Essanovia's Blog

Ekonomi Versus Bisnis Versi Kereta Api Indonesia

Posted by: Irma Essanovia on: Saturday, 6 September, 2008

Karena sebuah telepon seluler, terpaksa aku harus pergi ke Jakarta. Atau mungkin sebab terlalu baiknya aku, sehingga aku mau menemani temanku Ukur ke Ibu Kota dengan menggunakan Kereta Api (KA) kelas ekonomi. Padahal sebenarnya aku bisa menggunakan KA kelas bisnis, tentu saja tanpa bayaran karena Ayahku bekerja di PT.KAI. Walaupun jabatannya masih golongan 2, tapi dengan pekererjaannya itu aku mendapatkan kemudahan dalam urusan tumpangan dengan KA, walau kadang harus berharap ada kursi kosong, karena petugas di stasiun tidak memberi aku tempat duduk, dengan alasan singkat “tidak ada yang kosong.” Itulah yang beberapa kali dikatakan petugas SAP di stasiun Gambir kepadaku.

Kemanapun aku pergi, terutama bulan-bulan terakhir menjelang usainya masa studiku di Universitas, yang lebih dikenal dengan kampus biru, entah karena warna biru yang mengecat besi-besi di kampusku atau karena hal lain, sehingga orang menyebutnya kampus biru. Tugas akhirkulah yang sering membawaku bolak-balik Bandung-Jakarta untuk melakukan observasi maupun wawancara. Bahkan pernah aku pergi ke Yogyakarta dan Magelang untuk keperluan tugas akhirku yang kini sudah rampung itu dan membuatku memiliki gelar S.Sos.

Begitupun temanku ini, Sebut saja Ukur namanya. Selama aku masuk dunia jurnalistik, entah itu di kelas saat perkuliahan atau ‘di luar’ dengan aktifitasku di media kampus, baik yang idealis maupun yang komersil. Mau tidak mau, kami selalu berhubungan satu sama lain, padahal aku cukup muak dengan keadaan ini, karena kadang aku sadar kalau dia tidak sebaik yang kuduga. Tapi sudahlah, kita ambil hikmahnya saja, Ukur banyak membuatku belajar banyak tentang dunia jurnalistik yang hampir 2 tahun aku geluti, bahkan sampai detik ini. Mungkin ini yang disebut jalan hidup.

Akhirnya aku sanggupi untuk menemani Ukur ke Jakarta untuk Tugas Akhirnya, yang saat itu belum juga selesai, karena dia sedikit lebih santai dari aku. Tujuannya menemui Arie Basuki, seorang fotografer sebuah majalah yang cukup populer di Indonesia.

Sekitar pukul 21:30, setelah berpamitan kami pergi ke stasiun Kiaracondong, yang memang stasiun khusus pelayan para pengguna jasa KA kelas ekonomi. Ketika kami sampai, KA Serayu yang akan kami naiki memang masih belum sampai, karena jadwalnya memang masih beberapa jam lagi. Kami pun menunggu, karena loket penjualan tiketpun memang masih belum dibuka.

Sambil menunggu, kami berdebat mengenai masalah kecil yang menjadi besar karena tidak ada satupun dari kami yang mau mengalah, sampai akhirnya ketika loket mulai dibuka, sekitar lima belas menit sebelum keberangkatan, dengan terpaksa mungkin Ukur mengalah, karena dia harus pergi denganku yang dia anggap tahu banyak tentang Jakarta. Padahal sebenarnya biasa saja. Ukur pun mengantri bersama calon penumpang lainnya di loket, sedangkan aku menunggunya di depan loket. Sambil memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di depanku dengan bawaan mereka yang banyak.

Setengah duabelasan malam, KA yang kami tunggu akhirnya tiba. Para calon penumpang pun berhamburan memburu lokomotif warna Orange dan biru tua itu, yang rupanya menjadi ciri khas KA ekonomi. Kami masuk dari gerbong paling belakang, berharap menemukan kursi yang masih kosong untuk kami berdua. Berjalan perlahan diantara kursi-kursi yang berderet di sepanjang gerbong. Berpasang-pasang mata melihat kami dengan curiga, tapi ada juga yang acuh tak acuh bahkan, tak bergeming dengan mimpi mereka masing-masing.

Aku merasa asing, mungkin karena ini pertama kalinya aku menggunakan KA ekonomi selain KRD Padalarang-Cicalengka bersama temanku, itu pun karena kami ketinggalan KA KRD Patas, saat aku diminta menemaninya di rumah karena orang tuanya sedang di Bandung. Aku pun tak ingin kalah balik memperhatikan mereka, dengan dalih mencari tempat duduk yang kosong. Wajah-wajah itu berbeda dengan wajah-wajah yang sering kulihat di KA Parahyangan yang sering kunaiki ke Jakarta.

Aku perhatikan dengan seksama raut-raut muka itu. Aku rasakan perasaan-perasaan yang terlihat dari garis wajah mereka. Banyak pikiran di kepala mereka, beribu resah dan gelisah di setiap gerbong. Batinku tersentak, karena aku sadar betapa jelas sekat antara si miskin dan si kaya, dan hal kecil yang dapat dijadikan indikasi pengekelasan itu adalah pengkelasan jasa transportasi ini, Kereta Api. Begitupun mungkin dengan pesawat terbang ataupun bis, yang belum ku tahu pasti seperti apa.

“ Pak, kursinya masih kosong” tanyaku kepada seorang Bapak yang akhirnya duduk di sebelah Ukur. “Iya”, ketika aku melihat 2 kursi kosong bersebrangan di tengah gerbong itu, sedang Aku duduk bersama seorang laki-laki yang sebaya denganku sampai kami tiba di Jakarta. Beberapa menit setelah itu keretapun mulai melaju. Rasa dingin membuat ku ingin mengeluarkan urine dari tubuhku. Akhirnya, aku bergidik ke belakang gerbong, karena di sana ada toilet. Aku masuk ke ruang kecil itu, bau pesing membuatku ingin segera keluar. Niat itu semakin besar ketika aku melihat keran kering yang tak berair setetespun. Aku langsung berbalik dan kembali ke tempat dudukku, sambil berusaha menahan inginku itu.

Selang 30 menit-an, rupanya aku tidak sanggup lagi untuk menahannya. Ku ambil sebotol air mineral untuk minum yang akhirnya kugunakan untuk buang air kecil di toilet itu. Di dalam toilet, mataku masih berkeliling mengamati sekitarku. Aku tersentak ketika kulihat sebuah dompet yang tak berisi tergeletak di sudut toilet. Muncul pikiran burukku bahwa KA ini tidak aman, mungkin aku bisa menjadi sasaran berikutnya, dan ini membuatku lebih hati-hati menyimpan uang dan barang berhargaku lainnya. Temuanku itu kukatakan pada Ukur, tapi dia hanya tersenyum miris tanpa komentar.

Lega rasanya, akhirnya inginku terpenuhi. Setelah lelah berbincang, akupun tak kuasa menahan rasa kantukku, sehingga akhirnya akupun tertidur. Sesekali ku terbangun dan tidur lagi, jadi beberapa kali perhentian memang tidak aku perdulikan karana rasa kantukku yang teramat sangat, setelah siang harinya lelah beraktivitas. Begitu pun penumpang lain, kebanyakan mereka juga tertidur, walaupun ada saja yang masih asyik berbincang-bincang untuk mengisi perjalanan panjang di KA Serayu itu yang akan mengantarkan kami ke Stasiun Senen Jakarta.

Aku tidak tahu pasti berapa kali KA yang kami tumpangi berhenti. Rasa kantukku mengalahkan segalanya. Perjalanan itu tidak begitu terasa, seperti perjalanan pulang kami. Hanya rasa pegal kaki, pinggang, dan punggungku yang membuat aku berdiri beberapa kali untuk menguranginya. Akhirnya sekitar pukul lima pagi, KA yang kami tumpangi sampai di stasiun Senen. Saat itu masih gelap, maka kami putuskan untuk diam sejenak di stasiun menanti pagi sambil menikmati teh manis hangat yang dijajakan seorang wanita Jawa setengah baya setelah kami shalat Subuh di mushola stasiun itu.

Setelah matahari mulai terbit, sekitar pukul 6 pagi, kami mulai beranjak ke tempat tujuan kami, di mana Arie Basuki bisa ditemui, di sebuah bangunan di kawasan Velbag Jakarta. Singkat cerita, karena Ukur yang sok tahu, akhirnya aku mengalami menginap di stasiun, karena ternyata tidak ada KA yang ke Bandung malam itu, kami telat setengah jam dari jadwal pemberangkatan KA terakhir yang menuju Bandung. Bahkan di Stasiun Gambir pun baru ada keesokan harinya. Jadi tidak ada hal lain yang bisa kami lakukan selain menyerah pada keadaan.
Aku kesal pada temanku ini, rasanya ingin marah, tapi apa boleh buat, aku juga harus ikut menanggung kesoktahuannya ini. Kami pun tidur di Kursi stasiun yang keras itu yang berada di dekat pos jaga Kepala Stasiun, karena menurut mereka, di situlah tempat yang paling aman dari kejahatan. Dingin dan berkali-kali gigitan nyamuk terus menyerangku. Rasanya aku ingin menangis dan hal itu membuatku sangat merindukan kamarku. Aku ingin pulang, aku rindu hangatnya selimutku, empuknya bantal dan kasurku, dan nyamannya badanku yang pulihkan semua lelah yang terasa. Tidurku jauh sekali dari nyenyak. Berharap pagi segera datang dan aku dapat segera kembali ke Bandung.

Akhirnya adzan Subuhpun berkumandang, kami memutuskan untuk membersihkan badan , shalat dan mencuri kesempatan untuk memejamkan mata di mushola yang berada di stasiun itu, sampai seorang ibu berlogat jawa membuatku terjaga, setengah mengusirku dengan melipat tikar yang dipasang di mushola itu. Aku bangun dengan rasa malu, berharap dia memaklumi keadaanku.

Setelah cuci muka, kami keluar stasiun, mencari makan untuk mengisi perut, karena di stasiun kami tidak menemukan yang ingin kami makan saat itu. Ketika kami berniat untuk masuk kembali ternyata pintu masuk ke stasiun dikunci, dan menurut informasi yang kami dapatkan dari seorang pria berseragam Departemen Perhubungan, pintu baru dibuka lagi setengah jam sebelum KA datang ke stasiun Senen. Akhirnya kamipun terpaksa menunggu di selasar stasiun sambil mendengarkan musik dari earphone yang tertancap di tape recorder yang Ukur bawa untuk wawancara.

Sekitar jam delapan pagi akhirnya loket di buka. Para calon penumpang pun menyerbu loket untuk membeli tiket, termasuk Ukur yang terlihat bingung mencari loket yang harus dia antri. Setelah mendapatkan tiket, ia kembali, dan langsung mengajakku masuk ke pintu masuk stasiun yang sudah dibuka. Aku ikuti langkahnya, dan kami mencari tempat strategis untuk menunggu kereta yang akan kami tumpangi kembali ke Bandung. Kami tidak ingin tertinggal, dan harus menginap lagi di stasiun, terutama aku. Satu malam cukup untukku merasakan pengalaman yang menyedihkan ini.

Beberapa jam kemudian, setelah kami kehabisan akal untuk menunggu, kami menghibur diri dengan bercakap-cakap tentang hal-hal konyol untuk mengisi waktu, yang membuat kami bisa tertawa. Sekitar pukul 11 siang barulah Kereta yang akan mengantar kami ke Bandung sampai. Para calon penumpang yang asalnya bersantai menunggu dengan segala ekspresi, setengah berlari menyerbu kereta itu. Kami pun masuk ke dalam kereta. Ternyata keadaannya jauh berbeda dengan ketika kami pergi. Karena kami naik dari tujuan akhir, dan tempat pemberangkatan pertama, kali ini kami bebas memilih tempat duduk kami. Sampai kami sempat berpindah-pindah tempat duduk sebelum KA melaju.

Sengaja kami cari gerbong yang sudah terisi penumpang, agar kami merasa aman. Setidaknya ada teman yang dapat kami lihat dan kami dengar selama di perjalanan. Duduklah kami di pilihan tempat duduk terakhir kami, seberang sepasang kakek nenek, yang obrolannya tak pernah habis, yang terhenti hanya ketika mereka makan atau salah satunya tertidur. Terkadang kamipun ikut tertawa jika ada yang lucu dari obrolan mereka.
Sepuluh menitan kami menyamankan diri untuk duduk di kursi itu. Tapi dari awal, pedagang asongan tidak pernah henti hilir mudik menjajakan barang dagangan mereka, mulai dari minuman, makanan, sapu tangan, sampai mainan anak-anak yang konon hanya dijual di ‘Jakarta Fair’.

Mereka datang dengan berbagai gaya, dengan beragam cara penjajaan. Dari yang tenang sampai yang menegangkan urat lehernya menawarkan barang dagangannya kepada para penumpang termasuk kami. Mereka berkeliaran dengan bebas di KA. Tidak seperti di KA Parahyangan yang sering kunaiki, dimana hanya dari pihak KA yang bisa berjualan hilir mudik menawarkan makanan, minuman, atau bacaan untuk disewakan. Yang dengan fresh dan cepat melayani para penumpang KA kelas bisnis itu.

Lain halnya dengan kereta api yang kami tumpangi ini, petugasnya berkostum beladus dengan raut muka yang lelah dan kusut menawarkan nasi goreng, mie rebus, teh manis, kopi dan sebagainya sambil membawa catatan pemesanan kepada penumpang. Seperti lelah yang tiada hasil, karena kebanyakan penumpang tidak memperdulikannya. Pedagang asongan tetap lebih mendominasi, sehingga teriakannya kalah oleh mereka saat menawarkan barang daganganya.

Awalnya kami tidak merasa begitu terganggu sampai akhirnya datang segerombolan pengamen, pengemis, tukang sapu dari penghentian stasiun. Kebanyakan mereka meminta dengan paksa. Tapi apa boleh buat, kami memang tidak punya uang kecil, sampai untuk membuat mereka pergi, kami berikan rokok dan makanan yang kami punya kepada mereka.

Mereka tidak beretika sama sekali, bahkan saat kami tertidur pun mereka tidak menghiraukannya, dengan membangunkan kami sampai kami terbangun dan memberikan sesuatu kepada mereka. Bahkan parahnya lagi, ada pengamen yang mengancam akan mengambil barang kami, jika kami tidak memberikan uang kepada mereka. Padahal mereka masih muda, dan bisa mendapatkan uang dengan jalan lain selain cara yang tidak terpuji itu.

Hal itu sempat membuat kami merasa kesal, dan menyesalkan tidak adanya pihak keamanan dari KA yang menertibkan para pengamen atau profesi lain yang sebenarnya hanya mengaharap imbalan rela dari penumpang, bukan memaksa, apalagi mengancam. Yang kami tahu mereka bukan orang yang baik, dari tato, anting, dan aksesori yang mereka pakai, apalagi bau alkohol dari mulut mereka, dan itu jelas meresahkan kami sebagai penumpang KA. Untung tidak terjadi apa-apa, kalau sampai terjadi sesuatu nama PT. KAI juga yang akan tercemar, karena menjadi tempat beroperasinya kejahatan yang memang dapat terjadi dimana saja.

Hal itu membuat kami merasa semakin tidak nyaman, jangankan untuk tertidur nyenyak , untuk duduk dengan tenang pun rasanya sulit. Setidaknya sampai kami tiba di stasiun Padalarang. Setiap KA berhenti, kami harus siap-siap “Akan ada apa lagi sekarang?” . dan perhentian untuk KA ekonomi ini memang bukan perhentian yang sebentar, sehingga untuk jarak Bandung-Jakarta yang dengan KA Parahyangan yang dapat ditempuh dengan waktu tiga setengah jam paling lama, menjadi hampir 7 jam, yang disebabkan oleh perhentian yang terlalu lama hampir di setiap stasiun, dan juga kecepatan yang memang lebih lambat dari KA kelas bisnis. Lagi-lagi kelas yang menjadi pembeda, dan itu sebuah realitas yang memang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan kita.

Walaupun demikian penumpang KA ekonomi ini selalul ada, mereka tetap menjadi pelanggan setia. Karena mungkin hanya tiket KA kelas ekonomilah yang bisa mereka beli dengan uang mereka. Mereka jarang ada yang mengeluhkan ketidaknyamanan yang mereka rasakan dalam KA ini, karena mereka memang ‘merasa’. Hanya sebagian kecil penumpang saja yang berani mengeluhkan kenyamanan mereka di KA ekonomi ini. Seperti masalah kebersihan, keterlambatan, toilet, ataupun kaca pecah yang membuat genangan air sewakti hujan, serta gangguan keamanan lainnya yang meresahkan.

Mengapa penumpang KA ekonomi dimarginalitaskan? Minimal kebersihan dan toilet yeng memang diperlukan, apalagi untuk rute perjalanan yang lumayan jauh seperti Jakarta-Kroya ini. Mereka juga manusia yang harus dilayani, karena mereka juga membayar, walaupun uang yang mereka berikan tidak sebesar yang penumpang kelas bisnis atau bahkan penumpang kelas eksekutif.

Dengan adanya penghargaan yang diwujudkan dengan pelayanan yang baik dari pihak KA, maka penumpang yang menjadi pelanggan setia ini akan mencintai KA, karena mereka merasa tergantung dengan alat trasportasi ini. Dengan begitu akan terjalin suatu simbiosis mutualisme antara penumpang KA ekonomi dengan perusahaan Kereta Api ini. Karena penghargaan yang kita berikan akan terefleksikan dengan penghargaan yang orang berikan kepada kita. Dengan begitu Perusahaan. KAI akan menjadi perusahaan dibesarkan oleh pengguna jasanya, karena mampu menghargai manusia dengan manusiawi. ***
Tulisan ini pernah diterbitkan di ‘KONTAK’

Dibalik Sosok Seorang Remy Sylado

Posted by: Irma Essanovia on: Saturday, 6 September, 2008

Remy Sylado. Siapa yang tak kenal pria yang usianya lebih dari separuh baya ini. Lewat karya-karyanya yang sudah tak terhitung jumlahnya, mulai dari novel, karya teater, puisi, dan sebagainya. Karya-karya yang menuntut kreativitasnya di bidang sastra. Dengan kepekaannya terhadap fakta yang tepat dalam novel-novel karyanya. Untuk Setting cerita yang dibuatnya, seperti waktu dan tempat yang membalut cerita itu dengan menarik dalam novel-novelnya.

Sebut saja Kembang Jepun, cerita tentang geisha yang sangat terkenal di Surabaya itu. Lengkap dengan tahun-tahun ketika terjadinya permesta di Makasar dan lain-lain yang terdapat dalam alur cerita yang dibuatnya itu sampai yang terakhir yakni ‘Sam po Kong’ tentang Cengho yang berlatar tahun sejarah abad ke-15 ini direka dengan dongeng yang dituturkan dari mulut ke mulut. Begitupun dengan Ca Bau kan, dan karya-karya lainnya yang kebanyakan memang merupakan perpaduan antara fakta dan fiksi yang menjadi satu karya yang disenangi pembacanya. Semua karya-karyanya itu mempunyai unsur sejarah yang kental yang dipadukan dengan tokoh-tokoh nyata atau imajiner, sehingga membuat novel-novelya begitu menggigit.

Fakta dan fiksi baginya merupakan satu hal yang memang bisa dipisahkan. Penulis, sekaligus seniman ini memang termasuk penulis yang tidak akan berani menulis sesuatu jika ia tidak yakin akan hal itu, maka sebelum ia menulis ia akan melakukan riset terlebih dahulu terhadap apa yang akan dituangkannya kedalam karya-karyanya. “Kalau saya belum yakin, tidak akan saya tulis.” Saat ia ditanya seberapa jauh keakuratannya akan novel-novel gaya history yang ditulisnya.Karya-karyanya itu kita membuat kita kagum akan kehebatannya dalam berimajinasi dan juga kegigihannya dalam mencari fakta.

Nama aslinya Yapi Tambayong. Dalam kiprahnya sebagai seniman dan juga penulis ia mempunyai dua nama lain yakni Remy Sylado dan Alif Dinya Munsyi. Nama remy sylado ini berasal dari chord ‘And i love her’ the beatless pada lirik awal yang berbunyi “I’ll give her all my life…’ yang lebih dikenal dalam sepak terjangnya di dunia seni dan juga sebagai penulis novel. Nama keduanya Alif Dinya Munsyi merupakan nama keduanya sebagi penulis buku-buku sastra yang lebih teoritis. Bukan tulisan sebagai karya kreatif seperti novel-novelnya yang dicap sebagai karya Remy Sylado. “Jika saya menulis kebahasaan, linguistik, tata bahasa, masalah sastra sebagai teori bukan sebagai karya kreatif pake nama Alif Dinya Munsyi” ujarnya, tanpa memberikan alasan spesifik tentang penggunaan nama itu.

Perjalanan hidup pria kelahiran Makasar di masa-masa kemerdekaan ini sudah cukup panjang. Sudah terbilang lama pula ia bergelut di bidang sastra. Saat usianya 16 tahun ia sudah menulis novel pertamanya yang bersetting sejarah saat kedatangan Spanyol di Makasar. Novel yang berjudul ‘Inani Keke’ ini baru diterbitkan saat ia menginjak usia 18 tahun. Sebuah prestasi yang cukup luar biasa. Remaja dengan kepekaan terhadap sejarah yang menjadikan karya sastra lebih bernilai, walaupun jika dilihat saat ini, banyak sekali penulis yang lebih muda dari usianya saat itu yang sudah menghasilkan karya-karya yang memang lebih ringan dibandingkan novel Remy Sylado yang berbau sejarah di usianya pada masa itu.

“Bagus, jangan dihukum, sebab mereka baru mulai ko dihukum, kita harus melihat saja, melihat dia sebagai kenyataan, nanti dia akan berkembang” jawabnya ketika ditanya tentang penulis-penulis muda yang bermunculan akhir-akhir ini dengan gaya yang berbeda dengannya. Salah jika orang menyangka ia mempunyai penilaian negatif pada anak-anak muda asal Indonesia yang sekolah ke luar negeri dari novel ‘Menanti Pagi di Melbourne’. Padahal sebetulnya ia mengangkat itu untuk membuat mereka yang beruntung mengecap pendidikan di luar negeri betul-betul menggunakan kesempatan itu dengan sungguh-sungguh. Menimba ilmu yang dapat dimanfaatkan untuk memajukan bangsanya ketika ia pulang ke Indonesia. Bukan malah menyerap nilai-nilai budaya luar yang negatif untuk ditularkan ketika ia kembali.

Ketertarikannya di dunia tulis menulis memang sudah muncul sedari kecil. Ia gemar membaca buku beraneka jenis. Dari buku-buku yang dibaca itulah ia mempunyai keinginan untuk menjadi penulis. Ingin tulisannya dapat dibaca orang, seperti ia membaca karya-karya penulis itu. Sebagai seorang penulis, ia sangat menikmati saat-saat dimana ia mengumpulkan dan mencatat apa saja yang ia temukan. Ia juga gemar untuk membaca apapun. Karena memang penulis yang baik adalah pembaca yang baik, begitupun sebaliknya. Dengan kegemarannya itu ia mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman.

Pengalaman yang membuatnya lebih kaya ilmu dan serba tahu. Bahasa Arab, Ibrani, Mandarin, dan Yunani juga sempat ia pelajari di Seminari Theologia Baptis di Semarang. Pengtahuannya terhadap bahasa-bahasa itu ternyata menjadi bekalnya dalam melakukan riset penelusuran sejarah untuk buku-buku yang sudah, sedang dan akan ditulisnya. Bukan hanya bahasa Asing, bahasa Sunda, jawa, Minahasa, dan bahasa daerah lainnyapun ia kuasai. Termasuk logat-logatnya. Maka jangan heran jika ia juga bisa menyanyikan lagu daerah dengan ahlinya. Begitupun dengan menirukan kata-kata dari bahasa daerah dengan logat-logatnya yang khas.

Namun ternyata ia juga manusia biasa yang juga mempunyai kekurangan. Tak semua karyanya berhasil dengan mudah ia lahirkan. Cepat ia buat, seperti kebiasaanya saat bekerja sebagai wartawan di Semarang, Bandung, dan Jakarta dalam menepati deadline tulisan-tulisannya yang akan dimuat di media tersebut. Sebut saja Kembang Jepun yang awalnya merupakan cerita bersambung di sebuah koran harian di Surabaya yang menjadi sebuh novel. juga media-media cetak lainnya baik harian dan majalah yang kerap kali memampang tulisan-tulisannya. “Novel yang paling lama ‘Agonia Cinta Monyet’, sudah 2 tahun enggak kelar-kelar, bosen saya.” Kenangnya tentang novel yang belum juga diselesaikkannya. Penulis sekaliber Remy pun bisa mengalami hal itu. Mentok saat sedang menulis.

Karya keratif tidak pernah lepas dari inspirasi. Menurutnya inspirasi itu dibuat sendiri, sehingga melahirkan karya-karya yang memenuhi daftar prestasinya, baik sebagai aktor, pelukis, maupun penulis. Dalam berkreasi ia memang memadukan semua ilmu dan pengetahuan yang ia miliki. Baik yang didapatkannya di akademik maupun dari buku-buku, majalah, jurnal, atau bahakan arsip yang didapatkannya. Itu yang membuat visinya tercapai. Berkarya dan karyanya dapat dinikmati orang. Untuk tulisan, tulisannya bisa dibaca orag. Untuk teater dan aktingnya ia ingin itu dapat dinikmati orang, begitupun dengan lukisan yang dihasilkannya.

Selain kesibukannya sebagai penulis dan seniman ia masih juga menjadi aktor di dunia sinematografi Indonesia. Namun kini, profesinya sebagai aktor tidak terlalu kentara. Alasannya memang karena ia lebih selektif dalam memilih peran dan cerita. Banyak tawaran yang ia tolak karena menurutnya banyak cerita-cerita sampah. Tapi ada satu yang ia pilih, dan itu belum tayang. Rencananya akan ditayangkan di RCTI. Kita tunggu saja aktingnya, dan kita lihat cerita seperti apa yang bagus menurut versinya untuk sebuah karya sinematografi Indonesia. Semoga bisa menjadi acuan untuk para sutradara, produser atau insan-insan perfilman maupun sinematografi. Agar dikemudian hari mereka bisa menghasilkan karya-karya yang lebih berbobot, berisi untuk membuat penontonnya lebih maju, bukan malah mundur ke puluhan tahun silam. Karena menatap masa depan akan lebih berharga dibandingkan melihat terus ke belakang dan tidak berbuat apapun untuk masa yang akan datang.

Untuk teater yang dipimpinnya ia memadukan sastra dengan teater, karena menurutnya teater tidak akan ada tanpa ada sastra. “Karena teater saya adalah teater yang berorientasi kepada sastra.” Tuturnya mengenai teater yang dipimpinnya yang sudah melangsungkan pertunjukan sebuah drama musik di gedung kesenian jakarta 27-28 Agustus 2005 lalu dengan sukses. Drama musik tentang kisah Ceng Ho. Yang bukunya pada waktu itu baru saja diluncurkan. Momen yang menyibuka tentu saja. Namun ia tetap menjalaninya,karena baginya hidup adalah bernafas. “Aktivitas dalam 24 jam yaitu bernafas, karena saya bergerak terus.” Ia terus berkreativitas. Menghasilkan karya-karya untuk dipersembahakan bagi para penggemarnya maupun masyarakat Indonesia pada umumnya.

Ia yang masih menjadi penduduk kota kembang ini masih betah di Kota rantauannya ini. Namun ia menyayangkan kondisi Bandung sekarang ini yang selalu macet. Udara Bandung sekarang juga ia rasakan lebih panas dibandingkan pertama kalinya menginjakan kaki ke Bandung sampai akhirnya ia menjadi dosen di Akademi Sinematografi Bandung. “Matahari aja ada berapa di Bandung, ada yang di Cihampelas,…..” Selorohnya menyamakan matahari yang di Atas dengan matahari yang menjadi raja perusahaan retail di Indonesia sambil diiringi tawa renyah yang diikuti para wartawan yang mengelilinginya ketika usai bedah buku ‘Sam Po Kong’ di Bandung beberapa waktu yang lalu.

Remy juga merupakan seorang sosok religius. Ia tak pernah lupa untuk menyebut nama Tuhan dalam setiap kesempatan. Membuat masuk surga adala cita-cita yang tak pernah diubahnya dari dahulu sampai sekarang. Bahkan ketika ditanya moto hidupnya, dengan ringan ia menjawab “Hidup jangan sakit-sakitan, uang harus kira-kira bisa untuk beli obat jika sakit, lantas mati masuk surga.” Ujarnya yang semakin terburu-buru karena ada urusan lain yang tidak bisa ia tunda dengan berlama-lama meladeni kami.

Sosok seorang Remy Sylado mungkin bisa kita teladani. Manusia sederhana yang dengan kesaderhanaanya itulah ia berkreasi. Dengan kegemarannya membaca dan menulis, serta mempelajari segala hal membutanya semakin kaya wawasan dan pengetahuan. Namun dengan segunung prestasi dan kepintaran yang dimilikinya itu, baik sebagai penulis, aktor, maupun pelukis ia tetap seorang manusia yang rendah hati, sehingga dengan ramahnya melayani permintaan dan menjawab pertanyaan dari para penggemar maupun wartawan yang selalu saja penasaran dengan sosok pria berambut putih ini. Pria yang selalu tampil dengan kostum berwarna putih dalam berbagai kesempatan.***

Tulisan ini pernah terbit di majalah Bandung & Beyond.

Prospek Dunia Buku Indonesia dan Strategi Melejitkannya

Posted by: Irma Essanovia on: Saturday, 6 September, 2008

Toko Buku yang kian diminati

“Buku adalah Jendela Ilmu dan Membaca Adalah Kuncinya’

Tak bosan-bosannya guru-guru kita mengingatkan hal itu. Agar anak didiknya mau membaca. Bahkan dalam islam membaca itu adalah ibadah. Dengan membaca kita dapat mengetahui alam semesta yang luas ini. Kita menjadi tahu isi bumi dari yang terbesar sampai terkecil. Bahkan keajaiban-keajaiban perilaku alam yang menakjubkan yang menunjukan kebesaran Tuhan. Kita dapat melihat dunia lebih dekat dengan imajinasi yang dahsyat dengan membaca. Betapa beruntungnya orang yang suka membaca karena banyak hal yang ia tahu lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tak gemar membaca.

Salah satu bacaan itu adalah buku. Dengan buku itulah kita bisa menyelami berbagai macam ilmu. Mulai dari ilmu alam, ilmu sosial, ilmu bahasa, ilmu agama, Teknik dan banyak lagi. Apapun yang ingin kita tahu kita dapat menyelaminya lebih dalam dengan membaca buku. Walaupun kini media elektronik juga semakin canggih tetap saja buku lebih unggul dibandingkan yang lainnya. Hal itu terjadi karena buku jelas mengupas lebih dalam mengenai suatu topik. Dalam buku dijelaskan secara sistematis mengenai topik yang menjadi bahasan utama dari karya tulis tersebut. Buku juga dapat selalu kita baca dan baca lagi tidak seperti media elektronik yang hilang seketika itu juga kecuali jika penonton atau pendengar meminta diulang baru ada kemungkinan ditayangkan atau diputar kembali.

Jika buku itu bersifat mendidik maka akan mudah bagi kita yang sedang menyelami ilmu yang terdapat dalam buku itu untuk kembali mengingat jika lupa dengan membuka kembali lembar demi lembarnya. Jika buku itu bersifat memotivasi atau menghibur, maka buku itu bisa selalu menjadi obat yang manjur untuk menghilangkan perasaan-perasaan negatif yang ada dalam diri. Atau bahkan menjadi hiburan yang paling mangasyikan. Membuat pembaca seakan punya dunia sendiri yang tidak bisa dibagi dengan yang lain. Maka tak jarang kita melihat orang yang tiba-tiba tersenyum atau bahkan tertawa ketika ia sedang membaca suatu buku. Membuat kita penasaran untuk menelisik dan ingin tahu buku apa yang sedang dibacanya, bahkan penasaran ingin membaca buku tersebut. Satu keuntungan untuk penerbit tentunya.

Walaupun berbagai data yang didapat dari berbagai survey menyataan bahwa daya baca masyarakat kita rendah yang menjadikan sebuah stigma bahwa buku tidak laku dijual di Indonesia dapat kita patahkan. Para penerbit tidak usah khawatir karena banyak jalan yang bisa dicapai agar buku bisa menjadi selebritis dalam dunia bisnis. Buku memiliki prospek yang cerah tentunya. Kita bisa membuat orang lebih banyak membaca buku dan membuat buku sebagai kebutuhannya. Sehingga usaha penerbitan buku tidak hanya bergantung pada buku-buku literatur atau buku pelajaran saja yang selama ini pasti laku di pasaran karena memang pasarnya sudah jelas. Tinggal menghitung jumlah sekolah, jumlah siswa, jumlah universitas dan jumlah mahasiswanya, setelah itu tinggal bagian promosi dan pemasaran yang bertarung maka selesailah dengan hitungan matematis kalkulasi modal dan keuntungan.

Ada beberapa hal untuk menyiasatinya. Bagaimana agar buku tidak hanya menjadi sebuah kebutuhan sebagai buku pegangan saja yang pada kenyataannya memang hanya dipegang saja bukan dibaca. Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu melihat dengan mata terbuka dari berbagai sisi dan tentu saja dari berbagai sudut pandang yang berbeda untuk melihat apa yang terjadi di masyarakat. Kemudian menyingkapi dengan melihat gejala yang ada di masyarakat untuk menyelami apa sebetulnya yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Karena kecenderungan yang terjadi masyarakat Indonesia bahwa mereka hanya ingin membaca buku yang sesuai dengan kebutuhannya akan informasi yang ingin diketahuinya saja. Sehingga mereka mencari buku yang berkaitan untuk mengetahui lebih dalam mengenai topik tersebut.

Kedua Penerbit harus jeli mencari penulis-penulis sesuai dengan bidang-bidang yang dibutuhkan masyarakat tersebut. Penulis yang betul-betul tahu banyak akan bidangnya, bukan setengah-setengah, sehingga buku itu benar-benar mencerdaskan pembaca, bukan malah sebaliknya. Karena pada akhirnya justru akan menjadi bumerang bagi penerbitnya. Tidak hanya ahli dibidangnya, tapi ia juga pandai bertutur dalam tulisan, sehingga ketika pembaca membaca bukunya proses transfer ilmu dari penulis pada pembaca dapat benar-benar terjadi. Penulis benar-benar bisa membahasakan apa yang ada di pikirannya dengan pembaca sehingga pembaca merasa sekan ia sedang berbicara dengan penulis secara personal. Sehingga di sini keterampilan penulis harus selalu diasah sehingga tulisan-tilisannya bisa menyentuh si pembaca. Ini termasuk salah satu yang menyebabkan banyak pembaca yang fanatik terhadap karya seorang penulis. Ketika ia sudah merasa nyaman dan ketagihan berbicara dengan penulis tersebut melalui buku, maka setiap buku yang ditulis penulis tersebut pasti ia beli berapapun harganya. Masuklah kuntungan itu ke tangan penerbit-penerbit yang pandai menggaet penulis bermutu tersebut.

Ketiga, istilah don’t judge a book from its cover itu ternyata tidak berlaku di kalangan masyarakat Indonesia, karena cover justru yang pertama kali mereka lihat. Kesan pertama yang membuat mereka ingin melihat lebih dekat, membuat mereka penasaran dan akhirnya mencoba membacanya. Oleh karena itu penerbit juga harus mencari para designer yang dapat menghasilkan cover yang menarik sedemikian mungkin termasuk lay out bagian dalam buku yang mudah dibaca dan menimbulkan rasa senang pembaca ketika pembaca membacanya. Dipastikan ini juga membuat pembaca ketagihan membaca buku.

Selebihnya seringlah berpromosi dan memperluas pasar. Biarkan semua orang tahu buku-buku berkualitas yang sudah kita buat. Percaya atau tidak pembicaraan dari mulut ke mulut tetap lebih dahsyat dibandingkan dengan iklan yang kita buat. Ide lakukan hal kecil untuk mendapat hal besar bisa dilakukan dalam strategi berpromosi dan pemasaran ini. Jadikan karyawan-karyawan perusahaan sebagai agen promosi kita. Setiap orang memiliki tugas mempromosikan minimal 1 buku saja setiap hari kepada orang yang berbeda. Dalam 1 bulan berapa orang yang tahu buku-buku bagus yang kita hasilkan itu? Berapa orang yang tertarik dengan buku itu? Berapa orang yang membeli buku itu? Pastilah buku melejit di pasaran, khususnya Indonesia.***

Daripada ga dapet kerja mending ga dapet gelar

Posted by: Bima Novardiaz on: Monday, 25 August, 2008

grab from pilihangue.com

grab from pilihangue.com

Siapa sih yang blom pernah liat iklan A mild versi “Gelar” di TV? Saya yakin Anda sudah pernah melihatnya di stasiun TV kesayangan Anda.

Iklan ini menceritakan tentang segerombolan Pemuda-pemudi yang sedang berenang di lautan menuju sebuah pulau kecil yang hanya dihuni seonggok Toga yang BESAR sekali. Lalu ada salah seorang Pemuda dari mereka yang melirik ke sebuah pulau kecil yang hanya berisikan sebuah pohon kelapa. Pemuda itu pun merubah haluannya menuju pulau yang berpenghuni sebuah pohon kelapa itu sembari menjauhi kerumunan. Sesampai di sana Pemuda itu binggung melihat pohon kelapa sembari menggaruk-garuk kepalanya. Tak lama, Pemuda itu mendapat ide, Ia alih fungsikan pohon kelapa itu menjadi sebuah Banana Boat, dengan tarif 50 ribu sekali naik. Melihat kejadian itu, para Pemuda-pemudi yang telah sampai di pulau “Toga” tadi cuma bisa bengong!

Cerita yang amat-sangat simpel tapi mempunyai makna yang dalem banget (itulah A Mild). Saya pun bergegas mem-voting di website yang dimaksud. Dan ga kaget sih, melihat hasil voting “Gelar Dulu” sebanyak 24% dan “Kerja Dulu” sebanyak 76%, hari gini ga dapet kerja…?!

Tapi cobalah kita tela’ah lebih dalam, ada suatu pemikiran yang salah akan hal ini, yaitu: “Ga peduli otak pintar ato bodo! yang penting perut bisa kenyang!”. Oh My Gosh…, Apa yang terjadi dengan Bangsaku, Indonesiaku…. Akankah 5 tahun kemudian yang mem-voting “Kerja Dulu” akan mencapai angka 100%? Lalu apa yang terjadi dengan Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia 5 tahun kemudian? ga ada peminat? Apakah 5 tahun nanti Indonesiaku hanya akan berisikan manusia-manusia pekerja dengan ilmu yang dangkal?

Siapa yang salah? (Maaf) Pemerintah!

Solusi? Buka lapangan pekerjaan yang sebanyak-banyaknya! Agar ilmu yang Kami punya tidak sia-sia!

NB: Hei para SatPol! Jangan Kau pukuli para gelandangan di perempatan itu, bukankah itu yang majikanmu inginkan dari mereka? Mereka diajarkan bagaimana menjadi seorang pengemis dengan cara diberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Kau kira dengan menerima BLT Mereka akan menganggapmu sebagai seorang yang dermawan? Dan ternyata itu kedokmu, di balik itu semua Kau hanya ingin Korupsi di Tanah Air ini semakin menjadi-jadi! Kau beri kesempatan para pejabat untuk berkorupsi ria, dasar Anji@*!!!

Tidak! Kami tidak butuh belas kasihanmu! Yang Kami butuh hanya hak Kami untuk mendapatkan pekerjaan! hidup yang layak! Uang-uangmu itu memang sudah selayaknya menjadi hak Kami, tapi bukan dengan cara itu Kami menerimanya.

Thanks to A Mild! Apa jadinya Indonesia tanpa (rokok) A Mild?

Komedi Gratisan

Posted by: Irma Essanovia on: Thursday, 14 August, 2008

grab from media.rd.com

grab from media.rd.com

Banyak kegilaan dalam hidup ini yang bisa kita alami. Bahkan tanpa disadari itu lucu untuk orang lain. Selang beberapa lama baru kita sadari betapa konyolnya kita… Tapi justru itu yang membuat orang-orang senang berlama-lama dengan kita. Senang mengenal kita lebih dalam. Karena semakin hari kegilaan-kegilaan itu semakin merajalela tentunya. Komedi gratisanlah jadinya. Ngundang komedian aja bayar, lah ini gratisan, siapa yang nolak? ;D

Menurut survey, tertawa bisa membuat orang awet muda. Jadi gak perlu bedah plastik atau suntik botox sana sini biar gak cepet tua. Deketin aja orang-orang yang ber-tipe seperti ini. Nah! sebenernya kita nggak perlu kok susah-susah nyari sana-sini, karena di setiap pribadi manusia itu tersimpan sebuah potensi untuk melakukan kekonyolan yang bisa gila segila-gilanya. Coba inget-inget lagi… Selama kamu hidup, pasti kamu pernah melakukan kekonyolan yang sumpah bisa bikin kamu sendiri tertawa ngakak klo inget itu.

Berani buat pengakuan?? ;)

Tujuh Tips Bijak Berbelanja di FO

Posted by: Irma Essanovia on: Wednesday, 13 August, 2008

photo by Rully Satriadi suarapembaruan.com

photo by Rully Satriadi suarapembaruan.com

Berburu busana, memang melelahkan. Tapi, terus terang mengasyikkan. Bagi anda yang senang dengan memilah-milah busana yang unik, berlama-lama di sebuah Factory Outlet (FO) ibarat pelesiran. Perkara kocek, ah baju-baju di FO, kan tidak semahal di Plaza Senayan. Tapi, hellow..Bahan Bakar Minyak (BBM) baru saja naik, berhematlah! Berburulah dengan bijak. Jangan sampai baju-baju yang anda beli, cuma sekali pakai atau terbuang percuma.

Ada beberapa tips yang akan saya berikan pada anda. Hal ini berdasarkan pengamatan saya selama menjelajahi Factory-factory outlet di Jalan Riau. Semoga bisa mengawal perburuan anda dengan bijak:

Pertama, sebelum berangkat tentukan terlebih dahulu busana apa yang akan anda beli. Jika perlu, buatlah daftarnya secara rinci. Buat skala prioritas. Membiarkan diri anda pergi tanpa rencana yang jelas, sama saja dengan bunuh diri. Tentukan, anda membeli busana untuk siapa? Ukurannya berapa? Modelnya seperti apa? Dan untuk apa? Semakin jelas daftar yang anda buat, acara berburu anda akan lebih terarah. Anda tidak akan tersesat di antara banyak pilihan tumpukan-tumpukan busana.

Kedua, pastikan anda pergi ke FO yang tepat. Ada banyak sekali FO-FO di sepanjang jalan Riau (Dago atau Pasar Kaliki). Membuang bensin mobil suami anda atau pacar anda saat ini adalah sia-sia. Tentukan dua atau paling banyak tiga FO, yang akan anda kunjungi. Informasi ini bisa anda cari tahu dari rekan-rekan yang pernah berbelanja sebelumnya. Atau, dari pengalaman anda sendiri saat memutari FO-FO di Bandung. Jangan sampai anda salah masuk, membuang waktu percuma, karena tidak mendapatkan busana yang anda cari.

Sebagai informasi, setiap FO memiliki kecenderungan yang berbeda satu sama lain Anda mencari baju anak? de’Coral, dan China Emporium, dapat menjadi pilihan. Baju-baju anak yang modis dapat anda temukan di tempat-tempat ini. Jika anda ingin baju-baju yang terkesan glamour, The Summit, Oase, dan Heritage tempat yang tepat. Untuk baju laki-laki, Heritage memberi banyak pilihan. Dari mulai kaos, kemeja, polo shirt sampai jaket dengan berbagai bahan.

Jika anda berburu celana jeans, tengok Oase. Di sini banyak sekali jenis dan model celana jeans. Bahkan anda dapat memilih bahan dan menjahit langsung sesuai dengan model yang anda inginkan. Di luar urusan pilihan busana, pastikan pula anda berada di FO dengan fasilitas pendukung yang lengkap. Seperti arena bermain anak, tempat ibadah, toilet, dan kantin/kafe.

Ketiga, persiapkan dan hitung dengan matang budjet yang akan anda belanjakan. Diskusikan dengan suami, kakak, pacar tercinta anda soal budjet yang akan anda keluarkan untuk anda. Ingat, mengutamakan dapur mengepul lebih baik, ketimbang menumpuk koleksi busana.

Membawa terlalu banyak uang, berbahaya jika anda termasuk tipe “lapar mata”. Selaraskan dengan daftar busana yang akan anda beli. Jangan terlena dengan diskon yang banyak ditawarkan. Cukup catat, siapa tahu anda akan kembali lagi di kemudian hari. Diskon di sana berlangsung setiap saat, jadi jangan terlalu khawatir.

Jika terlanjur terpincut diskon, aha! Ini tips keempat, pasang mata anda baik-baik. Perhatikan detil-detil busana yang anda pilih. Rapihkah jahitannya? Apakah ada bekas bolong? Presisikah ujung baju belakang dan depan? Semakin cermat anda memilih, dijamin anda tidak akan kecewa begitu sampai ke rumah.

Selain itu, tentu saja jangan lupa tips kelima, pastikan anda mencoba busana yang akan anda beli. Jangan sampai kekecilan atau terlalu besar. Suatu model memang menarik, tapi jika ukuran tidak anda indahkan, anda bakal terlihat ‘lucu”. Tips ini pun mesti anda perhatikan jika hendak membeli busana untuk orang lain. Pastikan anda tahu seperti apa ukuran tubuhnya, dan model yang cocok baginya. Karena, barang yang sudah dibeli rata-rata tidak bisa dikembalikan atau ditukar.

Bagi anda yang datang berombongan, pastikan bus atau mobil anda terparkir di tempat yang tidak terlalu jauh. Agar semua orang dalam rombongan dapat mencapainya dengan mudah. Batasi waktu belanja rombongan anda hingga satu atau dua jam saja. Jika terlalu asyik belanja, sebagian rombongan akan menunggu, dan kemungkinan rombongan terpisah, bakal terjadi. Ini tips keenam.

Terakhir dan yang tak kalah penting. Buat catatan kecil setelah anda selesai belanja dan keluar dari FO. Buatlah daftar kelebihan dan kekurangan dari FO yang sudah anda masuki. Catatan anda menjadi penting di kemudian hari. Semakin anda tertib, anda akan makin bijak, bijak, dan bijak dalam berbelanja.

Sepenggal Kisah si Kuli Panggul

Posted by: Irma Essanovia on: Tuesday, 12 August, 2008

photo by Aziz Indra driverphoto.blogspot.com

photo by Aziz Indra driverphoto.blogspot.com

“Mau dibantu pak?” tanya pria yang hampir setengah baya ini sambil ngos-ngosan kepada salah seorang penumpang Kereta Api (KA) Parahyangan yang akan turun di stasiun Bandung.

“Nggak… nggak, nggak usah!” jawab penumpang itu ketus.

Tapi hal itu tidak membuatnya menyerah, ia berjalan terus menyusuri kursi demi kursi, gerbong demi gerbong. Berharap mungkin di gerbong lain ada yang mau menggunakan jasanya untuk mengangkut barang. Namun harapan tinggallah harapan. Ia tak menemukan satupun yang penumpang yang dapat memenuhi harapnya. Ia pun turun dengan langkah gontai, melihat rekan-rekannya yang sedang sibuk mengangkut barang-barang, seperti juga yang seharusnya ia lakukan saat itu.

Akhirnya ia pun meneruskan langkahnya ke stasiun utara. Berharap Tuhan memberi keajaiban-Nya, sehingga untuk pertama kalinya ia akan mendapatkan pengguna jasanya hari itu. Matanya mulai lincah mencari ke sekitar, dan terhenti pada seorang ibu dengan banyak barang bawaan yang sedang mengantri di loket untuk mendapatkan tiket KA yang akan berangkat beberapa waktu lagi. Dengan penuh semangat ia pun mendatanginya.

“Bu… mau dibantu?” tanyanya sambil tersenyum menawarkan keramahan.

“O iya pak, nanti antarkan barang-barang saya ini ke kereta, sekarang disimpan di ruang tunggu saja dulu.” jawab sang Ibu yang memang nampak sibuk mengatur posisi tas-tasnya yang cukup banyak dan tidak mungkin untuk dibawa seorang diri.

Seberkas senyum terpancar dari wajah lelaki berbaju merah tua itu, diiringi anggukan dan langsung mengangkut barang-barang itu.

Alhamdulillah… hari ini aku bisa membawa sesuatu untuk anak dan istriku di rumah.

Itulah gambaran yang dirasakan Pardi dan kawan-kawannya yang sehari-hari mengadu nasib mencari sesuap nasi dengan menjadi porter, kuli angkut barang para penumpang KA. Mereka mengharapkan imbalan sukarela dari para penumpang KA yang menggunakan tenaga mereka untuk mengangkut barang bawaan mereka dari KA atau menuju KA. Tidak banyak orang yang peduli akan keadaan maupun profesi yang mereka miliki sebagai kuli panggul. Padahal keberadaan mereka dan pekerjaan yang mereka lakukan justru kadang sangat dibutuhkan. Para porter ini lah yang membuat sebuah stasiun menjadi lengkap keberadaannya, yang menjadi sebuah tempat yang dipenuhi orang-orang yang akan melakukan perjalanan jauh. Karena jarak yang jauh itulah, akhirnya mereka membawa barang sebagai bekal yang cukup banyak. Apalagi pulang, karena ditambah dengan oleh-oleh dari kota yang telah dikunjunginya.

Mereka berseragam lengkap dengan atribut nama dan lambang kebesaran KA di saku mereka. Bukan… mereka ternyata bukan pekerja tetap di perusahaan Kereta Api, bahkan sama sekali tidak ada hubungan kontrak atau pengangkatan pegawai yang biasanya dilakukan sebuah perusahan kepada karyawannya. Dengan begitu mereka otomatis tidak mendapatkan asuransi kesehatan dan tunjangan-tunjangan lain layaknya seorang pegawai di sebuah institusi. Padahal, pekerjaan mereka sangat beresiko.

“Saya pernah jatuh, tulang saya patah.” kenang Agus yang sudah menjalani profesi ini sejak 30 tahun yang lalu sambil memperlihatkan bekas luka yang tampak cukup dalam di betis kirinya. Hal itu terjadi kira-kira tiga tahun yang lalu, ketika ia mengejar KA yang masih jalan untuk mendapatkan pengguna jasanya, untuk berburu selembar uang yang akan ia gunakan untuk menghidupi istri dan enam orang anaknya. Akibat dari luka itu, ia tidak bisa melakukan pekerjaannya untuk sementara waktu, karena ia harus dirawat di rumah sakit hingga lukanya pulih kembali. Sementara itu praktis ia tidak mendapatkan uang dari pekerjaannya, yang ada ia harus mencari pinjaman uang karena harus membayar biaya perawatan selama di rumah sakit. Karena walau bagaimanapun kondisi fisik yang prima adalah modal utama untuk menjalani profesinya sebagai porter, selain semangat dan kemauan yang keras.

Baju seragam yang mereka gunakan itu dibeli dengan cicilan seharga 150.000 rupiah untuk dua warna seragam, yakni merah hati dan hijau yang mereka pakai bergantian setiap dua hari sekali. Dengan seragam itu mereka tampil rapi dan teratur. Mereka siap membantu para penumpang KA yang kewalahan dengan barang bawaannya. Berapapun besar upah yang mereka terima dari para pengguna jasa bukan masalah bagi mereka. Karena satu hal, yaitu keyakinan bahwa setiap orang punya rezeki masing-masing yang sudah pasti berbeda. “Kadang ada yang bawaannya berat ngasih 10.000 rupiah tapi ada juga yang bawaannya sedikit malah ngasih 20.000 rupiah.“ ujar Pardi dengan pasrah. Walau ia mengaku biasanya rata-rata yang ia terima antara 3.000 rupiah sampai 10.000 rupiah. Namun dengan kesadaran yang ia miliki, ia tidak pernah mengeluhkan itu.

Mereka memang tidak pernah menetapkan berapa tarif yang harus mereka terima untuk satu tas atau sekilo barang yang mereka angkutkan. Mereka juga tidak meminta lebih jika merasa yang mereka dapatkan tidak seimbang dengan apa yang telah mereka kerjakan. “Semua itu kembali pada kerelaan yang memberi.” Kesadaran seperti inilah yang kadang tidak dimiliki oleh beberapa oknum porter, sehingga kadang mereka marah kepada para pengguna jasa jika dibayar tidak sebanding dengan beban yang telah mereka pikul. Akibatnya tidak sedikit penumpang geram yang akhirnya balik memaki.

Menjadi porter bukanlah cita-cita mereka, tapi apa boleh buat jika ternyata takdir berkata lain. Bahkan pekerjaan ini disyukuri oleh Agus yang usianya sudah 56 tahun ini, baginya menjadi porter lebih baik dibanding profesinya dulu sebagai tukang becak. Dengan keterbatasan pendidikan yang dimiliki, mereka tidak mempunyai banyak pilihan dalam hal pekerjaan, karena sebagian besar mereka hanyalah sebatas lulusan Sekolah Dasar (SD). Apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini, jangankan yang hanya lulusan SD, lulusan Sarjanapun masih banyak yang menganggur karena urusan Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) yang masih saja bercokol di sebagian besar perusahaan dalam hal pengangkatan karyawan baru baik BUMN maupun perusahaan swasta.

Dengan kondisi yang mengkhawatirkan tersebut pekerjaan sebagai porter patutlah mereka syukuri, karena uang yang mereka dapatkan adalah uang halal. Pekerjaan yang mereka jalanipun jauh lebih mulia dibandingkan dengan pejabat yang memakan uang yang bukan hak mereka, sementara bawahannya sengaja berpuasa agar anak dan istrinya di rumah bisa makan tiap hari.

Jam 9 pagi ia harus sudah menginjakkan kaki di stasiun Bandung, tempatnya mencari nafkah. Lokasi dengan jarak yang memerlukan waktu sekitar 1,5 jam dari rumahnya di daerah Bale Endah. Daerah yang melewati sebuah jalan panjang yang terkenal dengan kemacetannya. Tentu saja karena sepanjang jalan itu adalah kawasan industri. Para pejalan kaki bersaing dengan antrian kendaraan umum yang diiringi teriakan-teriakan klakson dari berbagai kendaraan yang memekakkan telinga.

Situasi yang tentu saja jauh dari rasa tenang. Hal itu terkadang membuatnya dongkol dan perasaan patah semangat pun kadang ia rasakan, tapi apa boleh buat, tanpa perjuangan awal untuk sampai di stasiun saja, ia tidak akan mendapatkan apa-apa, sehingga ia pun harus menguatkan tekadnya untuk sampai di stasiun pukul 9 pagi. Minggu berikutnya ia bertugas mulai dari 9 malam sampai 9 pagi. Begitulah seterusnya, itupun jika badannya dalam kondisi sehat, kalau tidak, terpaksa ia harus beristirahat sampai badannya pulih kembali untuk dapat melakukan tugasnya kembali dengan sebaik-baiknya.

Setelah sampai di stasiun, ia langsung berbenah dengan seragam kebesarannya, lengkap dengan sepatu yang membuatnya lebih nyaman dalam melakukan tugasnya. Setelah itu ia pun bersiap, memastikan jadwal kedatangan dan keberangkatan KA tidak mengalami perubahan, karena jadwal kedatangan dan keberangkatan KA tentu saja sudah ia hafal di luar kepala. Karena itu adalah salah satu rumus kesuksesannya agar ia mendapatkan banyak pelanggan.

Biasanya ada dua lokasi yang lebih strategis untuk mendapatkan orang-orang yang membutuhkan jasa mereka. Pertama, di antrian loket, sedangkan yang ke dua yaitu di dekat jalur-jalur lintasan KA yang akan datang, seperti jalur 6 dan 3 yang sering menjadi pemberhentian KA Parahyangan, begitupun dengan jalur-jalur lainnya dengan kereta yang berlainan tentu saja. Ada juga yang menyerbu keduanya, terutama porter-porter yang masih muda, penuh semangat dan enerjik. Jika kedatangan KA memang masih lama, mereka akan memburu penumpang di antrian loket.

Ketika diumumkan KA Parahyangan atau lain datang dari luar kota, maka mereka akan berhamburan berlomba-lomba mendekati jalur kedatangan kereta tersebut, bak sebuah pasukan prajurit yang diberi komando untuk menyerang. Ada yang berjalan cepat, setengah berlari, bahkan sampai benar-benar berlari untuk segera mendekati KA yang baru saja tiba. Terkadang mereka berlari sampai puluhan meter dari stasiun. Setelah dekat, dengan lincahnya mereka melompat ke kereta yang masih berjalan. Walaupun kecepatannya memang sudah berkurang, tetap saja lompatan itu cukup beresiko. Akhirnya Kepala Stasiun (KS) pun memberi aturan titik terjauh mereka mengejar KA untuk keselamatan porter-porter ini, karena walau bagaimanapun mereka adalah partner, karena tanpa porter-porter ini stasiun belumlah bisa dikatakan lengkap.

Setelah berhasil masuk kereta, mereka berjalan kursi demi kursi, gerbong demi gerbong dilalui dengan cekatan sambil menawarkan jasa angkut mereka pada para penumpang KA. Porter yang sudah mendapatkan barang bawaan segera menuju pintu keluar yang terdekat. Barang-barang yang sudah siap diangkut mereka pikul dengan mantap di pundak, di tangan, bahkan di kepala mereka. Penumpang pun berjalan mengikuti porter yang membawa barang bawaannya. Tak jarang mereka setengah berlari mengejar porter mereka yang terlalu bersemangat membawa barang bawaan karena mengejar setoran hingga mereka sering tertinggal jauh.

Hal itu terjadi karena kebanyakan para porter itu berjalan dengan jurus seribu langkah yang super cepat! padahal di tubuhnya bersandar beban yang cukup berat. Logikanya mungkin agar mereka lekas sampai dan beban itu segera lenyap dari pundaknya. Karena jarak yang mereka tempuh cukup jauh, dari kereta sampai halaman parkir yang hampir 30 meter. Belum lagi rintangan yang harus mereka hadapi, karena berjejalnya penumpang yang memenuhi jalan-jalan yang mereka lalui.

Dengan berjejalnya orang-orang, tak jarang mereka mendapat banyak caci maki, walaupun kadang ada pula yang malah memberi jalan dan membiarkan porter-porter ini mendahului mereka. “Saya dulu pernah dipukul sama perempuan gara-gara kakinya keinjek, pernah juga disangka copet.” kenang Pardi yang menjadi wakil tetua dari para porter-porter ini sambil tersenyum. Hal itu sudah menjadi resiko dari pekerjaannya, jauh sekali dari niat jahat, apa lagi untuk mencuri.

“Percuma saya makan uang yang nggak halal, kan susah…” tuturnya pasrah. Karena ia percaya uang yang berasal dari jerih payah, kerja keras banting tulang tetap akan lebih bernilai dan menjadi berkah dibanding mutiara sekalipun, yang didapat dengan cara yang tidak benar. Ia tidak mengharap imbalan yang lebih dari jasa yang ditawarkannya. “Kalau ada yang ngasih saya upah sedikit nggak apa-apa… saya selalu mikir, nanti juga ada yang lain.” sahutnya saat ditanya perasaannya jika ada yang memberi dalam jumlah yang sama sekali tidak sesuai dengan jerih payahnya. Kesadaran yang dimiliki ini membuatnya merasa tentram dengan bekerja sebagai porter.

Dalam satu hari ada 12 kereta yang menjadi incaran mereka untuk mencari orang yang mau diangkutkan barang bawaannya, sehingga dalam satu hari pula mereka bisa mendapatkan upah antara 30.000 rupiah sampai 40.000 rupiah. Itu mereka gunakan untuk menafkahi kelurga mereka, karena walau bagaimanapun mereka ingin agar anak mereka mempunyai masa depan yang lebih baik dari mereka, seperti Pardi yang kini anaknya yang kedua sudah duduk di kelas 2 SMP, pendidikan yang tidak pernah dikecapnya dulu yang hanya sampai SD. Sampai akhirnya ia bertemu teman seorang tukang langsir yang membuatnya mencoba pekerjaan sebagai porter ini 11 tahun yang lalu. Pekerjaan yang sampai saat ini masih bisa terus mengisi periuk beras dirumahnya, membuat dapurnya masih terus mengepul setiap hari, untuk makan istri dan keempat anaknya.

Di luar itu mereka mencari calon pengguna jasa mereka di antrian atau di ruang tunggu. Tentu saja penumpang dengan barang bawaan yang cukup banyak yang kemungkinan besar akan membutuhkan bantuan mereka. Jika tidak, kadang mereka duduk-duduk santai di sekitar stasiun, sambil merokok, ngobrol, membaca koran-koran yang mereka pungut di KA dan stasiun atau hanya sekedar melamun, menikmati waktu dan suasana yang ada sambil menunggu kedatangan KA selanjutnya. Jika KA tiba, mereka berhamburan dan kembali lagi, begitu seterusnya.

Saat ini sudah tiga kali kedatangan KA tapi Agus belum sekalipun mengangkut barang. Tapi apa boleh buat, kondisi itu tak boleh membuatnya patah semangat hingga kedatangan KA berikutnya dan berikutnya. Sampai akhirnya ia mendapatkan penumpang yang meminta bantuannya. Karena bagaimanapun Allah memang telah mengatur rezekinya, ia hanya tinggal menjemputnya dengan usaha tanpa mengenal lelah dan putus asa.

Di stasiun Bandung ini ada ± 66 orang porter dari yang semula hanya ada 38 orang. Biasanya setiap harinya ± 45 orang yang hadir, karena pekerjaan ini memang tidak mengikat. Siapa yang tidak mau kerja itu tidak masalah, karena uang yang mereka dapat dari hasil keringatnya itu juga untuk mereka sendiri. Dengan begitu, pendapatan mereka juga tergantung dari keuletan dan kerajinan serta kerja keras mereka masing-masing.

Meskipun mereka dapat dikatakan buruh lepas, mereka tetap terorganisir. Saat ini terpilihlah Beny Rahmad yang mereka percayai untuk menjadi wakil dari para porter-porter secara keseluruhan dalam hal berhubungan langsung dengan pihak KA maupun untuk urusan intern mereka. Ia menjadi penyambung lidah antara pihak stasiun, dalam hal ini KS dengan porter. Jika ia berhalangan hadir maka Pardi menjadi orang yang dipercaya mewakilinya untuk menghadap KS.

Untuk menjadi porter tidak ada batas usia. Siapa saja yang merasa masih bertenaga dan siap menjalani pekerjaan itu, berapapun usianya tidak menjadi masalah. Saat ini porter-porter kebanyakan berusia sekitar 20-40 tahun. Namun ada juga yang usianya sudah hampir 60 tahun yang masih produktif sebagai kuli panggul. Mereka bersaing secara sehat, karena bagaimanapun mereka ini bagai sebuah keluarga. Setidaknya itulah yang mereka rasakan selama ini. Bahkan, jika terdapat barang bawaan yang sangat banyak, mereka akan saling membantu satu sama lain dan hasilnya tentu saja dibagi-bagi dengan adil.

Biasanya pekerjaan ini menjadi pekerjaan yang turun temurun, misalkan dari ayah kepada anak atau saudaranya, begitupun dengan nasib baju yang mereka kenakan sebagai seragam. Jika baju itu diturunkan, mereka hanya tinggal mengganti nama dan nomornya saja. Walaupun kadang ada yang nakal tidak menggantinya, jadi yang tercatat di KS masih yang lama.

Sebagai sebuah kelompok pekerja yang terorganisir, mereka saling mengenal satu sama lain. Data mereka lengkap tercatat di KS, sehingga penggunaan nama dan nomor ini dapat dijadikan identitas yang bukan sekedar label. Atribut itu menjadi tanggung jawab mereka sepenuhnya. Dengan begitu, jika mereka melakukan kesalahan atau bahkan tindakan kriminal sekalipun dengan mudah akan terlacak. Akibatnya sudah pasti mereka akan dikeluarkan dari keanggotaan atau bahkan dikenakan sangsi atau hukuman dari KS. Hal tersebut akan mencoreng nama baik para porter secara keseluruhan.

Rusak nila setitik rusak susu sebelanga berlaku untuk para porter ini. Oleh karena itu mereka menjaga jangan sampai hal tersebut terjadi. Caranya dengan saling mengenal dan berkomunikasi satu sama lain layaknya sebuah keluarga yang saling membantu. Hal itu memang jarang terjadi, bahkan hampir tidak pernah. Malah terkadang merekalah yang membantu menangkap para pengutil yang berkeliaran di KA dan stasiun. “Saya sering lihat, tapi selama mereka belum berbuat saya tidak berani berbuat apa-apa, tapi kalau sudah ada bukti saya berani, setelah tertangkap saya tidak mau icikibung” (Red: Ikut campur). Walaupun tak jarang mereka malah yang dijadikan tersangka, padahal mereka sama sekali tidak melakukannya. Tentu saja porter-porter itu tidak tinggal diam, jika mereka memang tidak merasa bersalah mereka akan membela diri.

Secara tidak langsung mereka juga turut membantu pihak KA untuk masalah keamanan. Selain itu, Opsih (Operasi bersih) pun menjadi tugas rutin mereka setiap hari jumat. Itu mereka lakukan dengan sukarela. Pemasangan bancik juga menjadi tanggung jawab mereka, terutama bagi porter yang bekerja dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi, karena tidak ada pekerja dari CV. Mega yang jika siang hari memang bertugas memasang bancik sebagai salah satu pekerjaannya.

Dengan semua yang mereka lakukan itu mereka mendapatkan uang rokok dari KS setiap bulannya. “Semua porter dapet 150 ribu dari KS tiap bulan, nih kalau enggak percaya!” tutur Pardi sambil memperlihatkan uangnya yang masih terlipat rapi di dompetnya. “Uang ini saya simpan, dikumpulkan lalu dibagi-bagikan ke semua porter menjelang hari raya idul fitri.“ Selain dari iuran 1.000 rupiah yang mereka kumpulkan tiap hari. Bahkan, biasanya para porter ini mendapatkan bingkisan dari pihak KA ketika menjelang hari raya idul fitri, yang sudah tiga tahun ini tidak mereka dapatkan lagi.

Dengan kerjasama itu, mereka juga terikat dengan aturan yang diberikan oleh KS, seperti tidak boleh mengejar KA terlalu jauh, melakukan Opsih setiap hari Jumat dan memasang bancik jika petugas aslinya tidak ada, yaitu pada malam hari. Selain itu tentu saja tidak boleh melakukan perbuatan melanggar hukum yang pada akhirnya akan merugikan kedua belah pihak yang tentu efeknya tidak baik sama sekali.

Keterkaitan yang terjadi ternyata membentuk sebuah sinergi yang saling menguntungkan antara kedua belah pihak, dalam hal ini PT. KAI terutama Daop II dengan para porter itu. Para porter mendapatkan lahan pekerjaannya di stasiun, sehingga mereka dapat bekerja dengan tenang. Pihak PT. KAI pun merasa terbantu dengan keberadaan mereka, baik dari segi keamanan, kebersihan, ataupun bantuan teknis yang bisa dilakukan porter-porter itu. Begitupun dengan penumpang, karena ada yang membantu mereka untuk membawakan barang bawaan mereka dari atau menuju KA.

Hubungan baik yang terjalin ini, secara tidak langsung membuat ikatan emosional dengan PT. KAI. Melahirkan kecintaan mereka terhadap PT. KAI, salah satunya dengan menjaga dan memelihara stasiun dan seluruh fasilitasnya. Bahkan kerap kali mereka menjadi sasaran teguran dari para pengguna jasa KA jika WC tak bersih, ada jendela yang tidak bisa dibuka, jendela yang pecah, dan sebagainya. Inilah yeng membuat mereka juga jadi penyambung lidah antara penumpang dengan pihak PT. KAI.

Hal tersebut sangat membantu, karena walau bagaimanapun masukan sekaligus kritikan yang mereka sampaikan akan membuat PT. KAI bisa menjadi lebih baik dalam melayani para pengguna KA sesuai dengan motonya ‘melayani setulus hati’. Apalagi dalam kondisi sekarang ini, saat jalan darat bisa menempuh waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan KA, dalam hal ini Parahyangan yang mempunyai jam terbang paling tinggi setiap harinya, yang juga secara tidak langsung memberikan peluang bagi para porter ini untuk mendapatkan klien.

Harapan para porter di hari ulang tahun KA yang jatuh pada tanggal 28 September tak lain adalah PT. KAI semakin maju. “Biar penumpangnya semakin banyak, harganya jangan dinaikan, pelayanannya ditingkatkan.” tutur pardi ketika ditanya tentang sarannya agar PT. KAI bisa maju sesuai dengan harapannya. Dengan begitu, ia bersama rekan-rekannya yang lain tetap bisa bekerja dengan menjadi sebagai porter. Karena ternyata yang mereka rasakan penghasilan mereka tidak naik-naik, sementara harga-harga kebutuhan pokok selalu merangkak naik dari tahun ke tahun. Ini jelas berpengaruh pada mereka. ”Tahun ‘92-’95 sih masih banyak penumpang…” keluh Agus tentang kondisi penumpang KA dulu dan sekarang. Dengan begitu penghasilannya dulu dapat memenuhi kebutuhan keluarganya bahkan lebih dari cukup.

Sampai saat ini, dan entah sampai kapan mereka akan terus melakukan pekerjaan ini. Selama kereta api masih ada, masih menjadi alat transportasi yang digunakan orang-orang. Mereka akan tetap melakukan tugasnya sebagai porter. Membantu para penumpang mengangkut barang-barang mereka, hingga tenaga dan stamina mereka sudah tidak mampu lagi. Sampai tiba saat mereka untuk bisa beristirahat menikmati masa tua mereka dengan anak cucu. Berharap apa yang mereka dapatkan kini bisa menjadi bekal untuk meraih kehidupan yang lebih baik dari apa yang telah mereka dapatkan selama ini. Namun hingga saat ini rasa syukur selalu mereka panjatkan untuk pekerjaan yang sedang mereka jalani sekarang, yang juga akan menjadi ibadah jika dilakukan dengan ikhlas dan penuh kesadaran tanpa aral dan putus asa. ***