Balada Fakir Misscall Menjadi Juragan Pulsa

Masa-masa kuliah saya ingat betul, pertama kali merasa perlu mempunyai HP. Akhirnya, HP pertama saya Siemens C25 yang saya beli second berwarna biru dongker. Jaman-jaman itu tidak semua orang mempunyai HP. Mempunyai HP masih suatu kemewahan hingga memiliki No HP itu rasanya sesuatu. Harga kartu perdana yang pertama kali saya beli saja harganya masih 100 ribu lebih, Sekarang 100 ribu bisa dapet 20 kartu perdana. Jadi saat itu yang penting punya HP dulu, urusan pulsa belakangan.

Hp Pertamaku

Hp Pertamaku

Seringnya HP hanya digunakan untuk SMS yang tarifnya paling murah. Untuk janjian di kampus atau ber-sms ria dengan kenalan. Telepon rumah tetap rajanya untuk berkomunikasi karena tentunya tarifnya lebih murah. Warung Telepon atau kios telepon koin yang biru atau kuning itu masih menjadi pilihan termurah untuk menelepon. Trend Miss call rasanya ngetrend banget jaman itu. Karena setiap orang sadar betapa mahalnya menggunakan HP untuk menelepon dari HP ke HP.

Berhubung tarif telepon HP masih mahal tidak seperti sekarang, apalagi saat terjadinya perang tarif antara operator. Gratis panggilan di 3 detik pertama sebuah operator menjadi favorit kami para mahasiswa jaman itu. Hingga terkenal pula PTS yang artinya Panggilan Three Second. Cukup lah untuk sekadar:

“Kamu dimana?”

”Kosan Mumu!”

“Tungguin ya!”

“Bentar lagi ke sana”

atau…
“Ada dosen nggak?”

”Ada”

“Titip absen”

“Sip”.

Kalau sedang rajin dan ingin curhat bisa juga, asal sabar dan pastikan diawali dengan kata

“Jangan ditutup!” karena patner PTS juga akan segera menutup telepon secara otomatis.

Betapa sulitnya mendapatkan pulsa murah hingga harus berburu dari satu penjual pulsa ke penjual pulsa yang lain. Menyenangkan sekali rasanya ketika mendapatkan penjual pulsa dengan harga termurah, tentunya menjadi tempat membeli pulsa langganan. Apalagi lokasinya juga sangat pas karena terlewati perjalanan pulang pergi ke kampus, begitupun sewaktu bekerja. Subsidi pulsa yang setiap bulan sebuah voucher bernilai pulsa 100ribu itu tidak cukup  mengingat ketika itu saya dan mantan pacar saya yang sekarang menjadi suami adalah salah satu pelaku LDR. (Long Distance Relationship) a.k.a Pacaran jarak jauh.

Saat itu hobi baru mencari tarif telepon termurah agar komunikasi bersama pacar lancar setiap hari. Biasanya menjelang tidur sampai salah satunya tertidur atau pulsa habis. Begitulah rutinitas yang selalu dijalani. Sampai akhirnya memanfaatkan program-program tiap operator untuk mendapatkan tarif telepon murah demi kelangsungan LDR kami. Sehari tidak menelepon bisa menjadi masalah untuk yang lain. Sehingga urusan pulsa bisa berujung putus hubungan cinta. Hahaha…

Kebutuhan akan pulsa itu semakin meningkat ketika hubungan lebih serius lagi. Akan segera menikah. Pulsa menjadi sangat penting untuk kelancaran komunikasi dan berbagai urusan yang tidak bisa dilakukan dengan datang langsung ke tempat. Menggunakan pulsa untuk menelepon terasa jauh lebih murah dibandingkan harus datang ke lokasi. Tidak hanya memakan waktu tapi juga tenaga dan uang yang lebih banyak dibandingkan dengan menelpon. Untungnya teman saya menjual pulsa elektrik yang selalu siap mengisi pulsa kapanpun saya butuhkan. Jadi rajinlah saya mengutang pulsa kepadanya.

Keadaan berbalik ketika saya sadar kalau kebutuhan pulsa ini sudah menjadi kebutuhan pokok sehari-hari. Minimal untuk saya dan suami. Suami untuk keperluan pekerjaannya sebagai marketing dan untuk internetan hanya untuk mencari tahu berita ter-up-date atau bermain game on-line. Saya untuk bekerja sekaligus bersosialisasi. Pekerjaan saya di rumah baik untuk berbisnis on-line ataupun untuk pekerjaan menulis, saya lakukan dengan memanfaatkan akses internet dan BBM. Tidak ada pulsa artinya tidak ada internet, Tidak ada internet berarti tidak ada pemasukan tambahan.

Suami saya sering ber-hutang pulsa ke teman kantornya yang berjualan pulsa, sayapun demikian. Hingga tak terasa tagihan membengkak ketika saatnya kami akan membayar. Akhirnya sayapun berpikir untuk menjadi penjual pulsa elektrik melalui teman saya itu. Keuntungannya tentu saja saya mendapatkan harga pulsa yang jauh lebih murah daripada saya membeli pulsa di counter atau dari teman saya yang akhirnya menjadi up line saya. Bedanya yang biasanya ngutang sekarang menjadi deposit. Ini cukup membantu memangkas pengeluaran untuk pulsa saya dan suami setiap bulannya. Belum lagi ketika saudara-saudara juga membeli pulsa pada kami, keuntungan bertambah. Tidak besar memang tapi tetap masih untung dibandingkan ketika kami menjadi “Pembeli” pulsa.

Toko Pulsaku

Toko Pulsaku

Sayangnya ketika memutuskan untuk menjual pulsa saya belum tahu Pojok Pulsa, salah satu penjualn pulsa murah Jakarta. Bedanya dengan M-Kios saya tentu karena bisa memakai nama counter ketika isi pulsa. Selain itu juga bisa diakses 24 jam dengan berbagai media tanpa harus terkena biaya sms seperti saya. Ada komisinya, dll. Coba saya tahu dari dulu mungkin saya akan jatuhkan pilihan pada Pojok Pulsa, penjual pulsa elektrik Jakarta terbesar yang konsumennya tidak hanya di Jakarta tapi seluruh Indonesia.

Pojok Pulsa

Pojok Pulsa

Itulah sepenggal pengalaman hidup saya tentang balada Fakir Miscall menjadi Juragan Pulsa yang tiada lain adalah cerita saya sendiri. Julukan “Juragan Pulsa” diberikan oleh salah satu pelanggan saya 😀 Adanya server pulsa yang mengubah voucher pulsa fisik menjadi elektronik benar-benar sebuah penemuan yang sangat bermanfaat. Alasannya tentu karena berbisnis pulsa tidak hanya bisa dilakukan dengan harus selalu membuka counter yang pastinya mengeluarkan biaya yang lebih mahal karena harus menyewa tempat, harus menunggu counter bahkan membayar gaji karyawan. Bagi pengguna pulsa juga lebih menguntungkan karena kapanpun dimanapun mereka dapat mengisi pulsa hanya dengan sms atau bahkan akses komunikasi lainnya tanpa pulsa.***

Iklan

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s