Ekonomi Versus Bisnis Versi Kereta Api Indonesia

Karena sebuah telepon seluler, terpaksa aku harus pergi ke Jakarta. Atau mungkin sebab terlalu baiknya aku, sehingga aku mau menemani temanku Ukur ke Ibu Kota dengan menggunakan Kereta Api (KA) kelas ekonomi. Padahal sebenarnya aku bisa menggunakan KA kelas bisnis, tentu saja tanpa bayaran karena Ayahku bekerja di PT.KAI. Walaupun jabatannya masih golongan 2, tapi dengan pekererjaannya itu aku mendapatkan kemudahan dalam urusan tumpangan dengan KA, walau kadang harus berharap ada kursi kosong, karena petugas di stasiun tidak memberi aku tempat duduk, dengan alasan singkat “tidak ada yang kosong.” Itulah yang beberapa kali dikatakan petugas SAP di stasiun Gambir kepadaku.

Kemanapun aku pergi, terutama bulan-bulan terakhir menjelang usainya masa studiku di Universitas, yang lebih dikenal dengan kampus biru, entah karena warna biru yang mengecat besi-besi di kampusku atau karena hal lain, sehingga orang menyebutnya kampus biru. Tugas akhirkulah yang sering membawaku bolak-balik Bandung-Jakarta untuk melakukan observasi maupun wawancara. Bahkan pernah aku pergi ke Yogyakarta dan Magelang untuk keperluan tugas akhirku yang kini sudah rampung itu dan membuatku memiliki gelar S.Sos.

Begitupun temanku ini, Sebut saja Ukur namanya. Selama aku masuk dunia jurnalistik, entah itu di kelas saat perkuliahan atau ‘di luar’ dengan aktifitasku di media kampus, baik yang idealis maupun yang komersil. Mau tidak mau, kami selalu berhubungan satu sama lain, padahal aku cukup muak dengan keadaan ini, karena kadang aku sadar kalau dia tidak sebaik yang kuduga. Tapi sudahlah, kita ambil hikmahnya saja, Ukur banyak membuatku belajar banyak tentang dunia jurnalistik yang hampir 2 tahun aku geluti, bahkan sampai detik ini. Mungkin ini yang disebut jalan hidup.

Akhirnya aku sanggupi untuk menemani Ukur ke Jakarta untuk Tugas Akhirnya, yang saat itu belum juga selesai, karena dia sedikit lebih santai dari aku. Tujuannya menemui Arie Basuki, seorang fotografer sebuah majalah yang cukup populer di Indonesia.

Sekitar pukul 21:30, setelah berpamitan kami pergi ke stasiun Kiaracondong, yang memang stasiun khusus pelayan para pengguna jasa KA kelas ekonomi. Ketika kami sampai, KA Serayu yang akan kami naiki memang masih belum sampai, karena jadwalnya memang masih beberapa jam lagi. Kami pun menunggu, karena loket penjualan tiketpun memang masih belum dibuka.

Sambil menunggu, kami berdebat mengenai masalah kecil yang menjadi besar karena tidak ada satupun dari kami yang mau mengalah, sampai akhirnya ketika loket mulai dibuka, sekitar lima belas menit sebelum keberangkatan, dengan terpaksa mungkin Ukur mengalah, karena dia harus pergi denganku yang dia anggap tahu banyak tentang Jakarta. Padahal sebenarnya biasa saja. Ukur pun mengantri bersama calon penumpang lainnya di loket, sedangkan aku menunggunya di depan loket. Sambil memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di depanku dengan bawaan mereka yang banyak.

Setengah duabelasan malam, KA yang kami tunggu akhirnya tiba. Para calon penumpang pun berhamburan memburu lokomotif warna Orange dan biru tua itu, yang rupanya menjadi ciri khas KA ekonomi. Kami masuk dari gerbong paling belakang, berharap menemukan kursi yang masih kosong untuk kami berdua. Berjalan perlahan diantara kursi-kursi yang berderet di sepanjang gerbong. Berpasang-pasang mata melihat kami dengan curiga, tapi ada juga yang acuh tak acuh bahkan, tak bergeming dengan mimpi mereka masing-masing.

Aku merasa asing, mungkin karena ini pertama kalinya aku menggunakan KA ekonomi selain KRD Padalarang-Cicalengka bersama temanku, itu pun karena kami ketinggalan KA KRD Patas, saat aku diminta menemaninya di rumah karena orang tuanya sedang di Bandung. Aku pun tak ingin kalah balik memperhatikan mereka, dengan dalih mencari tempat duduk yang kosong. Wajah-wajah itu berbeda dengan wajah-wajah yang sering kulihat di KA Parahyangan yang sering kunaiki ke Jakarta.

Aku perhatikan dengan seksama raut-raut muka itu. Aku rasakan perasaan-perasaan yang terlihat dari garis wajah mereka. Banyak pikiran di kepala mereka, beribu resah dan gelisah di setiap gerbong. Batinku tersentak, karena aku sadar betapa jelas sekat antara si miskin dan si kaya, dan hal kecil yang dapat dijadikan indikasi pengekelasan itu adalah pengkelasan jasa transportasi ini, Kereta Api. Begitupun mungkin dengan pesawat terbang ataupun bis, yang belum ku tahu pasti seperti apa.

“ Pak, kursinya masih kosong” tanyaku kepada seorang Bapak yang akhirnya duduk di sebelah Ukur. “Iya”, ketika aku melihat 2 kursi kosong bersebrangan di tengah gerbong itu, sedang Aku duduk bersama seorang laki-laki yang sebaya denganku sampai kami tiba di Jakarta. Beberapa menit setelah itu keretapun mulai melaju. Rasa dingin membuat ku ingin mengeluarkan urine dari tubuhku. Akhirnya, aku bergidik ke belakang gerbong, karena di sana ada toilet. Aku masuk ke ruang kecil itu, bau pesing membuatku ingin segera keluar. Niat itu semakin besar ketika aku melihat keran kering yang tak berair setetespun. Aku langsung berbalik dan kembali ke tempat dudukku, sambil berusaha menahan inginku itu.

Selang 30 menit-an, rupanya aku tidak sanggup lagi untuk menahannya. Ku ambil sebotol air mineral untuk minum yang akhirnya kugunakan untuk buang air kecil di toilet itu. Di dalam toilet, mataku masih berkeliling mengamati sekitarku. Aku tersentak ketika kulihat sebuah dompet yang tak berisi tergeletak di sudut toilet. Muncul pikiran burukku bahwa KA ini tidak aman, mungkin aku bisa menjadi sasaran berikutnya, dan ini membuatku lebih hati-hati menyimpan uang dan barang berhargaku lainnya. Temuanku itu kukatakan pada Ukur, tapi dia hanya tersenyum miris tanpa komentar.

Lega rasanya, akhirnya inginku terpenuhi. Setelah lelah berbincang, akupun tak kuasa menahan rasa kantukku, sehingga akhirnya akupun tertidur. Sesekali ku terbangun dan tidur lagi, jadi beberapa kali perhentian memang tidak aku perdulikan karana rasa kantukku yang teramat sangat, setelah siang harinya lelah beraktivitas. Begitu pun penumpang lain, kebanyakan mereka juga tertidur, walaupun ada saja yang masih asyik berbincang-bincang untuk mengisi perjalanan panjang di KA Serayu itu yang akan mengantarkan kami ke Stasiun Senen Jakarta.

Aku tidak tahu pasti berapa kali KA yang kami tumpangi berhenti. Rasa kantukku mengalahkan segalanya. Perjalanan itu tidak begitu terasa, seperti perjalanan pulang kami. Hanya rasa pegal kaki, pinggang, dan punggungku yang membuat aku berdiri beberapa kali untuk menguranginya. Akhirnya sekitar pukul lima pagi, KA yang kami tumpangi sampai di stasiun Senen. Saat itu masih gelap, maka kami putuskan untuk diam sejenak di stasiun menanti pagi sambil menikmati teh manis hangat yang dijajakan seorang wanita Jawa setengah baya setelah kami shalat Subuh di mushola stasiun itu.

Setelah matahari mulai terbit, sekitar pukul 6 pagi, kami mulai beranjak ke tempat tujuan kami, di mana Arie Basuki bisa ditemui, di sebuah bangunan di kawasan Velbag Jakarta. Singkat cerita, karena Ukur yang sok tahu, akhirnya aku mengalami menginap di stasiun, karena ternyata tidak ada KA yang ke Bandung malam itu, kami telat setengah jam dari jadwal pemberangkatan KA terakhir yang menuju Bandung. Bahkan di Stasiun Gambir pun baru ada keesokan harinya. Jadi tidak ada hal lain yang bisa kami lakukan selain menyerah pada keadaan.
Aku kesal pada temanku ini, rasanya ingin marah, tapi apa boleh buat, aku juga harus ikut menanggung kesoktahuannya ini. Kami pun tidur di Kursi stasiun yang keras itu yang berada di dekat pos jaga Kepala Stasiun, karena menurut mereka, di situlah tempat yang paling aman dari kejahatan. Dingin dan berkali-kali gigitan nyamuk terus menyerangku. Rasanya aku ingin menangis dan hal itu membuatku sangat merindukan kamarku. Aku ingin pulang, aku rindu hangatnya selimutku, empuknya bantal dan kasurku, dan nyamannya badanku yang pulihkan semua lelah yang terasa. Tidurku jauh sekali dari nyenyak. Berharap pagi segera datang dan aku dapat segera kembali ke Bandung.

Akhirnya adzan Subuhpun berkumandang, kami memutuskan untuk membersihkan badan , shalat dan mencuri kesempatan untuk memejamkan mata di mushola yang berada di stasiun itu, sampai seorang ibu berlogat jawa membuatku terjaga, setengah mengusirku dengan melipat tikar yang dipasang di mushola itu. Aku bangun dengan rasa malu, berharap dia memaklumi keadaanku.

Setelah cuci muka, kami keluar stasiun, mencari makan untuk mengisi perut, karena di stasiun kami tidak menemukan yang ingin kami makan saat itu. Ketika kami berniat untuk masuk kembali ternyata pintu masuk ke stasiun dikunci, dan menurut informasi yang kami dapatkan dari seorang pria berseragam Departemen Perhubungan, pintu baru dibuka lagi setengah jam sebelum KA datang ke stasiun Senen. Akhirnya kamipun terpaksa menunggu di selasar stasiun sambil mendengarkan musik dari earphone yang tertancap di tape recorder yang Ukur bawa untuk wawancara.

Sekitar jam delapan pagi akhirnya loket di buka. Para calon penumpang pun menyerbu loket untuk membeli tiket, termasuk Ukur yang terlihat bingung mencari loket yang harus dia antri. Setelah mendapatkan tiket, ia kembali, dan langsung mengajakku masuk ke pintu masuk stasiun yang sudah dibuka. Aku ikuti langkahnya, dan kami mencari tempat strategis untuk menunggu kereta yang akan kami tumpangi kembali ke Bandung. Kami tidak ingin tertinggal, dan harus menginap lagi di stasiun, terutama aku. Satu malam cukup untukku merasakan pengalaman yang menyedihkan ini.

Beberapa jam kemudian, setelah kami kehabisan akal untuk menunggu, kami menghibur diri dengan bercakap-cakap tentang hal-hal konyol untuk mengisi waktu, yang membuat kami bisa tertawa. Sekitar pukul 11 siang barulah Kereta yang akan mengantar kami ke Bandung sampai. Para calon penumpang yang asalnya bersantai menunggu dengan segala ekspresi, setengah berlari menyerbu kereta itu. Kami pun masuk ke dalam kereta. Ternyata keadaannya jauh berbeda dengan ketika kami pergi. Karena kami naik dari tujuan akhir, dan tempat pemberangkatan pertama, kali ini kami bebas memilih tempat duduk kami. Sampai kami sempat berpindah-pindah tempat duduk sebelum KA melaju.

Sengaja kami cari gerbong yang sudah terisi penumpang, agar kami merasa aman. Setidaknya ada teman yang dapat kami lihat dan kami dengar selama di perjalanan. Duduklah kami di pilihan tempat duduk terakhir kami, seberang sepasang kakek nenek, yang obrolannya tak pernah habis, yang terhenti hanya ketika mereka makan atau salah satunya tertidur. Terkadang kamipun ikut tertawa jika ada yang lucu dari obrolan mereka.
Sepuluh menitan kami menyamankan diri untuk duduk di kursi itu. Tapi dari awal, pedagang asongan tidak pernah henti hilir mudik menjajakan barang dagangan mereka, mulai dari minuman, makanan, sapu tangan, sampai mainan anak-anak yang konon hanya dijual di ‘Jakarta Fair’.

Mereka datang dengan berbagai gaya, dengan beragam cara penjajaan. Dari yang tenang sampai yang menegangkan urat lehernya menawarkan barang dagangannya kepada para penumpang termasuk kami. Mereka berkeliaran dengan bebas di KA. Tidak seperti di KA Parahyangan yang sering kunaiki, dimana hanya dari pihak KA yang bisa berjualan hilir mudik menawarkan makanan, minuman, atau bacaan untuk disewakan. Yang dengan fresh dan cepat melayani para penumpang KA kelas bisnis itu.

Lain halnya dengan kereta api yang kami tumpangi ini, petugasnya berkostum beladus dengan raut muka yang lelah dan kusut menawarkan nasi goreng, mie rebus, teh manis, kopi dan sebagainya sambil membawa catatan pemesanan kepada penumpang. Seperti lelah yang tiada hasil, karena kebanyakan penumpang tidak memperdulikannya. Pedagang asongan tetap lebih mendominasi, sehingga teriakannya kalah oleh mereka saat menawarkan barang daganganya.

Awalnya kami tidak merasa begitu terganggu sampai akhirnya datang segerombolan pengamen, pengemis, tukang sapu dari penghentian stasiun. Kebanyakan mereka meminta dengan paksa. Tapi apa boleh buat, kami memang tidak punya uang kecil, sampai untuk membuat mereka pergi, kami berikan rokok dan makanan yang kami punya kepada mereka.

Mereka tidak beretika sama sekali, bahkan saat kami tertidur pun mereka tidak menghiraukannya, dengan membangunkan kami sampai kami terbangun dan memberikan sesuatu kepada mereka. Bahkan parahnya lagi, ada pengamen yang mengancam akan mengambil barang kami, jika kami tidak memberikan uang kepada mereka. Padahal mereka masih muda, dan bisa mendapatkan uang dengan jalan lain selain cara yang tidak terpuji itu.

Hal itu sempat membuat kami merasa kesal, dan menyesalkan tidak adanya pihak keamanan dari KA yang menertibkan para pengamen atau profesi lain yang sebenarnya hanya mengaharap imbalan rela dari penumpang, bukan memaksa, apalagi mengancam. Yang kami tahu mereka bukan orang yang baik, dari tato, anting, dan aksesori yang mereka pakai, apalagi bau alkohol dari mulut mereka, dan itu jelas meresahkan kami sebagai penumpang KA. Untung tidak terjadi apa-apa, kalau sampai terjadi sesuatu nama PT. KAI juga yang akan tercemar, karena menjadi tempat beroperasinya kejahatan yang memang dapat terjadi dimana saja.

Hal itu membuat kami merasa semakin tidak nyaman, jangankan untuk tertidur nyenyak , untuk duduk dengan tenang pun rasanya sulit. Setidaknya sampai kami tiba di stasiun Padalarang. Setiap KA berhenti, kami harus siap-siap “Akan ada apa lagi sekarang?” . dan perhentian untuk KA ekonomi ini memang bukan perhentian yang sebentar, sehingga untuk jarak Bandung-Jakarta yang dengan KA Parahyangan yang dapat ditempuh dengan waktu tiga setengah jam paling lama, menjadi hampir 7 jam, yang disebabkan oleh perhentian yang terlalu lama hampir di setiap stasiun, dan juga kecepatan yang memang lebih lambat dari KA kelas bisnis. Lagi-lagi kelas yang menjadi pembeda, dan itu sebuah realitas yang memang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan kita.

Walaupun demikian penumpang KA ekonomi ini selalul ada, mereka tetap menjadi pelanggan setia. Karena mungkin hanya tiket KA kelas ekonomilah yang bisa mereka beli dengan uang mereka. Mereka jarang ada yang mengeluhkan ketidaknyamanan yang mereka rasakan dalam KA ini, karena mereka memang ‘merasa’. Hanya sebagian kecil penumpang saja yang berani mengeluhkan kenyamanan mereka di KA ekonomi ini. Seperti masalah kebersihan, keterlambatan, toilet, ataupun kaca pecah yang membuat genangan air sewakti hujan, serta gangguan keamanan lainnya yang meresahkan.

Mengapa penumpang KA ekonomi dimarginalitaskan? Minimal kebersihan dan toilet yeng memang diperlukan, apalagi untuk rute perjalanan yang lumayan jauh seperti Jakarta-Kroya ini. Mereka juga manusia yang harus dilayani, karena mereka juga membayar, walaupun uang yang mereka berikan tidak sebesar yang penumpang kelas bisnis atau bahkan penumpang kelas eksekutif.

Dengan adanya penghargaan yang diwujudkan dengan pelayanan yang baik dari pihak KA, maka penumpang yang menjadi pelanggan setia ini akan mencintai KA, karena mereka merasa tergantung dengan alat trasportasi ini. Dengan begitu akan terjalin suatu simbiosis mutualisme antara penumpang KA ekonomi dengan perusahaan Kereta Api ini. Karena penghargaan yang kita berikan akan terefleksikan dengan penghargaan yang orang berikan kepada kita. Dengan begitu Perusahaan. KAI akan menjadi perusahaan dibesarkan oleh pengguna jasanya, karena mampu menghargai manusia dengan manusiawi. ***
Tulisan ini pernah diterbitkan di ‘KONTAK’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s