Jaiponganku Sayang Jaiponganku Malang….

Blak ting pong….Blak ting pong…Blaktuk..blaktuk..

Menggema di ruang ini. Bulu kuduk merinding seakan mendengar sesuatu yang sudah lama tak terdengar. Suara-suara ini mengingatkan penulis pada puluhan tahun yang lalu, sewaktu penulis kecil dan sempat diajari tetangga menari jaipongan bersama beberapa orang teman. Sekitar tahun 1988 waktu itu, penulis masih duduk di kelas 1 SD. Sekian tahun yang silam melodi-melodi itu hampir tak terdengar lagi, rupanya waktu dan orang-orang semakin berlari menjauh meninggalkannya. Sampai akhirnya jaipongan hanya menjadi sebuah kenangan kejayaan masa silam. Mataku tertegun…waktu sekan membeku, dan memori-memori lama seolah dibangkitkan kembali ketika kulihat 1 remaja dan dua orang anak kecil yang sedang menari jaipongan. Di depan mereka duduk bersila seorang guru perempuan dekat sebuah tape yang dengan seriusnya memperhatikan gerakan ketiga muridnya. Ya….inilah padepokan seni Jugala.

Dari luar kita tidak akan pernah menyangka kalau disini ada pojok-pojok yang berbau seni. Labelnyapun tidak nampak dari depan, padahal letaknya pinggir jalan. Masuk sedikit ke dalam, sepi….sebuah rumah biasa di Jl. Kopo No 17, Tapi ternyata di dalamnya banyak nafas kegiatan mulai dari EO, travel, sanggar tari, sampai istana seorang seniman legendaris pencipta Jipongan yang mendirikan padepokan Jugala di era 80-an. Ada sebuah gang kecil yang mengelitik mengajak kita mengikuti alur lorongnya, menaiki satu per satu anak tangga sampai suara-suara gamelan terdengar menggema di ruangan itu, lantai 2 bangunan itu. Ya…ruangan inilah, ruang berukuran lumayan besar, dengan lantai kayu plitur sebagai alasnya, berlangit-angit tinggi dengan deretan cermin di satu sisinya yang menjadi tempat Yayah dan murid-muridnya berlatih Jaipongan.

Didirikan sekitar tahun 80-an ketika Jaipongan lahir menambah keragaman seni tari tradisional Indonesia, khususnya di dataran Parahyangan. Gugum gumbira lah pendirinya yang juga pencipta tari pergaulan ini. Tarian yang kini sudah menjadi tarian identitas Jawa Barat. Mungkin ini pula yang akhirnya membuat Jaipongan ini ditinggalkan begitu saja karena hanya menjadi sebuah identitas. Orang Sunda cukup mengenal tarian ini….sudah itu selesai. Kini hanya pada acara kebudayaan saja Jaipongan ini dipertunjukkan. Tidak seperti dulu, dimana ada keramaian, disitu Jaipong dipertontonkan. Bagaikan tarian wajib yang harus ada di setiap acara. Mulai dari acara hajatan sampai pada acara-acara besar yang bersifat nasional sampai bertaraf internasional.
Semua orang ingin bisa menari jaipongan, semua orang berlomba-lomba mencari guru jaipongan yang paling hebat. Sanggar-sanggar tari jaipongan pun bermunculan bak jamur di musim penghujan. Sampai para selebrtitis kita, yang berasal dari dataran pasundan pada masa itu beradu cepat menguasai gerakan-gerakan dalam tari jaipongan. Sebut saja Tati Saleh (Alm), Camelia Malik, dan banyak lagi yang lainnya. Hampir di setiap pelosok ada penari jaipong yang ingin menularkan keahliannya dalam mengolah rasa dan raganya dalam gerakan-gerakan yang lincah, riang dan dinamis yang menjadi ciri khas dari tari Jaipongan karya Gugum Gumbira ini.

Jaipongan ini memang unik, selain menyenangkan untuk ditarikan, ditonton, geraka-gerakanya yang lebih ke gerakan pencak silat menurut penciptanya ini, dapat membuat penarinya banyak menggerakan otot-otot, dari kepala sampai ujung kaki, sehingga mengelurakan keringat lebih banyak dibandingkan tarian klasik yang cenderung lemah gemulai, sehingga disadari atau tidak, dengan berlatih jaipongan secara rutin, membuat penarinya memiliki badan yang bagus, terutama untuk wanita. Dengan menari Jipongan, selain melestarikan budaya Sunda yang hampir punah ini, anda juga akan mendapatkan badan yang bagus.

Tapi tidak semudah itu, untuk menjadi seorang penari, anda harus menguasai gerakan-gerakan jaipongan yang beragam, jangan pernah bermimpi anda akan langsung diajari menari dengan musik jika anda belajar di Jugala. Sebelumnya anda akan diajari gerakan-gerakan dasar yang nantinya akan diaplikasikan pada gerakan dalam tarian Level-1 pada Lagu “Oray Welang” dan jika sudah menguasai gerakan ini, akan mudah untuk naik ke level selanjutnya dengan gerakan yang lebih rumit dan beragam. Tidak hanya gerakan saja yang harus dikuasai seorang penari jaipongan, ia juga harus kuat fisik dan mental. Karena untuk menjadi seorang penari profesional anda harus tak kenal lelah dari melatih gerakan-gerakan, apalagi bosan. Berikutnya baru belajar menjiwai gerakan-gerakan itu, dengan begitu, sebuah tarian jaipongan menjadi utuh, ada roh jaipongan pada penarinya. Walhasil terian yang anda tarikan menjadi indah dan mempunyai daya tarik tersendiri bagi penionton. Dijamin penonton tidak akan berkedip melihat anda menari.

“Dulu tuh dalam satu hari kita bisa sampai 6 kali manggung, dalam satu minggu ga ada yang kosong.” Kenang Yayah Rokayah, pentolan dari penari Jugala yang kini menjadi instruktur tari di padepokan almamaternya ini, menceritakan pengalaman wanita yang berkelahiran 8 Maret 1968 ini sewaktu ia masih aktif menjadi penari pada era 80-an ketika Jaipongan benar-benar eksis di Indonesia. Khususnya Jawa Barat. Dalam satu kali pertunjukan, biasanya ia membawakan 1-2 tarian jaipongan. Jadi bisa dibayangkan betapa menjanjikannya profesi sebagai penari jaipongan pada masa itu. Padahal baginya, menari sudah menjadi keinginan hatinya dari waktu ia kecil. Dari tari klasik yang dikuasainya sebagai buah dari rengekan wanita kelahiran 8 Maret 38 tahun yang lalu ini kepada ibunya dulu, akhirnya ia memutuskan untuk pindah jalur dan mulai belajar tari jaipongan di padepokan Jugala tahun 1985.

“Baru belajar nari 2 bulan, Bapak(Gugum Gumbira) ngeliat, dan saya langsung ditarik untuk menjadi penari inti di jugala” sebelum ,menjadi penari inti, ia digojlok oleh si pencipta jaipongan, guru besar padepokan Jugala, hingga akhirnya eksis sebagai penari Jugala pada masa itu. Karena ia menari dengan hati,maka ia tidak pernah bosan untuk bergelut di dunia ini. Sampai kini ia mengabdikan diri untuk menjadi guru tari Jaipongan, tidak hanya di Jugala, tapi juga dibeberapa sanggar tari dan sekolah tari.

Di jugala ini, ada 5 level. Setiap level rata-rata memakan waktu 4 bulan. Seteleh diuji dan dinyatakan layak naik tingkat, maka siswa berhak naik level dengan tarian baru yang tentu saja memiliki tentangan yang lebih tinggi, karena tingkat kesulitan gerakan maupun ragam dari gerakan itu. Jika level 1-5 sudah dilalui, selanjutnya akan diuji lagi, jika memang sudah layak untuk menjadi seorang penari maka anda akan dilatih lebih intens lagi oleh Mira Tejaningrum, anak sulung dari Gugum Gumbira sang guru besar, kemudian oleh Gugum sendiri dan setelah melalui penggojlokan itu anda siap bergabung dengan grup Jugala untuk mempertunjukkan tari Jaipongan.

Sampai saat ini, hampir semua benua sudah dijejaki oleh Grup Jugala untuk menampilkan seni tari Jaipongan ini, yang ternyata kini lebih dihargai dan dicintai di negeri orang dibandingkan di negeri kelahirannya sendiri. Ya….begitulah kenyataanya, Jaiponganku sayang Jaiponganku malang….. ***

Iklan

5 Comments

  1. Teh.mira, maaf baru bales comment nya, terlupakan karena banyak hal lain yg harus diurus, he he he..
    Amin….

    Semoga… Selama masih ada Teh.Mira dan rekan2 lainnya yg masih giat di Jugala, insyaallah kesenian sunda tidak akan pernah punah.

    Irma selalu dukung…
    Iya kapan-kapan ya… Pengen juga sebenernya latihan nari lagi, cuma sulit waktunya itu loh. Hiks…

    T.Mira kapan-kapan kalo ada acara pentas ir mau dong nonton.
    ditunggu undangannya. Nuhun.

    Waalaikum salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s