Belajar Managemen Waktu dengan Shalat 17 Rakaat

“Abang udah Shalat Dzuhur belum?” kata sang Ibu kepada anaknya yang baru masuk ke dalam sebuah rental komputer yang tiada lain adalah rental milik orang tuanya.

“Belum Mi, nanti aja lah shalatnya Abang sekaliin malem ya, 17 rakaat.” katanya dengan polosnya sambil ngeloyor keluar lagi.

Mendengar itu saya yang sedang serius mengetik Tugas Akhir di rental itupun terkekeh. Jawaban anak-anak memang selalu tak terduga. begitupun jawaban si Abang yang waktu itu belum genap berusia 6 tahun ini.

Tetiba saya teringat jaman kuliah dulu. Kejadian ini sewaktu jaman-jamannya perjuangan Tugas Akhir dulu di sebuah rental komputer langganan yang paling nyaman. Walaupun tempatnya sederhana, begitupun fasilitasnya. Tapi tarifnya murah, bisa bantuin kalau tiba-tiba bermasalah dengan komputer hingga teknik pengetikan, dan lengkap dengan toilet dan mushala. Jadi selama apapun mengetik, semua orang bisa shalat ketika waktunya tiba.

Sekilas hal ini terpikir karena baru saja saya melakukan shalat Isya dijamak takhir dengan shalat Magrib karena Baby Allea malah bangun saat magrib dan tidak memungkinkan untuk ditinggal. Antara mau bobo dan pengen main. jadinya serba salah, dan hasilnya sampai waktu Adzan Isya berkumandang shalat magribpun terlewat.

Setelah selesai shalat Isya 3 rakaat. sayapun kembali berdiri untuk melanjutkan Shalat Isyanya. Terpikir untuk mengqosornya. Tapi dalam hati “Nanti kalau rezeki saya diringkas juga sama Allah gimana?” hahaha…konyol memang, tapi..pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat saya takut atau mengurungkan niat ketika mencoba untuk memilih sesuatu yang lebih mudah dalam menjalankan perintah-Nya. Dan ini seringkali bekerja dengan baik. Sayapun mencoba melakukan trik ini dalam bernegosiasi dengan si kecil meyangkut ketaatannya untuk berbuat baik, bersyukur, tidak malas, dll. Dan, seringkali berhasil juga.

Akhirnya saya mengurungkan diri untuk shalat 2 rakaat dan tetap melakukannya 4 rakaat. Walaupun setelahnya rasanya kok badan ini pegal. Sudah terakumulasi juga dengan frekwensi menggendong baby Allea yang sekarang di usianya yang baru 5 bulan berat badannya 8,3Kg dengan tinggi 80cm. Serta, faktor Umur juga mungkin ya. Usia yang sudah tidak belia lagi. Hehehe..

 

Ternyata Allah itu sudah mengatur sedemikian rupa kebutuhan dan kemampuan kita dalam beribadah ya. Shalat sehari 17 rakaat yang dilakukan dalam 5 kali tidak dalam 1 waktu. Shalat subuh 2 rakaat, Dzuhur 4 rakaat,

Managemen Waktu

                             Managemen Waktu

Ashar 4 rakaat, magrib 3 rakaat, dan Isya 4 rakaat. Tapi masih juga kita lalai dalam melakukannya. Padahal, coba deh, gimana bagusnya managemen waktu yang sudah diatur untuk kita.

Shalat Subuh dari jam 04:30. Semakin cepat kita bangun, kita bisa mandi lebih pagi. Setelah mandi kita tenang karena bisa lebih leluasa untuk melakukan berbagai aktivitas. Apalagi untuk Ibu-Ibu ya. Harus ngurusin semua keperluan anak-anak, suami. Belum lagi beres-beres, nyuci, masak, belanja, dan berbagai aktivitas domestik lainnya. Dan saat bangun kesiangan sampai kelewat shalat Subuh itu rasanya ada sesuatu yang terlewatkan, dan pastinya keteteran dengan berbagai hal.

Setelah beres ini itu dan berbagai keriuhan di pagi hari. Untuk Ibu rumah tangga yang terbiasa shalat Dzuha, shalat sunat 2 rakaat ini sedikit memberi jeda waktu beristirahat untuk kita. Merasakan air wudhu dan merasakan ketenangan sejenak dari kesibukan pagi hari itu. Banyak loh manfaat dari Shalat Dhuha ini selain sebagai pembuka pintu rezeki. Hati yang seringkali menjadi kemerungsung di pagi hari bisa kembali seperti sedia kala setelah Shalat Dhuha.

Selanjutnya melanjutkan berbagai aktivitas. Kalau saya sih mengasuh anak disambi dengan berbagai hal yang memungkinkan untuk dikerjakan. Termasuk nemenin Qilla main, ngerjain orderan artikel, ngeblog, belajar, baca, browsing, dll. Sebisa-bisanya memanfaatkan waktu luang yang sempit. Nah loh! Dzuhur Tiba, saatnya istirahat lagi dan mendinginkan hati dan pikiran yang sudah mulai terkontaminasi berbagai hal termasuk emosi yang berlarian karena aktivitas yang baru dilakukan.

Setelah itu lanjut aktivitas ibu-ibu bekerja di rumah dan seperangkat liku-likunya. Mulai dari Kakaknya Allea yang kebanyakan energi yang kadang menguras emosi dan air mata, hallah… Adeknya yang suka bikin bingung maunya apa, gadget yang tiba-tiba error, dll. Tidak hanya menguras energi tapi juga emosi. Akhirnya tiba waktu Ashar. Saatnya kembali cooling down. Membasuh muka dengan air wudhu, bertemu Allah lagi, kadang mengadu dengan berbagai hal yang baru saja dialami. Segar kembali walaupun mulai terasa agak letih. Tapi segar kembali dan siap untuk berjuang lagi dengan kesibukan di sore hari.

Semua aktivitas selesai dan Adzan magribpun berkumandang. Saatnya shalat Magrib, menyegarkan badan yang sudah mulai letih. Terutama dengan memberinya makanan rohani. Shalat magrib dan Isya itu rasanya berbeda dengan shalat lainnya. Waktunya berekatan, tapi jujur…saya termasuk orang yang suka mengakhirkan shalat Isya. Maksudnya biar klo semua aktivitas selesai, wudhu menjadi aktivitas terakhir bersentuhan dengan air. Hingga Shalat Isyapun menjadi rutinitas sebelum tidur. Bonusnya saya tidur dalam keadaan memiliki wudhu. Biasanya tengah malam dibangunkan juga untuk shalat malam. Selain karena baby Allea menangis karena basah atau minta mimik tentunya.

Tapi tentu semuanya tidak selalu berjalan mulus. Kadang ada saja hal yang membuat shalat yang seharusnya bisa saya lakukan tepat waktu menjadi mundur. Bisa jadi seperti hari ini. Shalat magrib terlewat hingga menjama shalat tersebut di waktu Isya. Shalat dzuhurpun tak jauh berbeda. Paling apes ketika terlewat shalat Ashar dan Subuh, karena tidak bisa dikerjakan di waktu yang lain. So, sekarang saya belajar menyegerakan shalat sebelum tidak sempat lagi. Karena saya tidak pernah tahu kapan Baby Allea akan rewel dan tidak bisa ditinggal atau kapan saya bisa menitipkan baby Allea untuk Shalat.

Nah, kalimat terakhir saya tadi oke juga ya kalau diganti. “So, sekarang saya belajar menyegerakan shalat sebelum tidak sempat lagi. Saya juga tidak pernah tahu kapan saya akan mati. Saya juga tidak akan pernah tahu sampai kapan saya sehat dan bisa shalat seperti ini.” Ngeri ya kalau ingat, bahwa di dunia ini hanya sebentar, sementara akhirat itu kekal adanya.

Yuk ah, yang masih bolong-bolong shalatnya, yang masih males-malesan kita perbaiki. Shalat itu nikmat, apalagi kalau bisa shalat dengan khusyu dan penuh rasa syukur. Hanya 17 rakaat, dalam 5 kali waktu yang pas, dan rakaat yang juga pas hingga tidak membuat kita sampai kecapean atau letih karena shalat. Hanya meluangkan waktu 10 menit saja, kenapa tidak bisa? Sementara Allah meluangkan sepanjang waktunya untuk kita saat kita membutuhkannya atau tidak.***

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s