Tuhan Memilih Waktu


Kadang kita tidak pernah tahu kapan akan datang hujan dan kapan akan datang panas terik. Karena terkadang ketika mendung tiba, hujan tak juga datang dan ketika langit cerah tiba-tba hujan. Semuanya adalah kuasa Tuhan. Dia yang maha tahu waktu yang tepat untuk segala sesuatu. Hanya terkadang kita sebagai manusia seringkali merasa sok tahu. Merasa bahwa Tuhan menghadirkan sesuatu pada waktu yang tak tepat. Satu yang pasti dan dapat kita pelajari adalah semua yang terjadi pada manusia adalah sebuah misteri yang akan selalu ada hikmah di baliknya.

Keadaan seringkali membuat kita terlalu bersyukur kepada Tuhan, hingga tanpa sadar membuat kita sombong dengan mengakui bahwa begitu sayangnya Tuhan pada kita. Padahal, di balik itu semua, masih banyak yang lebih Tuhan sayangi dibandingkan diri kita yang tidak ada apa-apanya ini. Masih banyak yang diberikan Tuhan kenikmatan dan kebahagiaan yang lebih besar dibandingkan dengan yang Ia berikan kepada kita. Tapi percayalah, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi. Ketika kita menerima sesuatu maka kita juga harus siap ketika suatu saat Dia mengambilnya.

Orang-orang yang kita cintai, pekerjaan yang kita cintai, barang-barang berharga yang kita cintai, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semuanya bukanlah sesuatu yang kekal. Ketika ketika kita menerimanya kita boleh berbahagia dan menikmatinya, namun ketika kita harus kehilangannya maka kita juga harus ikhlas. Yang harus tetap kita lakukan adalah berusaha melakukan apa yang terbaik, melakukan semua hal yang kita cintai, dan melakukannya tanpa syarat. Hingga batin kita tetap merasakan kebahagiaan itu. Walaupun tidak sebahagia ketika bersama dengan segala hal yang kita cintai.

Hingga akhirnya kuputuskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menghentikan aku untuk menulis. Termasuk diriku sendiri, karena hanya dengan menulis aku bisa mendengarkan banyak suara di otakku. Aku bisa berdiskusi dengan serunya bersama diriku sendiri atau bahkan menangis mencurahkan semua kesal dan amarah yang ada di hatiku. Bahkan, membuatku bisa memutuskan langkah apa selanjutnya yang harus aku ambil dalam melanjutkan hidup. Mengisi waktu yang tersisa hingga aku bertemu dengan Sang Pemilih Waktu yang tepat.

Hanya Tuhanlah yang boleh memilih waktu. Manusia hanyalah pembuat rencana, namun Tuhan yang menentukan waktunya. Waktu yang tepat, waktu yang terbaik tidak hanya untuk kita, tapi juga untuk orang-orang yang berada di sekitar kita. Dan aku tetap akan tetap mencintai orang yang aku cintai, melakukan apa yang kucintai, dan mencari apa yang kucintai, sekalipun aku tak mendapatkan apa-apa. Aku tak pernah tahu waktu yang tepat untukku, karena itulah aku akan tetap mencintai hingga Tuhan benar-benar memberikan semua yang kucintai sepenuhnya.

Iklan

Menjadi Pemenang


Wah, kangen juga menulis di blogku ini. Kesibukan menulis untuk mengejar setoran membuatku lupa dan tak ada waktu untuk menulis di sini. Kali ini aku ingin berbagi tentang perasaan senang ketika kita menjadi pemenang. Pengertian pemenang ini sebetulnya bisa apa saja,  termasuk berhasil menyelesaikan permasalahan kita dengan baik tanpa menyakiti atau mengorbankan orang lain. Namun, dalam hal ini lebih kepada suatu situasi dimana kita menjadi seseorang yang memenangkan sebuah kompetisi. Entah itu pemenang dalam kompetisi besar atau kecil, kompetisi dengan hadiah besar atau kecil, atau bahkan kompetisi yang memang tidak ada hadiahnya.

Tapi percayalah bahwa kau akan menjadi pemenang pada saat yang tepat. Seolah Tuhan memang telah menakdirkannya untuk kita. Seperti hari itu, ketika aku datang ke sebuah komunitas baru untuk menemukan orang yang memiliki minat yang sama di dunia kepenulisan. Bonusnya kali itu 25 orang yang datang pertama akan mendapatkan brownies dan buku. Wow! Tentunya menggiurkan untuk aku yang pencinta cokelat ini.

Dengan berbekal sebuah testimoni yang kukirim lewat email ke panitia, aku pergi bersama seorang teman baru yang juga anggota baru di grup tersebut. Datang terlambat karena situasi yang agak menyulitkan untuk teman baruku ini. Tapi tak apalah, yang penting kami sampai dan menepati janji kami untuk datang ke acara teresebut. Dalam pikiranku hanya itu yang terpenting saat itu. Kami duduk paling belakang dan sempat membuat gaduh karena kami membawa anak batita dan hanya tersisa satu kursi. Yang tak kalah heboh, anakku Raqilla yang sedang tidak mau diam. Berjalan ke sana kemari sampai sandalkupun putus dibuatnya.

Panik bukan main, untungnya aku tak kehilangan akal. Ku gunakan peniti untuk mengakali sandalku agar masih bisa digunakan sementara. Setelah kupastikan bisa dipakai, aku bergegas keluar karena raqilla sudah mulai tak terkendali. Selain tak mau diam, suaranya juga membuat gaduh seisi ruangan.

Akhirnya di tempat pertemuan itu aku hanya bermain bersama anakku saja. Naik turun tangga, mengikuti ke mana anakku ingin melangkah. Sesekali mengalihkan perhatiannya pada berbagai benda yang mungkin bisa menarik untuknya. Setidaknya untuk menghemat energiku untuk duduk beberapa menit.

Hingga akhirnya satu jam berlalu tak terasa. Acara hampir ditutup dengan terdengarnya seorang pria mengatakan bahwa ia akan mengumumkan pemenang dari lomba testimoni pada kue andalan perusahaannya tersebut. Disebutlah juara ke tiga dengan nada suara yang didramatisir. Entah kenapa, di dalam hati dan di kepalaku ada suara yang keras dan ramai berkata “Irma Essanovia” berulang-ulang.

Hingga akhirnya namaku benar-benar disebut. Aku menjadi juara ke-dua lomba tulis itu. Pertama kalinya aku memenagkan lomba dari menulis. Akupun bergegas masuk ruangan sementara ibu-ibu mulai berbisik dan berkata bahwa aku tak jadi datang. Ibu-Ibu yang bahkan tidak pernah bertemu denganku. Mereka yang sempat bertegur sapa denganku di dunia maya saja, dan itupun tidak sering.

Sambil menggendong anakku aku maju. Mereka menyalami aku dan menyerahkan sebuah amplop dan bingkisan. Isinya cukup lumayan untukku saat itu. Seorang Ibu yan baru mulai bekerja dan sudah kehabisan tabungan sisa gajinya dari kantor tempatnya bekerja sebelumnya. Wow! Benar-benar kejutan yang menyenangkan. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur, Ini benar-benar rezeki dari Allah.

Akhirnya, dengan uang itu, aku belikan anakku boneka Timmy yang dia sukai, sandal jepit pengganti sandalku yang sudah putus sebelah, dan modal untukku merubah penampilanku dengan mulai menutup aurat. Karena aku tahu bahwa di balik semua ini Tuhan ingin membuatku menjadi lebih baik. 1 Januari 2012, tepatnya hari pertamaku berhijab.

Dari situ hidupku juga mulai berubah perlahan. Aku sempat menang kuis dengan hadiah 2 bungkus kopi terkenal di Bandung, menang lomba buat tag line obat batuk anak, bertemu dengan seorang yang cukup menginspirasiku, ceritaku dimuat di RDI dengan honor yang cukup lumayan, dan banyak lagi yang lainnya. Aku merasa Tuhan begitu baik padaku. Terima kasih Tuhan….telah membuatku mencicipi rasanya kemenangan. Dan, itu adalah sebuah perasaan yang indah dan menjadi candu bagiku.