Arti Mukena untuk Seorang Irma

Mukena atau rukuh adalah salah satu benda yang sangat berarti bagi saya. Bukan hanya sekadar karena fungsinya untuk menghadap pada Sang Kholik, tapi memang ada kisah dibaliknya yang memiliki makna khusus dalam kehidupan saya. Tidak hanya dalam kehidupan tapi juga pengalaman ketauhidan saya dengan Nya. Kisah ini berawal ketika saya kecil dulu. Bagaimana saya mengenal Tuhan saya, ketika saya diajarkan shalat dengan dibelikan sebuah buku tata cara shalat lengkap oleh Papa.

Darinya pula saya belajar dan dididik bahwa shalat itu bukan lagi sebuah kewajiban, tapi sebuah kebutuhan. Walaupun ada jamannya ketika kecil saya dulu saya sering berbuat nakal dengan masuk kamar dan berpura-pura shalat di kamar lalu keluar untuk segera bermain kembali karena teman-teman sudah menunggu. Dulu waktu saya masih kecil, Nenek selalu mengingatkan saya untuk shalat. Hal yang pertama ditanyakan ketika kami bertemu bukan sudah makan atau belum tapi sudah shalat atau belum.

Tentunya saya tidak bisa mengelak dari pertanyaan ini karena saya tahu nenek lebih sering menghabiskan waktunya di rumah, sehingga ia pasti tahu kalau saya berbohong. Akhirnya, ya begitulah cara saya mengelabuinya. Masuk kamar membuka lipatan mukena, menggosok-gosoknya sedikit hingga terdengar seperti gerakan orang sedang shalat termasuk dengan beberapa bacaan shalat yang saya keraskan terutama takbir dan salam. Tak segan saya juga sembari menggerakan badan saya seperti sedang shalat.

Hehehe…jika ingat masa itu saya malu, sekaligus ingin tertawa meneertawakan kenakalan saya itu. Padahal sama saja waktu yang dihabiskan untuk kegiatan pura-pura shalat itu dengan shalat sungguhan. Hingga akhirnya kebiasaan nakal saya ini benar-benar tidak saya lakukan lagi. Tentunya seiring dengan bertambahnya pengetahuan saya bahwa shalat adalah salah satu rukun Islam yang harus saya kerjakan. Dari kelas 4 SD shalat menjadi rutinitas yang ‘harus’ saya kerjakan.

Saya masih ingat benda berwarna putih polos untuk shalat ini saya dapatkan sebagai warisan dari sepupu saya. Sebuah rukuh terusan berwarna putih polos dengan kain yang sangat tipis. Barulah ketika kelas 3 papa membelikan saya satu yang baru. Mukena yang berumur paling tua karena seingat saya benda ini adalah salah satu yang paling jarang dibelikan orang tua saya. Padahal untuk baju setidaknya setahun 2 kali saya dibelikan. Lengkap sampai lebih dari satu jenis. Waktunya yaitu ketika saya berulang tahun dan ketika lebaran tiba. Selain itu, jangan harap deh.

Hingga suatu waktu menjelang lebaran saya meminta Mama membelikan saya satu yang baru.

“Mam, beliin Irma mukena dong, liat udah jelek gini…” pinta saya sembari menunjukan lipatan benda berwarna putih yang sudah tidak lagi putih pemberian Papa.

“Beli mukena mah enggak usah sering-sering, justru bagus kalau udah lusuh, berarti sering dipake. Itu artinya Irma rajin shalat.”

Jawaban Mama saat itu cukup meluluhkan hati saya. Sayapun akhirnya berpikir demikian dan tak pernah mempermasalahkannya lagi walaupun kadang timbul rasa iri ketika melihat rukuh-rukuh cantik yang mama koleksi. Rukuh yang hanya ia gunakan pada saat acara-acara khusus. Ya apalagi kalau bukan untuk Shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain bahannya yang beragam, hiasan-hiasannya juga tidak kalah cantik dan terpenting warnanya yang putih kinclong itu. Pun ketika mama memberikan untuk Nenek, atau kakak-kakaknya.

Saya kecewa, sedih, tapi ya sudahlah. Dan ternyata Tuhan mendengar keinginan saya. Akhirnya saya dibelikan satu yang baru. Walaupun itu baru terjadi ketika saya akan masuk SMP. Itupun karena yang lama saya sudah tidak muat lagi. Sejak itu saya sudah lupa dan mulai menganggap benda ini adalah salah satu benda yang memang tidak harus baru, selalu cantik, tapi yang penting masih layak digunakan. Hingga seringkali saya harus menjahit talinya yang copot, mengikat roknya karena karetnya lepas, dll karena saya tidak ingin meminta untuk dibelikan rukuh lagi. Pun untuk benda-benda lainnya.

Bertahun-tahun berlalu hingga akhirnya saya bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Tanpa saya sadari keinginan terpendam saya yang lama ternyata muncul. Mukena menjadi salah satu benda yang sangat menarik hati saya. Selain untuk digunakan sendiri, tentunya untuk diberikan kepada orang-orang yang saya sayangi. Benda ini menjadi hadiah yang istimewa bagi saya. Pun ketika saya memberikannya kepada orang lain.

3 Muken Favoritku

3 Muken Favoritku

Ini adalah 3 setel rukuh yang bisa dibilang menjadi favorit saya diantara rukuh yang lainnya. Mukena pertama pemberian Ibu mertua tersayang, yang ke-2 pilihan mama tersayang sebagai buah tangan sepulangnya dari Bali, dan yang ke-3 pemberian suami tercinta ketika kami menikah dulu. Semuanya nyaman, hingga menjadi pengingat saya untuk selalu kembali kepada Sang Pencipta. Sehari 5 kali untuk yang wajib, tambahan yang lainnya yang rutin saya kerjakan untuk shalat Dhuha, dan shalat malam serta witir ketika sengaja atau tidak saya terbangun di malam hari.

Begitulah berartinya benda istimewa ini untuk saya. Salah satu benda teristimewa dalam hidup. Dan semakin istimewa ketika benda ini sering digunakan. Manfaatnya tidak hanya sampai di dunia tapi juga akhirat. Maka sampai kapanpun hadiah mukena, siapapun yang memberikannya akan sangat berarti untuk saya. Menjadi benda yang pasti saya gunakan sampai kapanpun hingga akhirnya saya dishalatkan untuk yang terakhir kalinya. Tulisan Ini Diikutkan dalam Giveaway Menyambut Ramadhan***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s