Kematian


Akhir-akhir ini misteri kematian mulai mengusikku kembali. Minggu lalu di tempatku bekerja ada yang meninggal,masih sangat muda,bahkan serasa miris karena aku masih bisa melihat jadwal kerjan yang seharusnya dijalankan. Beberapa hari yang lalu Indonesia kembali dikejutkan oleh aksi bom bunuh diri yang memakan beberapa korban yg meninggal dunia. Ada yang sedang berlibur, berbisnis, ada juga yang sedang bekerja untuk menunaikan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga. Kemarin aku mendengar kabar ada saudara jauh yang meninggal karena penyakit yang sudah lama dideritanya. Terakhir beberapa jam yang lalu, calon mertua sahabatku juga harus menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU karena stroke.

Hmm..mungkin besok atau lusa, aku, kamu, atau kalian yang akan menghembuskan nafas terakhir untuk menuju dunia lain setelah kehidupan di bumi.

Iklan

Zakat H. Syaichon Menjemput Maut


Sore itu… Sehabis shalat Ashar. Setelah membaca beberapa ayat suci Al-Quran aku menyalakan TV di kamarku. Saat itu di TV aku melihat sebuah tayangan berita investigasi di salah satu Televisi swasta Indonesia. Tayangan itu memperlihatkan kejadian pembagian zakat H Syaichon Fikri yang membawa maut di Desa Purutrejo pasuruan yang terjadi tgl 15-september 2008. Insiden itu mengakibatkan meninggalnya 21 orang manula dan beberapa orang luka-luka.

Sebegitu miskinnyakah umat islam sampai berebutan mengantri untuk mendapatkan zakat dari sang dermawan. Demi uang Rp. 30.000,- mereka rela berdesak-desakan dalam sumpeknya ruang yang bahkan membuat mereka kehilangan nyawanya. Bahkan ada korban meninggal yang meninggalkan buah hati mereka yang kini menjadi yatim piatu. Akan jadi apa mereka kelak?? Sudah ditinggal ayah kini hidup Tanpa Ibu??

Terbayang jika itu aku. Sepertinya dunia ini seakan sudah berakhir untukku… Satu-satunya orang yang membiayaiku, orang yang mengurusi mulai dari makanku, sampai sekolahku sudah meninggalkanku di saat usiaku masih terlampau belia, dengan seorang adik laki-laki yang hanya berbeda beberapa tahun dari aku. Siapa yang akan menghidupiku? Harus bekerja apa agar aku dapat bertahan hidup?

Tuhan kenapa engkau harus biarkan Ibuku mati di sana? Maksudnya untuk menyambung beberapa hari hidup kami malah menghilangkan nyawanya yang jauh lebih berharga dari uang Rp 30.000,- itu. Kalau boleh aku meminta…tukarlah nyawanya dengan aku, agar Ia lebih bisa bertahan untuk menjalani sisa hidupnya dengan bahagia daripada aku. Aku takkan bisa berdiri tegak tanpanya…, aku takkan bisa mengangkat daguku tanpanya…, karena aku hanya bisa tertunduk sambil menangis…, karena aku takut menghadapi apa yang akan terjadi di di hari-hari yang akan datang tanpanya…. Aku tak akan sanggup Tuhan…

Meneteslah air mataku…, sambil mataku terus menatap layar kaca yang memutar kejadian itu berulang-ulang. Rasa marah, sedih bercampur malu terus berdetak di batinku….Rasanya tak terima melihat bangsa yang kucintai ini memiliki rakyat dengan kondisi yang semakin hari semakin memperihatinkan. Semua serba susah. Kelaparan dimana-mana, kejahatan karena kemiskinanpun merajalela dimana-mana. Sebenarnya yang mereka inginkan hanya berusaha untuk bertahan hidup.

Sedangkan disisi yang lain, dari ke hari kita melihat semakin banyak juga tikus berdasi yang ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Mereka yang memakan uang rakyat. Mereka yang memakan hak kita…bangsa Indonesia. Termasuk ratusan orang yang berdesakan dalam antrian zakat itu yang seharusnya diperjuangkan. Mereka yang seharusnya bisa hidup tentram, damai, dan sejahtera di bumi yang sungguh mereka cinta sepenuh hati. Negeri yang elok dengan kekayaan alam yang berlimpah yang kini malah dijual oleh segelintir bangsa kita sendiri, sihingga kita tidak mendapatkan apa-apa lagi dari ibu pertiwi ini.

Adakah Ibu Pertiwi kita kini sudah membenci kita. Sehingga ia tak lagi ramah kepada kita? Ia melaknat kita karena serakahnya para pejabat yang hanya memikirkan keuntungan untuk diri mereka sendiri bukan untuk kepentingan rakyat. Tapi jangan pesimis dulu. Walau bagaimanapun kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Mari kita bangkit bersama-sama. Ulurkan tangan bergandengan bersama-sama mengembalikan Ibu pertiwi agar ramah kembali, sehingga yang ada hanya senyuman kebahagian dari anak-anak bangsa. Agar mereka bisa tegak berjalan, memandang masa depan cerah sehingga dengan percaya diri mereka siap untuk bersaing dengan bangsa lain di dunia.

Biarlah perlahan, tapi pasti. Kita bangun sedikit demi sedikit puing-puing kesedihan, keputusasaan menjadi sebuah energi yang besar. Energi yang mampu membuat kita bangkit menjadi lebih baik. Mulai itu dari diri kita sendiri. Berusahalah untuk selalu berbuat baik kepada orang lain. Mari kita saling menyemangati satu sama lain. Tidak usah jadikan perbedaan menjadi kita semakin jauh. Tapi jadikan perbedaan menjadi sebuah kekayaan kita. Baik dalam wacana budaya maupun perbedaan pendapat. Hilangkanlah rasa benci..biarkan kasih sayang yang menggantinya. Agar semua orang merasa nyaman satu dengan yang lainnya.

Orang-orang ahli, orang-orang kaya berkumpulah dengan apa yang kalian miliki, menyatukan kekuatan untuk membuat bangsa ini tegak kembali. Semua Profesi jadilah orang yang profesional yang berperikemanusiaan dalam mengerjakan pekerjaannya. Untuk para pengusaha, bantulah pengusaha kecil untuk menjadi besar. Berbagilah ilmu dengan semua orang jika kita yakin ilmu itu akan berguna untuknya kelak. Untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik. Kekayaan hati yang dimiliki akan mencetak banyak orang kaya. Yang sudah kaya berbagilah tanpa pamrih, tanpa ingin dipuji, biarlah Tuhan yang akan membalasnya kelak. Tuhan tidak akan salah memberi pahala begitupun sebaliknya. Ayo Indonesia, BANGKITLAH!!! Aku masih tetap mencintaimu….***

Oleh-Oleh dari Yogya


Panggilan dari sebuah radio swasta di Yogyakarta untuk Test pada hari Kamis, 25 Juni 2006 membawaku datang ke kota itu. Berbekal semangat dan mimpi untuk menjadi seorang penyiar radio, aku pergi dengan Kereta Api (KA) Lodaya pukul 07:30 pagi. Jam menunjukkan hampir pukul 3 sore ketika akhirnya KA sampai ke stasiun Tugu Yogyakarta. Keesokan harinya testpun dimulai dan usai dalam waktu kurang lebih 3 jam. Berhubung kali ini juga Long Weekend, maka tak kulewatkan untuk menginap di sini. Menikmati Yogyakarta beberapa hari.

Sabtu, 27 Mei 2006, Pukul 5 pagi, seperti beberapa hari yang lalu. Aku bangun dan mengambil air wudhu untuk shalat Subuh. Tapi acara seharian kemarin membuatku kelelahan dan mata ini rasanya masih terlalu rapat dan enggan untuk membuka. Tapi kewajiban tidak mungkin aku tinggalkan. Maka akupun berusaha terjaga untuk melakukan shalat subuh yang hanya rakaat itu yang terasa berat di pagi itu. Akhirnya, kutarik untuk menatap jendela kamar tempatku tidur. Karena tepat di depannya aku bisa melihat puncak gunung Merapi yang saat itu masih berstatus siaga.

Tempatku menginap itu berada di daerah Kaliurang atas. Sehingga udaranyapun tah jauh beda dengan Bandung, wajar saja jika pagi itu juga udara masih teramat dingin dan membuatku enggan untuk membuka mukena yang membalut tubuhku. Tempat tidur yang belum kubereskan menggodaku untuk kembali menidurinya. Sampai akhirnya kepalaku lunglai diatas bantal dengan posisi miring.

Perlahan kedua mata ini tertutup. Nikmat rasanya…..sampai akhirnya suara bergemuruh kudengar, goncangan keras membuatku terbangun, memaksa mata yang lelah ini untuk mencari tahu ada apa gerangan. Pukul 6 kurang 15 menit di jam dinding yang kulihat saat itu. Batu-batu kecil dan debu pasir dari langit-langit menghujaniku. Aku panik, goncangan itu membuat tubuh ini gemetar. Teriak panik seisi penghuni rumah ini, yang kebetulan saat itu 10 orang membuatku semakin panik, dan tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya dengan rok mukena aku turun dari loteng, mengikuti mereka keluar rumah.

Motor, mobil yang menginap di garasi malam itu, langsung dipaksa keluar. Semua penghuni kompleks panik bukan main, terutama ibu-ibu yang memeluk erat anak-anak mereka yang masih kecil. Sementara anak kecil itu, hanya terbengong tidak mengerti apa yang terjadi. Sementara anak-anak muda tidak tampak panik seperti mereka atau mungkin juga karena mereka pandai menutupi kepanikan mereka saat itu. Alhasil mereka tampak tenang menghadapi gempa yang menurut BMG berkekuatan 5,9 skala Rikhter ini. Semua orang keluar dari rumah. Kepala ini masih berdenyut, berusaha menyadari apa yang baru saja terjadi. Kaki ini masih bergetar, walaupun kucoba terus, berjalan hilir mudik menghilangkannya, padahal goncangan itu sudah tidak terasa lagi.

Tepat di depan rumah, ada warung yang juga menjual bensin. Semua orang antri mengisi motor mereka dengan bensin, sehingga dalam waktu singkat antrian itu meghabiskan persediaan bensin yang ada. Kurang lebih satu jam berlalu, dengan beberapa kali gempa susulan yang memang kalah kuat dengan gempa pertama. Suasana di kompleks itu sudah agak tenang. Penghuni rumah sudah berani masuk rumah lagi, akhirnya kuputuskan untuk ikut masuk dan membantu membersihkan batu-batuan kecil dan debu dari atap, karena cukup banyak genting yang pecah karena gempa di rumah itu. Ada beberapa sisi tembok yang terlihat retak, sehingga cukup tebal debu-debu pasir yang harus disapu dari lantai.

Setelah selesai bersih bersih rumah, aku juga membersihkan diri, dengan perasaan yang masih cemas, ingin cepat-cepat kuselesaikan acara mandi pagi itu. Kubasuh tubuh ini dari ujung rambut sampai kaki. Kaget dengan debu-debu yang ada di kepalaku, setelah tiga kali keramas baru aku merasa kepala ini benar-benar bersih dari debu dan pasir yang menghujaniku ketika gempa tadi.

Setelah selesai mandi, berpakaian. Aku siapkan semua barang bawaanku. Tak lama kemudian bumi bergoncang lagi. Kecil, tapi cukup mengagetkan, karena memang di televisi sempat menyala diberitakan akan ada gempa susulan. Kamipun kembali ke luar rumah. Namun kali ini, aku keluar dengan membawa tas dan bersiap untuk pergi, karena rencananya pagi itu aku memang akan menemani seorang kawan untuk mengambil foto Merapi di Gardu Pandang. Naik beberapa Km ke atas dari tempatku menginap waktu itu kaliurang KM 14.

Kali ini, Orang-orang lebih panik, suasana kompleks yang sedikit sekali lalu lalang kendaraan jadi ramai. Ada mobil dan beberapa bis serta puluhan motor lewat depan rumah. Mereka memijit kelakson mereka, menyalakan lampu mereka, sambil berteriak-teriak “Naik…naik….air laut naik….” Sontak seisi rumah langsung masuk ke mobil, siap siaga dengan panik dan muka bingun akan apa yang mereka katakan. Tapi yang jelas teriakan dan suasana sepanjang jalan itu membuat kami panik bukan main. Begitupun dengan penghuni kompleks yang lain. Padahal logikanya, air laut tidak akan mungkin setinggi itu, karena Kaliurang termasuk daerah yang cukup tinggi dari laut. Itu pula yang membuat kami berusaha untuk tenang. Setidaknya menenangkan diri kami sendiri dan orang-orang yang dekat dengan kami. Walaupun orang-orang tetap panik. Terutama mereka yang memang sudah membawa tas-tas besar untuk mengungsi dengan kendaraan mereka.

Akhirnya temanku datang, setelah disuguhi kepanikan yang ada, dan sudah mulai menenangkan kami, karena ia memang dari bawah, kamipun memutuskan untuk berubah arah. Ke bawah menuju kampusnya di daerah Taman Siswa. Sebelum itu aku berniat menitipkan tasku ditempat tinggalnya di dekat Mandala Krida. Disepanjang perjalanan wajah-wajah panik masih menyelimuti orang-orang. Sesekali kami melihat orang-orang yang terluka bersama istri, suami atau anak mereka. Dan ternyata salah satu bangunan di mandala Krida ambruk, dan menurut keterangan saksi, banyak korban yang luka-luka karena ambruknya bangunan itu.

Akhirnya kami sampai di tempat tinggalnya, di salah satu rumah dinas kejaksaan di daerah Baciro. Di sana sempat beberapa kali kami keluar masuk, karena beberapa kali pula gempa susulan mengguncang kami. Di sekitar kompleks ini juga ada beberapa bengunan yang ambruk, karena memang sudah tua atau memang yang strukturnya kurang bagus. Tapi kebanyakan masih kokoh berdiri, hanya genting-genting saja yang pecah dan tembok yang sedikit retak.

Setelah Shalat Dzuhur kami menuju kampusnya di Jl. Taman Siswa. Beberapa genting pecah, tembok pun retak bahkan sampai berkeping jatuh ke halaman. Lebih kaget lagi, ketika kami melihat, tepat di depan kampusnya satu gang, bangunannya banyak sekali yang rubuh, bahkan menurut keterangan yang kami dapatkan ada 3 orang korban jiwa. Satu orang anak kecil berumur 2 tahunan yang meninggal seketika karena tertimpa tembok rumahnya saat ia bermain sepeda bersama kakaknya. Selain itu bangunan sekolah, tempat ibadah juga banyak yang roboh di sekitar Yogya kota.

Mereka berkumpul disepanjang gang, sedang menikmati makan siang seadanya. Apa yang memang mereka punya. Yang rumahnya masih kokoh, menggelar tikar dan duduk teras rumah mereka. Tidak ada yang berani tinggal di dalam rumah, karena mereka masih ketakutan kalau-kalau akan terjadi lagi gempa. Begitupun dengan yang lain. Banyak warga yang sengaja berkumpul di depan rumah, di sepanjang gang, atau bahkan di lapangan-lapangan, berikut barang-barang yang berharga bagi mereka.

Dipingggiiran jalan mereka berdiri melihat keadaan sekitar. Sepanjang jalan Kaliurang macet. Pom bensin yang ada dipoenuhi antrian motor dan mobil yang mengantri mengisi bahan bakar kendaraan mereka. Begitupun dengan kios-kios penjual bensin. Bahkan ketika hari sudah siang, sekitar pukul 1 siang bensin di kios-kios dijual sampai dengan harga Rp10.000 satu liter. Bahkan menurut berita terakhir yang didapatkan dari obrolan dengan Walubi di Yogya, ternyata penjarah-penjarah yang hadir memang bukan dari korban sendiri melainkan orang luar. Dengan taktik yang memang sudah direncanakan dengan matang. Dengan bermodal beberapa kardus mie mereka dapat mendapatkan lebih dari itu. Mmmmh…Kenapa masih ada saja orang-orang yang memanfaatkan kesulitan orang lain? Indonesia…. Indonesia….Dimana rasa kemanusiaan itu?***

Jaiponganku Sayang Jaiponganku Malang….


Blak ting pong….Blak ting pong…Blaktuk..blaktuk..

Menggema di ruang ini. Bulu kuduk merinding seakan mendengar sesuatu yang sudah lama tak terdengar. Suara-suara ini mengingatkan penulis pada puluhan tahun yang lalu, sewaktu penulis kecil dan sempat diajari tetangga menari jaipongan bersama beberapa orang teman. Sekitar tahun 1988 waktu itu, penulis masih duduk di kelas 1 SD. Sekian tahun yang silam melodi-melodi itu hampir tak terdengar lagi, rupanya waktu dan orang-orang semakin berlari menjauh meninggalkannya. Sampai akhirnya jaipongan hanya menjadi sebuah kenangan kejayaan masa silam. Mataku tertegun…waktu sekan membeku, dan memori-memori lama seolah dibangkitkan kembali ketika kulihat 1 remaja dan dua orang anak kecil yang sedang menari jaipongan. Di depan mereka duduk bersila seorang guru perempuan dekat sebuah tape yang dengan seriusnya memperhatikan gerakan ketiga muridnya. Ya….inilah padepokan seni Jugala.

Dari luar kita tidak akan pernah menyangka kalau disini ada pojok-pojok yang berbau seni. Labelnyapun tidak nampak dari depan, padahal letaknya pinggir jalan. Masuk sedikit ke dalam, sepi….sebuah rumah biasa di Jl. Kopo No 17, Tapi ternyata di dalamnya banyak nafas kegiatan mulai dari EO, travel, sanggar tari, sampai istana seorang seniman legendaris pencipta Jipongan yang mendirikan padepokan Jugala di era 80-an. Ada sebuah gang kecil yang mengelitik mengajak kita mengikuti alur lorongnya, menaiki satu per satu anak tangga sampai suara-suara gamelan terdengar menggema di ruangan itu, lantai 2 bangunan itu. Ya…ruangan inilah, ruang berukuran lumayan besar, dengan lantai kayu plitur sebagai alasnya, berlangit-angit tinggi dengan deretan cermin di satu sisinya yang menjadi tempat Yayah dan murid-muridnya berlatih Jaipongan.

Didirikan sekitar tahun 80-an ketika Jaipongan lahir menambah keragaman seni tari tradisional Indonesia, khususnya di dataran Parahyangan. Gugum gumbira lah pendirinya yang juga pencipta tari pergaulan ini. Tarian yang kini sudah menjadi tarian identitas Jawa Barat. Mungkin ini pula yang akhirnya membuat Jaipongan ini ditinggalkan begitu saja karena hanya menjadi sebuah identitas. Orang Sunda cukup mengenal tarian ini….sudah itu selesai. Kini hanya pada acara kebudayaan saja Jaipongan ini dipertunjukkan. Tidak seperti dulu, dimana ada keramaian, disitu Jaipong dipertontonkan. Bagaikan tarian wajib yang harus ada di setiap acara. Mulai dari acara hajatan sampai pada acara-acara besar yang bersifat nasional sampai bertaraf internasional.
Semua orang ingin bisa menari jaipongan, semua orang berlomba-lomba mencari guru jaipongan yang paling hebat. Sanggar-sanggar tari jaipongan pun bermunculan bak jamur di musim penghujan. Sampai para selebrtitis kita, yang berasal dari dataran pasundan pada masa itu beradu cepat menguasai gerakan-gerakan dalam tari jaipongan. Sebut saja Tati Saleh (Alm), Camelia Malik, dan banyak lagi yang lainnya. Hampir di setiap pelosok ada penari jaipong yang ingin menularkan keahliannya dalam mengolah rasa dan raganya dalam gerakan-gerakan yang lincah, riang dan dinamis yang menjadi ciri khas dari tari Jaipongan karya Gugum Gumbira ini.

Jaipongan ini memang unik, selain menyenangkan untuk ditarikan, ditonton, geraka-gerakanya yang lebih ke gerakan pencak silat menurut penciptanya ini, dapat membuat penarinya banyak menggerakan otot-otot, dari kepala sampai ujung kaki, sehingga mengelurakan keringat lebih banyak dibandingkan tarian klasik yang cenderung lemah gemulai, sehingga disadari atau tidak, dengan berlatih jaipongan secara rutin, membuat penarinya memiliki badan yang bagus, terutama untuk wanita. Dengan menari Jipongan, selain melestarikan budaya Sunda yang hampir punah ini, anda juga akan mendapatkan badan yang bagus.

Tapi tidak semudah itu, untuk menjadi seorang penari, anda harus menguasai gerakan-gerakan jaipongan yang beragam, jangan pernah bermimpi anda akan langsung diajari menari dengan musik jika anda belajar di Jugala. Sebelumnya anda akan diajari gerakan-gerakan dasar yang nantinya akan diaplikasikan pada gerakan dalam tarian Level-1 pada Lagu “Oray Welang” dan jika sudah menguasai gerakan ini, akan mudah untuk naik ke level selanjutnya dengan gerakan yang lebih rumit dan beragam. Tidak hanya gerakan saja yang harus dikuasai seorang penari jaipongan, ia juga harus kuat fisik dan mental. Karena untuk menjadi seorang penari profesional anda harus tak kenal lelah dari melatih gerakan-gerakan, apalagi bosan. Berikutnya baru belajar menjiwai gerakan-gerakan itu, dengan begitu, sebuah tarian jaipongan menjadi utuh, ada roh jaipongan pada penarinya. Walhasil terian yang anda tarikan menjadi indah dan mempunyai daya tarik tersendiri bagi penionton. Dijamin penonton tidak akan berkedip melihat anda menari.

“Dulu tuh dalam satu hari kita bisa sampai 6 kali manggung, dalam satu minggu ga ada yang kosong.” Kenang Yayah Rokayah, pentolan dari penari Jugala yang kini menjadi instruktur tari di padepokan almamaternya ini, menceritakan pengalaman wanita yang berkelahiran 8 Maret 1968 ini sewaktu ia masih aktif menjadi penari pada era 80-an ketika Jaipongan benar-benar eksis di Indonesia. Khususnya Jawa Barat. Dalam satu kali pertunjukan, biasanya ia membawakan 1-2 tarian jaipongan. Jadi bisa dibayangkan betapa menjanjikannya profesi sebagai penari jaipongan pada masa itu. Padahal baginya, menari sudah menjadi keinginan hatinya dari waktu ia kecil. Dari tari klasik yang dikuasainya sebagai buah dari rengekan wanita kelahiran 8 Maret 38 tahun yang lalu ini kepada ibunya dulu, akhirnya ia memutuskan untuk pindah jalur dan mulai belajar tari jaipongan di padepokan Jugala tahun 1985.

“Baru belajar nari 2 bulan, Bapak(Gugum Gumbira) ngeliat, dan saya langsung ditarik untuk menjadi penari inti di jugala” sebelum ,menjadi penari inti, ia digojlok oleh si pencipta jaipongan, guru besar padepokan Jugala, hingga akhirnya eksis sebagai penari Jugala pada masa itu. Karena ia menari dengan hati,maka ia tidak pernah bosan untuk bergelut di dunia ini. Sampai kini ia mengabdikan diri untuk menjadi guru tari Jaipongan, tidak hanya di Jugala, tapi juga dibeberapa sanggar tari dan sekolah tari.

Di jugala ini, ada 5 level. Setiap level rata-rata memakan waktu 4 bulan. Seteleh diuji dan dinyatakan layak naik tingkat, maka siswa berhak naik level dengan tarian baru yang tentu saja memiliki tentangan yang lebih tinggi, karena tingkat kesulitan gerakan maupun ragam dari gerakan itu. Jika level 1-5 sudah dilalui, selanjutnya akan diuji lagi, jika memang sudah layak untuk menjadi seorang penari maka anda akan dilatih lebih intens lagi oleh Mira Tejaningrum, anak sulung dari Gugum Gumbira sang guru besar, kemudian oleh Gugum sendiri dan setelah melalui penggojlokan itu anda siap bergabung dengan grup Jugala untuk mempertunjukkan tari Jaipongan.

Sampai saat ini, hampir semua benua sudah dijejaki oleh Grup Jugala untuk menampilkan seni tari Jaipongan ini, yang ternyata kini lebih dihargai dan dicintai di negeri orang dibandingkan di negeri kelahirannya sendiri. Ya….begitulah kenyataanya, Jaiponganku sayang Jaiponganku malang….. ***

Tua Segalanya ‘Hotel Surabaya ’Bangunan Bandung Tempoe Doeloe yang Tak Berubah Fungsi


Baru aja kita ngelewatin Imlek. Buat kamu yang merayakan, pasti bermakna banget ya? Gong Si Pa Choi! Ngomong-ngomong tentang Imlek atau tahun baru Cina, jadi inget pecinaan, warna merah, angpaw, lampion, kelenteng dan bangunan-bangunan khas yang berasitektur Cina. Bandung juga masih punya loh bangunan yang berasitektur Cina! Salah satunya ‘Hotel Surabaya’ yang kini menjadi cagar budaya yang juga dilestarikan oleh Bandung heritage. Hotel ini menurut paguyuban pelestarian budaya Bandung di tahun 1997, didirikan pada tahun 1860, namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa hotel ini didirikan tahun 1900-1905 (Moh. Gufron ITB, tahun 1994). Bangunan ini merupakan bangunan perpaduan antara arsitektur gaya Belanda klasik dengan gaya Cina. Berdiri di atas lahan seluas 2.475m2 dengan luas bangunan 1.582 m2.

Dilihat dari luar…hotel ini memang lebih seperti seonggok bangunan tua yang tak terawat, namun siapa sangka, sampai saat ini hotel ini masih berfungsi sebagai hotel, ini uniknya! Dari awal dibangun sampai saat ini fungsinya tak berubah, walaupun jika ditanya masalah persaingan, hotel ini memang bisa dibilang bukan apa-apa dibanding hotel-hotel lain yang banyak bertengger di kota Bandung. Hotel yang menawarkan gaya modern dengan pelayanan serta fasilitas yang juga modern. Dengan fungsinya yang tak berubah, Ia bertahan tegak dengan gagahnya sebagai bangunan bersejarah di kota kembang ini. Tak peduli zaman dan perkembangan meninggalkannya, ia tetap berjalan perlahan dengan sederhana dan seadannya.
Mari kita dekati, sedikit demi sedikit masuk melewati pintu gerbang sebelah kiri yang selalu terbuka. Kita disambut dengan sebuah kios rokok yang juga sudah lama mangkal di situ. Cukup unik, tidak seperti hotel-hotel pada umumnya yang disambut dengan sebuah pos satpam atau security. Naik ke anak-anak tangga yang semuanya berketinggian tak lebih setengah meter, kita temukan resepsionist yang lebih senang menamai mereka sebagai bagian administrasi. Deny dan rekannya yang siang ini, dan hari-hari lain bertugas mencatat orang-orang yang check in dan check out di hotel ini. Mereka duduk di kursi dengan meja yang memang sudah tua, tapi masih terlihat kokoh berwarna cokelat pelitur. Disampingnya ada lukisan keluarga Paramita yang memiliki bangunan ini. Juga denah dan beberapa catatan sejarah mengenai hotel ini dengan bahasa Belanda.

Ia ramah, sampai tahu kalau kuli tinta yang berkunjung, apalagi ketika saya katakan ingin mewawancarainya bekaitan dengan hotel ini sebagai salah satu cagar budaya. Dia angkat tangan, bahkan tidak mengijinkan mengambil foto interior hotel ini, tapi ndak usah kuatir, karena kepala ini cukup menyimpan memori tentangnya. Semoga saya dapat menggambarkan bangunan bersejarah ini dengan sebaik-baiknya, karena untungnya….beliau masih mengijinkan saya untuk menelusuri lekuk-lekuk dari hotel yang konon juga dibuat oleh orang-orang Cina yang memang sengaja didatangkan untuk membangun hotel ini.

Di depan para resepsionist ini ada satu ruangan yang biasanya disebut lobi hotel. Ruang duduk para tamu yang sudah ataupun yang akan masuk hotel ini. Luasnya tidak seberapa, namun cukup nyaman kalaupun kita ingin berlama-lama duduk di sini. Sambil melihat kedua resepsionist tadi tentu saja, karena letaknya memang bersebrangan, otomatis mata kita akan tepat memandang mereka. Kecuali jika kita duduk di sebelah kiri atau di kanannya. Di sini ada lemari dan beberapa lukisan menempel di dinding putih yang mulai pudar mendekati warna krem. Begitupun warna lukisannya yang agak kekuning-kuningan termakan usia. Ya….menjadikannya semakin tua….

Setelah berlama-lama di lobi, mari kita telusuri ruang-ruang lain diantara kamar-kamar hotel yang ada, yang berjumlah 50 kamar, karena memang ada beberapa yang dirubah menjadi ruangan agar interiornya tidak terkesan sempit dan gelap. Kebanyakan menjadi ruang terbuka dengan kursi dan meja untuk nongkrong para tamu. Karena memang sengaja dibuat seperti itu. Hampir setiap blok kamar memiliki minimal sepasang kursi dan meja yang dilengkapi vas bunga, asbak, dan tempat sampah di setiap sudutnya, karena memang aturan yang diberlakukan di hotel ini cukup tegas, begitupun dengan larangan untuk menginap bagi pasangan yang bukan suami istri. Jadi buat yang kalian yang belum menikah, jangan coba-coba menginap satu kamar di hotel ini! Pasti ditolak mentah-mentah deh…

Sebagai bangunan bersejarah, mereka tetap berusaha mempertahankan bentuk-bentuk dasar dari bangunan ini, yang memang perpaduan antara gaya Belanda dan Cina. Gaya Belanda dapat terlihat dari langit-langit dan pintu yang menjulang tinggi. Di setiap kamar kebanyakan tidak berjendela kaca biasa, sehingga jendela hanya difungsikan sebagai aksesoris bangunan saja. Dengan warna kaca-kaca kecil yang beraneka di pintunya. Sampai saat ini yang dilakukan hanya pemeliharaan saja. Dengan karyawan yang kurang lebih 18 orang, hotel ini masih layak untuk dijadikan tempat kita menginap, walaupun memang apa yang mereka berikan memang tidak semegah pelayanan dan fasilitas di hotel lain, karena mereka juga memang tidak meminta banyak dari kocek kita. Dengan Rp 35.000,- saja kita masih bisa menginap di hotel ini. Tapi sendiri, di kamar standar yang hanya 1 kasur kecil di dipan yang juga furniture gaya jaman dulu yang memang masih tampak kokoh di setiap kamar yang dilengkapi dengan lemari meja dan kursi yang lagi-lagi klasik. Untuk yang ingin menikmati kasur dan kamar yang lebih besar, dengan ranjang kayu yang klasik, yang masih dilengkapi dengan kelambu, Jadul banget deh pokoknya….bisa pesen kamar yang lebih besar.
Tidak hanya lukisan, kursi dan meja klasik yang dapat kita temukan di sini, tapi juga peti, lemari, dan benda-benda furniture lain yang terbuat dari kayu, rotan, atau dipadukan dengan elemen-elemen logam di koridor-koridor kamar hotel ini. Mereka ada, tapi sudah tidak difungsikan lagi sebagaimana mestinya, seperti lemari kosong, peti, ataupun rak buku yang dibiarkan kosong tanpa buku pernak pernik dan aksesoris apapun. Mereka hanya dijadikan benda tua dan mati yang menambahkan kesan bangunan tua saja, memang seperti itulah adanya.

Seperti rak buku yang ada di lorong, rak yang cukup unik, karena ditengahnya ada satu kursi dari rotan yang menempel pada rak buku ini. Di lorong ini cukup gelap, pengap, lembab, maklum, mungkin karena membentuk sudut dengan luas yang hanya sekitar 1×3 meter menyerupai leter L menuju ruang berikutnya yang lebih lega. padahal siang hari waktu itu. Tapi tidak usah khawatir kalau malam pasti terang, walaupun suasananya akan sedikit lebih sepi. Ada 2 lampu yang tergantung di situ, satu bulat, satu lagi kotak. Memang hampir di seluruh ruangan terdapat lampu-lampu neon yang bersembunyi di kaca-kaca lampu antik, lebih seperti lampion, bahkan ada yang memang mirip lampion, neon dalam kotak yang garis tepinya merah dengan ukiran besi khas Cina dibeberapa ruangan, seperti yang tergantung anggun di dekat rak buku di lorong tadi.

Di bagian belakang, ada sebuah koridor yang berukuran cukup besar, luasnya sekitar 100 meter persegi yang lebih mirip ruang terbuka atau biasanya orang sebut teras. Namun di sini kita dapat menemukan beberapa set kusi dengan model dan warna yang berbeda satu sama lain. Begitupun dengan mejanya, ada yang dari kayu dan ada pula yang dari marmer yang dilengkapi dengan vas bunga di atasnya. Tepat di pinggirnya, bersandar pada dinding bupet berkaca. Di atasnya ada sebuah frame foto suami istri yang empunya hotel. Koridor ini menghadap halaman belakang yang letaknya tepat didepannya, bagian samping hotel. Tamannya memang biasa saja, tapi cukuplah untuk menyegarakan mata yang baru terjaga dari mimpi, atau untuk menghirup udara segar sambil minum kopi di pagi hari yang memang salah satu fasilitas yang diberikan hotel ini pada para tamunya. Karena untuk makan para tamu biasanya mencari sendiri di luar. Hotel tidak menyediakan fasilitas ini.

Tak jauh dari koridor ini selain di belakang ruang TV kita dapat temukan tangga yang menuju lantai atas. Di atas sini juga terdapat beberapa kamar, yang kini memang jarang terisi, karena tamu-tamu bisanya lebih banyak di bawah, selain karena tamunya yang memang tidak terlalu banyak. “Bisa di hitung jari lah….kebanyakan sales yang kesini, kalau nggak dari Surabaya, dari Yogya, atau Jakara.” Tutur Ishar (50 tahun) yang sudah 7 tahun menjadi Room boy hotel ini.

Di atas suasananya lebih klasik lagi. Selain lantai yang terbuat dari kayu, dindingnyapun berlapis triplek bercat putih. Kamar yang di bagian depan apalagi. Kamarnya lebih tinggi, langit-langitnyapun lebih tinggi dibandingkan dengan ruang bawah, sehingga tekesan lega. Di sini tidak segelap di ruang bawah, karena ruang terbukanya memang lebih banyak. Bahkan ada yang menghadap ke jalan. Jauh lebih sepi, lebih tenang dibandingkan dengan di bawah. Kesendiriannya benar-benar terasa di sudut-sudut ruang ini, apalagi di kamar. Dapat kita jadikan tempat bersepi diri.

Walaupun hotel ini letaknya di pinggir jalan, tapi dalamnya kita akan mendapatkan ketenangan. Adem rasanya berada di dalam. Selain karena udara yang memang adem, suasana dan interiornya yang klasik juga sangat mendukung. Menjadikan bangunan ini tua segalanya. Sampai kapan akan seperti ini? Kita lihat saja nanti!!!*** (Artikel ini pernah dimuat di majalah Bandung&Beyond)

Ekonomi Versus Bisnis Versi Kereta Api Indonesia


Karena sebuah telepon seluler, terpaksa aku harus pergi ke Jakarta. Atau mungkin sebab terlalu baiknya aku, sehingga aku mau menemani temanku Ukur ke Ibu Kota dengan menggunakan Kereta Api (KA) kelas ekonomi. Padahal sebenarnya aku bisa menggunakan KA kelas bisnis, tentu saja tanpa bayaran karena Ayahku bekerja di PT.KAI. Walaupun jabatannya masih golongan 2, tapi dengan pekererjaannya itu aku mendapatkan kemudahan dalam urusan tumpangan dengan KA, walau kadang harus berharap ada kursi kosong, karena petugas di stasiun tidak memberi aku tempat duduk, dengan alasan singkat “tidak ada yang kosong.” Itulah yang beberapa kali dikatakan petugas SAP di stasiun Gambir kepadaku.

Kemanapun aku pergi, terutama bulan-bulan terakhir menjelang usainya masa studiku di Universitas, yang lebih dikenal dengan kampus biru, entah karena warna biru yang mengecat besi-besi di kampusku atau karena hal lain, sehingga orang menyebutnya kampus biru. Tugas akhirkulah yang sering membawaku bolak-balik Bandung-Jakarta untuk melakukan observasi maupun wawancara. Bahkan pernah aku pergi ke Yogyakarta dan Magelang untuk keperluan tugas akhirku yang kini sudah rampung itu dan membuatku memiliki gelar S.Sos.

Begitupun temanku ini, Sebut saja Ukur namanya. Selama aku masuk dunia jurnalistik, entah itu di kelas saat perkuliahan atau ‘di luar’ dengan aktifitasku di media kampus, baik yang idealis maupun yang komersil. Mau tidak mau, kami selalu berhubungan satu sama lain, padahal aku cukup muak dengan keadaan ini, karena kadang aku sadar kalau dia tidak sebaik yang kuduga. Tapi sudahlah, kita ambil hikmahnya saja, Ukur banyak membuatku belajar banyak tentang dunia jurnalistik yang hampir 2 tahun aku geluti, bahkan sampai detik ini. Mungkin ini yang disebut jalan hidup.

Akhirnya aku sanggupi untuk menemani Ukur ke Jakarta untuk Tugas Akhirnya, yang saat itu belum juga selesai, karena dia sedikit lebih santai dari aku. Tujuannya menemui Arie Basuki, seorang fotografer sebuah majalah yang cukup populer di Indonesia.

Sekitar pukul 21:30, setelah berpamitan kami pergi ke stasiun Kiaracondong, yang memang stasiun khusus pelayan para pengguna jasa KA kelas ekonomi. Ketika kami sampai, KA Serayu yang akan kami naiki memang masih belum sampai, karena jadwalnya memang masih beberapa jam lagi. Kami pun menunggu, karena loket penjualan tiketpun memang masih belum dibuka.

Sambil menunggu, kami berdebat mengenai masalah kecil yang menjadi besar karena tidak ada satupun dari kami yang mau mengalah, sampai akhirnya ketika loket mulai dibuka, sekitar lima belas menit sebelum keberangkatan, dengan terpaksa mungkin Ukur mengalah, karena dia harus pergi denganku yang dia anggap tahu banyak tentang Jakarta. Padahal sebenarnya biasa saja. Ukur pun mengantri bersama calon penumpang lainnya di loket, sedangkan aku menunggunya di depan loket. Sambil memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di depanku dengan bawaan mereka yang banyak.

Setengah duabelasan malam, KA yang kami tunggu akhirnya tiba. Para calon penumpang pun berhamburan memburu lokomotif warna Orange dan biru tua itu, yang rupanya menjadi ciri khas KA ekonomi. Kami masuk dari gerbong paling belakang, berharap menemukan kursi yang masih kosong untuk kami berdua. Berjalan perlahan diantara kursi-kursi yang berderet di sepanjang gerbong. Berpasang-pasang mata melihat kami dengan curiga, tapi ada juga yang acuh tak acuh bahkan, tak bergeming dengan mimpi mereka masing-masing.

Aku merasa asing, mungkin karena ini pertama kalinya aku menggunakan KA ekonomi selain KRD Padalarang-Cicalengka bersama temanku, itu pun karena kami ketinggalan KA KRD Patas, saat aku diminta menemaninya di rumah karena orang tuanya sedang di Bandung. Aku pun tak ingin kalah balik memperhatikan mereka, dengan dalih mencari tempat duduk yang kosong. Wajah-wajah itu berbeda dengan wajah-wajah yang sering kulihat di KA Parahyangan yang sering kunaiki ke Jakarta.

Aku perhatikan dengan seksama raut-raut muka itu. Aku rasakan perasaan-perasaan yang terlihat dari garis wajah mereka. Banyak pikiran di kepala mereka, beribu resah dan gelisah di setiap gerbong. Batinku tersentak, karena aku sadar betapa jelas sekat antara si miskin dan si kaya, dan hal kecil yang dapat dijadikan indikasi pengekelasan itu adalah pengkelasan jasa transportasi ini, Kereta Api. Begitupun mungkin dengan pesawat terbang ataupun bis, yang belum ku tahu pasti seperti apa.

“ Pak, kursinya masih kosong” tanyaku kepada seorang Bapak yang akhirnya duduk di sebelah Ukur. “Iya”, ketika aku melihat 2 kursi kosong bersebrangan di tengah gerbong itu, sedang Aku duduk bersama seorang laki-laki yang sebaya denganku sampai kami tiba di Jakarta. Beberapa menit setelah itu keretapun mulai melaju. Rasa dingin membuat ku ingin mengeluarkan urine dari tubuhku. Akhirnya, aku bergidik ke belakang gerbong, karena di sana ada toilet. Aku masuk ke ruang kecil itu, bau pesing membuatku ingin segera keluar. Niat itu semakin besar ketika aku melihat keran kering yang tak berair setetespun. Aku langsung berbalik dan kembali ke tempat dudukku, sambil berusaha menahan inginku itu.

Selang 30 menit-an, rupanya aku tidak sanggup lagi untuk menahannya. Ku ambil sebotol air mineral untuk minum yang akhirnya kugunakan untuk buang air kecil di toilet itu. Di dalam toilet, mataku masih berkeliling mengamati sekitarku. Aku tersentak ketika kulihat sebuah dompet yang tak berisi tergeletak di sudut toilet. Muncul pikiran burukku bahwa KA ini tidak aman, mungkin aku bisa menjadi sasaran berikutnya, dan ini membuatku lebih hati-hati menyimpan uang dan barang berhargaku lainnya. Temuanku itu kukatakan pada Ukur, tapi dia hanya tersenyum miris tanpa komentar.

Lega rasanya, akhirnya inginku terpenuhi. Setelah lelah berbincang, akupun tak kuasa menahan rasa kantukku, sehingga akhirnya akupun tertidur. Sesekali ku terbangun dan tidur lagi, jadi beberapa kali perhentian memang tidak aku perdulikan karana rasa kantukku yang teramat sangat, setelah siang harinya lelah beraktivitas. Begitu pun penumpang lain, kebanyakan mereka juga tertidur, walaupun ada saja yang masih asyik berbincang-bincang untuk mengisi perjalanan panjang di KA Serayu itu yang akan mengantarkan kami ke Stasiun Senen Jakarta.

Aku tidak tahu pasti berapa kali KA yang kami tumpangi berhenti. Rasa kantukku mengalahkan segalanya. Perjalanan itu tidak begitu terasa, seperti perjalanan pulang kami. Hanya rasa pegal kaki, pinggang, dan punggungku yang membuat aku berdiri beberapa kali untuk menguranginya. Akhirnya sekitar pukul lima pagi, KA yang kami tumpangi sampai di stasiun Senen. Saat itu masih gelap, maka kami putuskan untuk diam sejenak di stasiun menanti pagi sambil menikmati teh manis hangat yang dijajakan seorang wanita Jawa setengah baya setelah kami shalat Subuh di mushola stasiun itu.

Setelah matahari mulai terbit, sekitar pukul 6 pagi, kami mulai beranjak ke tempat tujuan kami, di mana Arie Basuki bisa ditemui, di sebuah bangunan di kawasan Velbag Jakarta. Singkat cerita, karena Ukur yang sok tahu, akhirnya aku mengalami menginap di stasiun, karena ternyata tidak ada KA yang ke Bandung malam itu, kami telat setengah jam dari jadwal pemberangkatan KA terakhir yang menuju Bandung. Bahkan di Stasiun Gambir pun baru ada keesokan harinya. Jadi tidak ada hal lain yang bisa kami lakukan selain menyerah pada keadaan.
Aku kesal pada temanku ini, rasanya ingin marah, tapi apa boleh buat, aku juga harus ikut menanggung kesoktahuannya ini. Kami pun tidur di Kursi stasiun yang keras itu yang berada di dekat pos jaga Kepala Stasiun, karena menurut mereka, di situlah tempat yang paling aman dari kejahatan. Dingin dan berkali-kali gigitan nyamuk terus menyerangku. Rasanya aku ingin menangis dan hal itu membuatku sangat merindukan kamarku. Aku ingin pulang, aku rindu hangatnya selimutku, empuknya bantal dan kasurku, dan nyamannya badanku yang pulihkan semua lelah yang terasa. Tidurku jauh sekali dari nyenyak. Berharap pagi segera datang dan aku dapat segera kembali ke Bandung.

Akhirnya adzan Subuhpun berkumandang, kami memutuskan untuk membersihkan badan , shalat dan mencuri kesempatan untuk memejamkan mata di mushola yang berada di stasiun itu, sampai seorang ibu berlogat jawa membuatku terjaga, setengah mengusirku dengan melipat tikar yang dipasang di mushola itu. Aku bangun dengan rasa malu, berharap dia memaklumi keadaanku.

Setelah cuci muka, kami keluar stasiun, mencari makan untuk mengisi perut, karena di stasiun kami tidak menemukan yang ingin kami makan saat itu. Ketika kami berniat untuk masuk kembali ternyata pintu masuk ke stasiun dikunci, dan menurut informasi yang kami dapatkan dari seorang pria berseragam Departemen Perhubungan, pintu baru dibuka lagi setengah jam sebelum KA datang ke stasiun Senen. Akhirnya kamipun terpaksa menunggu di selasar stasiun sambil mendengarkan musik dari earphone yang tertancap di tape recorder yang Ukur bawa untuk wawancara.

Sekitar jam delapan pagi akhirnya loket di buka. Para calon penumpang pun menyerbu loket untuk membeli tiket, termasuk Ukur yang terlihat bingung mencari loket yang harus dia antri. Setelah mendapatkan tiket, ia kembali, dan langsung mengajakku masuk ke pintu masuk stasiun yang sudah dibuka. Aku ikuti langkahnya, dan kami mencari tempat strategis untuk menunggu kereta yang akan kami tumpangi kembali ke Bandung. Kami tidak ingin tertinggal, dan harus menginap lagi di stasiun, terutama aku. Satu malam cukup untukku merasakan pengalaman yang menyedihkan ini.

Beberapa jam kemudian, setelah kami kehabisan akal untuk menunggu, kami menghibur diri dengan bercakap-cakap tentang hal-hal konyol untuk mengisi waktu, yang membuat kami bisa tertawa. Sekitar pukul 11 siang barulah Kereta yang akan mengantar kami ke Bandung sampai. Para calon penumpang yang asalnya bersantai menunggu dengan segala ekspresi, setengah berlari menyerbu kereta itu. Kami pun masuk ke dalam kereta. Ternyata keadaannya jauh berbeda dengan ketika kami pergi. Karena kami naik dari tujuan akhir, dan tempat pemberangkatan pertama, kali ini kami bebas memilih tempat duduk kami. Sampai kami sempat berpindah-pindah tempat duduk sebelum KA melaju.

Sengaja kami cari gerbong yang sudah terisi penumpang, agar kami merasa aman. Setidaknya ada teman yang dapat kami lihat dan kami dengar selama di perjalanan. Duduklah kami di pilihan tempat duduk terakhir kami, seberang sepasang kakek nenek, yang obrolannya tak pernah habis, yang terhenti hanya ketika mereka makan atau salah satunya tertidur. Terkadang kamipun ikut tertawa jika ada yang lucu dari obrolan mereka.
Sepuluh menitan kami menyamankan diri untuk duduk di kursi itu. Tapi dari awal, pedagang asongan tidak pernah henti hilir mudik menjajakan barang dagangan mereka, mulai dari minuman, makanan, sapu tangan, sampai mainan anak-anak yang konon hanya dijual di ‘Jakarta Fair’.

Mereka datang dengan berbagai gaya, dengan beragam cara penjajaan. Dari yang tenang sampai yang menegangkan urat lehernya menawarkan barang dagangannya kepada para penumpang termasuk kami. Mereka berkeliaran dengan bebas di KA. Tidak seperti di KA Parahyangan yang sering kunaiki, dimana hanya dari pihak KA yang bisa berjualan hilir mudik menawarkan makanan, minuman, atau bacaan untuk disewakan. Yang dengan fresh dan cepat melayani para penumpang KA kelas bisnis itu.

Lain halnya dengan kereta api yang kami tumpangi ini, petugasnya berkostum beladus dengan raut muka yang lelah dan kusut menawarkan nasi goreng, mie rebus, teh manis, kopi dan sebagainya sambil membawa catatan pemesanan kepada penumpang. Seperti lelah yang tiada hasil, karena kebanyakan penumpang tidak memperdulikannya. Pedagang asongan tetap lebih mendominasi, sehingga teriakannya kalah oleh mereka saat menawarkan barang daganganya.

Awalnya kami tidak merasa begitu terganggu sampai akhirnya datang segerombolan pengamen, pengemis, tukang sapu dari penghentian stasiun. Kebanyakan mereka meminta dengan paksa. Tapi apa boleh buat, kami memang tidak punya uang kecil, sampai untuk membuat mereka pergi, kami berikan rokok dan makanan yang kami punya kepada mereka.

Mereka tidak beretika sama sekali, bahkan saat kami tertidur pun mereka tidak menghiraukannya, dengan membangunkan kami sampai kami terbangun dan memberikan sesuatu kepada mereka. Bahkan parahnya lagi, ada pengamen yang mengancam akan mengambil barang kami, jika kami tidak memberikan uang kepada mereka. Padahal mereka masih muda, dan bisa mendapatkan uang dengan jalan lain selain cara yang tidak terpuji itu.

Hal itu sempat membuat kami merasa kesal, dan menyesalkan tidak adanya pihak keamanan dari KA yang menertibkan para pengamen atau profesi lain yang sebenarnya hanya mengaharap imbalan rela dari penumpang, bukan memaksa, apalagi mengancam. Yang kami tahu mereka bukan orang yang baik, dari tato, anting, dan aksesori yang mereka pakai, apalagi bau alkohol dari mulut mereka, dan itu jelas meresahkan kami sebagai penumpang KA. Untung tidak terjadi apa-apa, kalau sampai terjadi sesuatu nama PT. KAI juga yang akan tercemar, karena menjadi tempat beroperasinya kejahatan yang memang dapat terjadi dimana saja.

Hal itu membuat kami merasa semakin tidak nyaman, jangankan untuk tertidur nyenyak , untuk duduk dengan tenang pun rasanya sulit. Setidaknya sampai kami tiba di stasiun Padalarang. Setiap KA berhenti, kami harus siap-siap “Akan ada apa lagi sekarang?” . dan perhentian untuk KA ekonomi ini memang bukan perhentian yang sebentar, sehingga untuk jarak Bandung-Jakarta yang dengan KA Parahyangan yang dapat ditempuh dengan waktu tiga setengah jam paling lama, menjadi hampir 7 jam, yang disebabkan oleh perhentian yang terlalu lama hampir di setiap stasiun, dan juga kecepatan yang memang lebih lambat dari KA kelas bisnis. Lagi-lagi kelas yang menjadi pembeda, dan itu sebuah realitas yang memang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan kita.

Walaupun demikian penumpang KA ekonomi ini selalul ada, mereka tetap menjadi pelanggan setia. Karena mungkin hanya tiket KA kelas ekonomilah yang bisa mereka beli dengan uang mereka. Mereka jarang ada yang mengeluhkan ketidaknyamanan yang mereka rasakan dalam KA ini, karena mereka memang ‘merasa’. Hanya sebagian kecil penumpang saja yang berani mengeluhkan kenyamanan mereka di KA ekonomi ini. Seperti masalah kebersihan, keterlambatan, toilet, ataupun kaca pecah yang membuat genangan air sewakti hujan, serta gangguan keamanan lainnya yang meresahkan.

Mengapa penumpang KA ekonomi dimarginalitaskan? Minimal kebersihan dan toilet yeng memang diperlukan, apalagi untuk rute perjalanan yang lumayan jauh seperti Jakarta-Kroya ini. Mereka juga manusia yang harus dilayani, karena mereka juga membayar, walaupun uang yang mereka berikan tidak sebesar yang penumpang kelas bisnis atau bahkan penumpang kelas eksekutif.

Dengan adanya penghargaan yang diwujudkan dengan pelayanan yang baik dari pihak KA, maka penumpang yang menjadi pelanggan setia ini akan mencintai KA, karena mereka merasa tergantung dengan alat trasportasi ini. Dengan begitu akan terjalin suatu simbiosis mutualisme antara penumpang KA ekonomi dengan perusahaan Kereta Api ini. Karena penghargaan yang kita berikan akan terefleksikan dengan penghargaan yang orang berikan kepada kita. Dengan begitu Perusahaan. KAI akan menjadi perusahaan dibesarkan oleh pengguna jasanya, karena mampu menghargai manusia dengan manusiawi. ***
Tulisan ini pernah diterbitkan di ‘KONTAK’

Dibalik Sosok Seorang Remy Sylado


Remy Sylado. Siapa yang tak kenal pria yang usianya lebih dari separuh baya ini. Lewat karya-karyanya yang sudah tak terhitung jumlahnya, mulai dari novel, karya teater, puisi, dan sebagainya. Karya-karya yang menuntut kreativitasnya di bidang sastra. Dengan kepekaannya terhadap fakta yang tepat dalam novel-novel karyanya. Untuk Setting cerita yang dibuatnya, seperti waktu dan tempat yang membalut cerita itu dengan menarik dalam novel-novelnya.

Sebut saja Kembang Jepun, cerita tentang geisha yang sangat terkenal di Surabaya itu. Lengkap dengan tahun-tahun ketika terjadinya permesta di Makasar dan lain-lain yang terdapat dalam alur cerita yang dibuatnya itu sampai yang terakhir yakni ‘Sam po Kong’ tentang Cengho yang berlatar tahun sejarah abad ke-15 ini direka dengan dongeng yang dituturkan dari mulut ke mulut. Begitupun dengan Ca Bau kan, dan karya-karya lainnya yang kebanyakan memang merupakan perpaduan antara fakta dan fiksi yang menjadi satu karya yang disenangi pembacanya. Semua karya-karyanya itu mempunyai unsur sejarah yang kental yang dipadukan dengan tokoh-tokoh nyata atau imajiner, sehingga membuat novel-novelya begitu menggigit.

Fakta dan fiksi baginya merupakan satu hal yang memang bisa dipisahkan. Penulis, sekaligus seniman ini memang termasuk penulis yang tidak akan berani menulis sesuatu jika ia tidak yakin akan hal itu, maka sebelum ia menulis ia akan melakukan riset terlebih dahulu terhadap apa yang akan dituangkannya kedalam karya-karyanya. “Kalau saya belum yakin, tidak akan saya tulis.” Saat ia ditanya seberapa jauh keakuratannya akan novel-novel gaya history yang ditulisnya.Karya-karyanya itu kita membuat kita kagum akan kehebatannya dalam berimajinasi dan juga kegigihannya dalam mencari fakta.

Nama aslinya Yapi Tambayong. Dalam kiprahnya sebagai seniman dan juga penulis ia mempunyai dua nama lain yakni Remy Sylado dan Alif Dinya Munsyi. Nama remy sylado ini berasal dari chord ‘And i love her’ the beatless pada lirik awal yang berbunyi “I’ll give her all my life…’ yang lebih dikenal dalam sepak terjangnya di dunia seni dan juga sebagai penulis novel. Nama keduanya Alif Dinya Munsyi merupakan nama keduanya sebagi penulis buku-buku sastra yang lebih teoritis. Bukan tulisan sebagai karya kreatif seperti novel-novelnya yang dicap sebagai karya Remy Sylado. “Jika saya menulis kebahasaan, linguistik, tata bahasa, masalah sastra sebagai teori bukan sebagai karya kreatif pake nama Alif Dinya Munsyi” ujarnya, tanpa memberikan alasan spesifik tentang penggunaan nama itu.

Perjalanan hidup pria kelahiran Makasar di masa-masa kemerdekaan ini sudah cukup panjang. Sudah terbilang lama pula ia bergelut di bidang sastra. Saat usianya 16 tahun ia sudah menulis novel pertamanya yang bersetting sejarah saat kedatangan Spanyol di Makasar. Novel yang berjudul ‘Inani Keke’ ini baru diterbitkan saat ia menginjak usia 18 tahun. Sebuah prestasi yang cukup luar biasa. Remaja dengan kepekaan terhadap sejarah yang menjadikan karya sastra lebih bernilai, walaupun jika dilihat saat ini, banyak sekali penulis yang lebih muda dari usianya saat itu yang sudah menghasilkan karya-karya yang memang lebih ringan dibandingkan novel Remy Sylado yang berbau sejarah di usianya pada masa itu.

“Bagus, jangan dihukum, sebab mereka baru mulai ko dihukum, kita harus melihat saja, melihat dia sebagai kenyataan, nanti dia akan berkembang” jawabnya ketika ditanya tentang penulis-penulis muda yang bermunculan akhir-akhir ini dengan gaya yang berbeda dengannya. Salah jika orang menyangka ia mempunyai penilaian negatif pada anak-anak muda asal Indonesia yang sekolah ke luar negeri dari novel ‘Menanti Pagi di Melbourne’. Padahal sebetulnya ia mengangkat itu untuk membuat mereka yang beruntung mengecap pendidikan di luar negeri betul-betul menggunakan kesempatan itu dengan sungguh-sungguh. Menimba ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan bangsanya ketika ia pulang ke Indonesia. Bukan malah menyerap nilai-nilai budaya luar yang negatif untuk ditularkan ketika ia kembali.

Ketertarikannya di dunia tulis menulis memang sudah muncul sedari kecil. Ia gemar membaca buku beraneka jenis. Dari buku-buku yang dibaca itulah ia mempunyai keinginan untuk menjadi penulis. Ingin tulisannya dapat dibaca orang, seperti ia membaca karya-karya penulis itu. Sebagai seorang penulis, ia sangat menikmati saat-saat dimana ia mengumpulkan dan mencatat apa saja yang ia temukan. Ia juga gemar untuk membaca apapun. Karena memang penulis yang baik adalah pembaca yang baik, begitupun sebaliknya. Dengan kegemarannya itu ia mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman.

Pengalaman yang membuatnya lebih kaya ilmu dan serba tahu. Bahasa Arab, Ibrani, Mandarin, dan Yunani juga sempat ia pelajari di Seminari Theologia Baptis di Semarang. Pengtahuannya terhadap bahasa-bahasa itu ternyata menjadi bekalnya dalam melakukan riset penelusuran sejarah untuk buku-buku yang sudah, sedang dan akan ditulisnya. Bukan hanya bahasa Asing, bahasa Sunda, jawa, Minahasa, dan bahasa daerah lainnyapun ia kuasai. Termasuk logat-logatnya. Maka jangan heran jika ia juga bisa menyanyikan lagu daerah dengan ahlinya. Begitupun dengan menirukan kata-kata dari bahasa daerah dengan logat-logatnya yang khas.

Namun ternyata ia juga manusia biasa yang juga mempunyai kekurangan. Tak semua karyanya berhasil dengan mudah ia lahirkan. Cepat ia buat, seperti kebiasaanya saat bekerja sebagai wartawan di Semarang, Bandung, dan Jakarta dalam menepati deadline tulisan-tulisannya yang akan dimuat di media tersebut. Sebut saja Kembang Jepun yang awalnya merupakan cerita bersambung di sebuah koran harian di Surabaya yang menjadi sebuh novel. juga media-media cetak lainnya baik harian dan majalah yang kerap kali memampang tulisan-tulisannya. “Novel yang paling lama ‘Agonia Cinta Monyet’, sudah 2 tahun enggak kelar-kelar, bosen saya.” Kenangnya tentang novel yang belum juga diselesaikkannya. Penulis sekaliber Remy pun bisa mengalami hal itu. Mentok saat sedang menulis.

Karya keratif tidak pernah lepas dari inspirasi. Menurutnya inspirasi itu dibuat sendiri, sehingga melahirkan karya-karya yang memenuhi daftar prestasinya, baik sebagai aktor, pelukis, maupun penulis. Dalam berkreasi ia memang memadukan semua ilmu dan pengetahuan yang ia miliki. Baik yang didapatkannya di akademik maupun dari buku-buku, majalah, jurnal, atau bahakan arsip yang didapatkannya. Itu yang membuat visinya tercapai. Berkarya dan karyanya dapat dinikmati orang. Untuk tulisan, tulisannya bisa dibaca orag. Untuk teater dan aktingnya ia ingin itu dapat dinikmati orang, begitupun dengan lukisan yang dihasilkannya.

Selain kesibukannya sebagai penulis dan seniman ia masih juga menjadi aktor di dunia sinematografi Indonesia. Namun kini, profesinya sebagai aktor tidak terlalu kentara. Alasannya memang karena ia lebih selektif dalam memilih peran dan cerita. Banyak tawaran yang ia tolak karena menurutnya banyak cerita-cerita sampah. Tapi ada satu yang ia pilih, dan itu belum tayang. Rencananya akan ditayangkan di RCTI. Kita tunggu saja aktingnya, dan kita lihat cerita seperti apa yang bagus menurut versinya untuk sebuah karya sinematografi Indonesia. Semoga bisa menjadi acuan untuk para sutradara, produser atau insan-insan perfilman maupun sinematografi. Agar dikemudian hari mereka bisa menghasilkan karya-karya yang lebih berbobot, berisi untuk membuat penontonnya lebih maju, bukan malah mundur ke puluhan tahun silam. Karena menatap masa depan akan lebih berharga dibandingkan melihat terus ke belakang dan tidak berbuat apapun untuk masa yang akan datang.

Untuk teater yang dipimpinnya ia memadukan sastra dengan teater, karena menurutnya teater tidak akan ada tanpa ada sastra. “Karena teater saya adalah teater yang berorientasi kepada sastra.” Tuturnya mengenai teater yang dipimpinnya yang sudah melangsungkan pertunjukan sebuah drama musik di gedung kesenian jakarta 27-28 Agustus 2005 lalu dengan sukses. Drama musik tentang kisah Ceng Ho. Yang bukunya pada waktu itu baru saja diluncurkan. Momen yang menyibuka tentu saja. Namun ia tetap menjalaninya,karena baginya hidup adalah bernafas. “Aktivitas dalam 24 jam yaitu bernafas, karena saya bergerak terus.” Ia terus berkreativitas. Menghasilkan karya-karya untuk dipersembahakan bagi para penggemarnya maupun masyarakat Indonesia pada umumnya.

Ia yang masih menjadi penduduk kota kembang ini masih betah di Kota rantauannya ini. Namun ia menyayangkan kondisi Bandung sekarang ini yang selalu macet. Udara Bandung sekarang juga ia rasakan lebih panas dibandingkan pertama kalinya menginjakan kaki ke Bandung sampai akhirnya ia menjadi dosen di Akademi Sinematografi Bandung. “Matahari aja ada berapa di Bandung, ada yang di Cihampelas,…..” Selorohnya menyamakan matahari yang di Atas dengan matahari yang menjadi raja perusahaan retail di Indonesia sambil diiringi tawa renyah yang diikuti para wartawan yang mengelilinginya ketika usai bedah buku ‘Sam Po Kong’ di Bandung beberapa waktu yang lalu.

Remy juga merupakan seorang sosok religius. Ia tak pernah lupa untuk menyebut nama Tuhan dalam setiap kesempatan. Membuat masuk surga adala cita-cita yang tak pernah diubahnya dari dahulu sampai sekarang. Bahkan ketika ditanya moto hidupnya, dengan ringan ia menjawab “Hidup jangan sakit-sakitan, uang harus kira-kira bisa untuk beli obat jika sakit, lantas mati masuk surga.” Ujarnya yang semakin terburu-buru karena ada urusan lain yang tidak bisa ia tunda dengan berlama-lama meladeni kami.

Sosok seorang Remy Sylado mungkin bisa kita teladani. Manusia sederhana yang dengan kesaderhanaanya itulah ia berkreasi. Dengan kegemarannya membaca dan menulis, serta mempelajari segala hal membutanya semakin kaya wawasan dan pengetahuan. Namun dengan segunung prestasi dan kepintaran yang dimilikinya itu, baik sebagai penulis, aktor, maupun pelukis ia tetap seorang manusia yang rendah hati, sehingga dengan ramahnya melayani permintaan dan menjawab pertanyaan dari para penggemar maupun wartawan yang selalu saja penasaran dengan sosok pria berambut putih ini. Pria yang selalu tampil dengan kostum berwarna putih dalam berbagai kesempatan.***

(Tulisan ini pernah dimuat di majalah Bandung & Beyond)