Dan Lahirlah

Semakin hari kandunganku semakin besar saja. Berjalan menjadi semakin berat dan lama karena seringnya aku berhenti atau melambat ketika merasa bayi di dalam rahimku berkontraksi. Namun aku tetap bersemangat untuk bekerja sambil menanti kelahiran bayi pertamaku. Kehamilanku ini malah membuatku bertambah giat. Mulai dari membersihkan rumah, memasak, dan membuatku semakin senang bepergian. Ke mana saja, asalkan kaki ini melangkah dan ditemani suami atau teman yang dapat memastikan bahwa semuanya aman untukku dan calon bayiku. Kehamilanku ini diprediksi dokter akan lahir pada pertengahan September 2010.

Dag-dig-dug rasanya bagaimana aku harus mengatur waktu yang tepat agar semuanya bisa berjalan sebagaimana mestinya. Dari periksa dalam yang ia lakukan, ia memprediksi bahwa keeseokan harinya aku akan melahirkan.

“Wah, ini mah besok juga lahir, Bu. Sekarang saya kasih resep obat untuk melenturkan vagina, besok pagi jalan-jalan yang banyak. Kalau udah mulai kerasa langsung ke sini setelah Zuhur perkiraan udah bisa lahir.” Tutur dr. Acca yang tiada lain adalah asisten dr. Raclif yang merupakan salah satu dokter kandungan senior di Bandung. Hampir setiap malam pasien antri di rumah sakit bersalin ini, bahkan bisa sampai jam 12 malam.

Mendengar keterangannya aku dan suamiku hanya berpandangan seakan tak percaya.

“Masa sih, Dok?”

“Iya…Gimana si ibu teh, udah pegel kan? Pengen cepet-cepet keluar, mau keluar malah gak mau.” Jawabnya dengan dialek Sunda menjawab ketidakpercayaanku. Saat itu tak lain adalah 1 bulan sebelum tanggal prediksi. Jadi, sangat jauh dari perhitungan baik dari Dokter Raclif ataupun dari Bidan yang merupakan tempatku mengecek kandunganku.

“Bukan gitu, Dok. Soalnya kecepetan dari prediksi, mana belum buat surat cuti dan lain-lain.”

“Ya tinggal bikin aja, gampang ko, nanti kita buatkan.” Jawabnya seakan menyepelekan. Karena pada kenyataannya, di perusahaan tempat kubekerja semua harus diperhitungkan dengan baik.

“Oh, iya deh Dok…Makasih.” Kataku sambil bergegas untuk keluar dari ruangannya didampingi suamiku. Kami pun masuk ke ruang obat mengambil resep yang dokter berikan.

Hal ini tentunya membuatku panik dan gelisah. Vonis itu sangat jauh dari prediksi dokter Raclif atau dari bidan yaitu tanggal 12-09-2010. Tepat sehari setelah hari raya Idul Fitri. Suamiku yang melihatku gelisah menenangkanku, tapi tetap tak bisa membuatku tenang. Sepulang dari dokter sekitar jam 12 malam, aku menyetrika baju-baju bayi untuk persiapan kalau-kalau yang dikatakan dokter Acca benar, padahal keesokan harinya aku sudah harus berangkat ke kantor pukul 05:15 pagi.

*

Keesokan harinya aku tetap bekerja seperti biasa dan tidak terjadi apa-apa. Semua berjalan normal. Malamnya seperti rencana hari sebelumnya, suamiku pun mengantarku ke bidan Ira untuk diperiksa. Memastikan kebenaran prediksi dokter Acca.

“Belum ko, masih jauh. Prediksi tanggal 12, bisa lebih cepet seminggu atau lebih lama seminggu.” Kata bidan Ira setelelah memeriksa kandunganku dengan memegang perutku untuk memastikan posisinya dan mendengarkan detak jantungnya.

“Jadi, kalau ada kontraksi di tanggal-tanggal tersebut bisa telepon dulu, atau langsung ke sini.”

“Oh…iya deh!” Jawabku sambil melepas keteganganku yang belum usai setelah

mendapatkan kabar dari asisten dokter Raclif.

Aku pun lebih tenang setelah mendengar jawaban dari bidan Ira. Aku memang

merencanakan akan melahirkan di sana, selain bidannya terkenal sabar, ramah, baik, biayanya juga murah, tidak semahal jika kita melahirkan di rumah sakit. Tempatnya juga memiliki fasilitas yang cukup baik untuk sarana medis setingkat bidan. Dan yang terpenting bidan yang baik biasanya pasti akan mengusahakan dan membantu proses kelahiran yang normal, seperti apa yang aku mau. Karena ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa ketika kaki bayi menyentuh lubang vagina si ibu maka saat itu ia memberikan pelajaran untuk menjadi seorang ’ibu’ kepada ibunya.

Aku pun tentu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku ingin merasakan menjadi seorang wanita sempurna dengan merasakan kelahiran anak-anaku kelak. Agar aku tahu bagaimana perjuangan seorang Ibu mulai dari mengandung anaknya selama 9 bulan,sampai proses kelahirannya.

Sepulang dari bidan Ira, hatiku pun lebih tentram. Persiapan administrasi menjelang kelahiran anak pertamaku aku urus dengan baik. Semua aku bautkan checklist agar terencana dengan baik dan tidak ada yang terlewat. Urusan kantor sudah beres, persiapan hari kelahiran yang harus dibawa di dalam tas sudah ok.

Tuhan memang kuasa atas segalanya. Doaku dikabulkan, semua lancar sesuai dengan apa yang aku harapkan. Mulai dari pengajuan cuti, permintaan libur, dan waktu kelahiran yang tepat dan akhirnya tanggal 1-10 September aku sudah tidak bekerja lagi. Tanggal 10 September yang merupakan hari terakhirku juga kuambil menjadi cuti, jadi aku memang sudah siap sepenuhnya.

Dari tanggal 1 September aku menyiapkan diriku untuk lebih santai. Membuat hatiku selalu riang. Mengisi hari-hariku dengan kebahagiaan. Semua yang kulakukan hanya untuk menyenangkan diriku. Setidaknya membuatku tersenyum dan membagi kebahagiaan ini dengan bayi yang saat itu masih berada di rahimku. Aku lebih sering mengajaknya bicara dan yang terpenting. Aku ingin kami menjadi tim yang baik ketika saatnya tiba nanti. Hari kelahirannya ke dunia.

“Kakak.. nanti bantuin Bunda ya, kalau mau lahiran. Bantuin.. biar kakak lahirnya lancar, sehat, kakak dan bunda selamat.” Kataku sambil mengelus-ngelus perutku.

Akhirnya hari itu pun tiba 08-09-10, tanggal yang cantik seperti obrolan suamiku tempo hari.

“Kayaknya bagus tuh kalau lahirnya 080910, tanggal cantik.” Katanya sambil

mengerlingkan mata dan alisnya.

*

Dari siang hari sepertinya ia memang lincah bergerak-gerak. Bergerak sebentar-sebentar tapi memang agak sering. Ternyata itulah yang dinamakan kontraksi. Kontraksi menjelang kelahiran si jabang bayi ke dunia.

Aku memiliki keyakinan jika saatnya memang sudah tiba maka ia akan lahir. Aku hanya berdoa agar ia lahir pada waktu yang tepat dan di tempat yang tepat. Agar semuanya dapat dipersiapkan dengan baik. Setelah malam itu, hampir setiap malam, menjelang tidur aku selalu mengajak ngobrol kakak.

“Sayang… sabar yah.. tunggu Bunda selesaikan dulu semuanya. Jadi, Bunda bisa

tenanng menunggu hari kelahiranmu.”

“Nanti pas lahir bantuin Bunda yah.. biar kita berdua bisa selamat. Kamu lahir sempurna, sehat, dan bunda juga kuat, sehat biar bisa cepet pulih dan bisa ngurusin Kakak.”

Aku dan suamiku memang memanggilnya ‘kakak’. Terutama sejak tahu kalau bayi yang ada di dalam kandungakku perempuan. Kami ingin agar ia tumbuh menjadi seorang Kakak yang baik untuk adik-adiknya walaupun ia seorang perempuan yang konon sangat lemah, tudak bisa diandalkan, dll; yang intinya tidak cocok untuk menjadi anak pertama.

Akhirnya saat yang dinantikan tiba. Malam itu aku dan suamiku menonton DVD. Acara rutin yang harus ada dalam satu minggu. waktunya menonton film-film baru, atau film-film yang memang layak untuk ditonton, termasuk malam itu. Saat itu badanku rasanya tidak bersahabat. Aku kesulitan untuk mendapatkan posisi yang nyaman untuk menonton. Begini salah begitu salah. Kontraksinya semakin sering. Gerakannya seakan menyuruhku untuk segera tidur.

Akhirnya, pukul 1 dini hari film pun usai. Kami menuju kamar tidur untuk beristirahat. Seperti biasa kipas angin kunyalakan karena memang di kamar itu selalu panas terutama di malam hari. Keringatku seringkali sampai membasahi sekujur tubuhku. Membalik badan sudah sangat sulit. Sangat tidak nyaman, jika boleh aku ingin tidur dalam keadaan duduk, bukan berbaring.

Ketika pukul 2 pagi, belum lama aku tertidur terasa seperti ada cairan keluar dari vaginaku. Aku pun ke kamar mandi untuk memeriksanya, dan ternyata hanya cairan biasa, seperti keputihan. Aku pun kembali ke kamar. Pukul 3 dalam tidurku aku terbangun rasanya cairan itu semakin banyak dan tak tertahan. Seperti menstruasi hari pertama yang banyak sekali. Aku pun bangun dan kembali mengeceknya, ternyata darah sudah menetes-netes. Aku langsung membangunkan suamiku.

“Yang, kayaknya pendarahan.” Kataku lirih dengan perasaan sedikit takut. Takut terjadi apa-apa dengan kandunganku. Suamiku pun langsung bangun dan mengajaku ke bidan Ira.

“Yuk ke bidan sekarang! Periksa dulu, kalau ternyata ia, nanti B balik lagi bawa tasnya.”

“Iya.” Jawabku singkat karena tak sabar ingin tahu apa yang terjadi.

Kami pun segera berangkat dengan menggunakan motor. Aku masih menggunakan daster dan aku tambahkan legging panjang dan switer agat tidak kedinginan.

Akhirnya sampailah di rumah bersalin bidan Ira. Tak lama setelah memencet bel pintu pun dibukakan oleh bidan Nia yang tiada lain adalah asisten bidan Ira. Aku langsung masuk ke ruang periksa dan diperiksa. Ruangannya memang tidak begitu luas, tapi cukup nyaman karena tertata dan bersih. Rasanya sedikit mules ketika bidan Ira memasukan jarinya ke dalam rahimku.

“Udah bukaan satu. Minum teh manis dulu ya, jalan-jalan, nanti 1 jam lagi kita

periksa lagi.” Kata bidan Nia sambil tersenyum dan memberikanku segelas teh manis hangat.

Rasa mules mulai terasa setelah itu, tapi aku tak menghiraukannya. Aku tahan sambil terus menerus menarik dan mengeluarkan nafas sambil berdzikir. Percaya atau tidak, ini jitu untuk mengusir rasa mules menjelang kelahiran si kecil. Belum 1 jam bidan Nia memanggilku untuk diperiksa lagi.

“Yuk diliat lagi!” Ajaknya ke ruang bersalin.

“Kan belum satu jam” jawabku.

“Gak apa-apa.” jawabnya sambil tersenyum. Akhirnya jari bidan Ira masuk lagi ke rahimku.

“Bukaan 4, bukaan 7, bukaan 8…” katanya sambil terus memainkan tangannya di rahimku.

“Coba miring ke kanan!” Rasa sakit karena mules itu semakin terasa. Lebih sakit dari sebelumnya.

“Yuk siap-siap.. kalau mules, kayak yang pengen pupp berarti dedenya mau keluar.

Langsung ngeden yah!” Katanya sambil menyemangatiku.

Entah kenapa semua yang kupelajari cara ngeden, tarik nafas untuk melahirkan benar-benar hilang. Rasanya sulit, semua tidak seperti yang kupelajari sebelumnya. Tak banyak waktu untuk belajar atau mengingat-ngingat kembali untuk dipraktekan. Saat itu yang ada dipikiranku hanya mengeluarkan bayi yang ada dalam perutku secepat mungkin.

Karena kesalahan teknik ‘ngeden’ maka tenagaku pun sudah habis sebelum waktunya. Hanya sedikit tenaga tersisa, mungkin hanya tinggal 40% lagi. Tapi aku tetap berusaha untuk berjuang sendiri tanpa bantuan alat, sampai akhirnya 15 menit berlalu, rasa mules itu hanya terasa sedikit sehingga tidak memancing tenagaku untuk ngeden. Akhirnya aku diinfus, diberi induksi untuk memancing rasa mules.

Aku pun berjuang kembali sekuat tenaga menahan rasa mules. Setelah diinduksi mulesnya ya ampun…. sakit… sekali. Bidan Ira dan Nita terus menahan kedua kakiku dan juga tanganku dengan kuat. Sabar menungguku hampir 1 jam proses kelahiran anak pertamaku. Suamiku di belakangku, memegangiku sambil sesekali mengusap keningku dan mengelus rambutku sambil menyemangatiku.

“Ayo, Ayang bisa, ayang kuat, pasti bisa!”

Sementara aku sudah tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya berdoa dalam hati agar Allah memudahkan, memberi kekuatan kepadaku agar anakku dapat lahir dengan selamat.

“Sayang ayo keluar, Bunda ingin segera melihatmu. Bisiku lirih pada buah hatiku yang masih beluim juga keluar, padahal rambutnya sudah terlihat.

“Ayo ngeden lagi, kasian dede nya udah mau keluar. Tuh rambutnya udah keliatan, hitam banget.” Ia semakin keras memegang kedua kakiku menjaga agar bayiku tidak terjepit.

“Hhhhheuuuuu….!!”

“EA…EA..EA…” anakku menangis setelah cairannya dikeluarkan.

“Alhamdulillah.” kataku dan suamiku hampir berbarengan. Suamiku pun mencium keningku sambil berkata.

“Ayang Hebat!” sambil tersenyum.

Anak kami lahir sehat, sempurna seperti harapan kami. Bertanya 3,6 Kg dengan panjang 51 Cm. Aku tahu ia bangga kepadaku. Dan aku tahu betapa sayangnya ia kepadaku dan juga anak kami. ***

 

Notes:
Base on true story

Please leave a comment after u read this post

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s