Transgender-nya Mantan Artis Cilik Reynaldi


Beberapa hari ini kita dikejutkan dengan terungkapnya kasus-kasus transgender di Indonesia yang diawali karena terungkapnya istri yang ternyata laki-laki atau suami yang ternyata perempuan, anak perempuan yang kini berkelamin laki-laki, anak perempuan yang kini remaja dan ingin mengubah identitas kependudukannya menjadi laki-laki, dan yang terbaru yang paling mengejutkan dan menghebohkan tentu saja pengakuan seorang artis cilik Reynaldi yang kini menjadi Dena Rachman.

Mantan artis cilik ini mengaku kalau ia transgender. Reynaldi yang sempat membawakan acara KruCil di SCTV itu kini memilih menjadi wanita. Merasa menempati raga yang salah semakin disadarinya ketika ia bertambah dewasa. Akhirnya ia pun  memutuskan untuk menjadi wanita. Wanita yang cantik hampir 90 % menyerupai wanita tulen. Saya aja lewat
kayaknya..xixixi..Untungnya punya saya asli semua dan saya bersyukur jadi wanita. Alhamdulillah ya… 🙂

Ada apa gerangan ini?? Sebetulnya di luar negeri sudah lama transgender menyeruak. Sempat beberapa kali tayang di Oprah Winfrey pengakuan-pengakuan mereka. Kini semakin terbuka di Indonesia. Pengakuan terhadap hal-hal yang sebelumnya dianggap tabu saat ini menjadi layak untuk diperbincangkan (jadi ingat tag sebuah acara infotaintment yang katanya investigasi itu. 🙂

Ya…sekarang semua orang rupanya berlomba-lomba mengumumkan aib di media. Tapi apakah transgender ini aib?? Ataukah sebuah takdir?? Bukankan Tuhan sudah menciptakan  manusia ini sebagai makhluk yang paling sempurna? Ia ciptakan semua berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. Tidak ada ‘diantaranya’ kan?? Kalaupun ada perempuan yang tomboy, atau laki-laki yang kemayu itu kan hanya masalah kebiasaan saja. Bisa karena faktor lingkungan, sosial, profesi, bahkan didikan orang tua yang salah, atau bisa saja karena kebutuhan ekonomi yang membuatnya harus menjadi seperti sebaliknya.

Saya perempuan, tapi tidak sefeminim perempuan. Dulu saya cenderung tomboy, tapi ini hanya masalah style saja, karena saya tidak suka menggunakan rok yang membuat saya sulit untuk bergerak menjalani aktivitas-aktivitas saya. Saya tidak suka dandan karena saya tidak bisa, tidak sempat, dan tidak mengerti untuk apa itu. Saya juga tidak suka memakai tas-tas kecil yang cantik karena barang bawaan saya tidak akan muat disitu. Saya juga lebih sering memendekan rambut atau diikat karena lebih simpel dan tidak banyak membuang waktu. Sekali lagi ini hanya masalah style.

Di dalam diri saya masih normal, suka liat cowok cakep (Relatif loh ya, karena ga semua cowok cakep enak diliat, dan ga semua cowok jelek ga enak diliat:) , bisa naksir sama cowok, jatuh cinta juga sama cowok, deg-deg an kalau baru pertama kali pegangan tangan sama cowok. Ser-ser an saat dia mulai belai-belai…(Stop!! back to teh topic)

Tapi seiring dengan waktu, perjalanan hiduplah yang pada akhirnya membuat saya seperti sekarang ini. Tidak ‘anti’ feminim…Tapi tidak berlebihan juga. Saya berdandan jika ingin saja. Sekali-kali menyenangkan suami, tidak ingin membuatnya malu jika saya harus pergi bersamanya ke acara-acara resmi, kadang malah aga takut dan mulai panik kalau suami udah mulai protes tentang waktu yang saya sita untuk ber-make up ria. (Maaf ya sayang 🙂

Jadi seharusnya transgender itu tidak ada. Buat kamu yang mulai berpikir untuk transgender, lupakanlah! Bukankah ketika ditiupkan roh ke dalam ragamu kamu sudah menerima takdirmu sebagai seorang wanita atau laki-laki? Jadi jika karena pergaulan, didikan yang salah, lingkungan, dll yang membuatmu jadi kewanita-wanitaan atau macho seperti laki-laki, Maafkanlah… Belajarlah berdamai dengan diri sendiri. Kamu sudah sempurna dengan apa yang kamu miliki. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara ciptaan-Nya yang lain.

Lebih baik uang buat operasi plastik.operasi kelaminnya disumbangkan buat anak yatim piatu atau buat biaya operasi orang-orang yang tidak  beruntung karena memiliki ketidaksempurnaan dalam fisiknya, seperti mereka yang tumor, hidrosephalus, bibir sumbing, atau buat recovery wajah para TKI yang jadi korban siksaan majikannya. Jangan lupa minta Doa mereka biar berkah, minta didoakan agar kamu bisa menjadi wanita tulen atau lelaki tulen seperti yang telah ditakdirkan Allah, Insyaallah dikabulkan.***

Iklan

Huft…


Huft…demam stand up comedy, jadi ikut-ikutan Ernest so dramaqueen…xixixixi…
Sebelum ngerjain kerjaan gue yang sempat tertunda beberapa hari karena kesulitan mendapat timing yang tepat, gue mau curhat dulu ah…Sedikit meluapkan apa yang ada dalam sanubariku. Ciyehh…eh salah…Huft…

Akhirnya…gue bisa mengerjakan pekerjaan tertunda ini dengan lebih tenang. Karena ternyata, baru juga niat gue mau shalat istikharah untuk memastikan apakah gue pergi atau enggak ke Jakarta untuk merubah nasib, jawabannya sudah ada tadi siang. Padahal tadinya gue galaw karena ga bisa shalat akibat kodrat gue sebagai wanita yang belum monopouse. Ciyeeh…galaw..kaya adik gue aja…hehehe..galaw akibat jerawat yang tak kunjung sembuh di mukanya.

Tuhan memang maha tahu apa yang gue rasakan. Tidak perlu menunggu sampai gue bisa shalat lagi, Dia sudah memberikan jawabannya. Terimakasih Tuhan…(dengan perasaan sedikit kecewa bercampur rasa lega). Kenapa?? Karena Dia memberi jalan apa yang harus gue lalui untuk saat ini. Apa yang harus gue kerjakan saat ini. Sesuatu untuk menuju jalan dalam penemuan ’Cheese’ gue yang sampai sekarang belum ketahuan adanya di mana.

Beberapa hari yang lalu gue bertemu seorang teman, dan ternyata secara tidak sengaja, dia memahami apa yang gue rasakan. Tanpa sengaja pula, Dia memberikan sedikit pencerahan buat batin gue yang saat ini yang mungkin sedang sesat. Sesat karena merasa hidup ini butek…banget. Sepertinya hidup gue begitu dekatnya dengan kesulitan. Tapi ternyata, dibalik kesulitan itu, ada satu hal yang memang selama ini gue lupakan. Meminta secara empat mata, meminta dengan sangat, dan meminta dengan penuh kekhusuan.

Ini lah saat gue mendapatkan “AHA!” dalam hidup gue untuk yang kesekian kalinya. Tapi kali ini AHA Time itu datangnya di motor, saat gue berkendara menuju rumah setelah bertemu dengan seorang teman yang sekarang jadi bos gue. Dalam perjalanan panjang itu, gue berpikir, terus berpikir…bahkan terngiang-ngiang apa yang dikatakan si Bos. “Tidak hanya perlu kepintaran, keahlian, atau prestasi saja yang diperlukan untuk mendapatkan ‘Emas’ kita. Tapi juga dengan meminta petunjuknya, lewat shalat istikharah, Tahajud, dll.” Ujarnya…(dan gue tahu, ini pengalaman nya, karena dia juga pernah mengalami hal yang sama dengan apa yang gue rasakan saat ini. Mencari ‘Emas’ yang dalam istilah gue emas itu adalah ‘Cheese’ seperti di buku favorit gue ‘Who Move My Cheese?’ yang ditulis Dr. Spencer Johnson itu.

Kalau dilihat dari sejarahnya, gue tahu banget, yang sekarang jadi bos gue itu, dulunya, males kuliah, sering bolos, tukang kesiangan, lulus kuliahnya lama, nilainya banyak yang jeblog, kalau ngerjain sesuatu pasti molor dari deadline, sering banget terpuruk dalam banyak hak yang membuatnya galaw. Tapi tenyata, sekarang dia jadi orang sukses. Bisa menyediakan lapangan kerja untuk orang lain kaya gue, dan teman-teman lainnya. Mungkin secara tidak sengaja dia juga membuka rahasia suksesnya. Dia juga bilang  bahwa setelah dia mengerjakan shalat-shalat Sunat itu, tanpa sadar, banyak kemudahan yang dia dapatkan, jalan yang dia lalui untuk menemukan ‘Emas’-nya betapa mulusnya, dan itu sangat luar biasa.

Oh..Itu ternyata yang kurang selama ini. Huft… Kemungkinan besar yang membuat gue kesulitan mendapatkan ‘Cheese’ gue. Mulai saat ini, setelah gue mandi wajib, gue janji, akan lebih rajin untuk menjalankan shalat-shalat sunat yang selama ini sering dengan sengaja gue abaikan, padahal sering banget gue sengaja bangun tengah malam untuk mengerjakan pekerjaan gue. Kenapa susah banget mengorbankan waktu 20 menit… aja untuk shalat malam. Huft… Ayo berubah!! Menjadi lebih baik tentunya. Semoga menjadi manusia yang lebih baik membuat hidupmu menjadi lebih baik. Huft… 

Rahasia Antara Aku dan Nara


Aku bukan orang yang suka mengumbar cerita, terlebih jika itu kesedihan, rasa duka, atau apapun itu yang sifatnya negatif, karena bagiku cukuplah kebahagiaan saja yang kubagi dengan orang lain agar mereka juga dapat merasakan bahagia itu. Tapi, ketika sesuatu yang negatif itu sudah mulai membumbung tinggi dan tak tertahan lagi…Ada sebuah sosok yang kujadikan teman bicara.

 

Ya…seorang teman yang wujudnya tak pernah bisa kusentuh walaupun kadang terlalu ingin ku menyentuhnya, tetapi jika ia yang menghendaki itu ..maka ia bisa menyentuhku, kami bisa bersentuhan. Dia wanita, namun terkadang bisa jadi laki-laki. Dia dewasa, namun terkadang dia bisa menjadi sebaya, bahkan bisa menjadi sangat tua. Dia bisa menjadi sosok apapun yang kuinginkan saat itu. Biasanya sosok itu hadir tergantung dari apa yang kurasakan saat itu.

 

Kupanggil dia Nara, nama lengkapnya Dianara, nama yang ambigu, seambigu sosoknya. Tapi aku tak perduli, karena ia lebih dari sekedar sahabat, lebih dari sekedar guru, atau bahkan pembimbing spiritual, seakan dia tahu segalanya tentang hakikat hidup, karena yang ku tahu umurnya sudah ribuan tahun, sudah ribuan tahun pula ia mengenyam asam garamnya kehidupan manusia di dunia, termasuk  perjalananku sejak aku lahir, tumbuh, beranjak remaja, menjadi remaja, dewasa muda, dan kini,  bahkan sampai aku tua kelak.

 

Suatu malam dalam lelapku aku terbangun di dunianya, dan kami pun bertemu. Seperti biasa dia menyambut kedatanganku dan tersenyum. Akupun dengan segera duduk di kursi favorit kami. Sebuah sofa yang empuk yang berada di halaman belakang rumahnya.  Menghadap sebuah taman yang indah yang membuat kami dapat merasakan hangat sekaligus dinginnya malam, ditemani teh hangat yang nikmatnya hanya dapat kurasa ketika aku berada di dunianya.

 

“Apa kabar kawan?”

Tanyanya sambil meyalami dan memeluku karena sudah lama kami tak jumpa.

 

“Baik..hanya sedikit galau..” Jawabku.

 

“Kenapa?” Tanyanya penasaran.

 

“Ah..entahlah, suasana yang sering kurasa dari dulu..dan ini tandanya aku harus menarik diri sebentar dari duniaku..dan aku ingin bertemu kamu…hanya kamu yang bisa mendengarkan ceritaku” Jawabku menjawab rasa penasarannya.

 

“Baiklah…aku siap mendengar apa yang ingin kau bagi denganku” jawabnya sambil menyunggingkan senyuman tulusnya.

 

“Sebetulnya aku tak ingin berbagi…aku hanya memiliki beberapa pertanyaan yang mengganjal dihatiku, dan sedang mencari jawabannya…Aku terdiam sejenak..lalu meneruskan perkataanku.

 

“…dan…aku rasa kamu bisa membantuku menemukan jawabannya.”

 

“Baiklah, jika itu yang kaupikir…akan ku coba memberikan jawabanya jika kau percaya aku.” Jawabnya serius.

 

“Yah..aku percaya, hanya kamu yang aku percaya sejak dulu…”Aku pun mulai mengambil nafas panjang, bersiap untuk sebuah dialog yang panjang seperti biasanya.

 

“Hmmm…Boleh aku mulai??” Tanyaku sambil menunggu persetujuannya.

 

“Ya..silahkan, dengan senang hati aku akan mendengar dan mencoba menjawab apa yang ingin kau tanyakan.” Jawab Nara santai, namun penuh ketulusan.

 

Mulailah dialog panjang itu, antara Aku dan Nara.

Aku: “Apakah semua wanita seperti aku?”

 

Nara: “Maksudmu??”

 

Aku: “Ya..seperti aku, banyak memikirkan segala hal. Sepertinya semua yang terjadi dalam hidup ini aku pikirkan, sampai terkadang pikiran-pikiran itu saling berlompatan sampai aku bingung untuk memilih yang mana yang harus kuprioritaskan.”

 

Nara: “Maksudmu…yang harus kau pikirkan terlebih dahulu??”

 

Aku: Ya..Pikiran-pikiran itu sangat liar di otakku. Padahal kamu tahu kan..aku tidak pernah diam. Ada saja yang aku kerjakan…”

 

Nara: “Oh..kau ingin menanyakan kepadaku bagaimana caranya untuk menjinakan pikiran-pikiran liar yang ada di kepalamu?”

 

Aku: “Ya..begitulah, liar yang aku maksud tak terkendali ya! Bukan nakal,  karena sudah lama aku tak berpikir nakal lagi. 🙂

 

Nara: “Hahaha…aku mengerti. Kamu memang sudah tidak berpikir nakal lagi sekarang, karena dia sudah jadi milikmu.” Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.

 

Aku:“Haha..kau ini, bisa saja 🙂 Lalu..bagaimana jawabanmu??”

 

Nara: “Boleh aku mengajukan pertanyaan sebelumnya?”

 

Aku: “Ya, tentu…”

 

Nara: “Apa keinginan terbesarmu saat ini?”

 

Aku: “Hmmm…Aku ingin kaya…punya rumah sendiri, punya mobil sendiri, bisa membeli apapun yang aku butuhkan, yang aku inginkan,  bisa pergi kemanapun yang aku mau, dan aku ingin menikmatinya bersama orang-orang yang aku sayangi..dan..aku ingin bisa menggaji beberapa orang asisten untuk mengurusi kebersihan dan kerapihan rumahku, termasuk punya koki yang jago masak, dan..mereka bisa menyelesaikan semua pekerjaan rumah yang biasanya aku kerjakan sendiri.”

 

Nara:“Hahaha…yang terakhir, sepertinya itu yang terpenting ya?”

 

Aku: “Ehhh…iya yah?” Jawabku bingung sambil mengiyakan 90%.

Tiba-tiba aku ingin menangis, tanpa sadar mataku berkaca-kaca..

 

Nara: “Hey! jangan menangis!”

 

Aku:”Tidak…aku tidak menangis, hanya ingin saja..”

 

Nara: “Jangan yah..aku tahu kau tak selemah itu.” Jawabnya meyakinkanku.

 

“Kau hanya lelah sayang…lelah dengan semua yang kau kerjakan, lelah dengan semua yang kau pikirkan, bolehkah aku memelukmu?” jawabnya meneruskan perkataannnya sambil membuka kedua tangannya untuk memelukku.

 

Aku:“Dengan senang hati…:” Akupun mendekatinya dan membiarka ia memelukku, dan akupun…menangis…

 

Dia membelai rambutku perlahan sambil berkata

“Sabar ya…sabar…Semua lelahmu, adalah ibadah…dan aku bangga karena kau tidak pernah mengeluh. Aku dengar doa-doamu..aku dengar lirihan hatimu..saat kau angkat kedua tanganmu selepas kau sembahyang.”

 

“…dan aku tahu Tuhan mendengarmu, dan saat ini Ia sedang mendewasakanmu..memberikanmu pelajaran tentang hidup, tentang menjadi wanita, tentang menjadi ibu, tentang menjadi istri.”

 

“Aku tahu kau kuat dan kau akan keluar dari masalah-masalahmu ini…bukankah setiap harinya selalu ada terang. Hari tak selamanya hujan, tak selamanya juga panas…”

 

“Hidup ini seperti roda pedati, kadang di atas, kadang di bawah, kadang suka, kadang duka, semua akan datang silih berganti. Yang aku tahu apa yang kau lakukan saat ini tidak ada yang salah. Kau sedang menjalani hidupmu dengan baik…. dan mungkin, sebentar lagi kau akan naik kelas, kau akan dapat promosi. Tetap berjuang ya! Jangan menyerah!” Katanya sambil tersenyum.

 

Aku:“Maksudmu…naik kelas? dapat promosi?” Tanyaku, tidak mwngwrti apa maksud kata-katanya itu.

 

Nara: “Ya… katanya menggantung, lalu ia melanjutkan kata-katanya..

 

Nara: “Apa yang saat ini kau lakukan sudah  benar. Kau sudah berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik, mengurusi semua yang suamimu butuhkan, mulai dari makanannya, cemilannya, minumannya, pakaiannya, termasuk mepraktekan pikiran-pikiran nakalmu dengannya dulu..hehe..bahkan…kau juga kadang mengurusi apa yang seharusnya dia kerjakan. Padahal aku tahu, dulu, ketika kalian pacaran dia yang selalu melakukan apa yang kau minta, bahkan yang tak kau minta sekalipun…”

Aku hanya tersenyum…sambil berpikir dan berusaha mencari jawabannya.

 

“Ah! biasa aja ko…karena kondisinya aja sih yang bikin kaya gitu. Dulu waktu kami masih pacaran dia belum mendapatkan pekerjaan tetap seperti sekarang setelah kami menikah, kami juga pacaran jarak jauh, jadi ketika ada waktu bertemu, pasti aku hanya mengurusi dia, dia juga begitu.”

 

“ Soal melakukan apa yang aku minta, bahkan yang tak kuminta sekalipun, itu karena kondisinya pasti ketika dia sedang ada di sini, kan aku kerja, jadi dia tau aku capek, jadi…ya gitu deh..hehe..”

 

“Kalau aku sedang ada di tempatnya, pasti hanya sebentar, dan dia tahu aku butuh pengorbanan yang tidak sedikit untuk bertemu dia, tenaga lah, materi lah, harus ngumpet-ngumpet juga, tau-tau baru lapor pas aku udah di kereta. Jadi gak mungkin aku balik lagi kalau ga dapet ijin…Ijin maksa :), So..saat aku di sana, dia juga pasti akan berusaha mati-matian untuk melakukan apapun untuk aku.”

 

“Kalau sekarang sih…Kondisinya terbalik. kami serumah, setiap hari bertemu, dia kerja, aku…tiap hari menunggu dia pulang ke rumah. Wajarlah, kalau aku berusaha melayaninya dengan baik sebagai seorang istri, karena aku tahu, pasti dia capek seharian di luar sana, mencari nafkah untukku dan anakku.”

 

“Sementara aku, seharian mengurusi semua urusan rumah tangga, bahkan ketika aku ada project yang harus kukerjakan, aku harus mengorbankan sebagian waktu tidurku untuk mengerjakannya. Karena siang hari semua waktuku untuk anakku, berebutan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah yang lain, yang terkadang tak sempat kukerjakan semua karena bagiku anak lebih penting dibandingkan dengan mengurusi rumah yang bukan miliku sendiri.”

Jawabanku yang panjang itu rupanya cukup membuat Nara berpikir lebih serius, dahinya mulai merengut pertanda dia sedang berpikir.

 

“Oh…Gitu yah.?” Tanyanya memastikan apa yang ia dengar.

 

“Iya” Jawabku singkat.

 

“Baiklah eksepsimu diterima.” Jawabnya, seolah-olah dia dalah seorang hakim yang sedang mendengarkan eksepsi dari seorang terdakwa.

 

Aku: Terima kasih.” Jawabku singkat, layaknya seorang terdakwa yang baru membacakan eksepsiku.

 

“Sepertinya kamu sudah mengeri banyak dan benar-benar faham akan kondisi yang kamu alami saat ini. Tapi aku tahu…Kamu masih belum menerima keadaan itu, benarkah?”

 

“Sedikit..:) Wajarlah, aku kan manusia, walaupun aku berusaha untuk sempurna, tapi aku tetap tidak bisa sempurna, karena sempurna hanya milik yang di Atas. Kadang rasa tulus itu, rasa ikhlas itu tidak sepenuhnya. Tapi sesegera mungkin selalu kutepis karena aku tahu semua itu kewajibanku.”

 

“Aku tahu, suamikupun memikirkan tentang aku, tapi untuk saat ini kami berdua memang belum bisa berbuat banyak. Itu yang membuat jawaban pertamaku adalah ‘Aku ingin kaya’, karena untuk saat ini kekayaan itulah yang bisa menjawab semua permasalahan kami.”

 

“Aku sudah cukup sabar, aku juga berusaha untuk tetap tegar dan kuat menjalani semua ini, tapi saat semuanya memuncak…rasanya aku ingin menjerit sekeras-kerasnya. Itulah sebabnya, ketika aku berdoa selepas sembahyang, seringkali air mata itu menetes di pipiku.”

 

“Karena aku sadar ternyata betapa lemahnya aku. Dengan cobaan seperti ini saja rasanya aku tak sanggup.”

 

Nara: “Jika kau tak sanggup tak mungkin kau bisa melewati 2 tahun ini. Buktinya kau masih bisa tersenyum, kalian masih bisa melempar lelucon dan tertawa bersama, kalian juga masih melakukan hal-hal romantis untuk mengekspresikan rasa cinta kalian, dan kau tahu…Itulah kekuatan terbesarmu. Cinta.”

 

Aku: “ Ya..semuanya kulakukan karena cinta. Karena Cinta aku bisa bertahan, karena cinta yang menguatkanku, karena cinta yang meyakinkanku bahwa kami, aku, bisa melewati semua ini.” Akupun berkaca-kaca lagi…

 

Akupun terbangun, melihat anak dan suamiku sedang tertidur lelap di sisiku. Dan aku pun menciumi kening mereka, ku usap rambut anakku  yang kini mulai menutupi matanya, ku peluk suamiku dalam doaku…dengan tangis lirihku….dalam hati kukatakan…

 

“Aku mencintaimu…dan aku akan selalu bersamamu, menjadi milikmu, selalu, selamanya…”

Lalu kupeluk ia, kudekap erat sampai aku mati, dan bertemu Nara lagi.

 

***

 

 

 

Mrs.Rosella


Ini guru emang selalu bikin buruk hari-hariku. Kapanpun ada dia di depanku dan berbicara kepadaku selalu menyakitkan. Mungkin memang sudah menjadi hobi nya, tapi malangnya kenapa harus aku yang menjadi korban nya?? Mungkin ini sudah menjadi suratan. Takdir yang memang tidak bisa diubah. Aku memang sudah digariskan untuk menjadi mangsanya di sekolahku, sekolahku yang hari ini sedang mengadakan reuni akbar.

 

Kejadian-kejadian yang melibatkan aku dengan beliau tidak pernah bisa aku lupakan, begitupun kata-katanya. Seperti mimpi buruk yang selalu ada di kepalaku. Saking buruknya sampai saat ini, setelah 11 tahun aku tidak bertemu dengannya pun aku masih ingat semua teror yang pernah ia berikan kepadaku. Semoga tidak ada lagi guru yang semacam ini di masa yang akan datang. Apa jadinya masa depan bangsa kalau harus diajar oleh guru macam ini??

Pertama kalinya ia mengenalku dan mulai mengecap ‘KORBAN’ di jidatku adalah saat itu. Saat aku duduk di kelas 2, dan saat aku sedang gila Harimerta. Gebetanku di kala itu. Cowok yang membuat aku semangat untuk berlama-lama di sekolah, menonton bola di lapangan sekolah, bahkan nekad untuk mencari biodatanya untuk sekedar mengiriminya kartu lebaran yang pada kenyataannya tak pernah ku kirim.

 

Sebetulnya ini ide sahabatku Ekra, yang juga mempunyai gebetan satu sekolah. Cewek yang jadi pemburu sejati untuk urusan P-Man alias pria idaman. Kalau dia udah jatuh cinta sama seseorang, apapun akan dia lakukan termasuk hal-hal romantis, bahkan cenderung gila untuk ukuran orang seperti aku yang ogah-ogahan dalam soal mengejar cinta. Males aja kalau harus bekerja keras atau bahkan keluar modal banyak hanya untuk mendapatkan hati seorang pria, atau hanya untuk sekedar mendapatkan status ‘pacarnya si X’. Ih enggak deh…hehe

Tapi akibat bujukannya pula, akhirnya aku mau menemaninya ke ruang TU hanya untuk sekedar meminta informasi alamat gebetannya + gebetanku ke petugas TU siang itu. Tadinya kami pikir tante Ochy memang tidak akan hadir karena sudah sepuluh menit lebih dia tidak juga datang di kelas. Akhirnya kami pun  memutuskan untuk pergi pada jam itu.

namun ternyata, hari itu rupanya kami sedang Naas. Ketika kami sudah mendapatkan alamat yang kami cari kami pun bergegas ke kelas. Ternyata, Tante Ochi sudah menunggu kami di depan pintu kelas dengan tampangnya yang super jutex.

“Dari mana kalian!!??”

“Abis dari ruang TU bu,…” Ekra menjawab, dan tak meneruskan perkataannya karena sudah terlanjur takut melihat raut wajah tante Ochy yang menyeramkan.
“Sudah tahu ini jam pelajaran saya, kalian masih aja keluyuran!” Kata Tante Ochy, tanpa melihat wajah kami berdua, seolah kami tidak ada di depannya.

“Maaf bu…” Kataku lemas, karena merasa bersalah dan sangat menyesal kenapa harus mengiyakan ajaka Ekra ke ruang TU, yang ternyata menuliskan sejarah yang tak terlupakan di hari-hariku selanjutnya di sekolah itu.
“Ya sudah, masuk!!!” Katanya lagi, 100% membentak.

Badanku rasanya menggigil, langsung lemas, keringat dingin mengucur dari tubuhku. Akua tidak ingat lagi apa yang selanjutnya terjadi di ruangan itu.
Mulai hari itu dimuallah teror Tante Ochy pada kami berdua. Terutama aku, karena ternyata keinginanku untuk masuk kelas IPA menyeretku untuk masuk ke neraka. Sementara Ekra temanku dengan tenangnya masuk ke jurusan IPS, dan bisa selamat dari teror  Tante Ochy.

 

To be continue….

 

(Kelanjutannya tunggu di novel pertamaku)