Cita-Cita Dai Cilik

Suatu hari pada bulan Ramadhan tahun lalu saya menonton sebuah kontes Dai cilik di sebuah stasiun TV swasta. Ketika para Dai cilik ditanya mengenai cita-cita, ternyata jawaban mereka adalah menjadi dokter, presiden, guru, dll. Menjadi Dai ternyata bukanlah cita-cita mereka.

Senang rasanya ketika melihat anak-anak kecil berceramah dengan lantangnya. Ada yang terlihat seperti orang tua, namun tidak sedikit yang tampil percaya diri dengan kepolosan-kepolosan khas mereka.

Sekecil itu sudah hafal dan mengerti isi al quran dan hadits. Menjadikannya sebagai bagian dari materi ceramah mereka dalam kontes tersebut. Masyaallah..saya aja sudah setua ini masih awam dengan Quran dan Hadist. Membacanya hanya ketika merasa membutuhkan informasinya saja.

Perasaan malu memang kerap menyergap namun begitulah realita yang terjadi. Semakin kecil seseorang belajar maka ingatannya akan lebih tajam dibandingkan yang sudah berumur baru mulai untuk menghafal. Walaupun jika dilihat dari segi pemahaman tentu yang lebih berumur lebih bisa memahami ayat Allah dan riwayat nabi tersebut.

Tapi biarlah, toh di kemudian hari mereka masih bisa belajar untuk lebih memahami isi dari apa yang ia baca atau ia hafalkan saat ia masih kecil. Hingga ketika kelak ia dewasa ia tidak hanya hafal tapi juga memahami artinya dan juga bisa mengamalkannya dalam hidup sehari-hari. Itulah esensi yang sebenarnya dari menghafal kitab Allah dan hadist sedari kecil.

Menciptakan generasi muda yang istimewa. Penerus bangsa yang tidak hanya cakap dalam ilmu pengetahuan mereka akan berbagai hal keduniaan tapi juga akhirat. Dengan begitu besar harapan kita bahwa kelak generasi muda inilah yang akan membawa Indonesia menjadi sebuah bangsa yang maju. Karena mereka paham betul tentang arti dari sebuah kekuasaan, bagaimana korupsi di mata Islam, bagaimana caranya memegang amanah, dan bagaimana seharusnya ulil amri atau pemerintah berperilaku yang benar.

Hal-hal yang tidak dimiliki generasi sebelumnya yang hanya mementingkan kepintaran tapi tidak keshalehan. Menjadikan pendidikan mengenai keduniaan adalah segalanya dan mengesampingkan pendidikan agama. Itulah sebabnya keilmuan yang mereka miliki bukannya digunakan untuk kebaikan umat manusia melainkan sebaliknya.  Untuk mencari keuntungan diri sendiri sebanyak-banyaknya dengan berbuat curang, mencuri, menyebarkan fitnah dan keburukan, menteror, memecah belah orang lain hingga menghilangkan nyawa orang lain dianggap hal yang biasa.

Namun sebaliknya, tak jarang kita temui mereka yang mengetahui keakhiratan dengan baik juga menjadi buta mata dan hati mereka akibat tuntutan duniawi. Menjadikan ilmu agama yang mereka miliki dicampuradukan dengan sihir, meminta bantuan jin hingga akhirnya justru malah menjerumuskannya pada syirik, kejahatan, dan kemaksiatan. Hal ini membuat kita sulit membedakan manusia bersorban mana yang sesungguhnya menjadi pembela Allah. Dan lebih prihatin lagi karena ternyata orang tersebut terkenal sebagai seorang Dai Cilik…dulunya.

Bahkan beberapa waktu yang lalu ustadz yang seharusnya menjadi panutan, mengajarkan welas kasih kepada orang lain justru dengan sukses merendahkan martabat manusia lainnya. Ia mencaci maki, berkata kasar hingga merendahkan saudaranya sesama muslim untuk melampiaskan emosinya. Bagaimana ini?

Rupanya kini kebaikan dan kejahatan, orang baik dan orang jahat sungguh tidak bisa dibedakan lagi. Itulah sebabnya kewaspadaan kita harus semakin tinggi menghadapi orang-orang semacam ini. Lebih mudah melihat penjahat yang menampakan diri mereka dibandingkan yang bersembunyi di balik topeng-topeng ‘keshalehan’ mereka.

Saatnya kita bercermin pada diri kita sendiri, termasuk Anda para orang tua Dai cilik ini. Untuk menilai sejauh mana keimanan dan keshalehan kita dan anak kita. Agar kita terhindar dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar. Agar hidup kita senantiasa berada dalam limpahan cinta dan kasih sayang Nya. Agar kita selalu bisa membedakan dengan jelas mana saudara dan mana musuh kita. Hanya Dia lah tempat kita berlindung dari segala kejahatan.***

Iklan

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s