Resep Menjadi Kaya

Kata seorang teman bisnis itu resep nya ya….tinggal dijalani aja. Enggak usah banyak spekulasi. Yang penting enggak pake uang modal dan sisihkan 50% dari keuntungan yang didapat setiap harinya untuk tabungan. Anggap aja kasih uang ke anak. Atau beli bakso terus tumpah. Sesuatu yang enggak mungkin balik lagi. Keluarkan dan lupakan. Coba satu tahun aja resep itu. Butikan bahwa bisnis yang kita lakukan bisa menghasilkan sesuatu. Sesuatu yang memang benar-benar kita inginkan.

Kalau mengobrol dengannyamasalah bisnis, ya aku akui sahabatku ini memang pakarnya. Beberapa kali juga aku menjadi rekan bisnisnya. Hanya saja dikala itu bisnis hanya kulakukan sebagai selingan. Saat aku sudah mempunyai pekerjaan tetap, saat aku sudah bekerja lagi. Bisnispun kutinggalkan. Aku kembali menjadi pekerja yang diatur oleh bos, tidak boleh ini tidak boleh itu. Harus begini harus begitu. Lengkap dengan smua rutinitas yang kadang membosankan untuk aku yang kadang bosan dan ingin menghindar dari hiruk pikuk manusia. Aku yang lebih senang bekerja sendiri karena aku bukan tipe orang yang suka memerintah pun diperintah oleh orang lain yang bukan atasanku.

Satu lagi, resepnya untuk sukses dalam bisnis. Keluarkan zakatnya setelah 1 tahun. Dia bilang balasan dari Allah itu secepat kilat. Cash, ga kaya manusia yang lebih suka nyicil kalau bayar sesuatu. Kalau enggak kaya gitu enggak mungkin juga saat ini menjamur berbagai perusahaan pembiayaan yang lebih kita kenal dengan nama Lissing. Mulai dari kredit mobil, motor, alat-alat elektronik sampai emas. Semua bisa dibeli dengan menyicil. Dengan bunga yang cukup tinggi tentunya.

Tapi Allah tidak begitu. Coba saja kalau tidak percaya! Ya, beberapa kali aku memang sudah membuktikannya. Semakin ikhlas kita memberi, maka semakin cepat balasannya. Rezeki yang kadang datang tanpa di sangka-sangka seolah mengalir seperti air dari atap yang mengucur hingga ke tanah. Bahayanya kadang kita seringkali takabur dan melupakan bahwa rezeki itu adalah karena kerja keras kita. Padahal semua itu dari Allah. Rezeki untuk kita, anak, dan juga suami, atau bahkan orang-orang yang mendapatkan penghasilan dari tangan kita.

Sesulit apapun bisnis kita menyisihkan separuh dari keutungan yang didapat WAJIB hukumnya. Hmmm….berat. Enggak ko ga berat, coba aja. Nanti juga biasa. Lalu, dia menceritakan kisah para pekerja yang akhirnya keluar dari pekerjaannya dan memilih untuk serius di bisnis yang digelutinya. Bahkan ada sepasang suami istri PNS yang nead keluar dan memilih untuk berbisnis. Padahal betapa banyaknya orang yang ingin menjadi PNS di Indonesia ini sampai rela menyuap hingga puluhan juta. Mereka dengan santainya keluar.

Alasannya karena tentunya mereka tidak ingin merugikan negara dengan membayar mereka degan gaji buta tentunya. Menikmati anggaran-anggara yang seharusnya digunakan untuk rakyat yang kadang tanpa mereka sadari masuk ke kantung mereka masing-masing. Wah, nampaknya ini sudah sampai ke masalah hati nurani. Rupanya akhirnya hati urani lah yang berbicara untuk sebuah ketusan hidup seperti ini.

Lalu aku? Aku hanya ingin membantu suami memenuhi kebutuhan kelaurga kami. Mencoba berbuat sesuatu untuk bisa membeli mimpi-mimpi kami. Membeli dengan kerja keras, dengan uang halal yang Insyaalah akan menjadi berkah untuk kehidupan kami. Baik untuk kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang. Walaubagaimanapun perjalanan kami masih panjang. Kami harus selalu mencari kesempatan untuk membuka pintu-pintu rezeki dan berkah dari Yang Maha Kuasa.

Kami bukan anak orang kaya. Kami bukan anak seorang pejabat. Kami juga tidak lahir untuk menjadi seorang selebritis atau sosialita yang dilimpahi kekayaan yang memang sudah terlahir kaya raya. Itulah sebabnya kami harus berjuang dari nol. Mengais harapan-harapan dan mencoba mewujudkan mimpi-mimpi kami menjadi sesuatu yang nyata. Untuk itu butuh keberanian, tekad yang kuat & tentunya keyakinan bahwa kami bisa mendapatkan semuanya.

Kebiasaan lamaku adalah menanyakan sesuatu yang menjadi keinginanku untuk dijawab jika sudah bisa terjawab. Dulu pertanyaanku begini:

Siapa pacarku 5 tahun lagi?

Kapan aku menikah?

Dengan siapa aku menikah?

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang akirnya kujawab sendiri pada waktunya. Sekarang pertanyaannya begini:

Di mana rumah pertamaku?

Berapa luas tanah & harga tanah yang pertama kali aku beli?

Ketika usiaku 40 tahun,

Keberhasilan apa saja yang sudah aku raih?

Keberhasilan apa saja yang sudah suamiku raih?

Keberhasilan apa saja yang sudah anak-anakku raih?

Keberhasilan apa saja yang sudah keluaga kami raih?

Apa saja yang sudah aku miliki?

Berapa judul buku yang sudah kutulis?

Berapa orang anak yang sudah kumiliki?

Masihkah suamiku menjadi lelaki terhebat yang pernah aku miliki?

Berapa banyak resep masakan yang sudah bisa aku buat?

Seberapa banyak doa yang bisa kuhafal?

Seberapa banyak orang yang sudah menjadi sahabat-sahabatku?

Seberapa banyak orang yang dapat aku bahagiakan?

Seberapa banyak orang yang dapat ku tolong?

Siapakan yang menjadi orang yang besar pengaruhnya dalam keberhasilanku?

Dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Semoga Allah masih memberikan aku waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dan yang terpenting, aku bisa menjawabnya dengan baik. Dengan senyuman, dan tentunya dengan rasa puas dan kebahagian. Amin YRA….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s