Menonton Layar Tancap di Zamanku

Layar tancap, sudah lama tidak pernah ku dengar atau bahkan ku lihat lagi. Rupanya dangdut koplo dan goyangannya lebih diminati dibandingkan menonton layar tancap. Melihat tayangan dokumenter tentang para pebisnis layar tancap di sebuah TV swasta beberapa waktu yang lalu benar-benar mengingatkanku pada masa-masa itu. Dulu, sekita 20 tahun-an yang lalu ketika aku masih berseragam merah putih.

Masih jelas di ingatanku pada masa itu aku bersahabat dengan  beberapa orang teman masa kecilku. Merekalah yang selalu mengajakku turut serta setiap ada layar tancap. Tidak hanya di kampung  kami tapi juga hingga di kampung lain yang jaraknya cukup jauh untuk ditempuh anak seusia kami pada waktu itu. Hingga ijin pergipun terkadang sulit kudapatkan.

Akhirnya selepas mengaji dan shalat Isya berjamaah di mesjid kami langsung pergi menuju lokasi layar tancap itu akan digelar. Untuk pertama kalinya ikut rasanya…mungkin seperti anak sekarang yang pertama kali nonton bisokop. Hahaha… Tapi yang ini lebih nendang. Pasalnya orang yang menonton bisa jauh lebih banyak dibandingkan yang menonton di bioskop. Bahkan bisa menyamai penonton sepakbola di stadion. Bedanya kami meyebar di tiap penjuru sekitar lokasi tersebut.

Karena badan kami masih belum terlalu tinggi waktu itu maka lokasi strategis tentu jika tidak di barisan paling depan maka bangunan-bangunan tinggi yang kami jadikan sasaran. Mulai dari kursi reyot di warung kosong hingga tembok-tembok rumah berpagar yang bertengger di sekitar lokasi layar tancap. Kami mencari lokasi yang pas untuk kami. Aku dan kedua sahabatku. Jika beruntung, kami juga bertemu teman-teman lain dan bisa bersama-sama menonton di ‘tempat duduk’ yang sama.

Bagian yang paling menyebalkan adalah ketika layar tiba-tiba bergoyang ketika ditiup angin kencang. Ini membuat gambar di layar menjadi kabur bahkan suaranya menjadi tidak jelas. Selain itu juga ketika ada orang yang tiba-tiba berdiri menghalangi pandangan mata kami ke layar. Bisa jadi jika layar tancap dipasang di pinggir jalan raya, ketika ada mobil besar lewat yang sudah pasti menutup layar. Saat-saat seperti itulah suara sorakan terdengar riuh dari para penonton.

Tapi ternyata di situlah keseruannya. Utuk menyaksikan sebuah film saja perlu perjuangan. Mulai dari pergi diam-diam selepas mengaji, mencari posisi yang bagus untuk menonton, sampai berbagai gangguan yang kerap kali datang di tengah-tengah keseruan film yang kami tonton. Tapi entah kenapa cuaca selalu mendukung. Konon penyelenggara hajatan yang mengadakan layar tancap memanggil pawang hujan untuk memindahkan hujan menjelang acara berlangsung hingga usai dan berhasil.

Aku masih ingat ketika menonton film tentang kisah “Si Rambut Api” (Film jaman apa itu? Siapa yang main aku tidak ingat, maklum dulu tidak banyak infotainment yang mengulas kisah para aktor seperti sekarang). Sebuah film kolosal tentang pendekar-pendekar gitu filmnya. Ketika adegan menegangkan suasana ikut tegang, ketika muncul adegan lucu semua tertawa bahkan banyak juga yang bertepuk tangan.

Tapi jaman itu rasanya menonton film bersama-sama semua lapisan umur tidak masalah karena tidak ada adegan-adegan fulgar seperti di film-film sekarang. Jadi layar tancap bisa menjadi salah satu hiburan keluarga saat itu. Menonton film beramai-ramai bersama semua kalangan menjadi satu. Jika di tengah jalan butuh camilan maka camilan itu udah tersedia di dekat kita. Ada kacang rebus, bandrek, bajigur, ubi dan pisang rebus, dan makanan-makanan rakyat lainnya. Enggak ada tuh yang namanya pop corn, keripik kentang, cokelat, atau soft drink untuk teman nonton seperti di bioskop.

Satu kali pertunjukan bisa diputar 3 hingga 5 film dengan jenis yang berbeda-beda mulai dari komedi, kolosal hingga horor. Biasanya sampai film ke-2 kami sudah mengantuk dan memutuskan untuk segera pulang dan memeluk guling di kamar kami masing-masing. Keesokannya pasti kisah menonton layar tancap kami bersama-sama menjadi bahasan kami ketika bermain. Menceritakan hal-hal unik dan lucu selama mulai dari kami pergi , menonton hingga perjalanan pulang. Menonton layar tancap saat itu benar-benar menjadi pengalaman berkesan yang tak terlupakan. Adakah yang pernah mengalami zaman-zaman itu? ;)***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s