Oleh-Oleh dari Yogya

Panggilan dari sebuah radio swasta di Yogyakarta untuk Test pada hari Kamis, 25 Juni 2006 membawaku datang ke kota itu. Berbekal semangat dan mimpi untuk menjadi seorang penyiar radio, aku pergi dengan Kereta Api (KA) Lodaya pukul 07:30 pagi. Jam menunjukkan hampir pukul 3 sore ketika akhirnya KA sampai ke stasiun Tugu Yogyakarta. Keesokan harinya testpun dimulai dan usai dalam waktu kurang lebih 3 jam. Berhubung kali ini juga Long Weekend, maka tak kulewatkan untuk menginap di sini. Menikmati Yogyakarta beberapa hari.

Sabtu, 27 Mei 2006, Pukul 5 pagi, seperti beberapa hari yang lalu. Aku bangun dan mengambil air wudhu untuk shalat Subuh. Tapi acara seharian kemarin membuatku kelelahan dan mata ini rasanya masih terlalu rapat dan enggan untuk membuka. Tapi kewajiban tidak mungkin aku tinggalkan. Maka akupun berusaha terjaga untuk melakukan shalat subuh yang hanya rakaat itu yang terasa berat di pagi itu. Akhirnya, kutarik untuk menatap jendela kamar tempatku tidur. Karena tepat di depannya aku bisa melihat puncak gunung Merapi yang saat itu masih berstatus siaga.

Tempatku menginap itu berada di daerah Kaliurang atas. Sehingga udaranyapun tah jauh beda dengan Bandung, wajar saja jika pagi itu juga udara masih teramat dingin dan membuatku enggan untuk membuka mukena yang membalut tubuhku. Tempat tidur yang belum kubereskan menggodaku untuk kembali menidurinya. Sampai akhirnya kepalaku lunglai diatas bantal dengan posisi miring.

Perlahan kedua mata ini tertutup. Nikmat rasanya…..sampai akhirnya suara bergemuruh kudengar, goncangan keras membuatku terbangun, memaksa mata yang lelah ini untuk mencari tahu ada apa gerangan. Pukul 6 kurang 15 menit di jam dinding yang kulihat saat itu. Batu-batu kecil dan debu pasir dari langit-langit menghujaniku. Aku panik, goncangan itu membuat tubuh ini gemetar. Teriak panik seisi penghuni rumah ini, yang kebetulan saat itu 10 orang membuatku semakin panik, dan tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya dengan rok mukena aku turun dari loteng, mengikuti mereka keluar rumah.

Motor, mobil yang menginap di garasi malam itu, langsung dipaksa keluar. Semua penghuni kompleks panik bukan main, terutama ibu-ibu yang memeluk erat anak-anak mereka yang masih kecil. Sementara anak kecil itu, hanya terbengong tidak mengerti apa yang terjadi. Sementara anak-anak muda tidak tampak panik seperti mereka atau mungkin juga karena mereka pandai menutupi kepanikan mereka saat itu. Alhasil mereka tampak tenang menghadapi gempa yang menurut BMG berkekuatan 5,9 skala Rikhter ini. Semua orang keluar dari rumah. Kepala ini masih berdenyut, berusaha menyadari apa yang baru saja terjadi. Kaki ini masih bergetar, walaupun kucoba terus, berjalan hilir mudik menghilangkannya, padahal goncangan itu sudah tidak terasa lagi.

Tepat di depan rumah, ada warung yang juga menjual bensin. Semua orang antri mengisi motor mereka dengan bensin, sehingga dalam waktu singkat antrian itu meghabiskan persediaan bensin yang ada. Kurang lebih satu jam berlalu, dengan beberapa kali gempa susulan yang memang kalah kuat dengan gempa pertama. Suasana di kompleks itu sudah agak tenang. Penghuni rumah sudah berani masuk rumah lagi, akhirnya kuputuskan untuk ikut masuk dan membantu membersihkan batu-batuan kecil dan debu dari atap, karena cukup banyak genting yang pecah karena gempa di rumah itu. Ada beberapa sisi tembok yang terlihat retak, sehingga cukup tebal debu-debu pasir yang harus disapu dari lantai.

Setelah selesai bersih bersih rumah, aku juga membersihkan diri, dengan perasaan yang masih cemas, ingin cepat-cepat kuselesaikan acara mandi pagi itu. Kubasuh tubuh ini dari ujung rambut sampai kaki. Kaget dengan debu-debu yang ada di kepalaku, setelah tiga kali keramas baru aku merasa kepala ini benar-benar bersih dari debu dan pasir yang menghujaniku ketika gempa tadi.

Setelah selesai mandi, berpakaian. Aku siapkan semua barang bawaanku. Tak lama kemudian bumi bergoncang lagi. Kecil, tapi cukup mengagetkan, karena memang di televisi sempat menyala diberitakan akan ada gempa susulan. Kamipun kembali ke luar rumah. Namun kali ini, aku keluar dengan membawa tas dan bersiap untuk pergi, karena rencananya pagi itu aku memang akan menemani seorang kawan untuk mengambil foto Merapi di Gardu Pandang. Naik beberapa Km ke atas dari tempatku menginap waktu itu kaliurang KM 14.

Kali ini, Orang-orang lebih panik, suasana kompleks yang sedikit sekali lalu lalang kendaraan jadi ramai. Ada mobil dan beberapa bis serta puluhan motor lewat depan rumah. Mereka memijit kelakson mereka, menyalakan lampu mereka, sambil berteriak-teriak “Naik…naik….air laut naik….” Sontak seisi rumah langsung masuk ke mobil, siap siaga dengan panik dan muka bingun akan apa yang mereka katakan. Tapi yang jelas teriakan dan suasana sepanjang jalan itu membuat kami panik bukan main. Begitupun dengan penghuni kompleks yang lain. Padahal logikanya, air laut tidak akan mungkin setinggi itu, karena Kaliurang termasuk daerah yang cukup tinggi dari laut. Itu pula yang membuat kami berusaha untuk tenang. Setidaknya menenangkan diri kami sendiri dan orang-orang yang dekat dengan kami. Walaupun orang-orang tetap panik. Terutama mereka yang memang sudah membawa tas-tas besar untuk mengungsi dengan kendaraan mereka.

Akhirnya temanku datang, setelah disuguhi kepanikan yang ada, dan sudah mulai menenangkan kami, karena ia memang dari bawah, kamipun memutuskan untuk berubah arah. Ke bawah menuju kampusnya di daerah Taman Siswa. Sebelum itu aku berniat menitipkan tasku ditempat tinggalnya di dekat Mandala Krida. Disepanjang perjalanan wajah-wajah panik masih menyelimuti orang-orang. Sesekali kami melihat orang-orang yang terluka bersama istri, suami atau anak mereka. Dan ternyata salah satu bangunan di mandala Krida ambruk, dan menurut keterangan saksi, banyak korban yang luka-luka karena ambruknya bangunan itu.

Akhirnya kami sampai di tempat tinggalnya, di salah satu rumah dinas kejaksaan di daerah Baciro. Di sana sempat beberapa kali kami keluar masuk, karena beberapa kali pula gempa susulan mengguncang kami. Di sekitar kompleks ini juga ada beberapa bengunan yang ambruk, karena memang sudah tua atau memang yang strukturnya kurang bagus. Tapi kebanyakan masih kokoh berdiri, hanya genting-genting saja yang pecah dan tembok yang sedikit retak.

Setelah Shalat Dzuhur kami menuju kampusnya di Jl. Taman Siswa. Beberapa genting pecah, tembok pun retak bahkan sampai berkeping jatuh ke halaman. Lebih kaget lagi, ketika kami melihat, tepat di depan kampusnya satu gang, bangunannya banyak sekali yang rubuh, bahkan menurut keterangan yang kami dapatkan ada 3 orang korban jiwa. Satu orang anak kecil berumur 2 tahunan yang meninggal seketika karena tertimpa tembok rumahnya saat ia bermain sepeda bersama kakaknya. Selain itu bangunan sekolah, tempat ibadah juga banyak yang roboh di sekitar Yogya kota.

Mereka berkumpul disepanjang gang, sedang menikmati makan siang seadanya. Apa yang memang mereka punya. Yang rumahnya masih kokoh, menggelar tikar dan duduk teras rumah mereka. Tidak ada yang berani tinggal di dalam rumah, karena mereka masih ketakutan kalau-kalau akan terjadi lagi gempa. Begitupun dengan yang lain. Banyak warga yang sengaja berkumpul di depan rumah, di sepanjang gang, atau bahkan di lapangan-lapangan, berikut barang-barang yang berharga bagi mereka.

Dipingggiiran jalan mereka berdiri melihat keadaan sekitar. Sepanjang jalan Kaliurang macet. Pom bensin yang ada dipoenuhi antrian motor dan mobil yang mengantri mengisi bahan bakar kendaraan mereka. Begitupun dengan kios-kios penjual bensin. Bahkan ketika hari sudah siang, sekitar pukul 1 siang bensin di kios-kios dijual sampai dengan harga Rp10.000 satu liter. Bahkan menurut berita terakhir yang didapatkan dari obrolan dengan Walubi di Yogya, ternyata penjarah-penjarah yang hadir memang bukan dari korban sendiri melainkan orang luar. Dengan taktik yang memang sudah direncanakan dengan matang. Dengan bermodal beberapa kardus mie mereka dapat mendapatkan lebih dari itu. Mmmmh…Kenapa masih ada saja orang-orang yang memanfaatkan kesulitan orang lain? Indonesia…. Indonesia….Dimana rasa kemanusiaan itu?***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s