Hidup Sehat Seru Itu Berawal dari Pikiran Sehat


Hidup sehat seru itu menurut saya berawal dari pikiran yang sehat. Alasannya karena sesehat apapun persiapan kita untuk hidup sehat, mulai dari asupan makanan, gaya hidup, pola hidup, dll. Ketika pikiran kita tidak sehat maka semua itu berujung dengan sia-sia. Agar lebih mudah saya beri contoh kasus ya. Bagaimana bisa pikiran sehat menjadi awal hidup sehat yang seru.

Stress Pembunuh No 1

Stress Pembunuh No 1

Contoh Kasus Pentingnya Pikiran yang Sehat untuk Hidup Sehat

Misalnya kita sudah berbelanja makanan sehat. Stok untuk satu minggu kita simpan dalam lemari es untuk kita olah setiap harinya. Tentunya dengan menu makanan sehat yang sudah kita siapkan untuk satu minggu sebelum berbelanja. Tapi apa daya…cicilan yang belum lunas sementara uangnya sudah digunakan untuk acara dadakan. Tagihan internet bulanan sudah jatuh tempo padahal uangnya juga sudah habis buat beli susu dan diapers anak.

Atau buat kamu yang masih jomblo yang baru aja diputusin pacar dan ditinggal pacar nikah. Wew….Stress berat deh pokoknya. Alhasil semua stok di kulkas itu membusuk karena tidak diolah untuk dijadikan asupan sehat yang seharusnya dikonsumsi pada minggu tersebut. Lalu apa yang kamu makan? Akhirnya ketika lapar berat melanda mie instant atau nasi rames dari warung depan menjadi santapan. Sedangkan gizi dan berbagai kandungannya tidak bisa dijamin 100%.

Kasus yang ke-2 makanan sehat dengan menu 4 sehat 5 sempurna sudah siap di atas meja. Tapi banyak pikiran yang mengganggu kamu dan membuat kamu tidak berselera untuk makan. Akhirnya makanan-makanan sehat itu tidak kamu santap. Sebaliknya, kamu justru rokok, mengkonsumsi makan-makanan manis dan lemak berlebih, atau soda berharap mengurangi stress kamu. Lebih parah lagi minuman beralkohol dijadikan pelampiasaan. Padahal, Hmmm…semua itu bisa bikin kamu sakit. Tidak sekarang, tapi nanti…

Kasus berikutnya Makanan sehat sudah tersedia dan kamu tinggal menyantapnya. Tapi banyak hal yang harus kamu lakukan karena kamu ingin semua permasalahan atau pekerjaan yang bikin kamu stress cepat terselesaikan. Akhirnya…tinggalah makanan-makanan itu di rumah. Kamu pergi seharian kesana kemari dan ketika saatnya kamu makan yang kamu makan tiada lain makanan-makanan cepat saji, makanan berlemak dan berkolesterol tinggi, atau jika dalam keadaan darurat bisa jadi gorengan yang murah meriah yang dijual mamang di pinggir jalan. Hasilnya…Asupan makanan menjadi tidak sehat dan justru memiliki banyak efek buruk untuk tubuh kamu.

Tiga kasus saja sepertinya sudah cukup mewakili ya. Bagaimana bisa pikiran yang tidak sehat menjadi halangan untuk kamu agar bisa hidup sehat. Sebaliknya, ketika pikiran kamu sehat maka asupan sehat. Sesederhana apapun itu disajikan, semurah apapun harganya, sealakadarnyapun bisa membuat hidup kamu menjadi sehat dan bisa menikmati hidup yang seru.

Motivasi Hidup Sehatku

Dulu, berasa banget, apalagi waktu di Bandung. Tidak cuman saya yang sering sakit alias penyakitan, tapi juga suami dan anak. Kenapa…salah satunya ya karena pikiran kita yang enggak sehat. Suami enggak betah tinggal di Bandung. Banyak kondisi yang bikin bawaannya jadi sensitif. Akhirnya jadi sering diem-dieman. Klo udah kaya gini anak jadi korban. Katanya anak tuh punya ikatan batin yang kuat sama Ibunya. Kalau Ibunya lagi stress atau uring-uringan dia juga jadi turun imunitasnya. Akhirnya sakit.

Walaupun cuman batuk pilek tapi kalau keseringan kan kasian juga. Jadi enggak ceria lagi, sering rewel, dan bikin saya jadi kepancing suka emosi jiwa juga. Kalau udah gini semuanya enggak ada yang beres. Gimana mau hidup sehat coba? Begitupun waktu awal-awal tinggal di sini yang berbarengan dengan obsesi buat kontrakan di Bandung. Maksud hati biar ada tambahan penghasilan pasif kan lumayan.

Ternyata renovasi itu tidak semudah yang dibayangkan. Matrial yang mahal, tukang yang mahal apalagi klo kerjanya enggak bener, lama, banyak maunya, dll…bikin stress walaupun cuman dapet laporannya aja. Berat badan berkurang drastis 7kg. Padahal udah mulai hamil anak ke-2 tuh. Alhamdulillah semuanya selesai dan akhirnya berubah halauan dan saya mulai berpikir dan memotivasi diri agar bisa hidup sehat dan mengawalinya dari pikiran yang sehat.

 

Tips Hidup Sehat Seruku

Ketika pikiran kita sehat maka bisa dipastikan kita akan dengan mudah untuk hidup sehat. Untuk itu maka ada beberapa tips hidup sehat seru yang ingin saya bagikan. Tentunya tips hidup sehat seru yang saya jalankan hingga saat ini. Berikut tipsnya:

  • Tidur cukup

Tidur cukup itu untuk saya bukan sekadar lamanya, tapi juga kualitasnya. 5-8 jam sehari rasanya sudah lebih dari cukup. Kalau malam harus terbangun untuk beraktivitas. Shalat malam atau mengerjakan perkerjaan yang belum selesai selama 2-3 jam setelah subuh tidur lagi 1-2 jam aja. Idealnya sih dibayar pas tidur siang. Tapi seringnya karena berasa ngantuk berat saya sering menyerah untuk tidur lagi.

  • Jangan Melamun/bengong.

Melamun atau bengong ini sungguh kebiasaan yang tidak sehat. Akhirnya saya menuliskan apa yang berseliweran di kepala saya di laptop atau di atas kertas. Pastinya harus ada aktivitas yang dilakukan. Dengan begitu pikiran kita tidak akan dirasuki pikiran negatif dan aneh-aneh tapi sebaliknya. Logika kita semakin terasah hingga akhirnya mendapatkan solusi dan jalan keluar dari permasalahan yang sedang kita hadapi.

  • Isi waktu dengan hobi dan pekerjaan kamu.

Ketika ada waktu luang maka yang saya lakukan adalam mengisi waktu dengan membaca atau menulis. Alhamdulillah hobi ini juga  sekaligus menjadi sesuatu yang menghasilkan. Jadi tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.

Menulis

Menulis

  • Ketika ada Masalah, Segera cari Solusi.

Manusia tidak pernah lepas dari masalah. Semua orang pasti memiliki masalah. Hanya saja kadar and tingkat kesulitannya yang berbeda. Masalah inilah yang seringkali menjadi biang stress. Itulah sebabnya ketika ada masalah yang saya lakukan adalah segera mencari solusinya. Bisa dengan mencari tahu sendiri, curhat pada orang terdekat yang bisa dipercaya, atau menuliskannya sebagai bentuk terapi sekaligus cara mendapatkan solusi. Jika sudah ada solusinya maka pikiranpun otomatis bisa sehat kembali.

  • Kendalikan Emosi.

Mengendalikan emosi penting untuk pikiran yang sehat. Karena faktanya kemarahan itu membuat kondisi badan kita berubah pada kondisi yang tidak sehat. Mulai dari detak jantung, kesehatan kulit, dll. Untuk itu ketika ada sesuatu yang membuat kita marah lebih baik menjauh. Bisa juga tarik nafas yang dalam dan mengeluarkannya perlahan atau minum. Dalam agama saya diajarkan mengendalikan emosi dengan cara duduk jika kita marah ketika sedang berdiri, jika tidak juga reda maka berbaring. Jika masih berwudhu, beristigfar atau shalat. Biasanya saya melakukan salah satunya sesuai dengan kadar emosi saya pada saat tersebut. And its works!

 

  • Nikmati Hidup.

Sebagai manusia kadang yang ada di pikiran kita adalah banyaknya kekurangan atau banyak hal yang tidak kita miliki. Dan percayalah, semua itu hanya akan membuat kita bertambah stress. Itulah sebabnya saya belajar untuk menikmati hidup. Menikmati apa yang saya miliki saat ini. Mulai dari badan yang sehat, lengkap, dan sempurna, anak yang lucu dan tingkah polahnya, makanan dan minuman yang sedang saya nikmati,  dll. Sekecil apapun itu disyukuri hingga terasa nikmatnya.

  • Bergeraklah

Bergerak mulai dengan menjalani aktivitas harian beres-beres kamar, nyapu, ngepel, jalan kaki anterin anak sekolah, shalat dengan teratur dan cara yang benar, dll. Pokoknya aktivitas menggerakan badan dengan cara dan sikap badan yang benar. Dengan pergerakan yang dilakukan membuat darah kita juga mengalir dengan aktif. Hasilnya tentu tubuh yang sehat dan penyakit enggan menyerang.

Bersepeda di Pagi Hari

Bersepeda di Pagi Hari

  • Minimalisir mengkonsumsi makanan atau minuman yang berakibat buruk untuk kesehatan.

Jujur saya bukan orang yang konsisten dalam menjaga makanan dan minuman yang saya minum selalu makanan dan minuman sehat. Oleh sebab itu yang saya lakukan adalah meminimalisirnya. Dengan begitu prioritas utama tetap mengusahakan asupan yang sehat untuk tubuh.

minuman bersoda

No Soda

  • Segera minum air putih ketika kehausan.

Air adalah salah satu unsur yang paling penting dalam tubuh kita. Tuhan sudah menciptakan tubuh kita dengan begitu sempurna. Termasuk signal bahwa tubuh kita membutuhkan air segera. Itulah sebabnya saya memang bukan penggila dan memaksakan untuk minum air putih yang banyak. Tapi ketika saya haus atau air seni saya berwarna kuning maka itu pertanda saya kekurangan air dan harus segera memenuhi kekurangan tersebut.

Wah, panjang ya ternyata hidup sehat seru ala saya. Intinya saya sangat percaya bahwa hidup sehat seru itu berawal dari pikiran yang sehat. Alhamdulillah setelah konsisten menjalaninya beberapa bulan terakhir ini penyakit tidak mau menyerang tubuh saya. Semoga pengalaman, motivasi dan tips yang sudah saya uraikan di atas juga bisa kamu lakukan dan bermanfaat untuk kamu. Jalani dengan konsisten dan saya sudah membuktikannya sendiri. Selamat mencoba! ***

Tulisan ini diikut sertakan ke dalam Kontes #HealthAgent Sharing Inspiration Blog Contest yang diselenggarakan oleh @Nutrifood

Iklan

Ospek Kreatif, Gokil, dan Seru Versi Gue


Klo ditanya “Ospek Kreatif, Gokil dan Seru yang Ada di Pikiran Lo?” Dengan senang  hati akan gue jawab secara panjang x lebar. Soalnya gemes aja dengan ngelihat ospek-ospek yang ada di Indonesia saat ini. Setiap penerimaan mahasiswa baru, pasti ada aja berita tentang ospek yang enggak banget. Nah loh, penasaran kan ospek yang enggak banget yang kaya gimana?

Ospek yang enggak banget:

  • Ospek yang bikin capek setengah mati mahasiswa mahasiswinya. Ospek yang bikin calan Mahasiswa Baru (Maba) enggak tidur semaleman karena ngerjain tugas ospek semacam tas atau prakarya berbentuk aneh, atau mengukir sandal jepit berwarna tak lazim menjadi karya seni, dll yang besoknya harus udah jadi. Sementara pada hari itu MaBa baru pulang ospek jam 7 malam. Mana toko udah pada tutup jam segitu, belum lagi rumah yang jauh di pinggiran kota…pengalaman adik gue ini…kasian bgt deh mpe bikin dia nangis-nangis. #Hug
  • Ospek yang pake kata-kata kasar. Walau bagaimanapun MaBa juga manusia maka seyogyanya diperlakukan sebagai manusia tentunya dengan prikemanusiaan. Jadi kampungan banget kalau ada Senior yang marah-marah pake kata-kata kasar. Apalagi sampai bawa semua penghuni kebun binatang. Sekalian aja jadi penjaga marga satwa Mas!
  • Ospek yang ada acara-acara senior melecehkan juniornya. Pelecehan apapun alasannya sangat tidak dibenarkan. Bulying itu menyakitkan dan enggak banget tau!! Apalagi sampai bikin Maba Trauma enggak mau kuliah karena malu, atau takut sama Senior. Nah Loh? Padahal orangtuanya udah keluar duit banyak banget buat daftarin anaknya masuk ke kampus itu. Belum lagi usaha dia mati-matiaan buat bisa diterima di universitas tersebut. Bisa kalian bayangkan bagaimana tragisnya sisa hidup mahasiswa atau mahasiswi baru ini? Oh my goodness….
  • Ospek yang enggak masuk akal. Enggak masuk akal karena harus bawa sesuatu yang emang sebenernya enggak ada alias akal-akalan aja biar Senior bisa marah-marah dan mencaci maki juniornya karena dianggap eggak becus.
  • Ospek yang buang-buang duit. Buat masuk kuliah aja udah muahal banget sekarang. Dan percaya deh, dari tahun ke tahun selalu naik. Enggak yang negeri apalagi yang swasta. Apalagi kalau ditambah biaya Ospek dan berbagai keperluannya yang sampai beratus-ratus ribu. Kasian sih mereka yang enggak mampu. Masa gara-gara Ospek jadinya mereka enggak bisa jadi Mahasiswa Baru?
  • Ospek yang penuh dengan kekerasan. Ini juga udah enggak jaman keless… Sekalipun dengan alasan menguji mental dan fisik MaBa. Enak aja Senior nyiksa-nyiksa Junior. Apalagi sampai berdarah-darah atau bahkan berakhir dengan kematian. Hey, mahasiswa itu bukan Algojo! Kalian berpendidikan, kok masih musim pake kekerasan. Please deh….

Nah, dari beberapa poin yang tadi kita bahas, tentunya kita bisa ambil kesimpulan Ospek seperti apa yang Kreatif, Gokil dan Seru versi Gue. Tentunya yang pertama adalah dengan tidak adanya unsur-unsur yang terdapat pada poin-poin yang udah gue sebutin di atas.

Ospek Versi Gue

Ospek Versi Gue

Ospek dilakukan sesuai dengan tujuannya yaitu sebagai Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Saat Ospek adalah saatnya mahasiswa baru dikenalkan pada berbagai hal yang menyangkut kampusnya. Mulai dari mengenal semua sudut-sudut kampus serta kegunaannya. Kalau perlu dikenalkan dengan semua staf-stafnya. Jadi pas udah kuliah nanti mereka enggak canggung lagi untuk mengurus ini itu.

Dikasih tahu juga ruangan-ruangan dan berbagai fasilitas yang disediakan oleh kampus yang bisa mereka gunakan. Pun prosedur untuk menggunakannya. Biar mereka enggak katro ketika akan mempergunakan berbagai fasilitas kampus tersebut. Selain itu juga pada berbagai kegiatan yang ada di kampus. Tujuannya untuk memberi gambaran sejelas-jelasnya tentang bagaimana perkuliahan akan berlangsung, seperti apa dosen-dosennya, tugas-tugasnya, dll. Sekali lagi ini bukan untuk menakut-nakuti ya, tapi untuk memberi gambaran yang jelas. Jadi tolong jangan diperbuas ya…

Dengan begitu para mahasiswa baru ini tahu pasti apa yang harus mereka rencanakan dari awal kuliah hingga akhirnya mereka bisa lulus dengan baik dari kampus tersebut. Rencana yang matang tentu akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik pula dibandingkan yang setengah matang bukan? Mereka tahu mata kuliah apa saja yang akan mereka pelajari serta tahapan-tahapan yang harus mereka lalui untuk bisa lulus dan memperoleh gelar tertentu seperti apa yang mereka atau orang tua mereka cita-citakan.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan. Saat Ospek adalah saat mereka menjajaki universitas tempat mereka akan menuntut ilmu. Tempat mereka akan didewasakan terutama dalam pola pikir. Itulah sebabnya Ospek juga menjadi ajang untuk menananmkan rasa kecintaan dan kebanggaan kepada para Mahasiswa Baru akan Universitas tempatnya menuntut ilmu termasuk para seniornya. Dengan begitu segala hal yang ia lakukan kelak tentunya mampu ia pertanggungjawabkan. Selalu menjaga nama baik kampus kebanggaannya dengan bertindak baik dan benar sesuai dengan visi misi universitas pilihannya itu.

Semua itu diracik panitia ke dalam rangkaian acara Ospek yang menyenangkan. Tidak hanya bagi Senior tapi juga bagi Junior yang menjadi pesertanya. Jadi sekalipun tujuannya serius semua dilakukan dengan santai dan kekeluargaan. Banyak permainan ataupun kegiatan yang bisa diadaptasi baik dari dalam maupun luar negeri untuk dijadikan sebagai rangkaian acara ospek. Tentunya dengan sasaran yang diinginkan. Mulai dari tim building, kepemimpinan, kemandirian, loyalitas, mentalitas tinggi, dll.

Kalau sudah begini semua mahasiswa baik senior maupin junior, serta pihak universitas tentu bisa bersinergi untuk memajukan almamaternya. Selain itu semua pihak turut serta menjadi agen perubahan universitas tersebut ke arah yang lebih baik. Hasil akhirnya tentu lulusan universitas tersebut yang memiliki kualitas yang baik yang nantinya akan menjadi generasi penerus bangsa, dan para calon pemimpin bangsa yanga kan membawa bangsa kita menjadi bangsa yang lebih baik lagi. Karena walau bagaimanapun pendidikan adalah salah satu tonggak kemajuan suatu bangsa.

That’s all…Ospek kreatif, gokil, dan seru versi gue. Setidaknya menjadi Ospek ideal yang ada di angan-angan gue. Jadi kalau suatu saat gue punya universitas maka ospek yang seperti ini yang akan gue terapkan di Kampus Gue. Ayo siapa yang mau daftar? Huahahahahah….#ngimpi.***

GIVE-AWAY-banner

Biarkan Menjadi Kejutan Idul Fitri


Sesuai rencana, sebelum kami pindah dari Bandung, aku dan suami berencana memiliki anak ke-2. Alasannya tentu karena anaku yang pertama Raqilla sudah hampir 5 tahun dan sudah meminta adik untuk menjadi temannya. Pun aku yang tak mau hamil di usia tua. Alasannya tentu karena semuanya terpikir akan begitu berat untuku. Dengan kondisi kesehatanku, pun dengan masa depannya kelak. Jadi kupikir usia 32 adalah saat yang tepat untuk memiliki anak ke-2.

Dari awal menikah kami sangat menginginkan anak laki-laki sebagai anak pertama, sekaligus cucu laki-laki pertama untuk oma, abah, eyang uti dan eyang kakungnya. Menurutku dan suamiku sudah seharusnya anak pertama itu laki-laki. Itu karena pengalaman kami sebelumnya. Aku sebagai anak perempuan yang merasa terlalu berat harus menjadi yang pertama dalam segala hal. Pun untuk suamiku yang merasa seringkali tidak didengar aspirasinya sebagai anak bungsu.

Tapi bukan itu poin pentingnya, kami hanya ingin merencanakan sesuatu yang kami pikir akan lebih baik untuk masa depan anak-anak kami. Tapi ternyata anak pertama kami lahir berjenis kelamin perempuan. Kami sudah tahu dari USG pada minggu ke-20. Seiring berjalannya waktu kami pun berangsur menerima dan mencari pembenaran di balik kenyataan yang kami dapat bahwa calon anak pertama kami seorang perempuan.

“Enggak apa-apa ya yang, anak perempuan juga bisa jadi kakak yang baik buat adik-adiknya. Bisa mandiri, bisa menjadi pembimbing buat adik-adiknya. Dan yang pasti dia bisa berperan sebagai Ibu untuk adik-adiknya kelak.”

“Iya yg” Kata suamiku membenarkan sambil memeluku dan calon bayi pertama kami di perutku.

k2k4k7

Sejak itu pula kami memanggilnya kakak. Berharap Ia bisa menjadi kakak yang baik untuk adik-adiknya kelak. Berperan sebagai kakak yang sesungguhnya. Sosok anak pertama yang kami dan adik-adiknya butuhkan kelak. Akhirnya ia lahir sesuai dengan keinginan kami di tanggal cantik 8-9-10 (8 September 2010) dengan kelahiran spontan pukul 05:55.

Untuk kehamilanku yang ke-2 kamipun berencana untuk memiliki anak laki-laki. Maksud hati agar anak kami cukup sepasang saja sesuai dengan anjuran pemerintah. Setelah ini tugas kami selanjutnya yaitu untuk membesarkan mereka dan menjadikan mereka anak yang shaleh dan shalehah. Berpendidikan dan berperangai yang baik serta bisa melindungi dan bertanggung jawab setidaknya untuk diri mereka sendiri.

Berbagai artikel kami baca untuk memperogram anak ke-2.Kamipun mencoba untuk megatur asupan kami selema merencanakan kehamilan ke-2. Namun apa boleh buat, kondisi kami yang tidak tingga serumah tidak memungkinkan untuk mengatur menu makanan yang akan kami santap setiap harinya. Usaha lainnya yaitu dengan menentukan kapan saat yang tepat untuk membiarkan pembuahan itu terjadi. Mulai dari kalender china hingga kalkulator masa subur kami pelajari. Namun ternyata hal inipun terlampau sulit untuk kami. Lagi-lagu kondisi kami yang tinggal berjauhan seringkali membuat kami melanggarnya.

Akhirnya kamipun pasrah. Hanya satu harapanku yaitu Yang Kuasa yang berkuasa menentukan takdir untuk kami. Ia yang menentukan anak ke-2 kami ini laki-laki atau perempuan. Sampai sekarang, saat usia kehamilanku sudah menginjak 28 minggu aku masih tetap berdoa dan berharap agar janin yang ada di rahimku ini laki-laki. Tapi kini doaku hanya di dalam hati saja karena aku tahu calon bayiku sudah bisa mendengar apa yang aku ucapkan. Setiap shalat malam atau sehabis shalat wajib aku selalu megelus perutku yang semakin membuncit dan menyampaikan permintaanku Pada Yang Maha Kuasa.

Aku dan Raqilla anak Pertamaku

Aku dan Raqilla anak Pertamaku

Kini kelahirannya semakin dekat. Alhamdulillah Allah memperkenanku bertemu dengan Ramadhan sebelum kelahirannya. Bulan suci ini akan menjadi tumpuan terakhirku untuk berdoa. Dengan permintaan yang sama. Setelah itu tinggal menunggu hari keahirannya yang diperkirakan akan jatuh pada hari Jumat, tangga 31-Juli-2015. Dimana takdir itu akan benar-benar nyata. Dan kami tidak ingin tahu atau menebak-nebak lagi apa jenis kelaminnya.

Biarkan semuanya jadi rahasia Allah sampai tiba saatnya ia memberikan kami sebuah kejutan  setelah kami merayakan hari raya Idul Fitri. Namun apapun kejutan yang tiada lain adalah takdir yang akan kami terima kelak kami sudah berjanji kami akan menerimanya dengan berlapang hati. Kami tahu, Dia memiliki rencana terbaik untuk kami. Perempuan ataupun laki-laki nantinya anak ke-2 kami, kami akan tetap mencintai dan menyayanginya sepenuh hati. Mendidik dan membesarkannya agar menjadi anak yang shaleh atau shalelhah. Sampai bertemu nanti nak, sehat selalu ya…Ayah dan Bunda menunggumu sebagai kejutan di penghujung Idul Fitri nanti.***

Tulisan ini diikutsertakan ke dalam Pregnancy Story Writing Competition

nuk ok

Arti Mukena untuk Seorang Irma


Mukena atau rukuh adalah salah satu benda yang sangat berarti bagi saya. Bukan hanya sekadar karena fungsinya untuk menghadap pada Sang Kholik, tapi memang ada kisah dibaliknya yang memiliki makna khusus dalam kehidupan saya. Tidak hanya dalam kehidupan tapi juga pengalaman ketauhidan saya dengan Nya. Kisah ini berawal ketika saya kecil dulu. Bagaimana saya mengenal Tuhan saya, ketika saya diajarkan shalat dengan dibelikan sebuah buku tata cara shalat lengkap oleh Papa.

Darinya pula saya belajar dan dididik bahwa shalat itu bukan lagi sebuah kewajiban, tapi sebuah kebutuhan. Walaupun ada jamannya ketika kecil saya dulu saya sering berbuat nakal dengan masuk kamar dan berpura-pura shalat di kamar lalu keluar untuk segera bermain kembali karena teman-teman sudah menunggu. Dulu waktu saya masih kecil, Nenek selalu mengingatkan saya untuk shalat. Hal yang pertama ditanyakan ketika kami bertemu bukan sudah makan atau belum tapi sudah shalat atau belum.

Tentunya saya tidak bisa mengelak dari pertanyaan ini karena saya tahu nenek lebih sering menghabiskan waktunya di rumah, sehingga ia pasti tahu kalau saya berbohong. Akhirnya, ya begitulah cara saya mengelabuinya. Masuk kamar membuka lipatan mukena, menggosok-gosoknya sedikit hingga terdengar seperti gerakan orang sedang shalat termasuk dengan beberapa bacaan shalat yang saya keraskan terutama takbir dan salam. Tak segan saya juga sembari menggerakan badan saya seperti sedang shalat.

Hehehe…jika ingat masa itu saya malu, sekaligus ingin tertawa meneertawakan kenakalan saya itu. Padahal sama saja waktu yang dihabiskan untuk kegiatan pura-pura shalat itu dengan shalat sungguhan. Hingga akhirnya kebiasaan nakal saya ini benar-benar tidak saya lakukan lagi. Tentunya seiring dengan bertambahnya pengetahuan saya bahwa shalat adalah salah satu rukun Islam yang harus saya kerjakan. Dari kelas 4 SD shalat menjadi rutinitas yang ‘harus’ saya kerjakan.

Saya masih ingat benda berwarna putih polos untuk shalat ini saya dapatkan sebagai warisan dari sepupu saya. Sebuah rukuh terusan berwarna putih polos dengan kain yang sangat tipis. Barulah ketika kelas 3 papa membelikan saya satu yang baru. Mukena yang berumur paling tua karena seingat saya benda ini adalah salah satu yang paling jarang dibelikan orang tua saya. Padahal untuk baju setidaknya setahun 2 kali saya dibelikan. Lengkap sampai lebih dari satu jenis. Waktunya yaitu ketika saya berulang tahun dan ketika lebaran tiba. Selain itu, jangan harap deh.

Hingga suatu waktu menjelang lebaran saya meminta Mama membelikan saya satu yang baru.

“Mam, beliin Irma mukena dong, liat udah jelek gini…” pinta saya sembari menunjukan lipatan benda berwarna putih yang sudah tidak lagi putih pemberian Papa.

“Beli mukena mah enggak usah sering-sering, justru bagus kalau udah lusuh, berarti sering dipake. Itu artinya Irma rajin shalat.”

Jawaban Mama saat itu cukup meluluhkan hati saya. Sayapun akhirnya berpikir demikian dan tak pernah mempermasalahkannya lagi walaupun kadang timbul rasa iri ketika melihat rukuh-rukuh cantik yang mama koleksi. Rukuh yang hanya ia gunakan pada saat acara-acara khusus. Ya apalagi kalau bukan untuk Shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain bahannya yang beragam, hiasan-hiasannya juga tidak kalah cantik dan terpenting warnanya yang putih kinclong itu. Pun ketika mama memberikan untuk Nenek, atau kakak-kakaknya.

Saya kecewa, sedih, tapi ya sudahlah. Dan ternyata Tuhan mendengar keinginan saya. Akhirnya saya dibelikan satu yang baru. Walaupun itu baru terjadi ketika saya akan masuk SMP. Itupun karena yang lama saya sudah tidak muat lagi. Sejak itu saya sudah lupa dan mulai menganggap benda ini adalah salah satu benda yang memang tidak harus baru, selalu cantik, tapi yang penting masih layak digunakan. Hingga seringkali saya harus menjahit talinya yang copot, mengikat roknya karena karetnya lepas, dll karena saya tidak ingin meminta untuk dibelikan rukuh lagi. Pun untuk benda-benda lainnya.

Bertahun-tahun berlalu hingga akhirnya saya bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Tanpa saya sadari keinginan terpendam saya yang lama ternyata muncul. Mukena menjadi salah satu benda yang sangat menarik hati saya. Selain untuk digunakan sendiri, tentunya untuk diberikan kepada orang-orang yang saya sayangi. Benda ini menjadi hadiah yang istimewa bagi saya. Pun ketika saya memberikannya kepada orang lain.

3 Muken Favoritku

3 Muken Favoritku

Ini adalah 3 setel rukuh yang bisa dibilang menjadi favorit saya diantara rukuh yang lainnya. Mukena pertama pemberian Ibu mertua tersayang, yang ke-2 pilihan mama tersayang sebagai buah tangan sepulangnya dari Bali, dan yang ke-3 pemberian suami tercinta ketika kami menikah dulu. Semuanya nyaman, hingga menjadi pengingat saya untuk selalu kembali kepada Sang Pencipta. Sehari 5 kali untuk yang wajib, tambahan yang lainnya yang rutin saya kerjakan untuk shalat Dhuha, dan shalat malam serta witir ketika sengaja atau tidak saya terbangun di malam hari.

Begitulah berartinya benda istimewa ini untuk saya. Salah satu benda teristimewa dalam hidup. Dan semakin istimewa ketika benda ini sering digunakan. Manfaatnya tidak hanya sampai di dunia tapi juga akhirat. Maka sampai kapanpun hadiah mukena, siapapun yang memberikannya akan sangat berarti untuk saya. Menjadi benda yang pasti saya gunakan sampai kapanpun hingga akhirnya saya dishalatkan untuk yang terakhir kalinya. Tulisan Ini Diikutkan dalam Giveaway Menyambut Ramadhan***