Arti Sahabat

Arti sahabat itu apa sih?
Banyak yang  bilang sahabat sejati itu ada saat kita senang atau saat kita sedih. Teman berbagi suka dan duka, selalu ada kapanpun kita membutuhkannya begitupun sebaliknya. Sahabatlah yang paling mengerti kita. Sahabat tidak akan meninggalkan kita ketika orang lain meninggalkan kita. Banyak lagi arti sahabat yang kurang lebih semuanya mengatakan seolah sahabat itu adalah bagian yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Namun ternyata hal itu tidak berlaku lagi ketika kita atau sahabat kita sudah menikah. Arti sahabat itu tidak seberarti ketika masih lajang atau ketika kita sama-sama sendiri. Keadaan berubah 180 derajat karena sahabat kita menjadi sahabat suaminya, dan kita pun tanpa kita sadari menjadi sahabat suami kita sendiri. Dialah orang yang menjadi sahabat kita sepenuhnya, yang selalu menemani dalam suka dan duka.

Lalu ke mana sahabat kita? Ia akan datang saat kita membutuhkannya. Tapi saat kita sudah menikah, tentunya yang kita bagi hanya kebahagiaan saja. Suami kita sendirilah tempat kita berbagi duka, luka atau bahkan derita. Bukan karena kita sombong atau tidak menganggap sahabat kita itu bukan sahabat kita lagi, tapi karena kita memberikan ruang untuknya untuk menjadikan suaminya juga menjadi sahabat untuknya.

Selain itu, Ia juga harus diberi ruang untuk mendewasakan dirinya sendiri dengan tidak tergantung kepada kita sahabatnya. Namun, memberikan ia peluang untuk bergantung pada suaminya. Tempat yang memang paling layak untuknya bersandar dan mengadukan semua suka dan dukanya tanpa ada batas sedikitpun. Sahabat tetaplah akan menjadi sahabat, hanya sedikit menambah jarak antar persahabatan itu denga ikatan pernikahan kita atau sahabat kita.

Bersahabat layaknya sebuah metamorfosa. Karena itulah memerlukan waktu yang cukup lama untuk bersahabat. Jika hanya sebentar atau sambil lalu itu bukanlah sahabat, karena kita tidak pernah melewati masa metamorfosis itu bersamanya. Bukanlah sahabat jika tidak tahu setiap langkah dan perubahan yang terjadi pada sahabatnya. Bukanlah sahabat jika tidak bersamanya ketika ia melewati setiap fase dalam metamorfosa kehidupannya. Karena sahabat itu selalu ada di hati kita, secara kita sadari ataupun tidak.

Akan datang suatu masa atau waktu di mana kita merindukannya. Merindukan kebersamaannya dalam melewati suatu masa. Ke warnet sama-sama, makan sama-sama, kuliah duduk bersebelahan, mengerjakan tugas bersama, belanja bersama, berjalan bersama, mengobrol lama di sepanjang jalan, seakan cerita tidak ada habisnya. Semuanya itu dilakukan bersamanya, bersama sahabat yang kini telah bermetamorfosa menjadi seorang istri dan Ibu untuk anaknya yang juga menjadi sahabatnya.

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s