Dibalik Sosok Seorang Remy Sylado

Remy Sylado. Siapa yang tak kenal pria yang usianya lebih dari separuh baya ini. Lewat karya-karyanya yang sudah tak terhitung jumlahnya, mulai dari novel, karya teater, puisi, dan sebagainya. Karya-karya yang menuntut kreativitasnya di bidang sastra. Dengan kepekaannya terhadap fakta yang tepat dalam novel-novel karyanya. Untuk Setting cerita yang dibuatnya, seperti waktu dan tempat yang membalut cerita itu dengan menarik dalam novel-novelnya.

Sebut saja Kembang Jepun, cerita tentang geisha yang sangat terkenal di Surabaya itu. Lengkap dengan tahun-tahun ketika terjadinya permesta di Makasar dan lain-lain yang terdapat dalam alur cerita yang dibuatnya itu sampai yang terakhir yakni ‘Sam po Kong’ tentang Cengho yang berlatar tahun sejarah abad ke-15 ini direka dengan dongeng yang dituturkan dari mulut ke mulut. Begitupun dengan Ca Bau kan, dan karya-karya lainnya yang kebanyakan memang merupakan perpaduan antara fakta dan fiksi yang menjadi satu karya yang disenangi pembacanya. Semua karya-karyanya itu mempunyai unsur sejarah yang kental yang dipadukan dengan tokoh-tokoh nyata atau imajiner, sehingga membuat novel-novelya begitu menggigit.

Fakta dan fiksi baginya merupakan satu hal yang memang bisa dipisahkan. Penulis, sekaligus seniman ini memang termasuk penulis yang tidak akan berani menulis sesuatu jika ia tidak yakin akan hal itu, maka sebelum ia menulis ia akan melakukan riset terlebih dahulu terhadap apa yang akan dituangkannya kedalam karya-karyanya. “Kalau saya belum yakin, tidak akan saya tulis.” Saat ia ditanya seberapa jauh keakuratannya akan novel-novel gaya history yang ditulisnya.Karya-karyanya itu kita membuat kita kagum akan kehebatannya dalam berimajinasi dan juga kegigihannya dalam mencari fakta.

Nama aslinya Yapi Tambayong. Dalam kiprahnya sebagai seniman dan juga penulis ia mempunyai dua nama lain yakni Remy Sylado dan Alif Dinya Munsyi. Nama remy sylado ini berasal dari chord ‘And i love her’ the beatless pada lirik awal yang berbunyi “I’ll give her all my life…’ yang lebih dikenal dalam sepak terjangnya di dunia seni dan juga sebagai penulis novel. Nama keduanya Alif Dinya Munsyi merupakan nama keduanya sebagi penulis buku-buku sastra yang lebih teoritis. Bukan tulisan sebagai karya kreatif seperti novel-novelnya yang dicap sebagai karya Remy Sylado. “Jika saya menulis kebahasaan, linguistik, tata bahasa, masalah sastra sebagai teori bukan sebagai karya kreatif pake nama Alif Dinya Munsyi” ujarnya, tanpa memberikan alasan spesifik tentang penggunaan nama itu.

Perjalanan hidup pria kelahiran Makasar di masa-masa kemerdekaan ini sudah cukup panjang. Sudah terbilang lama pula ia bergelut di bidang sastra. Saat usianya 16 tahun ia sudah menulis novel pertamanya yang bersetting sejarah saat kedatangan Spanyol di Makasar. Novel yang berjudul ‘Inani Keke’ ini baru diterbitkan saat ia menginjak usia 18 tahun. Sebuah prestasi yang cukup luar biasa. Remaja dengan kepekaan terhadap sejarah yang menjadikan karya sastra lebih bernilai, walaupun jika dilihat saat ini, banyak sekali penulis yang lebih muda dari usianya saat itu yang sudah menghasilkan karya-karya yang memang lebih ringan dibandingkan novel Remy Sylado yang berbau sejarah di usianya pada masa itu.

“Bagus, jangan dihukum, sebab mereka baru mulai ko dihukum, kita harus melihat saja, melihat dia sebagai kenyataan, nanti dia akan berkembang” jawabnya ketika ditanya tentang penulis-penulis muda yang bermunculan akhir-akhir ini dengan gaya yang berbeda dengannya. Salah jika orang menyangka ia mempunyai penilaian negatif pada anak-anak muda asal Indonesia yang sekolah ke luar negeri dari novel ‘Menanti Pagi di Melbourne’. Padahal sebetulnya ia mengangkat itu untuk membuat mereka yang beruntung mengecap pendidikan di luar negeri betul-betul menggunakan kesempatan itu dengan sungguh-sungguh. Menimba ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan bangsanya ketika ia pulang ke Indonesia. Bukan malah menyerap nilai-nilai budaya luar yang negatif untuk ditularkan ketika ia kembali.

Ketertarikannya di dunia tulis menulis memang sudah muncul sedari kecil. Ia gemar membaca buku beraneka jenis. Dari buku-buku yang dibaca itulah ia mempunyai keinginan untuk menjadi penulis. Ingin tulisannya dapat dibaca orang, seperti ia membaca karya-karya penulis itu. Sebagai seorang penulis, ia sangat menikmati saat-saat dimana ia mengumpulkan dan mencatat apa saja yang ia temukan. Ia juga gemar untuk membaca apapun. Karena memang penulis yang baik adalah pembaca yang baik, begitupun sebaliknya. Dengan kegemarannya itu ia mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman.

Pengalaman yang membuatnya lebih kaya ilmu dan serba tahu. Bahasa Arab, Ibrani, Mandarin, dan Yunani juga sempat ia pelajari di Seminari Theologia Baptis di Semarang. Pengtahuannya terhadap bahasa-bahasa itu ternyata menjadi bekalnya dalam melakukan riset penelusuran sejarah untuk buku-buku yang sudah, sedang dan akan ditulisnya. Bukan hanya bahasa Asing, bahasa Sunda, jawa, Minahasa, dan bahasa daerah lainnyapun ia kuasai. Termasuk logat-logatnya. Maka jangan heran jika ia juga bisa menyanyikan lagu daerah dengan ahlinya. Begitupun dengan menirukan kata-kata dari bahasa daerah dengan logat-logatnya yang khas.

Namun ternyata ia juga manusia biasa yang juga mempunyai kekurangan. Tak semua karyanya berhasil dengan mudah ia lahirkan. Cepat ia buat, seperti kebiasaanya saat bekerja sebagai wartawan di Semarang, Bandung, dan Jakarta dalam menepati deadline tulisan-tulisannya yang akan dimuat di media tersebut. Sebut saja Kembang Jepun yang awalnya merupakan cerita bersambung di sebuah koran harian di Surabaya yang menjadi sebuh novel. juga media-media cetak lainnya baik harian dan majalah yang kerap kali memampang tulisan-tulisannya. “Novel yang paling lama ‘Agonia Cinta Monyet’, sudah 2 tahun enggak kelar-kelar, bosen saya.” Kenangnya tentang novel yang belum juga diselesaikkannya. Penulis sekaliber Remy pun bisa mengalami hal itu. Mentok saat sedang menulis.

Karya keratif tidak pernah lepas dari inspirasi. Menurutnya inspirasi itu dibuat sendiri, sehingga melahirkan karya-karya yang memenuhi daftar prestasinya, baik sebagai aktor, pelukis, maupun penulis. Dalam berkreasi ia memang memadukan semua ilmu dan pengetahuan yang ia miliki. Baik yang didapatkannya di akademik maupun dari buku-buku, majalah, jurnal, atau bahakan arsip yang didapatkannya. Itu yang membuat visinya tercapai. Berkarya dan karyanya dapat dinikmati orang. Untuk tulisan, tulisannya bisa dibaca orag. Untuk teater dan aktingnya ia ingin itu dapat dinikmati orang, begitupun dengan lukisan yang dihasilkannya.

Selain kesibukannya sebagai penulis dan seniman ia masih juga menjadi aktor di dunia sinematografi Indonesia. Namun kini, profesinya sebagai aktor tidak terlalu kentara. Alasannya memang karena ia lebih selektif dalam memilih peran dan cerita. Banyak tawaran yang ia tolak karena menurutnya banyak cerita-cerita sampah. Tapi ada satu yang ia pilih, dan itu belum tayang. Rencananya akan ditayangkan di RCTI. Kita tunggu saja aktingnya, dan kita lihat cerita seperti apa yang bagus menurut versinya untuk sebuah karya sinematografi Indonesia. Semoga bisa menjadi acuan untuk para sutradara, produser atau insan-insan perfilman maupun sinematografi. Agar dikemudian hari mereka bisa menghasilkan karya-karya yang lebih berbobot, berisi untuk membuat penontonnya lebih maju, bukan malah mundur ke puluhan tahun silam. Karena menatap masa depan akan lebih berharga dibandingkan melihat terus ke belakang dan tidak berbuat apapun untuk masa yang akan datang.

Untuk teater yang dipimpinnya ia memadukan sastra dengan teater, karena menurutnya teater tidak akan ada tanpa ada sastra. “Karena teater saya adalah teater yang berorientasi kepada sastra.” Tuturnya mengenai teater yang dipimpinnya yang sudah melangsungkan pertunjukan sebuah drama musik di gedung kesenian jakarta 27-28 Agustus 2005 lalu dengan sukses. Drama musik tentang kisah Ceng Ho. Yang bukunya pada waktu itu baru saja diluncurkan. Momen yang menyibuka tentu saja. Namun ia tetap menjalaninya,karena baginya hidup adalah bernafas. “Aktivitas dalam 24 jam yaitu bernafas, karena saya bergerak terus.” Ia terus berkreativitas. Menghasilkan karya-karya untuk dipersembahakan bagi para penggemarnya maupun masyarakat Indonesia pada umumnya.

Ia yang masih menjadi penduduk kota kembang ini masih betah di Kota rantauannya ini. Namun ia menyayangkan kondisi Bandung sekarang ini yang selalu macet. Udara Bandung sekarang juga ia rasakan lebih panas dibandingkan pertama kalinya menginjakan kaki ke Bandung sampai akhirnya ia menjadi dosen di Akademi Sinematografi Bandung. “Matahari aja ada berapa di Bandung, ada yang di Cihampelas,…..” Selorohnya menyamakan matahari yang di Atas dengan matahari yang menjadi raja perusahaan retail di Indonesia sambil diiringi tawa renyah yang diikuti para wartawan yang mengelilinginya ketika usai bedah buku ‘Sam Po Kong’ di Bandung beberapa waktu yang lalu.

Remy juga merupakan seorang sosok religius. Ia tak pernah lupa untuk menyebut nama Tuhan dalam setiap kesempatan. Membuat masuk surga adala cita-cita yang tak pernah diubahnya dari dahulu sampai sekarang. Bahkan ketika ditanya moto hidupnya, dengan ringan ia menjawab “Hidup jangan sakit-sakitan, uang harus kira-kira bisa untuk beli obat jika sakit, lantas mati masuk surga.” Ujarnya yang semakin terburu-buru karena ada urusan lain yang tidak bisa ia tunda dengan berlama-lama meladeni kami.

Sosok seorang Remy Sylado mungkin bisa kita teladani. Manusia sederhana yang dengan kesaderhanaanya itulah ia berkreasi. Dengan kegemarannya membaca dan menulis, serta mempelajari segala hal membutanya semakin kaya wawasan dan pengetahuan. Namun dengan segunung prestasi dan kepintaran yang dimilikinya itu, baik sebagai penulis, aktor, maupun pelukis ia tetap seorang manusia yang rendah hati, sehingga dengan ramahnya melayani permintaan dan menjawab pertanyaan dari para penggemar maupun wartawan yang selalu saja penasaran dengan sosok pria berambut putih ini. Pria yang selalu tampil dengan kostum berwarna putih dalam berbagai kesempatan.***

(Tulisan ini pernah dimuat di majalah Bandung & Beyond)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s