Tua Segalanya ‘Hotel Surabaya ’Bangunan Bandung Tempoe Doeloe yang Tak Berubah Fungsi

Baru aja kita ngelewatin Imlek. Buat kamu yang merayakan, pasti bermakna banget ya? Gong Si Pa Choi! Ngomong-ngomong tentang Imlek atau tahun baru Cina, jadi inget pecinaan, warna merah, angpaw, lampion, kelenteng dan bangunan-bangunan khas yang berasitektur Cina. Bandung juga masih punya loh bangunan yang berasitektur Cina! Salah satunya ‘Hotel Surabaya’ yang kini menjadi cagar budaya yang juga dilestarikan oleh Bandung heritage. Hotel ini menurut paguyuban pelestarian budaya Bandung di tahun 1997, didirikan pada tahun 1860, namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa hotel ini didirikan tahun 1900-1905 (Moh. Gufron ITB, tahun 1994). Bangunan ini merupakan bangunan perpaduan antara arsitektur gaya Belanda klasik dengan gaya Cina. Berdiri di atas lahan seluas 2.475m2 dengan luas bangunan 1.582 m2.

Dilihat dari luar…hotel ini memang lebih seperti seonggok bangunan tua yang tak terawat, namun siapa sangka, sampai saat ini hotel ini masih berfungsi sebagai hotel, ini uniknya! Dari awal dibangun sampai saat ini fungsinya tak berubah, walaupun jika ditanya masalah persaingan, hotel ini memang bisa dibilang bukan apa-apa dibanding hotel-hotel lain yang banyak bertengger di kota Bandung. Hotel yang menawarkan gaya modern dengan pelayanan serta fasilitas yang juga modern. Dengan fungsinya yang tak berubah, Ia bertahan tegak dengan gagahnya sebagai bangunan bersejarah di kota kembang ini. Tak peduli zaman dan perkembangan meninggalkannya, ia tetap berjalan perlahan dengan sederhana dan seadannya.
Mari kita dekati, sedikit demi sedikit masuk melewati pintu gerbang sebelah kiri yang selalu terbuka. Kita disambut dengan sebuah kios rokok yang juga sudah lama mangkal di situ. Cukup unik, tidak seperti hotel-hotel pada umumnya yang disambut dengan sebuah pos satpam atau security. Naik ke anak-anak tangga yang semuanya berketinggian tak lebih setengah meter, kita temukan resepsionist yang lebih senang menamai mereka sebagai bagian administrasi. Deny dan rekannya yang siang ini, dan hari-hari lain bertugas mencatat orang-orang yang check in dan check out di hotel ini. Mereka duduk di kursi dengan meja yang memang sudah tua, tapi masih terlihat kokoh berwarna cokelat pelitur. Disampingnya ada lukisan keluarga Paramita yang memiliki bangunan ini. Juga denah dan beberapa catatan sejarah mengenai hotel ini dengan bahasa Belanda.

Ia ramah, sampai tahu kalau kuli tinta yang berkunjung, apalagi ketika saya katakan ingin mewawancarainya bekaitan dengan hotel ini sebagai salah satu cagar budaya. Dia angkat tangan, bahkan tidak mengijinkan mengambil foto interior hotel ini, tapi ndak usah kuatir, karena kepala ini cukup menyimpan memori tentangnya. Semoga saya dapat menggambarkan bangunan bersejarah ini dengan sebaik-baiknya, karena untungnya….beliau masih mengijinkan saya untuk menelusuri lekuk-lekuk dari hotel yang konon juga dibuat oleh orang-orang Cina yang memang sengaja didatangkan untuk membangun hotel ini.

Di depan para resepsionist ini ada satu ruangan yang biasanya disebut lobi hotel. Ruang duduk para tamu yang sudah ataupun yang akan masuk hotel ini. Luasnya tidak seberapa, namun cukup nyaman kalaupun kita ingin berlama-lama duduk di sini. Sambil melihat kedua resepsionist tadi tentu saja, karena letaknya memang bersebrangan, otomatis mata kita akan tepat memandang mereka. Kecuali jika kita duduk di sebelah kiri atau di kanannya. Di sini ada lemari dan beberapa lukisan menempel di dinding putih yang mulai pudar mendekati warna krem. Begitupun warna lukisannya yang agak kekuning-kuningan termakan usia. Ya….menjadikannya semakin tua….

Setelah berlama-lama di lobi, mari kita telusuri ruang-ruang lain diantara kamar-kamar hotel yang ada, yang berjumlah 50 kamar, karena memang ada beberapa yang dirubah menjadi ruangan agar interiornya tidak terkesan sempit dan gelap. Kebanyakan menjadi ruang terbuka dengan kursi dan meja untuk nongkrong para tamu. Karena memang sengaja dibuat seperti itu. Hampir setiap blok kamar memiliki minimal sepasang kursi dan meja yang dilengkapi vas bunga, asbak, dan tempat sampah di setiap sudutnya, karena memang aturan yang diberlakukan di hotel ini cukup tegas, begitupun dengan larangan untuk menginap bagi pasangan yang bukan suami istri. Jadi buat yang kalian yang belum menikah, jangan coba-coba menginap satu kamar di hotel ini! Pasti ditolak mentah-mentah deh…

Sebagai bangunan bersejarah, mereka tetap berusaha mempertahankan bentuk-bentuk dasar dari bangunan ini, yang memang perpaduan antara gaya Belanda dan Cina. Gaya Belanda dapat terlihat dari langit-langit dan pintu yang menjulang tinggi. Di setiap kamar kebanyakan tidak berjendela kaca biasa, sehingga jendela hanya difungsikan sebagai aksesoris bangunan saja. Dengan warna kaca-kaca kecil yang beraneka di pintunya. Sampai saat ini yang dilakukan hanya pemeliharaan saja. Dengan karyawan yang kurang lebih 18 orang, hotel ini masih layak untuk dijadikan tempat kita menginap, walaupun memang apa yang mereka berikan memang tidak semegah pelayanan dan fasilitas di hotel lain, karena mereka juga memang tidak meminta banyak dari kocek kita. Dengan Rp 35.000,- saja kita masih bisa menginap di hotel ini. Tapi sendiri, di kamar standar yang hanya 1 kasur kecil di dipan yang juga furniture gaya jaman dulu yang memang masih tampak kokoh di setiap kamar yang dilengkapi dengan lemari meja dan kursi yang lagi-lagi klasik. Untuk yang ingin menikmati kasur dan kamar yang lebih besar, dengan ranjang kayu yang klasik, yang masih dilengkapi dengan kelambu, Jadul banget deh pokoknya….bisa pesen kamar yang lebih besar.
Tidak hanya lukisan, kursi dan meja klasik yang dapat kita temukan di sini, tapi juga peti, lemari, dan benda-benda furniture lain yang terbuat dari kayu, rotan, atau dipadukan dengan elemen-elemen logam di koridor-koridor kamar hotel ini. Mereka ada, tapi sudah tidak difungsikan lagi sebagaimana mestinya, seperti lemari kosong, peti, ataupun rak buku yang dibiarkan kosong tanpa buku pernak pernik dan aksesoris apapun. Mereka hanya dijadikan benda tua dan mati yang menambahkan kesan bangunan tua saja, memang seperti itulah adanya.

Seperti rak buku yang ada di lorong, rak yang cukup unik, karena ditengahnya ada satu kursi dari rotan yang menempel pada rak buku ini. Di lorong ini cukup gelap, pengap, lembab, maklum, mungkin karena membentuk sudut dengan luas yang hanya sekitar 1×3 meter menyerupai leter L menuju ruang berikutnya yang lebih lega. padahal siang hari waktu itu. Tapi tidak usah khawatir kalau malam pasti terang, walaupun suasananya akan sedikit lebih sepi. Ada 2 lampu yang tergantung di situ, satu bulat, satu lagi kotak. Memang hampir di seluruh ruangan terdapat lampu-lampu neon yang bersembunyi di kaca-kaca lampu antik, lebih seperti lampion, bahkan ada yang memang mirip lampion, neon dalam kotak yang garis tepinya merah dengan ukiran besi khas Cina dibeberapa ruangan, seperti yang tergantung anggun di dekat rak buku di lorong tadi.

Di bagian belakang, ada sebuah koridor yang berukuran cukup besar, luasnya sekitar 100 meter persegi yang lebih mirip ruang terbuka atau biasanya orang sebut teras. Namun di sini kita dapat menemukan beberapa set kusi dengan model dan warna yang berbeda satu sama lain. Begitupun dengan mejanya, ada yang dari kayu dan ada pula yang dari marmer yang dilengkapi dengan vas bunga di atasnya. Tepat di pinggirnya, bersandar pada dinding bupet berkaca. Di atasnya ada sebuah frame foto suami istri yang empunya hotel. Koridor ini menghadap halaman belakang yang letaknya tepat didepannya, bagian samping hotel. Tamannya memang biasa saja, tapi cukuplah untuk menyegarakan mata yang baru terjaga dari mimpi, atau untuk menghirup udara segar sambil minum kopi di pagi hari yang memang salah satu fasilitas yang diberikan hotel ini pada para tamunya. Karena untuk makan para tamu biasanya mencari sendiri di luar. Hotel tidak menyediakan fasilitas ini.

Tak jauh dari koridor ini selain di belakang ruang TV kita dapat temukan tangga yang menuju lantai atas. Di atas sini juga terdapat beberapa kamar, yang kini memang jarang terisi, karena tamu-tamu bisanya lebih banyak di bawah, selain karena tamunya yang memang tidak terlalu banyak. “Bisa di hitung jari lah….kebanyakan sales yang kesini, kalau nggak dari Surabaya, dari Yogya, atau Jakara.” Tutur Ishar (50 tahun) yang sudah 7 tahun menjadi Room boy hotel ini.

Di atas suasananya lebih klasik lagi. Selain lantai yang terbuat dari kayu, dindingnyapun berlapis triplek bercat putih. Kamar yang di bagian depan apalagi. Kamarnya lebih tinggi, langit-langitnyapun lebih tinggi dibandingkan dengan ruang bawah, sehingga tekesan lega. Di sini tidak segelap di ruang bawah, karena ruang terbukanya memang lebih banyak. Bahkan ada yang menghadap ke jalan. Jauh lebih sepi, lebih tenang dibandingkan dengan di bawah. Kesendiriannya benar-benar terasa di sudut-sudut ruang ini, apalagi di kamar. Dapat kita jadikan tempat bersepi diri.

Walaupun hotel ini letaknya di pinggir jalan, tapi dalamnya kita akan mendapatkan ketenangan. Adem rasanya berada di dalam. Selain karena udara yang memang adem, suasana dan interiornya yang klasik juga sangat mendukung. Menjadikan bangunan ini tua segalanya. Sampai kapan akan seperti ini? Kita lihat saja nanti!!!*** (Artikel ini pernah dimuat di majalah Bandung&Beyond)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s