My 33’rd


The lost Tart since my 17'th birthdays

The lost Tart since my 17’th birthdays party 😦

Alhamdulillah…33 tahun sudah… saya hidup di dunia ini. Saya mencoba menjadikan tahun ini adalah titik balik untuk hidup saya. Di usia kembar saya ini saya ingin mengubah banyak hal ke arah yang lebih baik tentunya. Bukan masa lalu, tapi mulai tgl 6 kemarin dan seterusnya.

Kalau bukan saya yang mengubah hidup saya sendiri, lalu siapa? Banyak hal yang saya merasa itu salah dan masih saja saya lakukan. Banyak hal yang saya tahu kalau itu tidak baik tapi seringkali saya merasa harus melakukannya. Banyak yang seharusnya tidak boleh saya lakukan, tapi saya lakukan juga.

Saya tahu tidak ada manusia yang sempurna. Begitupun dengan diri saya yang sangat jauh dari sempurna. Saya juga sadar bahwa saya hari ini adalah akumulasi dari seluruh perjalanan hidup saya. Perjalanan hidup yang seperti roller coaster itu. Kadang saya tertawa terbahak-bahak, kadang saya menangis tersedu. Kadang saya merasa sangat mencintai seseorang kadang saya merasa sangat membenci seseorang. Kadang saya kagum dengan seseorang, tapi kadang saya merasa semua itu hanya topeng. Ah, siapa yang tahu hati orang lain selain dirinya sendiri dan Tuhan.

Tapi di balik semua itu saya merasa Tuhan telah begitu baik dengan selalu menuntun saya melewati semuanya. Melewati semua masa, dari waktu ke waktu, tahun berganti tahun. Walaupun semuanya tak pernah mulus, tapi selalu ada “ilmu kehidupan” di sana. Ilmu yang membuat saya belajar, dari setiap kesalahan, dari setiap kepedihan, dari setiap kegagalan, dari setiap kekecewaan, pun dengan semua kegembiraan, keriangan, tawa dan senyuman yang penuh arti.

12.045 hari sudah saya lalui, 289.080 sudah saya lewati. Berapa banyak waktu yang saya buang? Mungkin tak terhitung. Padahal seringkali saya merasa 24 jam tidak pernah cukup untuk saya. Bahkan tak terasa 1 tahun sudah saya tinggal di Pekalongan. 1 tahun sudah harus terpisah dan hanya bertemu dengan suami hanya pada weekend saja. 4 Bulan ini, bertambah 1 lagi amanah dari Tuhan untuk saya dan suami. Untuk kami didik, kami jaga, kami pelihara, kami besarkan agar kelak ia bisa menjadi anak yang shalehah, anak kebanggaan kami orang tuanya, menjadi orang yang baik,  manusia yang berguna untuk agama, nusa, dan bangsa.

Semoga saya dan suami bisa memelihara kedua buah hati kami dengan baik. Semoga kami berempat bisa segera kembali berkumpul untuk menjadi sebuah keluarga yang sebenarnya. Bagaimanapun caranya. Bukan tidak ikhlas menjalani keadaan ini, tapi sebagai manusia biasa bolehkan jika saya berharap? Karena sebelum menikah, salah satu tujuan kami adalah hidup bersama. Bukan seperti ini 😦

Ah, betapa tidak bersyukurnya saya. Masih banyak yang bahkan tidak bisa berkumpul dengan keluarganya setiap minggu. Apalah artinya 5 hari tak bertemu dibandingkan mereka yang hanya bisa bertemu ketika menjelang dan setelah Idul Fitri saja. Baiklah, mungkin saya memang belum bisa ikhlas. Akhirnya ngaku juga  

Hadiah ulang tahun saya? Semua doa terbaik untuk saya dan keluarga. Terima kasih…Jika saja Allah datang kepada saya dan memberi saya kesempatan untuk mengabulkan satu saja keinginan saya. Maka keinginan saya adalah “Menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya” . Amin…Ya Rabbal Alamin. Tolong aminkan juga ya temans 🙂 Biar saya bisa mendoakan kalian juga. #modus

 

 

 

Iklan

Stay Calm…Keep Istiqomah


Istiqomah adalah salah satu kata yang cukup sering saya dengar tapi tidak pernah saya kaji. Baru kali ini tergerak hati saya untuk memastikan apa makna dibalik kata berbahasa Arab itu. Itupun karena komentar salah satu rekan blogger di artikel saya sebelumnya yang berjudul “Belajar Cari Uang dari Blog”. Katanya “tetap istiqomah di tengah jalan. jalan kita masih panjang. kita ngga tahu seperti apa jalan berikutnya. kesuksesan datang secara tidak terduga.”

Akhirnya saya cari arti kata itu dan ternyata artinya cukup dalam yaitu melakukan segala sesuatunya hanya karena Allah. Selalu mengaitkan apapun yang kita lakukan dalam rangka menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Saya diam sejenak merenungkan kata-kata ini. Rasanya seperti ditampar karena seringkali dalam banyak hal, terutama pekerjaan yang saya pikirkan hanya uang…dan uang…

Walaupun tujuan saya mencari uang juga untuk membantu perekonomian keluarga kami. Saya dan suami yang jika dilihat dari sisi kemapanan masih jauh dari mapan. Ya, kami punya rumah.. Tapi bukan rumah yang kami impikan untuk kami tinggali. Kami membelinya terpaksa dan kami niatkan untuk membantu. Setelah sedikit renovasi rumah itu kami kontrakan. Sementara saat ini saya dan anak-anak tinggal menumpang dan suami saya tinggal di Rukan tempatnya bekerja di kota lain.

Wajar bukan jika kami berdua berkeinginan untuk mempunyai tempat tinggal juga sebuah kendaraan beratap yang cukup nyaman untuk bepergian. Minimal untuk saya, suami dan kedua anak kami. Tapi kata-kata ini sungguh menohok saya. “Tetaplah istiqomah!” berkali-kali membuat saya beristigfar menyadari kehilafan saya. Karena yang ada di pikiran saya hanya uang.

Padahal saya tahu ketika kita melakukan semuanya karena Allah maka apapun yang kita lakukan itu adalah ibadah. Ibadah itu ganjaran Surga, tempat terindah yang kekal selepas hari penghakiman nanti. Saya juga tahu jika Allah sudah mencintai umatnya maka apa saya akan ia berikan untuk umatnya. Jangankan rumah dan mobil yang bagi-Nya pemilik semesta ini bukanlah apa-apa.

Tulisan ini hanya sebuah catatan untuk saya, mudah-mudahan menjadi pengingat juga untuk kita semua bahwa Uang bukanlah segalanya. Ada yang lebih tinggi nilainya dari itu yaitu kecintaan Allah pada kita. Menjadi hamba yang selalu melakukan apa saja dengan keterikatannya kepada Allah. Hamba yang istiqomah.

Mulai hari ini yuk kita belajar meniatkan segala sesuatunya karena Allah.  Semoga usaha apapun yang kita lakukan akan menjadi berkah. Sekecil apapun yang diperoleh atau bahkan sekalipun tidak ada yang kita dapatkan. Satu yang pasti, Allah akan meridhoi apa yang kita lakukan, sekecil apapun usaha kita jika kita melakukannya karena Allah.

Bekerjalah, menulislah semata untuk beribadah kepada Allah. Tetap Istiqomah apapun yang kita peroleh. Jika Allah sudah cinta…maka apapun yang kita minta Insya Allah akan diberiNya. Cepat atau lambat, disegerakan atau diperlama, karena Allah tahu apa dan kapan saat yang tepat untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Berbagai harapan yang ada dalam setiap langkah kecil yang kita lakukan di  muka bumi ini.***

 

Duka Saya Hari ini


Waduh udah lama banget ya enggak nulis Blog. Selama ini malah sibuk bikinin tulisan buat website-website orang lain. Blog sendiri tidak terurus. Dukanyan sama seperti duka saya hari ini. Sempet sih nulis-nulis tapi malah jadi tulisan buat calon buku atau enggak tuntas gegara enggak ada fotonya. Jadi menumpuklah di file. Mungkin nanti sedikit-sedikit coba saya masukin deh kalau ada kesempatan. Gpp juga kali enggak ada foto daripada blognya kosong melompong.

Tapi biarlin ajalah…daripada udah lema enggak up date. Hari ini saya sedang berduka karena kemarin sore Nenek tercinta dipanggi Sang Kuasa. Saya ini memang cucu tak berguna. Udah lama banget saya enggak ketemu nenek. Selain karena memang lokasinya yang jauh dari tempat tinggal, juga karena kesibukan, enggak ada kendaraan, dan banyak lagi lah…Intinya Sikon yang selalu tidak memungkinkan.

Menjelang dimakamkannyapun saya hanya bisa shalat ghaib dari sini. Pekalongan yang letaknya ribuan km dari tempat nenek saya tinggal. Cikajang, Kab.Garut. Kondisi saya yang sedang hamil muda, anak yang masih Balita, suami yang berjauhan juga hingga ratusan Km lagi-lagi membuat saya tidak bisa mengantarnya jenazahnya hingga ke liang lahat.

Saya hanya bisa berdoa, semoha Almh.Nenek saya diterima disisi-Nya, diampuni segala kesalahannya dan dosanya di masa hidupnya, dan diterima segala amal ibadah dan amal shalehnya. Atas jasanya melahirkan dan membesarkan ayah saya, dan semua kebaikannya. Semoga orang yang udah jahatin nenek saya juga segera sadar atas kesalahannya sampai membuat nenek saya depresi dan sakit kaya gitu.

Tapi sudahlah, setiap perbuatan baik bukankan selalu dibalas dengan perbuatan baik begitupun sebaliknya. Yang terpenting semoga Nenek lebih berbahagia di alam sana. Bisa berkumpul kembali dengan suami yang dicintainya, anak yang lebih dulu meninggalkannya dan mendapat semua kebaikan Allah. Dilapangkan kuburnya, diberi tempat terbaik disisinya. Amin

Inget aja dulu kalau saya seneng banget kalau diajak nenek ke hutan. Saya membantu beliau mencari kayu bakar dan jika di kebunnya kami menemukan buah yang bisa dimakan mulai dari Huni, buah empot, apapun…Kami mencabut dan menyicipinya. Ya, semacang si Bolang gitu…hahahah…

Satu lagi, kalau nenek sedang bikin wajit, saya juga suka banget. Soalnya sibuk nyicipin. Wajit atau angleng yang masih panas itu ditiup dan dimakan hangat-hangat. Rasanya beda banget sama yang udah dibungkus. Maknyos deh pokoknya. Udah lama banget juga enggak ngerasain wajit atau angleng panas buatan nenek.

Masa-masa itu nenek masih tinggal di Citiru yang masih belum ada listrik, yang sebagian penduduknya masih bermata pencaharian dari bercocok tanam atau beternak. Sekarang sih udah enggak. Sebagian besar kaum laki-laki kebanyakan mencari nafkah di kota. Meninggalkan anak-anak dan istri mereka di kampung. Jadi kalau siang hari tuh katanya kaya perkampungan Ibu dan anak. Enggak ada suami-suami atau pemuda-pemudanya.

Bagi yang beruntung, dengan pendidikan yang lebih dari SMA maka mereka bisa bekerja sebagai pegawai negeri, BUMN seperti ayah saya, atau pekerjaan lain. Tentunya dengan penghasilan yang tetap dan lebih besar. Ah tapi hari gini….Sulitnya mencari tukang yang profesional juga membuat bayaran tukang bangunan cukup dapat diperhitungkan. Apalagi mereka yang sudah berpengalaman. Sehari di Bandung saja penghasilan mereka minimal 100-200ribu. Coba bayangkan kalau dalam 30 hari mereka bekerja setiap hari. penghasilan mereka dalam sebulan bisa 3-6 juta. Kalah deh gaji saya waktu masing ngantor dulu.

Bekerja dengan dandanan necis tidak menjamin pendapatan di atas para tukang bangunan ini. Bahkan dengan berjualan on line saja yang bisa bebas mengatur waktu atau hanya sekadar menjadi dropshiper saja dalam satu bulan bisa mendapatkan penghasilan berlipat-lipat dibandingkan jaman saya kerja dulu. Jadi pertanyaannya Anda butuh gengsi atau uang? hahahaha….

Jadi tolong stop ya meremehkan mereka-mereka yang bekerja tanpa dasi atau blazer. Karena belum tentu dompet mereka setipis dompet Anda di atas tanggal 15.

Wah, jadi kemana-mana nih. Begitulah saya, menulis itu lebih mengasyikan bagi saya daripada mengobrol berlama-lama. Membuat saya bisa lebih berkontemplasi diri. Mengurai masalah, mengidentifikasinya dan mencoba mencari solusinya.  Keep writing Guys! Sekalipun kamu sedang berduka seperti duka saya di hari ini.***

Harapan di Idul Fitri


Entahlah apa yang ingin saya bagi di Idul Fitri kali ini. Namun yang pasti saya ingin berbagi apa yang bisa saya indrai pada moment Idul Fitri kali ini. Memulai dengan sebulan sebelum puasa yang dramatis dengan berita bahwa kontrak setahun pekerjaan saya harus berakhir dan berganti menjadi freelancer. Membuat semua harapan saya nyaris pupus. Dari seorang yang sudah merasa sudah dibukakan jalan untuk memilih profesi sebagai seorang penulis ternyata harus berganti arah menjadi seorang marketer on line. (Engga pede juga sih menyebut diri saya seorang marketer on line), karena pengetahuan dan pengalaman  saya yang masih sangat sedikit dalam dunia internet marketing ini. Tapi karena kebutuhan, apa boleh buat. Apapun harus saya jalani. Karena saya tahu pasti, ini adalah sebuah pekerjaan yang halal dan terhormat dibandingkan saya harus menengadahkan tangan meminta-minta, menipu orang lain, atau mengambil paksa apa yang seharusnya memang bukan hak saya.

Akhirnya awal puasa, atas kepercayaan seorang teman (atau mungkin kasihan, entahlah….) Akhirnya ia mempekerjakan saya, dengan pekerjaan yang cukup mudah, waktu yang bisa lebih fleksibel (karena tiap hari kejebak macet), Awal puasa, sayapun mulai kerja. Bagian yang terberat adalah ketika anak saya bilang:

“Bunda, jaket Kakak, Kakak ikut” dengan lafal yang belum jelas khas anak yang baru belajar bicara.

Ini pekerjaan pertama saya yang benar-benar membuat saya harus meninggalkan anak saya dengan “orang lain” selama lebih dari 8 jam setiap harinya. Anak yang masih menyusu, yang terpaksa harus saya tinggalkan untuk bekerja.

Sedih rasanya, air mata pun selalu tak tertahankan ketika saya mengingat moment yang berlangsung tak lebih dari lima menit ini. Termasuk ketika saya berbagi kisah ini dengan Anda pada Idul Fitri kali ini. Wajahnya, logat bicaranya, kemanjaan dan keluguannya, membuat saya merasa menjadi Ibu yang paling jahat sedunia. Hingga rasanya tak dapat terbayangkan betapa kejamnya mereka yang rela menggugurkan kandungannya, membuang anak mereka di panti asuhan, atau bahkan menjual bayi-bayi atau bahkan anak mereka demi uang.

Pada saat idul fitrilah mereka ‘dikerahkan’ untuk semakin menambah pundi-pundi uang orang tua mereka. Di saat harga sembako melambung tinggi dari hari-hari biasa karena ulah para penimbun. Di saat anak-anak atau bahka cucu-cucu mereka merengek meminta dibelikan baju lebaran. Saat para istri juga tak mau kalah membuat aneka kue lebaran di hari Idul Fitri. Kebutuhan belanja juga meningkat karena harus menyediakan makan sahur dan tajil untuk berbuka puasa. (Sebuah tradisi yang menyengsarakan).

Hasilnya para pencopet di mana-mana, curanmor, para pelaku gendam, atau bahkan para oknum yang menyelenggarakan paket lebaran mulai dari sembako, parcel anak, daging, atau bahkan uang. Memanfaatkan Idul fitri sebagai moment untuk membuka kedok kejahatan mereka dan menyadarkan bahwa mereka telah berhasil menipu klien-klien mereka. (Maka, tidak ada gunanya paket-paket lebaran, lebih baik menabung yang  banyak dari 1 syawal, akhir Ramadhan, pecahkan celengan dan beli semua yang Anda mau). Ini terkait dengan kebutuhan kita yang ternyata bisa berubah dengan sangat cepat. Masalah kenaikan harga itu hanyalah sebuah resiko musiman dibandingkan dengan menelan air liur atau menggigit jari karena uang yang Anda kumpulkan ternyata dibawa lari panitia. (Sungguh Idul Fitri Indonesia sekali bukan?).

Sedangkan saya, hanya berusaha terus mengejar mimpi. Saya bersyukur karena saya tahu semua hal yang baik dari semua hal buruk yang telah saya alami. Bersukur karena saya tahu rasanya diabaikan, sehingga membuat saya bertekad untuk tidak mengabaikan. Bersyukur karena semua pahit tang saya alami membuat saya semakin kuat untuk terus melangkah. Walaupun seringkali terjatuh, seringkali meneteskan air mata, dan seringkali membuat saya menjadi orang yang tidak pandai bersyukur. Untungnya, ayah saya masih sempat membekali akidah dalam diri saya, sehingga dalam kesendirian saya sekalipun saya masih memilikiNya di manapun dan apapun yang terjadi dalah kehidupan saya selama hampir 30 tahun ini.

Hanya Dia lah yang membuat saya percaya bahwa apapun yang terjadi dalam kehidupan saya adalah yang terbaik menurut-Nya, bukan menurut saya. Walaupun saya selalu berusaha agar semua yang saya anggap baik juga baik menurut-Nya. Doakan saya ya, biar bisa cepet ngumpulin uang biar bisa cepet pindah ke rumah baru saya. Amin. Jadi jangan lupa juga buat add fb: raihan_rajutan dan borong semua bajunya yang dijamin murah 100%. (Loh kok malah promosi??)

Yang pasti, Alhamdulillah 20 hari kerja membuat saya mendapatkan rejeki yang halal yang bisa saya bagi dengan orang-orang yang saya kasihi dan yang berhak. Sebagian ditabung untuk masa krisis karena Alhamdulillah juga suami saya dapet rezeki yang lebih banyak dari yang diperkirakan. Selesai mudik, Semoga Allah semakin membukakan pintu rezekinya dari semua arah agar keinginan saya terwujud. Termasuk mendatangkan rezeki itu pada saya dengan bekerja di rumah kembali. Rumah yang baru, rumah saya sendiri,… Amin Ya Rabbal Alamin.

Selamat Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin.

Tuhan Memilih Waktu


Kadang kita tidak pernah tahu kapan akan datang hujan dan kapan akan datang panas terik. Karena terkadang ketika mendung tiba, hujan tak juga datang dan ketika langit cerah tiba-tba hujan. Semuanya adalah kuasa Tuhan. Dia yang maha tahu waktu yang tepat untuk segala sesuatu. Hanya terkadang kita sebagai manusia seringkali merasa sok tahu. Merasa bahwa Tuhan menghadirkan sesuatu pada waktu yang tak tepat. Satu yang pasti dan dapat kita pelajari adalah semua yang terjadi pada manusia adalah sebuah misteri yang akan selalu ada hikmah di baliknya.

Keadaan seringkali membuat kita terlalu bersyukur kepada Tuhan, hingga tanpa sadar membuat kita sombong dengan mengakui bahwa begitu sayangnya Tuhan pada kita. Padahal, di balik itu semua, masih banyak yang lebih Tuhan sayangi dibandingkan diri kita yang tidak ada apa-apanya ini. Masih banyak yang diberikan Tuhan kenikmatan dan kebahagiaan yang lebih besar dibandingkan dengan yang Ia berikan kepada kita. Tapi percayalah, semua yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi. Ketika kita menerima sesuatu maka kita juga harus siap ketika suatu saat Dia mengambilnya.

Orang-orang yang kita cintai, pekerjaan yang kita cintai, barang-barang berharga yang kita cintai, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semuanya bukanlah sesuatu yang kekal. Ketika ketika kita menerimanya kita boleh berbahagia dan menikmatinya, namun ketika kita harus kehilangannya maka kita juga harus ikhlas. Yang harus tetap kita lakukan adalah berusaha melakukan apa yang terbaik, melakukan semua hal yang kita cintai, dan melakukannya tanpa syarat. Hingga batin kita tetap merasakan kebahagiaan itu. Walaupun tidak sebahagia ketika bersama dengan segala hal yang kita cintai.

Hingga akhirnya kuputuskan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat menghentikan aku untuk menulis. Termasuk diriku sendiri, karena hanya dengan menulis aku bisa mendengarkan banyak suara di otakku. Aku bisa berdiskusi dengan serunya bersama diriku sendiri atau bahkan menangis mencurahkan semua kesal dan amarah yang ada di hatiku. Bahkan, membuatku bisa memutuskan langkah apa selanjutnya yang harus aku ambil dalam melanjutkan hidup. Mengisi waktu yang tersisa hingga aku bertemu dengan Sang Pemilih Waktu yang tepat.

Hanya Tuhanlah yang boleh memilih waktu. Manusia hanyalah pembuat rencana, namun Tuhan yang menentukan waktunya. Waktu yang tepat, waktu yang terbaik tidak hanya untuk kita, tapi juga untuk orang-orang yang berada di sekitar kita. Dan aku tetap akan tetap mencintai orang yang aku cintai, melakukan apa yang kucintai, dan mencari apa yang kucintai, sekalipun aku tak mendapatkan apa-apa. Aku tak pernah tahu waktu yang tepat untukku, karena itulah aku akan tetap mencintai hingga Tuhan benar-benar memberikan semua yang kucintai sepenuhnya.

Gigi dan Mengantri


Tadinya biar lebih deket aku memutuskan untuk ke Puskesmas buat tambal gigi atau cabut lah parah-parahnya, daripada keriesku selalu bikin ribed. Minggu lalu aku pergi ke sana. Dengan sedikit berbasa basi akhirnya dokter memeriksa gigiku.

“Wah besar ya lubangnya”

“Iya Dok, itu awalnya karena kemasukan biji jambu batu, baru ketahuan beberapa minggu yang lalu karena saya merasa di bagian itu agak aneh rasanya setiap ngegigit. Saya congkel pake tusuk gigi, akhirnya keluar juga tuh si biji jambu.”

Tapi rupanya dokter tidak tertarik dengan ceritaku, padahal ceritanya cukup dramatis karena dari sebuah biji jambu batu itu menyisakan lubang besar itu di gusi kiriku. Sakitnya baru terasa kalau secara tidak sengaja makananku masuk ke lubang itu. Nyut! Rasanya…Sakit sekali. Setelah aku korek makanan itu keluar nyut nyut an nya mulai berkurang. Dan baru pergi kira-kira 5-10 menit. Setelah itu biasa lagi.

Gara-gara lubang ini, aku harus sedia ‘dongkrak’ ke manapun aku pergi. Kalau enggak, bisa fatal akibatnya. Dokter mengoleh-olehiku dua buah jenis obat untuk aku makan. Biasanya sih gitu, maksudnya biar ga sakit dulu, baru ditambal atau dicabut pada pemeriksaan selanjutnya. Jadi, tanpa banyak komentar akupun pulang dengan optimis dan puas karena tidak lama lagi lubang gigiku ini akan segera sirna dan aku bisa bebas dari dongkrak atau rasa nyut-nyut an itu.

Obat pun habis, karena keesokan harinya Sabtu, aku memutuskan untuk pergi ke puskesmas itu lagi hari Senin, minggu berikutnya karena  setahuku Puskesmas tutup hari Sabtu. Karena banyak yang aku urus karena baru saja pergantian pengasuh, maka aku pun agak siang pergi ke Puskesmas. Pembantu lama menyisakan banyak sekali pekerjaan untukku sebelum pengunduran dirinya. Tapi masih tersisa sedikit harap karena biasanya jam 12:00 baru tutup atau istirahat.

Aku pun pergi ke puskesmas. Ternyata sudah sepi. Di ruang tunggu hanya ada bapak-bapak yang sedang duduk. Lalu ku tanya dengan bahasa Sunda.

“Tos tutup kitu Pak?”

(Udah tutup gitu pak?)

“Duka, Cobi taroskeun ka lebeut.”

(Enggak tahu, coba tanya ke dalam.)

Jawabnya sambil menunjuk ke arah ruang pendaftaran yang di dalamnya ada sekitar 4-6 orang Ibu-ibu berseragam PNS yang sedang mengobrol seru.

“Ibu, udah tutup? Mau ke Poli gigi.”

“Oh udah Neng, no antriannya udah abis, sehari dijatah cuma sampai 200 nomor. Besok aja datang lagi”

Katanya ingin segera meng-close pembicaraan dengan ku.

“Oh. Gitu, soalnya kemaren disuruh ke sini lagi kalau udah abis obat.”

“Iya, kenapa atuh bukan tadi pagi.”

Hmm..iya sih, jam 11 udah siang. Aku pun mengalah dan akhirnya pulang ke rumah dengan sedikit kecewa. Namun, dalam hati semakin mengukuhkan diri kalau besok, aku harus datang lebih pagi. Aku sudah tidak sabar ingin segera mengakhiri deritaku dengan gigi berlubangku.

Keesokan harinya akupun bersiap sedari pagi. Bangun pagi-pagi membereskan semua pekerjaan rumah di pagi hari. Jam 09:30 aku pun ke puskesmas untuk yang ke tiga kalinya. Wow…ramai sekali. Berbeda dengan dua hari sebelumnya ketika aku ke sana. Di loket kali ini aku harus mengantri, dibuatkan buku dan kartu juga hingga harus membayar 2000 lebih mahal dari sebelumnya.

Seperti biasa, ada ibu-ibu yang menyerobot. Heran ya, di daerah tuh budaya ngantri kayaknya memang tidak berlaku. Ini mengingatkanku pada pengalamku ketika seorang teman menikah di Tasik. Kebetulan acaranya dilaksanakan di gedung. Formatnya standing party, sehingga membuat kita harus mengantri untuk mendapatkan makanan atau snack-snack yang ada di beberapa stand yang disediakan.

Aku dan temanku sudah mengantri cukup lama, datanglah seorang Ibu-Ibu dan temannya, langsung menyerobot, dan MMh…bau badannya itu loh…Bikin aku sampai batuk-batuk. Udah nyerobot, ngasih racun pula…Jadi pengen ngasih Rexona deh ke si Ibu itu. Tapi niatku ku batalkan, soalnya aku gak tahu haru beliin c.Ibu Rexona di mana di deket gedung itu.hehe..

Enggak hanya itu aja, di kantor pos juga sama. Ini kejadiannya setelah aku pulang dari Puskesmas yang  pertama. Aku mau bayar beberapa tagihan, sekalian masukin uang ke dompet isi ulangku di sana. Sedang anteng-antengnya ngantri, eh…tiba-tiba Ibu-Ibu heboh datang dengan dua orang temannya. Tapi kali ini aku gak mau ngalah, soalnya lagi butuh cepet pulang. Solanya sendal ku putus sebelah di tempat parkir kantor  Pos, jadi harus cepat pulang.

Heran ya, padahal aku juga Ibu-Ibu, (walaupun baru) tapi aku mau kok ngantri, dan aku berjanji, untuk mau mengantri di mana pun yang memang mengharuskan aku mengantri. Ini kan untuk kemudahan kita juga. Kalau antriannya lancar, urusan pun akan cepat dibereskan. Kalau kaya gitu kan semua senang, semua bahagia. Kalau datangnya lebih akhir, ya sabar aja. Suruh siapa datangnya telat?

Kembali ke Puskesmas, setelah dapat buku dan kartu akupun masuk ke poli Gigi. Langsung masuk karena rupanya kurang peminatnya. Dengan sedikit kata pengantar mengingatkan Bu.Dokter bahwa obatku sudah habis dan Ia menyuruhku kembali menemuinya kalau obatnya sudah habis. Dokter pun mempersilahkan aku duduk untuk diperiksa.

“Gimana dok?”

“Harus dikasih obat lagi, nanti kalau udah abis ditambal atau dicabut giginya, tapi harus ke rumah sakit.”

Aku langsung diam. Heran, Aku pikir hari ini aku ke sana untuk ditambal atau dicabut gigi, eh taunya..dikasih obat lagi…10 rb perak mending aku beliin ponstan aja deket rumah klo sakit gigi lagi, jauh lebih efisien. Terus aku mikir, kebanyakan masalah gigi di Indonesia tuh pasti karies. Masalah itu tuh pasti akhirnya jalan keluarnya kalau enggak ditambal ya dicabut gigi. Biar ga penasaran aku tanya aja alasannya.

“Soalnya engga ada alatnya, kursinya enggak bisa di naik turunin.”

Jawab sang dokter.

Jadi intinya dari penjelasan Sang Dokter, di Puskesmas tempatnya bertugas enggak bisa cabut gigi tetap dewasa, tambal gigi juga enggak bisa, kecuali anak-anak.

“Terus ngapain aku di suruh ke sini lagi kalau cuma buat di kasih obat lagi?” Tanyaku dalam hati.

“Kerjaan dia apa di sini?” “Mau makan gaji buta aja?” Kelaut aja deh Bu……

Sekarang aku jadi tahu kalau ternyata Puskesmas itu ya layanan seadanya, klo engga bisa ya di Rumah Sakit/Dokter. Tapi agak kecewa aja, kok ga bisa tambal atau cabut gigi hanya dengan alasanya kursinya enggak bisa dinaik turunin. Yang penting kan alat buat nambal atau nyabutnya. Gimana kalau kondisinya dia lagi di desa terpencil, jangankan ada kursi buat periksa gigi yang dinaik turunin, kursi yang biasa aja enggak ada. Harusnya sebagai seorang dokter yang mengabdi untuk rakyat, ia bisa mengoptimalkan sarana prasarana yang ada untuk membantu masyarakat kan?

Huft…


Huft…demam stand up comedy, jadi ikut-ikutan Ernest so dramaqueen…xixixixi…
Sebelum ngerjain kerjaan gue yang sempat tertunda beberapa hari karena kesulitan mendapat timing yang tepat, gue mau curhat dulu ah…Sedikit meluapkan apa yang ada dalam sanubariku. Ciyehh…eh salah…Huft…

Akhirnya…gue bisa mengerjakan pekerjaan tertunda ini dengan lebih tenang. Karena ternyata, baru juga niat gue mau shalat istikharah untuk memastikan apakah gue pergi atau enggak ke Jakarta untuk merubah nasib, jawabannya sudah ada tadi siang. Padahal tadinya gue galaw karena ga bisa shalat akibat kodrat gue sebagai wanita yang belum monopouse. Ciyeeh…galaw..kaya adik gue aja…hehehe..galaw akibat jerawat yang tak kunjung sembuh di mukanya.

Tuhan memang maha tahu apa yang gue rasakan. Tidak perlu menunggu sampai gue bisa shalat lagi, Dia sudah memberikan jawabannya. Terimakasih Tuhan…(dengan perasaan sedikit kecewa bercampur rasa lega). Kenapa?? Karena Dia memberi jalan apa yang harus gue lalui untuk saat ini. Apa yang harus gue kerjakan saat ini. Sesuatu untuk menuju jalan dalam penemuan ’Cheese’ gue yang sampai sekarang belum ketahuan adanya di mana.

Beberapa hari yang lalu gue bertemu seorang teman, dan ternyata secara tidak sengaja, dia memahami apa yang gue rasakan. Tanpa sengaja pula, Dia memberikan sedikit pencerahan buat batin gue yang saat ini yang mungkin sedang sesat. Sesat karena merasa hidup ini butek…banget. Sepertinya hidup gue begitu dekatnya dengan kesulitan. Tapi ternyata, dibalik kesulitan itu, ada satu hal yang memang selama ini gue lupakan. Meminta secara empat mata, meminta dengan sangat, dan meminta dengan penuh kekhusuan.

Ini lah saat gue mendapatkan “AHA!” dalam hidup gue untuk yang kesekian kalinya. Tapi kali ini AHA Time itu datangnya di motor, saat gue berkendara menuju rumah setelah bertemu dengan seorang teman yang sekarang jadi bos gue. Dalam perjalanan panjang itu, gue berpikir, terus berpikir…bahkan terngiang-ngiang apa yang dikatakan si Bos. “Tidak hanya perlu kepintaran, keahlian, atau prestasi saja yang diperlukan untuk mendapatkan ‘Emas’ kita. Tapi juga dengan meminta petunjuknya, lewat shalat istikharah, Tahajud, dll.” Ujarnya…(dan gue tahu, ini pengalaman nya, karena dia juga pernah mengalami hal yang sama dengan apa yang gue rasakan saat ini. Mencari ‘Emas’ yang dalam istilah gue emas itu adalah ‘Cheese’ seperti di buku favorit gue ‘Who Move My Cheese?’ yang ditulis Dr. Spencer Johnson itu.

Kalau dilihat dari sejarahnya, gue tahu banget, yang sekarang jadi bos gue itu, dulunya, males kuliah, sering bolos, tukang kesiangan, lulus kuliahnya lama, nilainya banyak yang jeblog, kalau ngerjain sesuatu pasti molor dari deadline, sering banget terpuruk dalam banyak hak yang membuatnya galaw. Tapi tenyata, sekarang dia jadi orang sukses. Bisa menyediakan lapangan kerja untuk orang lain kaya gue, dan teman-teman lainnya. Mungkin secara tidak sengaja dia juga membuka rahasia suksesnya. Dia juga bilang  bahwa setelah dia mengerjakan shalat-shalat Sunat itu, tanpa sadar, banyak kemudahan yang dia dapatkan, jalan yang dia lalui untuk menemukan ‘Emas’-nya betapa mulusnya, dan itu sangat luar biasa.

Oh..Itu ternyata yang kurang selama ini. Huft… Kemungkinan besar yang membuat gue kesulitan mendapatkan ‘Cheese’ gue. Mulai saat ini, setelah gue mandi wajib, gue janji, akan lebih rajin untuk menjalankan shalat-shalat sunat yang selama ini sering dengan sengaja gue abaikan, padahal sering banget gue sengaja bangun tengah malam untuk mengerjakan pekerjaan gue. Kenapa susah banget mengorbankan waktu 20 menit… aja untuk shalat malam. Huft… Ayo berubah!! Menjadi lebih baik tentunya. Semoga menjadi manusia yang lebih baik membuat hidupmu menjadi lebih baik. Huft… 