Sejarah Roti Goreng Favoritku


Udah sering denger pasti yang namanya roti goreng? Roti goreng yang pertama kali kukenal ku dapat di kantin sekolah SMA ku dulu. Si Enci lah sang koki pembuat roti goreng ini. Biasanya dia membuat 2 rasa yaitu rasa cokelat yang dibuat berbentuk bulat seperti bola sedangkan roti goreng isi sayur dibentuk agak memanjang sehingga terkesan berbentuk bulat telur. Dua-duanya aku suka, jadi biasanya sekali beli yang manis 1 asin 1. Kok dikit banget sih? Secara anak SMA pengiritan, mau enggak mau uang saku dijatah jadi harus dicukup-cukupin banget. Kalo enggak bisa-bisa enggak bisa pulang.

Roti Goreng

Roti Goreng Buatanku

Secara tidak langsung masa-masa diberi uang saku inilah pelajaran menejemen keuangan secara tidak formil dimulai. Yang ini kita bahas nanti ya… Lets back to the topic, Sejarah Roti Goreng kesukaanku. Nah…semenjak mencicipi roti goreng Enci untuk pertama kalinya ini rasanya seperti kecanduan. Tiada hari rasanya tanpa roti goreng. Jadi Roti goreng ini sering kali menjadi menu wajib setiap hari yang aku lahap di sekolah. Kebayang dong kecewanya mukaku ketika roti goreng ini enggak ada. Tapi lupa ya, dulu dijual berapa roti goreng ini….Klo enggak salah Rp700,- deh atau seribu ya… Lupa. Ayo alumni SMA Negeri 11 Bandung angkatan 2000 yang masih inget tolong kasih tahu aku. Hehe…

Dan sejak itu di toko kue, warung, dimanapun yang aku lihat ada roti goreng nongkrong sebagai item jualannya pasti aku beli. Sejak itu pula aku suka membanding-bandingkan roti goreng mana yang lebih enak. Terakhir yang aku cicip roti goreng di Ciateul, tempatnya jual Bolu Salju. Nazwa Pastry nama tokonya. Ada roti goreng sosis yang dibandrol Rp5000,- besar dan mantap rasanya. Apalagi dimakan selagi hangat. Mmmh…Maksnyos deh.

Setelah menikah tentu rasa penasaranku tidak pernah habis dengan si Roti Goreng ini. Apalagi suamiku doyan ngemil, jadi pengen dong buatin cemilan kesukaanku yang akhirnya jadi kesukaannya juga. Mulailah googling cari resep roti goreng sana sini. Sampai menemukan sebuah resep yang akhirnya saking seringnya buat bikin aku jarang menakar lagi kombinasi bahannya. Pokoknya bahannya terigu 250 gram, ragi roti, mentega, telur, gula pasir, susu bubuk, dan air dingin yang ditakar sesuka hati dan sesuai dengan bahan yang tersedia.

Sejak sukses dengan resep ini…Seperti biasa sok jago…Udah kaya cheff profesional aja main takar semaunya. jadi kadang sukses kadang gagal. Seringnya sih berhasil…hehe… Sampai akhirnya dengan PD-nya aku berani jualain nih roti goreng buatanku. Secara di sana enggak pernah nemu yang jual. Tapi Alhamdulillah selama jualan sold out terus…keberuntungan pemula atau apalah namanya tapi modal tuh bener-bener balik 100% berikut keuntungan 100%. Menjanjikan deh kayaknya. Sampai akhirnya pedagang keliling yang biasanya kutitipi kue-kue jualanku berhenti berjualan. Stop juga deh bisnis kueku yang kujual serba 1000. Ada Roti goreng asin, manis, dan martabak tahu.

Kalau lagi males dan enggak ada bahan jadilah donat dengan beragam bentuk sesukaku. ada yang bulat-bulat kecil, panjang, dll. Tapi ya karena suamiku juga doyan ngemil ya selalu abis juga. Paling lama sampai pagi sudah kosong tuh tempatnya. Jadi terigu, telur, mentega sudah jadi bahan utama yang harus selalu ada di dapur. dari situ aku bisa buat macam-macam camilan termasuk camilan ngarang versiku. Suamiku tetep doyan…hahaha…dan ujungnya selalu habis juga.

Nah, entah kenapa semenjak suamiku pindah ke Ungaran dan kita jauhan aku juga jadi jarang buat roti goreng ini. Bahkan bisa dibilang enggak pernah. Enggak semangat aja gitu… Akhirnya aku ikut pindah ke Pekalongan dan suatu hari aku bertemu lagi dengan roti goreng ini. Tentu dengan wujud yang sama dan rasa yang tak sama. Ibu mertuaku bilang di sini ‘Bola maut’ namanya. Besar bukan main..setidaknya dibanding buatanku. Tapi setelah aku gigit rasanya agak sedikit mengecewakanku karena raginya berasa banget, cokelatnya juga biasa+ada kriuk-kriuk gula pasir yang mengganggu saat dimakan. Jadi sepertinya dalemannya tuh cokelat bubuk dicampur gula pasir yang ditambah air. Begitulah hasilnya….

Akhirnya aku bertekad untuk membuat lagi. Dasar aku yang pelupa dan sok jago. Mencoba membuat untuk pertama kalinya. Satu hal fatal yaitu aku lupa membeli tepung roti. Akhirnya aku sarankan adonannya dibuat donat. Satu hal fatal lainnya adalah aku memasukan semua telur bukan kuning telurnya saja, dan kesalahan berikutnya digoreng dalam minyak panas hingga cepat gosong sementara di dalamnya mentah. Padahal ini pertama kalinya dan Ibu mertuaku akan memberikannya ke mushala untuk acara yasinan rutin setiap malam jumat yang kebetulan malam itu gilirannya.

Keadaan darurat membuatku berpikir keras….akhirnya donat yang tak jelas bentuk rupanya itu dikuliti dan digoreng kembali dengan bentuk gepeng lalu diatasnya dilumuri mentega blue band dan dibubuhi meses ceres sekelilingnya. Soal rasa, ya jangan ditanya…gurih, enak walaupun bentuknya enggak karuan. Syukurlah terlewatlah malam itu tanpa komentar berarti. Aku juga enggak berani nanya bagaimana komentar peserta majelis taklim yang mencicipi kue donat ajaib ini 😀

Suatu hari aku bertemu lagi dengan teman kantorku dulu. Karena PP (Profil Picture)  nya gambar kue-kue…pikiranku langsung menyangka kalau temanku ini memang baker sejati.  Sampai suatu ketika ia memampangkan foto donat di PP nya. dimulailah kembali pencarian jati diri si roti goreng kesukaanku ini. Dari obrolan bersamanya inilah aku menemukan kesalahan-kesalahan fatal yang aku lakukan tadi. Akhirnya….aku ikuti resepnya dengan sedikit modifikasi karena kebanyakan air dan terlalu lembek. Akhirnya kutambah terigu , sedikit mentega dan gula. Tara….jadi loh 😀 untuk pertama kalinya Roti Goreng Buatanku Edisi Kota batik.

Setelah itu, setiap kali ingin buat cemilan ya inilah andalanku. Roti goreng atau donat. Dan, sore ini Ibu mertuaku menantang aku membuatnya lagi untuk Buka Puasa nanti di Mushala. Kali ini aku   patuhi resep Teh Ocha dengan sedikit modifikasi juga menyesuaikan tekstur adonan. Jadilah 48 buah roti goreng cokelat dengan berat @60 gram. Alhamdulillah…Semoga menjadi pahala di bulan Ramadhan dan membawa berkah untuk keluarga kami. Selamat menikmati jamaah Al-Mubarak Kraton Kidul 🙂

Angelina oh Angelina…


Angelina yang Manis

Angelina

Angelina…Begitulah nama anak manis yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir hampir semua orang di Indonesia. Kematiaan anak 8 tahun ini menyisakan banyak teka teki yang membuat semua orang ingin berbicara mengenai kematiannya. Mulai dari penelantaran anak, ekploitasi anak, hingga perkara warisan. Ah, entahlah… Namun satu hal yang dapat kita cermati bahwa rupanya penelantaran anak bukanlah hal baru di Indonesia.

Penemuan 5 anak yang ditelantarkan orangtuanya di Bogor mulai menguak satu persatu kasus penelantaran ini. Hampir sama dengan pelecehan seksual pada anak yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Pemberitaan media membantu terangkatnya kasus ini. Alhasil semua kalangan menjadikan isu mengenai anak ini sesuatu yang memang menarik dan memerlukan perhatian.

Peran media dalam pemberitaan yang super duper dari kasus ini membuat hampir di setiap stasiun TV berisi berita yang sama seputar penelantaran anak ini. Permasalahan menjadi semakin terbuka. Setidaknya cukup membuka mata kita bahwa penelantaran anak memang selayaknya menjadi perhatian kita bersama.

Anak adalah anugerah yang diberi dari Sang Pencipta. Dia tidak sembarangan menumbuhkan janin dan membiarkannya tumbu dan berkembang di rahim seorang Ibu. Itulah sebabnya ada beberapa orang yang memiliki banyak anak sementara adapula yang tidak dikaruniai anak sama sekali. Penyebabnya banyak, mulai dari alasan kesehatan, organ reproduksi yang tidak berfungsi dengan baik, faktor kesuburan yang kurang, termasuk permasalahan yang kerap kali dialami oleh para suami yang divonis mandul.

Itulah sebabnya berbagai upaya tak jarang dilakukan oleh mereka yang sangat menginginkan memiliki momongan. Mulai dari cara yang tradisional hingga modern sekalipun. Bahkan yang sudah menggunakan teknologi canggih untuk mendapatkan momongan. Sejumlah uangpun digelontorkan demi mendapatkan keturunan.

Sebaliknya di sisi lain, tidak sedikit pula mereka yang sudah dikarunia anak justru malah menelantarkan anak mereka. Tidak mengurusi anak mereka dengan baik. Bahkan tak jarang mereka memperjual belikan anak mereka. Mulai dari menyewakan anak-anak mereka, mempekerjakan anak-anak mereka hingga ‘menjual’ anak mereka.

Eksploitasi Anak

Eksploitasi Anak

Entahlah, apa yang ada di kepala mereka. Sembilan bulan bukan waktu yang sebentar mengandung anak hingga mereka lahir ke dunia. Sembilan bulan bukan waktu yang tanpa perjuangan mengingat banyak hal yang terjadi pada masa-masa itu. Mulai dari perubahan bentuk tubuh sang Ibu, perubahan hormon yang ia alami hingga memiliki sensitifitas yang lebih dibandingkan biasanya. Hingga keluhan-keluhan lain yang seringkali dialami Ibu hamil.

Lalu setelah bayi itu lahir, tak jarang pula mereka hanya membesarkan alakadarnya lalu akhirnya mengekploitasinya. Bahkan bayi-bayi yang lahir ini hanya mereka jadikan komoditi. Seperti pabrikan yang memproduksi anak lalu kemudian mengkomersilkannya. Padahal janin yang tumbuh di rahim seorang ibu adalah titipan yang harus dijaga, dipelihara, dibesarkan, dididik hingga mereka mengerti mana yang baik dan mana yang buruk dalam kehidupan mereka. Dan semua itu akan dipertanggungjawabkan kelak.

Eksploitasi Anak

Eksploitasi Anak

Semoga kasus Angelina ini segera menemukan titik terang. Mereka yang bersalah dan patut diberi hukuman diberikan hukuman yang seberat-beratnya. Apalagi jika memang terbukti adanya ekploitasi hingga kekerasan seksual pada Angelina. Bocah lugu yang tak berdosa yang harus mengalami kegetiran ini.

Angelina…Mungkin ini cara Tuhan menyelamatkanmu. Memanggilmu lebih cepat walaupun dengan cara yang tidak beradab yang dilakukan manusia yang berotak iblis. Tapi mungkin kematian lebih baik bagimu dibandingkan engkau harus hidup dalam trauma dan pengalaman buruk masa lalu. Semoga engkau lebih bahagia di sana bersama-Nya. Menjadi salah satu malaikat kecil tanpa dosa yang mendapat tempat terbaik di sisinya***

Sumber gambar:

http://www.kanalwan.com; www.forumanakjakarta.blogspot.com; www.beritasatu.com

Marhaban ya Ramadhan


Alhamdulillah, tak terasa sekarang sudah sangat dekat dengan Ramadhan. Bahkan sudah hampir di depan mata kita. Tapi Ramadhan kali ini pastinya berbeda untukku karena semua ritual, terutama makan sahur bersama dan buka puasa bersama menjadi lebih ramai walaupun tidak bersama suami. Kecuali saat suamiku kebetulan pulang di akhir pekan. Tapi ada kedua mertua, dua keponakan, dan kakak ipar yang sedang berlibur Ramadhan di sini.

Ini adalah tahun pertama menjalani Bulan Ramadhan di tempat yang baru, tentu dengan keadaan yang jauh berbeda pula. Pasti rasanya juga akan berbeda pula. Terlebih Ramadhan kali ini adalah Ramadhan ke-2 kalinya dalam keadaan mengandung dan hamil tua.

Dulu, Ramadhan 2010 juga bertepatan dengan kehamilan pertamaku. Kebetulan itu juga tahun pertama merasakan Ramadhan di tempat yang baru yaitu di kontrakan. Sebuah rumah mungil yang hanya beberapa bulan saja kami tinggali. Sebabnya karena setelah melahirkan aku diboyong pulang ke rumah Ibuku hingga akhirnya kembali lagi tinggal di rumah tempat aku dibesarkan dulu.

Anak pertamaku lahir di sahur terakhir setelah Adzan Subuh. Untunglah aku sudah memasak opor ayam untuk sahur suamiku di penghujung Ramadhan waktu itu. Hingga pukul 05:55 lahirlah anak pertamaku. Nama ‘Ramadhani’ pun akhirnya menjadi bagian dari namanya.

Dan kini, sama-sama hamil tua, namun prediksi dokter kelahiran anak keduaku ini diperkirakan setelah Idul Fitri yaitu 31 Juli 2015. Jadi dipastikan setelah bulan Ramadhan berakhir. Semoga banyak berkah yang kami dapat karena kami melewati Bulan Ramadhan bersama-sama.

Insya allah kali ini aku akan mencoba untuk berpuasa. Semoga janin di rahimku kuat untuk menjalankan ritual agamanya untuk pertama kalinya ini. Semoga semakin banyak Doa yang dipanjatkan, semakin banyak sujud yang dilakukan, semakin banyak dzikir, shalawat, tahmid, takbir yang diucapkan, semakin banyak pula ayat-ayat suci yang dilantunkan, serta semakin banyak doa yang diijabah. Amin…

Entahlah…betapa banyak harapan di Ramadhan kali ini. Tapi kali ini biarkan menjadi rahasiaku dan Dia. Dzat yang mendengar doa-doaku dan yang berjanji akan mengabulkan doa umatnya yang meminta kepada-Nya.

Anyway…

Welcome Ramadhan

Selamat Datang Ramadhan

Marhaban ya Ramadhan…Semoga Ramadhan kali ini menjadikan kita semua menjadi umat yang lebih baik lagi. Menjadi manusia yang lebih Taqwa. Mohon dimaafkan apabila selama ini ada kata-kata atau tulisan yang kurang berkenan di hati Anda. Baik melalui status-status yang saya tulis, comment, atau postingan yang saya tulis di Blog. Atau bahkan perilaku saya sebagai manusia biasa yang tak pernah luput dari khilaf dan dosa. Selamat berpuasa semua…***

Nothing to lose


Udah 3 GA gagal nih… sementara emak-emak lain wuih…menang lagi menang lagi… hebat lah. Iri? Jelas iya soalnya kok gue kalah mulu. heu… Sedih? Iya, soalnya siapa yang enggak sedih dengan kekalahan. Kecewa? So pasti…Tapi…Untungnya kegagalan dalam hidup gue bukanlah hal yang tragis karena udah sering sih.. hehe.. Sering gagal, sering kecewa tapi ya itu biasa… karena begitulah hidup. Bukankan yang terpenting bangkit dan bangkit lagi dari kegagalan?

Ya, Nothing to lose… jangan pernah merasa rugi dengan apa yang sudah kita kerjakan walaupun tidak berhasil mendapatkan apa-apa. Karena sesungguhnya pasti ada apa-apa di balik kegagalan-kegagalan yang kita alami. Pun dengan setiap kekalahan yang kita rasakan. Mungkin ini teguran juga buat gue karena ngerasa ‘sombong’ so…udah jago bikin artikel karena udah jadi makanan hari-hari gue.

Padahal.. Hhmmm… Masih banyak yang lebih hebat dari Gue. Dan dari merekalah gue harus banyak belajar lagi. Hormat suhu! 🙂 Dan kalau dibaca-baca memang pada bagus sih artikelnya makanya menang. Setidaknya versi juri…hehe. Masih aja…Piss… setidaknya artikel-artikel seperti itulah yang disukai. Jadi kekalahan-kekalahan ini bikin gue belajar untuk mulai jadi bloger yang baik dan benar.

Nah loh, jadi selama ini tidak baik dan benar? Enggak juga…cuman sebagai bloger, gue memang merasa belum bisa menjadi bloger sejati. Karena kalau dilihat-lihat dari mereka yang suka menang lomba mereka itu memiliki ciri-ciri berikut:

Narsis

Wajib kemana-mana bawa kamera dan memfoto atau minta tolong difotokan. Ada kejadian apapun, di mana aja, kapan aja, sama siapa aja, dan apa aja. Ini sangat membantu diri sendiri untuk mengumpulkan bank data. Khususnya foto-foto yang diperlukan untuk membuat tulisan kita lebih menarik. Apalagi buat gue yang enggak bisa gambar. Jangankan buat komik atau kariaktur, buat gambar bunga aja selalu sama dari jaman dulu SD mpe sekarang. Pun untuk gambar pohon…heheheh

Konsisten

Konsisten nulis blog enggak angin-anginan kaya gue. Klo lagi banyak kerjaan lupa deh sama Blog. Klo lagi nganggur baru inget nulis di Blog. Hohoho…ketahuan deh. Berarti klo lagi rajin nulis Blog pertanda gue lagi nganggur alias enggak ada kerjaan…hahaha…Pengennya sih ngeblog skalian cari uang juga tapi masih belum ada juga nih yang nawarin job review atau ngajakin kerjasama. Hiks…

Kenalan Blogernya Banyak

Iya, banyak kenalan jadi tiap posting terus share langsung deh Blog-nya rame dicomment sama bloger lainnya. Walaupun udah masuk komunitas Blogger klo urusan yang satu ini ngaku deh gue termasuk blogger yang pasif. Bisa kehitung berapa kali berinteraksi dengan blogger yang lain. Malah lebih sering ngintipin Blog mereka dibandingin berinteraksi langsung dengan mereka. Malu uy… (Masih aja nih penyakit ga ilang-ilang). Iya deh..gue janji minimal meninggalkan jejak setiap BW ke Blog yang gue kunjungi.

Lucky

Klo ini sih enggak tahu ya. Percaya enggak percaya. Percaya kalau keberuntungan itu datang bertubi-tubi 😉 Tapi emang sih suka ada orang-orang tertentu yang selalu beruntung. Kalau ikut undian selalu aja menang, kalau ikut lomba juga, klo ngirim tulisan ke media, selalu aja dimuat…hehehe…

So, follow them! Enggak apa-apa jadi follower kalau untuk kebaikan dan menjadi lebih baik. Iya nggak? Anyway…Pokoknya nulis-nulis dan nulis. Jangan pernah memulai menulis dengan pelanga pelongo liatin status orang lain. di FB, twitter, atau medsos lainnya jadinya malah Kepo dan tertundalah kegiatan menulis. Tau-tau udah digangguin si kecil lagi…atau kuota internet udah abis. Huahahaha….Just keep writing! Semoga beberapa GA selanjutnya yang belum pengumuman ada nama gue nya. Amin…***