Sepenggal Kisah si Kuli Panggul

photo by Aziz Indra driverphoto.blogspot.com

photo by Aziz Indra driverphoto.blogspot.com

“Mau dibantu pak?” tanya pria yang hampir setengah baya ini sambil ngos-ngosan kepada salah seorang penumpang Kereta Api (KA) Parahyangan yang akan turun di stasiun Bandung.

“Nggak… nggak, nggak usah!” jawab penumpang itu ketus.

Tapi hal itu tidak membuatnya menyerah, ia berjalan terus menyusuri kursi demi kursi, gerbong demi gerbong. Berharap mungkin di gerbong lain ada yang mau menggunakan jasanya untuk mengangkut barang. Namun harapan tinggallah harapan. Ia tak menemukan satupun yang penumpang yang dapat memenuhi harapnya. Ia pun turun dengan langkah gontai, melihat rekan-rekannya yang sedang sibuk mengangkut barang-barang, seperti juga yang seharusnya ia lakukan saat itu.

Akhirnya ia pun meneruskan langkahnya ke stasiun utara. Berharap Tuhan memberi keajaiban-Nya, sehingga untuk pertama kalinya ia akan mendapatkan pengguna jasanya hari itu. Matanya mulai lincah mencari ke sekitar, dan terhenti pada seorang ibu dengan banyak barang bawaan yang sedang mengantri di loket untuk mendapatkan tiket KA yang akan berangkat beberapa waktu lagi. Dengan penuh semangat ia pun mendatanginya.

“Bu… mau dibantu?” tanyanya sambil tersenyum menawarkan keramahan.

“O iya pak, nanti antarkan barang-barang saya ini ke kereta, sekarang disimpan di ruang tunggu saja dulu.” jawab sang Ibu yang memang nampak sibuk mengatur posisi tas-tasnya yang cukup banyak dan tidak mungkin untuk dibawa seorang diri.

Seberkas senyum terpancar dari wajah lelaki berbaju merah tua itu, diiringi anggukan dan langsung mengangkut barang-barang itu.

Alhamdulillah… hari ini aku bisa membawa sesuatu untuk anak dan istriku di rumah.

Itulah gambaran yang dirasakan Pardi dan kawan-kawannya yang sehari-hari mengadu nasib mencari sesuap nasi dengan menjadi porter, kuli angkut barang para penumpang KA. Mereka mengharapkan imbalan sukarela dari para penumpang KA yang menggunakan tenaga mereka untuk mengangkut barang bawaan mereka dari KA atau menuju KA. Tidak banyak orang yang peduli akan keadaan maupun profesi yang mereka miliki sebagai kuli panggul. Padahal keberadaan mereka dan pekerjaan yang mereka lakukan justru kadang sangat dibutuhkan. Para porter ini lah yang membuat sebuah stasiun menjadi lengkap keberadaannya, yang menjadi sebuah tempat yang dipenuhi orang-orang yang akan melakukan perjalanan jauh. Karena jarak yang jauh itulah, akhirnya mereka membawa barang sebagai bekal yang cukup banyak. Apalagi pulang, karena ditambah dengan oleh-oleh dari kota yang telah dikunjunginya.

Mereka berseragam lengkap dengan atribut nama dan lambang kebesaran KA di saku mereka. Bukan… mereka ternyata bukan pekerja tetap di perusahaan Kereta Api, bahkan sama sekali tidak ada hubungan kontrak atau pengangkatan pegawai yang biasanya dilakukan sebuah perusahan kepada karyawannya. Dengan begitu mereka otomatis tidak mendapatkan asuransi kesehatan dan tunjangan-tunjangan lain layaknya seorang pegawai di sebuah institusi. Padahal, pekerjaan mereka sangat beresiko.

“Saya pernah jatuh, tulang saya patah.” kenang Agus yang sudah menjalani profesi ini sejak 30 tahun yang lalu sambil memperlihatkan bekas luka yang tampak cukup dalam di betis kirinya. Hal itu terjadi kira-kira tiga tahun yang lalu, ketika ia mengejar KA yang masih jalan untuk mendapatkan pengguna jasanya, untuk berburu selembar uang yang akan ia gunakan untuk menghidupi istri dan enam orang anaknya. Akibat dari luka itu, ia tidak bisa melakukan pekerjaannya untuk sementara waktu, karena ia harus dirawat di rumah sakit hingga lukanya pulih kembali. Sementara itu praktis ia tidak mendapatkan uang dari pekerjaannya, yang ada ia harus mencari pinjaman uang karena harus membayar biaya perawatan selama di rumah sakit. Karena walau bagaimanapun kondisi fisik yang prima adalah modal utama untuk menjalani profesinya sebagai porter, selain semangat dan kemauan yang keras.

Baju seragam yang mereka gunakan itu dibeli dengan cicilan seharga 150.000 rupiah untuk dua warna seragam, yakni merah hati dan hijau yang mereka pakai bergantian setiap dua hari sekali. Dengan seragam itu mereka tampil rapi dan teratur. Mereka siap membantu para penumpang KA yang kewalahan dengan barang bawaannya. Berapapun besar upah yang mereka terima dari para pengguna jasa bukan masalah bagi mereka. Karena satu hal, yaitu keyakinan bahwa setiap orang punya rezeki masing-masing yang sudah pasti berbeda. “Kadang ada yang bawaannya berat ngasih 10.000 rupiah tapi ada juga yang bawaannya sedikit malah ngasih 20.000 rupiah.“ ujar Pardi dengan pasrah. Walau ia mengaku biasanya rata-rata yang ia terima antara 3.000 rupiah sampai 10.000 rupiah. Namun dengan kesadaran yang ia miliki, ia tidak pernah mengeluhkan itu.

Mereka memang tidak pernah menetapkan berapa tarif yang harus mereka terima untuk satu tas atau sekilo barang yang mereka angkutkan. Mereka juga tidak meminta lebih jika merasa yang mereka dapatkan tidak seimbang dengan apa yang telah mereka kerjakan. “Semua itu kembali pada kerelaan yang memberi.” Kesadaran seperti inilah yang kadang tidak dimiliki oleh beberapa oknum porter, sehingga kadang mereka marah kepada para pengguna jasa jika dibayar tidak sebanding dengan beban yang telah mereka pikul. Akibatnya tidak sedikit penumpang geram yang akhirnya balik memaki.

Menjadi porter bukanlah cita-cita mereka, tapi apa boleh buat jika ternyata takdir berkata lain. Bahkan pekerjaan ini disyukuri oleh Agus yang usianya sudah 56 tahun ini, baginya menjadi porter lebih baik dibanding profesinya dulu sebagai tukang becak. Dengan keterbatasan pendidikan yang dimiliki, mereka tidak mempunyai banyak pilihan dalam hal pekerjaan, karena sebagian besar mereka hanyalah sebatas lulusan Sekolah Dasar (SD). Apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini, jangankan yang hanya lulusan SD, lulusan Sarjanapun masih banyak yang menganggur karena urusan Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) yang masih saja bercokol di sebagian besar perusahaan dalam hal pengangkatan karyawan baru baik BUMN maupun perusahaan swasta.

Dengan kondisi yang mengkhawatirkan tersebut pekerjaan sebagai porter patutlah mereka syukuri, karena uang yang mereka dapatkan adalah uang halal. Pekerjaan yang mereka jalanipun jauh lebih mulia dibandingkan dengan pejabat yang memakan uang yang bukan hak mereka, sementara bawahannya sengaja berpuasa agar anak dan istrinya di rumah bisa makan tiap hari.

Jam 9 pagi ia harus sudah menginjakkan kaki di stasiun Bandung, tempatnya mencari nafkah. Lokasi dengan jarak yang memerlukan waktu sekitar 1,5 jam dari rumahnya di daerah Bale Endah. Daerah yang melewati sebuah jalan panjang yang terkenal dengan kemacetannya. Tentu saja karena sepanjang jalan itu adalah kawasan industri. Para pejalan kaki bersaing dengan antrian kendaraan umum yang diiringi teriakan-teriakan klakson dari berbagai kendaraan yang memekakkan telinga.

Situasi yang tentu saja jauh dari rasa tenang. Hal itu terkadang membuatnya dongkol dan perasaan patah semangat pun kadang ia rasakan, tapi apa boleh buat, tanpa perjuangan awal untuk sampai di stasiun saja, ia tidak akan mendapatkan apa-apa, sehingga ia pun harus menguatkan tekadnya untuk sampai di stasiun pukul 9 pagi. Minggu berikutnya ia bertugas mulai dari 9 malam sampai 9 pagi. Begitulah seterusnya, itupun jika badannya dalam kondisi sehat, kalau tidak, terpaksa ia harus beristirahat sampai badannya pulih kembali untuk dapat melakukan tugasnya kembali dengan sebaik-baiknya.

Setelah sampai di stasiun, ia langsung berbenah dengan seragam kebesarannya, lengkap dengan sepatu yang membuatnya lebih nyaman dalam melakukan tugasnya. Setelah itu ia pun bersiap, memastikan jadwal kedatangan dan keberangkatan KA tidak mengalami perubahan, karena jadwal kedatangan dan keberangkatan KA tentu saja sudah ia hafal di luar kepala. Karena itu adalah salah satu rumus kesuksesannya agar ia mendapatkan banyak pelanggan.

Biasanya ada dua lokasi yang lebih strategis untuk mendapatkan orang-orang yang membutuhkan jasa mereka. Pertama, di antrian loket, sedangkan yang ke dua yaitu di dekat jalur-jalur lintasan KA yang akan datang, seperti jalur 6 dan 3 yang sering menjadi pemberhentian KA Parahyangan, begitupun dengan jalur-jalur lainnya dengan kereta yang berlainan tentu saja. Ada juga yang menyerbu keduanya, terutama porter-porter yang masih muda, penuh semangat dan enerjik. Jika kedatangan KA memang masih lama, mereka akan memburu penumpang di antrian loket.

Ketika diumumkan KA Parahyangan atau lain datang dari luar kota, maka mereka akan berhamburan berlomba-lomba mendekati jalur kedatangan kereta tersebut, bak sebuah pasukan prajurit yang diberi komando untuk menyerang. Ada yang berjalan cepat, setengah berlari, bahkan sampai benar-benar berlari untuk segera mendekati KA yang baru saja tiba. Terkadang mereka berlari sampai puluhan meter dari stasiun. Setelah dekat, dengan lincahnya mereka melompat ke kereta yang masih berjalan. Walaupun kecepatannya memang sudah berkurang, tetap saja lompatan itu cukup beresiko. Akhirnya Kepala Stasiun (KS) pun memberi aturan titik terjauh mereka mengejar KA untuk keselamatan porter-porter ini, karena walau bagaimanapun mereka adalah partner, karena tanpa porter-porter ini stasiun belumlah bisa dikatakan lengkap.

Setelah berhasil masuk kereta, mereka berjalan kursi demi kursi, gerbong demi gerbong dilalui dengan cekatan sambil menawarkan jasa angkut mereka pada para penumpang KA. Porter yang sudah mendapatkan barang bawaan segera menuju pintu keluar yang terdekat. Barang-barang yang sudah siap diangkut mereka pikul dengan mantap di pundak, di tangan, bahkan di kepala mereka. Penumpang pun berjalan mengikuti porter yang membawa barang bawaannya. Tak jarang mereka setengah berlari mengejar porter mereka yang terlalu bersemangat membawa barang bawaan karena mengejar setoran hingga mereka sering tertinggal jauh.

Hal itu terjadi karena kebanyakan para porter itu berjalan dengan jurus seribu langkah yang super cepat! padahal di tubuhnya bersandar beban yang cukup berat. Logikanya mungkin agar mereka lekas sampai dan beban itu segera lenyap dari pundaknya. Karena jarak yang mereka tempuh cukup jauh, dari kereta sampai halaman parkir yang hampir 30 meter. Belum lagi rintangan yang harus mereka hadapi, karena berjejalnya penumpang yang memenuhi jalan-jalan yang mereka lalui.

Dengan berjejalnya orang-orang, tak jarang mereka mendapat banyak caci maki, walaupun kadang ada pula yang malah memberi jalan dan membiarkan porter-porter ini mendahului mereka. “Saya dulu pernah dipukul sama perempuan gara-gara kakinya keinjek, pernah juga disangka copet.” kenang Pardi yang menjadi wakil tetua dari para porter-porter ini sambil tersenyum. Hal itu sudah menjadi resiko dari pekerjaannya, jauh sekali dari niat jahat, apa lagi untuk mencuri.

“Percuma saya makan uang yang nggak halal, kan susah…” tuturnya pasrah. Karena ia percaya uang yang berasal dari jerih payah, kerja keras banting tulang tetap akan lebih bernilai dan menjadi berkah dibanding mutiara sekalipun, yang didapat dengan cara yang tidak benar. Ia tidak mengharap imbalan yang lebih dari jasa yang ditawarkannya. “Kalau ada yang ngasih saya upah sedikit nggak apa-apa… saya selalu mikir, nanti juga ada yang lain.” sahutnya saat ditanya perasaannya jika ada yang memberi dalam jumlah yang sama sekali tidak sesuai dengan jerih payahnya. Kesadaran yang dimiliki ini membuatnya merasa tentram dengan bekerja sebagai porter.

Dalam satu hari ada 12 kereta yang menjadi incaran mereka untuk mencari orang yang mau diangkutkan barang bawaannya, sehingga dalam satu hari pula mereka bisa mendapatkan upah antara 30.000 rupiah sampai 40.000 rupiah. Itu mereka gunakan untuk menafkahi kelurga mereka, karena walau bagaimanapun mereka ingin agar anak mereka mempunyai masa depan yang lebih baik dari mereka, seperti Pardi yang kini anaknya yang kedua sudah duduk di kelas 2 SMP, pendidikan yang tidak pernah dikecapnya dulu yang hanya sampai SD. Sampai akhirnya ia bertemu teman seorang tukang langsir yang membuatnya mencoba pekerjaan sebagai porter ini 11 tahun yang lalu. Pekerjaan yang sampai saat ini masih bisa terus mengisi periuk beras dirumahnya, membuat dapurnya masih terus mengepul setiap hari, untuk makan istri dan keempat anaknya.

Di luar itu mereka mencari calon pengguna jasa mereka di antrian atau di ruang tunggu. Tentu saja penumpang dengan barang bawaan yang cukup banyak yang kemungkinan besar akan membutuhkan bantuan mereka. Jika tidak, kadang mereka duduk-duduk santai di sekitar stasiun, sambil merokok, ngobrol, membaca koran-koran yang mereka pungut di KA dan stasiun atau hanya sekedar melamun, menikmati waktu dan suasana yang ada sambil menunggu kedatangan KA selanjutnya. Jika KA tiba, mereka berhamburan dan kembali lagi, begitu seterusnya.

Saat ini sudah tiga kali kedatangan KA tapi Agus belum sekalipun mengangkut barang. Tapi apa boleh buat, kondisi itu tak boleh membuatnya patah semangat hingga kedatangan KA berikutnya dan berikutnya. Sampai akhirnya ia mendapatkan penumpang yang meminta bantuannya. Karena bagaimanapun Allah memang telah mengatur rezekinya, ia hanya tinggal menjemputnya dengan usaha tanpa mengenal lelah dan putus asa.

Di stasiun Bandung ini ada ± 66 orang porter dari yang semula hanya ada 38 orang. Biasanya setiap harinya ± 45 orang yang hadir, karena pekerjaan ini memang tidak mengikat. Siapa yang tidak mau kerja itu tidak masalah, karena uang yang mereka dapat dari hasil keringatnya itu juga untuk mereka sendiri. Dengan begitu, pendapatan mereka juga tergantung dari keuletan dan kerajinan serta kerja keras mereka masing-masing.

Meskipun mereka dapat dikatakan buruh lepas, mereka tetap terorganisir. Saat ini terpilihlah Beny Rahmad yang mereka percayai untuk menjadi wakil dari para porter-porter secara keseluruhan dalam hal berhubungan langsung dengan pihak KA maupun untuk urusan intern mereka. Ia menjadi penyambung lidah antara pihak stasiun, dalam hal ini KS dengan porter. Jika ia berhalangan hadir maka Pardi menjadi orang yang dipercaya mewakilinya untuk menghadap KS.

Untuk menjadi porter tidak ada batas usia. Siapa saja yang merasa masih bertenaga dan siap menjalani pekerjaan itu, berapapun usianya tidak menjadi masalah. Saat ini porter-porter kebanyakan berusia sekitar 20-40 tahun. Namun ada juga yang usianya sudah hampir 60 tahun yang masih produktif sebagai kuli panggul. Mereka bersaing secara sehat, karena bagaimanapun mereka ini bagai sebuah keluarga. Setidaknya itulah yang mereka rasakan selama ini. Bahkan, jika terdapat barang bawaan yang sangat banyak, mereka akan saling membantu satu sama lain dan hasilnya tentu saja dibagi-bagi dengan adil.

Biasanya pekerjaan ini menjadi pekerjaan yang turun temurun, misalkan dari ayah kepada anak atau saudaranya, begitupun dengan nasib baju yang mereka kenakan sebagai seragam. Jika baju itu diturunkan, mereka hanya tinggal mengganti nama dan nomornya saja. Walaupun kadang ada yang nakal tidak menggantinya, jadi yang tercatat di KS masih yang lama.

Sebagai sebuah kelompok pekerja yang terorganisir, mereka saling mengenal satu sama lain. Data mereka lengkap tercatat di KS, sehingga penggunaan nama dan nomor ini dapat dijadikan identitas yang bukan sekedar label. Atribut itu menjadi tanggung jawab mereka sepenuhnya. Dengan begitu, jika mereka melakukan kesalahan atau bahkan tindakan kriminal sekalipun dengan mudah akan terlacak. Akibatnya sudah pasti mereka akan dikeluarkan dari keanggotaan atau bahkan dikenakan sangsi atau hukuman dari KS. Hal tersebut akan mencoreng nama baik para porter secara keseluruhan.

Rusak nila setitik rusak susu sebelanga berlaku untuk para porter ini. Oleh karena itu mereka menjaga jangan sampai hal tersebut terjadi. Caranya dengan saling mengenal dan berkomunikasi satu sama lain layaknya sebuah keluarga yang saling membantu. Hal itu memang jarang terjadi, bahkan hampir tidak pernah. Malah terkadang merekalah yang membantu menangkap para pengutil yang berkeliaran di KA dan stasiun. “Saya sering lihat, tapi selama mereka belum berbuat saya tidak berani berbuat apa-apa, tapi kalau sudah ada bukti saya berani, setelah tertangkap saya tidak mau icikibung” (Red: Ikut campur). Walaupun tak jarang mereka malah yang dijadikan tersangka, padahal mereka sama sekali tidak melakukannya. Tentu saja porter-porter itu tidak tinggal diam, jika mereka memang tidak merasa bersalah mereka akan membela diri.

Secara tidak langsung mereka juga turut membantu pihak KA untuk masalah keamanan. Selain itu, Opsih (Operasi bersih) pun menjadi tugas rutin mereka setiap hari jumat. Itu mereka lakukan dengan sukarela. Pemasangan bancik juga menjadi tanggung jawab mereka, terutama bagi porter yang bekerja dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi, karena tidak ada pekerja dari CV. Mega yang jika siang hari memang bertugas memasang bancik sebagai salah satu pekerjaannya.

Dengan semua yang mereka lakukan itu mereka mendapatkan uang rokok dari KS setiap bulannya. “Semua porter dapet 150 ribu dari KS tiap bulan, nih kalau enggak percaya!” tutur Pardi sambil memperlihatkan uangnya yang masih terlipat rapi di dompetnya. “Uang ini saya simpan, dikumpulkan lalu dibagi-bagikan ke semua porter menjelang hari raya idul fitri.“ Selain dari iuran 1.000 rupiah yang mereka kumpulkan tiap hari. Bahkan, biasanya para porter ini mendapatkan bingkisan dari pihak KA ketika menjelang hari raya idul fitri, yang sudah tiga tahun ini tidak mereka dapatkan lagi.

Dengan kerjasama itu, mereka juga terikat dengan aturan yang diberikan oleh KS, seperti tidak boleh mengejar KA terlalu jauh, melakukan Opsih setiap hari Jumat dan memasang bancik jika petugas aslinya tidak ada, yaitu pada malam hari. Selain itu tentu saja tidak boleh melakukan perbuatan melanggar hukum yang pada akhirnya akan merugikan kedua belah pihak yang tentu efeknya tidak baik sama sekali.

Keterkaitan yang terjadi ternyata membentuk sebuah sinergi yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak, dalam hal ini PT. KAI terutama Daop II dengan para porter itu. Para porter mendapatkan lahan pekerjaannya di stasiun, sehingga mereka dapat bekerja dengan tenang. Pihak PT. KAI pun merasa terbantu dengan keberadaan mereka, baik dari segi keamanan, kebersihan, ataupun bantuan teknis yang bisa dilakukan porter-porter itu. Begitupun dengan penumpang, karena ada yang membantu mereka untuk membawakan barang bawaan mereka dari atau menuju KA.

Hubungan baik yang terjalin ini, secara tidak langsung membuat ikatan emosional dengan PT. KAI. Melahirkan kecintaan mereka terhadap PT. KAI, salah satunya dengan menjaga dan memelihara stasiun dan seluruh fasilitasnya. Bahkan kerap kali mereka menjadi sasaran teguran dari para pengguna jasa KA jika WC tak bersih, ada jendela yang tidak bisa dibuka, jendela yang pecah, dan sebagainya. Inilah yeng membuat mereka juga jadi penyambung lidah antara penumpang dengan pihak PT. KAI.

Hal tersebut sangat membantu, karena walau bagaimanapun masukan sekaligus kritikan yang mereka sampaikan akan membuat PT. KAI bisa menjadi lebih baik dalam melayani para pengguna KA sesuai dengan motonya ‘melayani setulus hati’. Apalagi dalam kondisi sekarang ini, saat jalan darat bisa menempuh waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan KA, dalam hal ini Parahyangan yang mempunyai jam terbang paling tinggi setiap harinya, yang juga secara tidak langsung memberikan peluang bagi para porter ini untuk mendapatkan klien.

Harapan para porter di hari ulang tahun KA yang jatuh pada tanggal 28 September tak lain adalah PT. KAI semakin maju. “Biar penumpangnya semakin banyak, harganya jangan dinaikan, pelayanannya ditingkatkan.” tutur pardi ketika ditanya tentang sarannya agar PT. KAI bisa maju sesuai dengan harapannya. Dengan begitu, ia bersama rekan-rekannya yang lain tetap bisa bekerja dengan menjadi sebagai porter. Karena ternyata yang mereka rasakan penghasilan mereka tidak naik-naik, sementara harga-harga kebutuhan pokok selalu merangkak naik dari tahun ke tahun. Ini jelas berpengaruh pada mereka. ”Tahun ‘92-’95 sih masih banyak penumpang…” keluh Agus tentang kondisi penumpang KA dulu dan sekarang. Dengan begitu penghasilannya dulu dapat memenuhi kebutuhan keluarganya bahkan lebih dari cukup.

Sampai saat ini, dan entah sampai kapan mereka akan terus melakukan pekerjaan ini. Selama kereta api masih ada, masih menjadi alat transportasi yang digunakan orang-orang. Mereka akan tetap melakukan tugasnya sebagai porter. Membantu para penumpang mengangkut barang-barang mereka, hingga tenaga dan stamina mereka sudah tidak mampu lagi. Sampai tiba saat mereka untuk bisa beristirahat menikmati masa tua mereka dengan anak cucu. Berharap apa yang mereka dapatkan kini bisa menjadi bekal untuk meraih kehidupan yang lebih baik dari apa yang telah mereka dapatkan selama ini. Namun hingga saat ini rasa syukur selalu mereka panjatkan untuk pekerjaan yang sedang mereka jalani sekarang, yang juga akan menjadi ibadah jika dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesadaran tanpa aral dan putus asa. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s