemani mereka akhirnya menumpuk sedikit demi sedikit karena diagnosa dokter yang kilat pada hampir semua pasiennya. Hingga membuat antrian baru di tempat pembersihan telinga. Tibalah giliran adikku dibersihkan telinganya. Bukan masalah kotorannya yang meninggalkan esan untukku, melainkan kejadian di sekelilingnya.

Seorang Bapak yang memang mengalami gangguan pendengaran. Gangguan telinga yang membuat dokter harus menarik tangannya untuk membuatnya beranjak dari tempat ia berbaring miring. Menempelkan telinga kirinya di atas meja setelah dimasukan beberapa tetes cairan. Seorang Ibu yang malu-malu karena harus membuka jilbabnya karena telinganya harus diperiksa. Seorang anak lelaki yang menyembunyikan kecemasannya sambil menunggu giliran. Ada juga anak perempuan yang tegang karena takut dirinya juga akan mengalami perlakuan yang sama seperti yang lainnya.

Lubang telinganya dimasukan cairan, lalu disemprot untuk mengikis habis semua kotoran yang ada di telinganya. Padahal semestinya tidak perlu seperti itu karena Tuhan telah menciptakan umatnya dengan sangat sempurna. Kotoran telinga itu akan keluar secara alamiah. Hanya kadang kita tidak menyadarinya. Perlahan, berkala, dan sedikit demi sedikit. Sesuai dengan aktivitas setiap orangnya. Jadi sebetulnya tidak perlu dikorek, dicongkel, atau bahkan dikuras seperti itu. Kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang memang perlu tindakan ini untuk menyembuhkan penyakit yang dialami di bagian telinga, hidung dan tenggorokannya.

Adikku mengeluh pusing ketika kotoran telinganya dikuras untuk dipaksa keluar. Akhirnya ia disarankan untuk berbaring sejenak di tempat tidur. Kasur khas rumah sakit yang memang disediakan di dalam ruangan ukurannya tentu tak seluas kamar utama seorang presiden. Di sanalah insting jurnalisku kambuh. Memantau kedaan, melihat sekitar, mendengar setiap percakapan yang bisa didengar, melihat lebih dekat dan mencoba mendengar lebih jelas sesuatu yang menarik untukku. Hingga akhirnya mataku tertuju pada seorang anak berbaju kuning yang menangis pelan, dan semakin lama semakin terisak perih hingga sesenggukan.

Ibunya memarahinya karena ia tidak mau dibersihkan telinganya. Sang Ibu rupanya sudah tidak malu lagi untuk meneriaki anaknya bahkan mengancam buah hatinya di tempat umum. Dia tidak tahu kalau anaknya malu diperlakukan seperti itu. Dia tidak tahu kalau adiknya, anak kecil yang masih balita sedih melihat kakaknya yang terpaut usia 6 atau 7 tahun dengannya dimarahi ibunya. Hingga si kecilpun nyaris menangis melihat kakaknya diperlakukan seperti itu.

Tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Air mata ini berlinang tak tertahan hingga menetes dari kelopak mataku.

“Ya Tuhan, bisakah aku untuk tidak seperti Ibu itu? Bisakah aku menahan marahku untuk menjaga harga diri anakku? Bisakah aku membuat anakku dengan sadar melakukan apa yang ku perintahkan? Perintah yang semata untuk kebaikannya, kesehatannya?”

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang ternyata membuat air mata menetes di pipiku. Aku selalu bertekad untuk tidak memarahi anakku. Tapi ternyata menahan marah bukanlah hal yang mudah. Apalagi ketika suasana hati kita memang sedang masygul. Banyak pekerjaan, banyak yang harus dipikirkan, dan banyak lagi yang hampir dirasakan semua Ibu sekaligus istri yang bekerja di rumah.

Beberapa hari ini, anakku rewel bukan main. Ia memang sedang sakit, namun adatnya kali ini tidak biasanya. Ia mudah sekali marah, mudah berteriak kesal, histeris, bahkan memukulku jika apa yang dia inginkan tidak ku mengerti atau tidak segera aku laksanakan. Menangis lebih dari 10 menit akhirnya menjadi biasa untukku. Aku mencoba untuk sebisa mungkin untuk tidak marah atau membentaknya.

Dan ternyata itu tidak mudah. Tapi aku berusaha sekeras mungkin. Kucoba bertanya seakan anakku adalah orang dewasa yang mengerti dan bisa menyampaikan apa yang ia inginkan. Aku alihkan perhatiannya pada banyak hal yang biasanya menarik untuknya. Hingga akhirnya ketika semua itu ta mempan kubiarkan ia menangis hingga ia lelah dalam pelukanku, dan ia tertidur dengan belaianku.

Anaku sekarang baru dua tahun. Perangai buruk yang kerap kali dilakukannya sebagai besar adalah sumbangan dari asuhan pengasuhnya. Seorang mantan asisten rumah tangga orang tuaku sewaktu aku kecil dulu. Yang hampir 6×5 jam dalam sehari bersama anakku. Bahkan terkadang anakku dibiarkannya diajak main anaknya yang baru kelas 1 SD bermain bersama teman-temannya, tentu saja tanpa pengawasannya. Bukan menyalahkan, tapi seperti itulah keadannya. Rasanya aku ingin memberhentikanya, tapi sulit karena aku mengerti kondisi ekonominya yang sulit saat ini.

Perasaan tak tega selalu menyelubungi hatiku setiap kali ingin memberhentikannya. Di sisi lain aku juga memang butuh orang lain yang bisa mengasuh anakku sementara aku melakukan pekerjaanku di rumah. Mulai dari semua pekerjaan rumah tangga hingga mengurusi bisnis on line ku. Sementara ini aku selalu berusaha untuk menyaring semua perangai buruk yang ditirunya dari anak pengasuhku atau teman-temannya. Dengan mengatakan bagaimana yang seharusnya ia lakukan, memberitahunya bahwa itu buruk dan tidak usah dilakukannya. Semua menjadi PR untukku setiap hari.

Walaubagaimanapun, dalam hatiku, di setiap sujudku, aku selalu berdoa agar Allah selalu menjaganya. Dimanapun dia berada, bersama siapapun ia bermain, permainan apapun yang dimainkannya. Semoga ia selalu dilindungi dan terhindar dari segala mara bahaya, segalaan kehinaan, segala kebencian, segala keburukan, dan segala yang mengancam fisik maupun batinnya.

Anakku, jadilah anak yang shalehah ya Nak! Jadilah anak yang baik hingga engkau menjadi teladan untuk teman dan saudara-saudaramu.

Iklan