Essanovia's Blog

Kematian

Posted by: Irma Essanovia on: Friday, 24 July, 2009

Akhir-akhir ini misteri kematian mulai mengusikku kembali. Minggu lalu di tempatku bekerja ada yang meninggal,masih sangat muda,bahkan serasa miris karena aku masih bisa melihat jadwal kerjan yang seharusnya dijalankan. Beberapa hari yang lalu Indonesia kembali dikejutkan oleh aksi bom bunuh diri yang memakan beberapa korban yg meninggal dunia. Ada yang sedang berlibur, berbisnis, ada juga yang sedang bekerja untuk menunaikan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga. Kemarin aku mendengar kabar ada saudara jauh yang meninggal karena penyakit yang sudah lama dideritanya. Terakhir beberapa jam yang lalu, calon mertua sahabatku juga harus menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU karena stroke.

Hmm..mungkin besok atau lusa, aku, kamu, atau kalian yang akan menghembuskan nafas terakhir untuk menuju dunia lain setelah kehidupan di bumi.

awali dengan indah

Posted by: Irma Essanovia on: Friday, 1 May, 2009

1 tahun terlewati sudah..

Banyak  hal yang jadi terjadi dalam sejarah hidupku.

Satu satu menggores kertas putih dalam usiaku..

Meniti waktu untuk dapati masa depan yang cerah..secerah mimpi yang hadir dalam lelap tidurku..

Seperti membangun sebuah bangunan..

Pondasinya ku kokohkan, kupilih baja yang kuat untuk bisa menopang tegaknya hunianku kelak.

Atapnya kupilihkan yang tahan segala cuaca, agar dapat terus meneduhkanku, melindungiku dari teriknya mentari, mengayomiku dari kencangnya badai, dari derasnya air hujan.

Dindingnya kubuat dari bata, semen dan pasir pilihan, agar bisa rekat kuat mengelilingku, …

Kupilihkan kayu jati yang padat, yang bisa hidup kokoh puluhan tahun lamanya. Sehingga bisa terus bertahan,sekalipun akhirnya menjadi sejarah..

Hmm…sebenarnya aku hanya ingin bahagia…

Tulisan ini dibuat akhir 2008,akhirnya bisa kututup dengan doa..

Memejamkan mata, menengadahkan tangan..memohon agar Tuhan memberikan jalan untuk setiap langkahku..

Bismillah..

Sudah 6 bln terlewati,dan bumi benar-benar berputar lebih cepat.

Berbahagialah Teman….

Posted by: Irma Essanovia on: Monday, 17 November, 2008

Bandung hujan…Setelah hujan seneng deh… Suasananya jadi sejuk…kaya bandung jaman baheula..dimana kita masih bisa menikmati segarnya bernafas…Masih bisa menikmati semilr angin yang sejuk di dekat pepohonan yang rindang..Menikmati bersihnya udara ketika memandang ke arah depan, melihatnya bersihnya langit… Mmmhh… Cinta deh…

Apalagi kalo gak ada lagi jalan-jalan bolong yang dihinggapi air-air cokelat atau air berbau di dalamnya. limbah dari pabrik-pabrik…Yexxxzzz…

Lupakanlah sejenak hal yang buruk-buruk yang pernah kita alami sebelum-sebelumnya…Keluar rumah nikmati suasananya…Berjalan sekitar rumah kita menikmati keindahannya..Mumpung bisa …Selama masih mungkin …karena siapa tahu hal ini tidak akan terjadi lagi besok..Siapa tahu besok kamu gak bangun lagi dari tidur kamu alias mati..
ha ha ha…

Tenang..ini bukan suara putus asa seorang manusia, walaupun sedikit bernada pesimis.Tapi…justru hal itu yang benar-benar membuat kita menikmati hidup. Menikmati semua yang Tuhan kasih buat kita untuk saat ini. Manusia kan gak pernah merasa puas…selalu saja merasa ada sesuatu yang salah..selalu saja merasa ada yang gak sempurna..padahalkan kita gak akan pernah sampai pada sesuatu yang sempurna..karena kesempurnaan hanyalah milik Dia yang diatas sana…Bukan begitu bukan ?

Yah…Tuhan tuh kan udah baik banget sama kita…Disaat krisis kaya gini masih banyak pasangan manusia yang dimabuk cinta, bergandengan tangan menikmati hangatnya cinta. Masih banyak anak-anak kecil yang tertawa dengan lepasnya menikmati hujan yang jatuh dari langit sambil berlari-lari bersama teman-temannya. Masih ada seorang ibu yang menyunggingkan senyum mereka ketika mengantar suami mereka sampai depan rumahnya…Masih ada sang ibu yang dengan tulus menyunggingkan senyumnya sambil melambaikan tangannya ketika mengantar anak mereka sampai depan sekolahnya diiringi doa ’semoga berhasil nak!’. Masih banyak suami-suami yang bekerja keras dengan penuh keikhlasan untuk mencari nafkah untuk menghidupi anak dan istri mereka. Masih ada pasangan kakek nenek yang saling tersenyum melihat kebahagian cucu yang akhirnya lulus kuliah…Masih ada supir yang baik hati dan memberikan tumpangan gratis ketika penumpangnya panik dompetnya ketinggalan….

Tersenyumlah…karena masih banyak hal-hal yang membuat kita bahagia…walaupun bukan kita sendiri yang mengalaminya…bahagialah bersama mereka-mereka yang berbahagia..Lapangkan hati kita biarkan kebahagiaan itu menghangatkan hati kita…Membuat kita menjadi orang yang penuh cinta…

Terima kasih atas kebahagian yang engkau ciptakan untuk kami Tuhan…Terima kasih untuk orang-orang yang selalu mencintai dengan sepenuh hati…Terima kasih untuk orang-orang yang telah berbagi kebahagiannya…

Hidup dengan Plastik

Posted by: Bima Novardiaz on: Sunday, 9 November, 2008

Bagaimana Mengenali Kemasan Plastik dengan Baik?

Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Rasa-rasanya dalam kehidupan kita sehari-hari saat ini sudah dipenuhi berbagai jenis plastik, dan berita tentang bahaya plastik sudah sering kita ketahui, apalagi tentang limbahnya yang sulit untuk didaur ulang. Kenyataannya dalam kehidupan kita sulit sekali menghindari plastik dari aktivitas kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai.

Secara internasional telah diatur kode untuk kemasan plastik, yang mungkin bagi kita yang awam sangat perlu untuk diketahui, karena tanda tersebut berkaitan dengan jenis bahan serta cara dan dampak pemanfaatannya bagi manusia. Kode ini dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun 1988 di Amerika Serikat dan diadopsi pula oleh lembaga-lembaga yang mengembangkan sistem kode, seperti ISO (International Organization for Standardization).

Secara umum tanda tersebut berada di dasar produk, berbentuk segi tiga, di dalam segitiga akan terdapat angka, serta nama jenis plastik di bawah segitiga, dengan contoh dan penjelasan sebagai berikut:

1. PET — Polyethylene Terephthalate
1-pete

PETE atau PET (Polyethylene Terephthalate) biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya. Botol-botol ini direkomendasikan hanya sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.

Di dalam membuat PET, menggunakan bahan yang disebut dengan Antimoni Trioksida, yang berbahaya bagi para pekerja yang berhubungan dengan pengolahan ataupun daur ulangnya, karena Antimoni Trioksida masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan, yaitu akibat menghirup debu yang mengandung senyawa tersebut.

2. HDPE — High Density Polyethylene
2-hdpe

HDPE (High Density Polyethylene) biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih susu atau tupperware. HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Plastik jenis ini juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian, karena pelepasan senyawa Antimoni Trioksida terus meningkat seiring waktu.

3. V — Polyvinyl Chloride

3-v

V atau PVC (Polyvinyl Chloride) adalah plastik yang paling sulit didaur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap), dan botol-botol. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. Sebaiknya kita mencari alternatif pembungkus makanan lain yang tidak mengandung bahan pelembut, seperti plastik yang terbuat dari Polietilena atau bahan alami (daun pisang misalnya).

4. LDPE — Low Density Polyethylene

4-ldpe

LDPE (Low Density Polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (Thermoplastic/dibuat dari minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek. Barang-barang dengan kode ini dapat didaur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Plastik jenis ini bisa dibilang tidak dapat dihancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan. Sifat mekanis jenis plastik LDPE adalah kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dan permukaan agak berlemak. Pada suhu di bawah 60C sangat resisten terhadap senyawa kimia, daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, akan tetapi kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen.

5. PP — Polypropylene

5-pp

PP (Polypropylene) adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.

6. PS — Polystyrene

6-ps

PS (Polystyrene) biasa dipakai sebagai bahan tempat makan Styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene bisa membocorkan bahan Styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf. Selain tempat makanan, Styrine juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari dan banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan Styrofoam termasuk negara China.

PS ditemukan tahun 1839, oleh Eduard Simon, seorang apoteker dari Jerman, secara tidak sengaja. Bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan api berwarna kuning-jingga, dan meninggalkan jelaga.

7. Other

7-other

Other (biasanya SAN - Styrene Acrylonitrile, ABS - Acrylonitrile Butadiene Styrene, PC - Polycarbonate, Nylon) bisa didapatkan di tempat makanan dan minuman seperti botol minum olahraga, suku cadang mobil, alat-alat rumah tangga, komputer, dan alat-alat elektronik. Polycarbonate dianjurkan untuk tidak dipergunakan sebagai tempat makanan ataupun minuman karena dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu Bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman jika suhunya dinaikkan karena berpotensi merusak sistem hormon. Ironisnya botol susu sangat mungkin mengalami proses pemanasan, entah itu untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan Microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas.

Apakah yang Dapat Kita Peroleh dari Informasi SIMBOL PLASTIK Tersebut?

Kita harus bijak dalam menggunakan plastik, khususnya plastik dengan kode 1, 3, 6, dan 7 (khususnya Polycarbonate), seluruhnya memiliki bahaya secara kimiawi. Ini tidah berarti bahwa plastik dengan kode yang lain secara utuh aman, namun perlu dipelajari lebih jauh lagi. Maka, jika kita harus menggunakan plastik, akan lebih aman bila menggunakan plastik dengan kode 2, 4, 5, dan 7 (kecuali Polycarbonate) bila memungkinkan. Bila tidak ada kode plastik pada kemasan tersebut, atau bila tipe plastik tidak jelas (misalnya pada kode 7, di mana tidak selamanya berupa Polycarbonate), cara terbaik yang paling aman adalah menghubungi produsennya dan menanyakan mereka tentang tipe plastik yang digunakan untuk membuat produk tersebut.

Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia. Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita.

Tips

a. Cegah penggunaan botol susu bayi dan cangkir bayi (dengan lubang penghisapnya) berbahan Polycarbonate, cobalah pilih dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, Polyethylene, atau Polypropylene. Gunakanlah cangkir bayi berbahan Stainless Steel, Polypropylene, atau Polyethylene. Untuk dot, gunakanlah yang berbahan Silikon, karena tidak akan mengeluarkan zat Karsinogenik sebagaimana pada dot berbahan Latex.

b. Jika penggunaan plastik berbahan Polycarbonate tidak dapat dicegah, janganlah menyimpan air minum ataupun makanan dalam keadaan panas.

c. Hindari penggunaan botol plastik untuk menyimpan air minum. Jika penggunaan botol plastik berbahan PET (kode 1) dan HDPE (kode 2), tidak dapat dicegah, gunakanlah hanya sekali pakai dan segera dihabiskan karena pelepasan senyawa Antimoni Trioksida terus meningkat seiring waktu. Bahan alternatif yang dapat digunakan adalah botol Stainless Steel atau kaca.

d. Cegahlah memanaskan makanan yang dikemas dalam plastik, khususnya pada Microwave Oven, yang dapat mengakibatkan zat kimia yang terdapat pada plastik tersebut terlepas dan bereaksi dengan makanan lebih cepat. Hal ini pun dapat terjadi bila kemasan plastik digunakan untuk mengemas makanan berminyak atau berlemak.

e. Bungkuslah terlebih dahulu makanan dengan daun pisang atau kertas sebelum dibungkus dengan plastik pembungkus ketika akan dipanaskan di Microwave Oven.

f. Cobalah untuk menggunakan kemasan berbahan kain untuk membawa sayuran, makanan, ataupun belanjaan dan gunakanlah kemasan berbahan Stainless Steel atau kaca untuk menyimpan makanan atau minuman.

g. Cegah penggunaan piring dan alat makan plastik untuk masakan. Gunakanlah alat makan berbahan Stainless Steel, kaca, keramik, dan kayu.

h. Terapkan, sebarkan dan ajaklah setiap orang di lingkungan rumah, kantor, sekolah, kampus, dan di manapun untuk mengetahui informasi ini dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

i. Ajukan kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan berkenaan dengan plastik ini, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Bupati Wakatobi, Ir. Hugua, dalam rangka penyelamatan ekosistem laut di Kepulauan Wakatobi. Sebagaimana diketahui, Kepulauan Wakatobi memiliki ekosistem terumbu karang terbanyak dan terbaik di dunia pada saat ini.

j. Ambil contoh China. Sejak 1 Juni 2008 lalu, pemerintah China mewajibkan warganya membungkus barang belanjaan dengan kertas. Kecemasan pemerintah Negeri Tembok Raksasa ini cukup beralasan bukan?

k. Untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi jika setiap hari kita terkontaminasi oleh DEHA, maka sebaiknya kita mencari alternatif pembungkus makanan lain yang tidak mengandung bahan pelembut, seperti plastik yang terbuat dari Polietilena atau bahan alami (daun pisang misalnya).

l. Hindari penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau Pyrex sebagai gantinya.

http://beritahabitat.net/2008/07/04/waspadai-bahaya-plastik/
http://akuinginhijau.org/2008/03/16/hati-hati-dengan-bahaya-plastik-pelajari-sebelum-terlambat/

Dunia Plastik

Posted by: Bima Novardiaz on: Sunday, 9 November, 2008

Leo Hendrik Baekeland (1863-1944)

Leo Hendrik Baekeland (Penemu Plastik)

Apakah Plastik Itu?

Setiap orang pasti kenal dengan bahan yang satu ini, plastik. Plastik adalah salah satu campuran bahan yang sering dipakai di hampir setiap barang yang dengan gampang dapat kita temui di sekitar kita. Mulai dari botol minuman, kantong plastik, pipa pralon, compact disc (CD), plastik laminating, alat-alat militer hingga pestisida. Peralatan di dapur, di kamar mandi, di kamar kita, hampir semuanya terbuat dari plastik. Bahkan, wajah seseorang dapat dibuat bagus sesuai keinginan dengan melakukan operasi plastik.

Sejarah Plastik

Plastik ada yang bersifat lunak (seluloid). Plastik jenis ini ditemukan oleh John Wesley Hyatt. Bahannya merupakan campuran dari selulosa nitrat dan kamfor yang dilarutkan dalam alkohol, kemudian menghasilkan pastik yang dinamakan seluloid. Seluloid ini mudah terbakar. Karena sifatnya yang kurang tahan terhadap panas, dalam industri berbagai barang plastik ini digantikan oleh plastik jenis lain yang sering kita temui sekarang yaitu Bakelit.

Plastik yang tahan panas ini ditemukan pertama kali oleh Leo Hendrik Baekeland, seorang ahli kimia warga Amerika berkebangsaan Belgia. Baekeland lahir di Ghent, Belgia, pada tanggal 14 November 1863. Bakelit, yang penamaannya diambil dari nama Baekeland ini sebenarnya bukanlah temuan yang pertamanya karena sebelumnya ia sudah menemukan kertas foto yang dinamakan Velox.

Karena hobinya yang suka memotret, kemudian ia mendapat pekerjaan di perusahaan fotografi. Pada saat itu, untuk mencetak gambar negatif film pada kertas harus menggunakan sinar matahari. Baekeland berpikir akan ketidakpraktisan hal itu. Terutama jika harus mencetak pada malam hari atau saat cuaca sedang hujan dan sinar matahari tidak ada. Dalam waktu yang singkat ia berhasil menciptakan kertas foto yang dinamakan Velox. Dengan kertas ini, tanpa sinar matahari pun film dapat diproses dan sebagai pengganti sinar matahari adalah dengan menggunakan lampu. Untuk mendukung penemuannya, pada tahun 1893 ia mendirikan pabrik kertas foto yang diberi nama Nepera Chemical Company (Perusahaan Kimia Nepera). Tetapi, perusahaan tersebut tidak berumur panjang. Enam tahun kemudian ia menjual perusahaan tersebut seharga satu juta dolar kepada Eastman, penemu kamera.

Tahun 1905, Baekeland mulai mengadakan penelitian. Dua tahun kemudian ia “menyulap” sebuah bangunan yang tadinya berupa gudang menjadi sebuah laboratorium yang terletak di Yonkers, New York. Biaya pembangunannya menggunakan sebagian uang hasil penjualan perusahaan kimianya. Di laboratorium inilah ia mulai meneliti bahan pembentuk bakelit.

Baekeland mereaksikan dua jenis bahan kimia yaitu formaldehid (H2CO) yaitu sejenis bahan pengawet dan fenol (C6H5OH) yaitu sejenis bahan pembasmi kuman. Dengan hati-hati ia memanaskannya, mengontrol suhu dan tekanannya. Hasilnya, terbentuklah suatu bahan baru yang dapat dibengkokkan, dipilin, dan dibuat berbagai bentuk. Ia menamainya bakelite (bakelit).

Tahun 1910 Baekeland mendirikan pabrik plastik sekaligus menjadi direktur utamanya sampai tahun 1939. Bakelit atau plastik tahan panas ini mulai diperkenalkan kepada masyarakat umum. Baekeland meninggal dunia pada tanggal 23 Februari 1944 saat usia 81 tahun di Beacon, New York, AS.

Dampak Penggunaan Plastik terhadap Kesehatan?

Pada intinya plastik adalah bahan yang mengandung Bisphenol-A. Bisphenol A adalah perusak hormone. Berbagai penelitian telah menghubungkan Bisphenol-A dengan dosis rendah dengan beberapa dampak terhadap kesehatan, seperti perubahan permanen pada organ kemaluan, meningkatkan kadar prostat, penurunan kandungan hormon testoteron, memungkinkan terjadinya kanker payudara, sel prostat menjadi lebih sensitif terhadap hormon dan kanker, dan membuat seseorang menjadi hiperaktif.

Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi. Walaupun sekarang sudah ada botol bayi dan penyimpan makanan yang tidak mengandung Bisphenol A sehingga aman untuk dipakai makan.

Kebanyakan plastik seperti PVC, agar tidak bersifat kaku dan rapuh ditambahkan dengan suatu bahan pelembut (plasticizers). Beberapa contoh pelembut adalah epoxidized soybean oil (ESBO), di(2-ethylhexyl)adipate (DEHA), dan bifenil poliklorin (PCB) yang digunakan dalam industri pengepakan dan pemrosesan makanan. Bahan pelembut seperti PCB sekarang sudah dilarang pemakaiannya karena dapat menimbulkan kematian jaringan dan kanker pada manusia (karsinogenik).

Bahan pelembut lain yang sekarang menimbulkan masalah adalah DEHA. DEHA mempunyai aktivitas mirip dengan hormon estrogen (hormon kewanitaan pada manusia). Berdasarkan hasil uji pada hewan, DEHA dapat merusakkan sistem peranakan dan menghasilkan janin yang cacat, selain mengakibatkan kanker hati.

Membakar pun bukan pilihan bijak. Karena jika dibakar dibawah 800 derajat celcius, justru akan menghasilkan senyawa dioksin yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan hidup. Kita akan menghirup asap plastik yang mengandung asap toksik dan racun-racun lainnya yang terdapat pada plastik tersebut.

Dampak Penggunaan Plastik terhadap Lingkungan?

Plastik sangat sulit hancur secara alami dan juga sulit didaur ulang. Setiap sampah plastik yang dibuang, baru akan hancur dalam waktu 200-500 tahun!

Walaupun murah bahkan sering diberikan gratis, plastik dibuat dengan menggunakan minyak bumi. Sumber energi yang mulai langka dan sangat dibutuhkan manusia. Di Inggris saja, diperlukan 2 milyar barel minyak untuk industri kantong plastik. Pada akhirnya minyak yang terpakai terbuang sia-sia karena kantong-kantong plastik itu hanya dipakai sekali-dua kali lalu menggunung di tempat penampungan sampah, mencemari lingkungan.

Sampah plastik sangat berbahaya buat beberapa jenis hewan. Di Australia tercatat lebih dari 100.000 hewan yang terdiri dari burung, ikan paus, anjing laut dan kura-kura, mati per tahunnya gara-gara menelan atau terbelit sampah plastik. Parahnya lagi, setelah badan hewan yang mati telah terurai, sampah plastiknya akan terbebas lagi ke alam.

Membakar sampah plastik menyebabkan zat-zat beracun dari sampah terlepas ke udara yang kita hirup. Polusi udara seperti ini punya dampak serius karena melemahkan kekebalan tubuh dan memicu kanker.

Plastik tersusun dari polimer. Dalam proses pembuatannya, ikut dimasukkan sejenis bahan pelembut (plasticizers) supaya plastik bertekstur licin, lentur dan gampang dibentuk. Tapi kalau plastik dipakai buat bungkus makanan, plasticizers bisa mengkontaminasi makanan. Apalagi kalau makanan yang dibungkus masih panas, si plasticizers dan monomer-monomernya makin cepat keluar dan pindah ke makanan lalu masuk dalam tubuh.

Kantong plastik kresek yang biasa kita pakai sehari-hari ternyata mengandung zat karsinogen berbahaya karena berasal dari proses daur ulang yang diragukan kebersihannya. Zat pewarnanya juga bisa meresap ke dalam makanan yang dibungkusnya dan menjadi racun.

Sampah plastik dari sektor pertanian dunia setiap tahunnya mencapai 100 juta ton. Kalau sampah plastik ini dibentangkan, panjangnya bisa membungkus bumi sampai sepuluh kali.

Bahan pelembut ESBO (epoxidized soybean oil) juga biasa digunakan sebagai insektisida. ESBO mampu membunuh zooplankton, dan hal ini berakibat pada terganggunya rantai makanan hewan-hewan laut. Hal tersebut pun akan berdampak pada terganggunya sumber protein, khususnya ikan.

http://kimia-kita.blogspot.com/2008/04/leo-hendrik-baekeland-1863-1944-penemu.html
http://beritahabitat.net/2008/07/04/waspadai-bahaya-plastik/
http://akuinginhijau.org/2008/03/16/hati-hati-dengan-bahaya-plastik-pelajari-sebelum-terlambat/

Zakat H. Syaichon Menjemput Maut

Posted by: Irma Essanovia on: Sunday, 21 September, 2008

Sore itu… Sehabis shalat Ashar. Setelah membaca beberapa ayat suci Al-Quran aku menyalakan TV di kamarku. Saat itu di TV aku melihat sebuah tayangan berita investigasi di salah satu Televisi swasta Indonesia. Tayangan itu memperlihatkan kejadian pembagian zakat H Syaichon Fikri yang membawa maut di Desa Purutrejo pasuruan yang terjadi tgl 15-september 2008. Insiden itu mengakibatkan meninggalnya 21 orang manula dan beberapa orang luka-luka.

Sebegitu miskinnyakah umat islam sampai berebutan mengantri untuk mendapatkan zakat dari sang dermawan. Demi uang Rp. 30.000,- mereka rela berdesak-desakan dalam sumpeknya ruang yang bahkan membuat mereka kehilangan nyawanya. Bahkan ada korban meninggal yang meninggalkan buah hati mereka yang kini menjadi yatim piatu. Akan jadi apa mereka kelak?? Sudah ditinggal ayah kini hidup Tanpa Ibu??

Terbayang jika itu aku. Sepertinya dunia ini seakan sudah berakhir untukku… Satu-satunya orang yang membiayaiku, orang yang mengurusi mulai dari makanku, sampai sekolahku sudah meninggalkanku di saat usiaku masih terlampau belia, dengan seorang adik laki-laki yang hanya berbeda beberapa tahun dari aku. Siapa yang akan menghidupiku? Harus bekerja apa agar aku dapat bertahan hidup?

Tuhan kenapa engkau harus biarkan Ibuku mati di sana? Maksudnya untuk menyambung beberapa hari hidup kami malah menghilangkan nyawanya yang jauh lebih berharga dari uang Rp 30.000,- itu. Kalau boleh aku meminta…tukarlah nyawanya dengan aku, agar Ia lebih bisa bertahan untuk menjalani sisa hidupnya dengan bahagia daripada aku. Aku takkan bisa berdiri tegak tanpanya…, aku takkan bisa mengangkat daguku tanpanya…, karena aku hanya bisa tertunduk sambil menangis…, karena aku takut menghadapi apa yang akan terjadi di di hari-hari yang akan datang tanpanya…. Aku tak akan sanggup Tuhan…

Meneteslah air mataku…, sambil mataku terus menatap layar kaca yang memutar kejadian itu berulang-ulang. Rasa marah, sedih bercampur malu terus berdetak di batinku….Rasanya tak terima melihat bangsa yang kucintai ini memiliki rakyat dengan kondisi yang semakin hari semakin memperihatinkan. Semua serba susah. Kelaparan dimana-mana, kejahatan karena kemiskinanpun merajalela dimana-mana. Sebenarnya yang mereka inginkan hanya berusaha untuk bertahan hidup.

Sedangkan disisi yang lain, dari ke hari kita melihat semakin banyak juga tikus berdasi yang ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Mereka yang memakan uang rakyat. Mereka yang memakan hak kita…bangsa Indonesia. Termasuk ratusan orang yang berdesakan dalam antrian zakat itu yang seharusnya diperjuangkan. Mereka yang seharusnya bisa hidup tentram, damai, dan sejahtera di bumi yang sungguh mereka cinta sepenuh hati. Negeri yang elok dengan kekayaan alam yang berlimpah yang kini malah dijual oleh segelintir bangsa kita sendiri, sihingga kita tidak mendapatkan apa-apa lagi dari ibu pertiwi ini.

Adakah Ibu Pertiwi kita kini sudah membenci kita. Sehingga ia tak lagi ramah kepada kita? Ia melaknat kita karena serakahnya para pejabat yang hanya memikirkan keuntungan untuk diri mereka sendiri bukan untuk kepentingan rakyat. Tapi jangan pesimis dulu. Walau bagaimanapun kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai. Mari kita bangkit bersama-sama. Ulurkan tangan bergandengan bersama-sama mengembalikan Ibu pertiwi agar ramah kembali, sehingga yang ada hanya senyuman kebahagian dari anak-anak bangsa. Agar mereka bisa tegak berjalan, memandang masa depan cerah sehingga dengan percaya diri mereka siap untuk bersaing dengan bangsa lain di dunia.

Biarlah perlahan, tapi pasti. Kita bangun sedikit demi sedikit puing-puing kesedihan, keputusasaan menjadi sebuah energi yang besar. Energi yang mampu membuat kita bangkit menjadi lebih baik. Mulai itu dari diri kita sendiri. Berusahalah untuk selalu berbuat baik kepada orang lain. Mari kita saling menyemangati satu sama lain. Tidak usah jadikan perbedaan menjadi kita semakin jauh. Tapi jadikan perbedaan menjadi sebuah kekayaan kita. Baik dalam wacana budaya maupun perbedaan pendapat. Hilangkanlah rasa benci..biarkan kasih sayang yang menggantinya. Agar semua orang merasa nyaman satu dengan yang lainnya.

Orang-orang ahli, orang-orang kaya berkumpulah dengan apa yang kalian miliki, menyatukan kekuatan untuk membuat bangsa ini tegak kembali. Semua Profesi jadilah orang yang profesional yang berperikemanusiaan dalam mengerjakan pekerjaannya. Untuk para pengusaha, bantulah pengusaha kecil untuk menjadi besar. Berbagilah ilmu dengan semua orang jika kita yakin ilmu itu akan berguna untuknya kelak. Untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik. Kekayaan hati yang dimiliki akan mencetak banyak orang kaya. Yang sudah kaya berbagilah tanpa pamrih, tanpa ingin dipuji, biarlah Tuhan yang akan membalasnya kelak. Tuhan tidak akan salah memberi pahala begitupun sebaliknya. Ayo Indonesia, BANGKITLAH!!! Aku masih tetap mencintaimu….***

Oleh-Oleh dari Yogya

Posted by: Irma Essanovia on: Saturday, 6 September, 2008

Panggilan dari sebuah radio swasta di Yogyakarta untuk Test pada hari Kamis, 25 Juni 2006 membawaku datang ke kota itu. Berbekal semangat dan mimpi untuk menjadi seorang penyiar radio, aku pergi dengan Kereta Api (KA) Lodaya pukul 07:30 pagi. Jam menunjukkan hampir pukul 3 sore ketika akhirnya KA sampai ke stasiun Tugu Yogyakarta. Keesokan harinya testpun dimulai dan usai dalam waktu kurang lebih 3 jam. Berhubung kali ini juga Long Weekend, maka tak kulewatkan untuk menginap di sini. Menikmati Yogyakarta beberapa hari.

Sabtu, 27 Mei 2006, Pukul 5 pagi, seperti beberapa hari yang lalu. Aku bangun dan mengambil air wudhu untuk shalat Subuh. Tapi acara seharian kemarin membuatku kelelahan dan mata ini rasanya masih terlalu rapat dan enggan untuk membuka. Tapi kewajiban tidak mungkin aku tinggalkan. Maka akupun berusaha terjaga untuk melakukan shalat subuh yang hanya rakaat itu yang terasa berat di pagi itu. Akhirnya, kutarik untuk menatap jendela kamar tempatku tidur. Karena tepat di depannya aku bisa melihat puncak gunung Merapi yang saat itu masih berstatus siaga.

Tempatku menginap itu berada di daerah Kaliurang atas. Sehingga udaranyapun tah jauh beda dengan Bandung, wajar saja jika pagi itu juga udara masih teramat dingin dan membuatku enggan untuk membuka mukena yang membalut tubuhku. Tempat tidur yang belum kubereskan menggodaku untuk kembali menidurinya. Sampai akhirnya kepalaku lunglai diatas bantal dengan posisi miring.

Perlahan kedua mata ini tertutup. Nikmat rasanya…..sampai akhirnya suara bergemuruh kudengar, goncangan keras membuatku terbangun, memaksa mata yang lelah ini untuk mencari tahu ada apa gerangan. Pukul 6 kurang 15 menit di jam dinding yang kulihat saat itu. Batu-batu kecil dan debu pasir dari langit-langit menghujaniku. Aku panik, goncangan itu membuat tubuh ini gemetar. Teriak panik seisi penghuni rumah ini, yang kebetulan saat itu 10 orang membuatku semakin panik, dan tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya dengan rok mukena aku turun dari loteng, mengikuti mereka keluar rumah.

Motor, mobil yang menginap di garasi malam itu, langsung dipaksa keluar. Semua penghuni kompleks panik bukan main, terutama ibu-ibu yang memeluk erat anak-anak mereka yang masih kecil. Sementara anak kecil itu, hanya terbengong tidak mengerti apa yang terjadi. Sementara anak-anak muda tidak tampak panik seperti mereka atau mungkin juga karena mereka pandai menutupi kepanikan mereka saat itu. Alhasil mereka tampak tenang menghadapi gempa yang menurut BMG berkekuatan 5,9 skala Rikhter ini. Semua orang keluar dari rumah. Kepala ini masih berdenyut, berusaha menyadari apa yang baru saja terjadi. Kaki ini masih bergetar, walaupun kucoba terus, berjalan hilir mudik menghilangkannya, padahal goncangan itu sudah tidak terasa lagi.

Tepat di depan rumah, ada warung yang juga menjual bensin. Semua orang antri mengisi motor mereka dengan bensin, sehingga dalam waktu singkat antrian itu meghabiskan persediaan bensin yang ada. Kurang lebih satu jam berlalu, dengan beberapa kali gempa susulan yang memang kalah kuat dengan gempa pertama. Suasana di kompleks itu sudah agak tenang. Penghuni rumah sudah berani masuk rumah lagi, akhirnya kuputuskan untuk ikut masuk dan membantu membersihkan batu-batuan kecil dan debu dari atap, karena cukup banyak genting yang pecah karena gempa di rumah itu. Ada beberapa sisi tembok yang terlihat retak, sehingga cukup tebal debu-debu pasir yang harus disapu dari lantai.

Setelah selesai bersih bersih rumah, aku juga membersihkan diri, dengan perasaan yang masih cemas, ingin cepat-cepat kuselesaikan acara mandi pagi itu. Kubasuh tubuh ini dari ujung rambut sampai kaki. Kaget dengan debu-debu yang ada di kepalaku, setelah tiga kali keramas baru aku merasa kepala ini benar-benar bersih dari debu dan pasir yang menghujaniku ketika gempa tadi.

Setelah selesai mandi, berpakaian. Aku siapkan semua barang bawaanku. Tak lama kemudian bumi bergoncang lagi. Kecil, tapi cukup mengagetkan, karena memang di televisi sempat menyala diberitakan akan ada gempa susulan. Kamipun kembali ke luar rumah. Namun kali ini, aku keluar dengan membawa tas dan bersiap untuk pergi, karena rencananya pagi itu aku memang akan menemani seorang kawan untuk mengambil foto Merapi di Gardu Pandang. Naik beberapa Km ke atas dari tempatku menginap waktu itu kaliurang KM 14.

Kali ini, Orang-orang lebih panik, suasana kompleks yang sedikit sekali lalu lalang kendaraan jadi ramai. Ada mobil dan beberapa bis serta puluhan motor lewat depan rumah. Mereka memijit kelakson mereka, menyalakan lampu mereka, sambil berteriak-teriak “Naik…naik….air laut naik….” Sontak seisi rumah langsung masuk ke mobil, siap siaga dengan panik dan muka bingun akan apa yang mereka katakan. Tapi yang jelas teriakan dan suasana sepanjang jalan itu membuat kami panik bukan main. Begitupun dengan penghuni kompleks yang lain. Padahal logikanya, air laut tidak akan mungkin setinggi itu, karena Kaliurang termasuk daerah yang cukup tinggi dari laut. Itu pula yang membuat kami berusaha untuk tenang. Setidaknya menenangkan diri kami sendiri dan orang-orang yang dekat dengan kami. Walaupun orang-orang tetap panik. Terutama mereka yang memang sudah membawa tas-tas besar untuk mengungsi dengan kendaraan mereka.

Akhirnya temanku datang, setelah disuguhi kepanikan yang ada, dan sudah mulai menenangkan kami, karena ia memang dari bawah, kamipun memutuskan untuk berubah arah. Ke bawah menuju kampusnya di daerah Taman Siswa. Sebelum itu aku berniat menitipkan tasku ditempat tinggalnya di dekat Mandala Krida. Disepanjang perjalanan wajah-wajah panik masih menyelimuti orang-orang. Sesekali kami melihat orang-orang yang terluka bersama istri, suami atau anak mereka. Dan ternyata salah satu bangunan di mandala Krida ambruk, dan menurut keterangan saksi, banyak korban yang luka-luka karena ambruknya bangunan itu.

Akhirnya kami sampai di tempat tinggalnya, di salah satu rumah dinas kejaksaan di daerah Baciro. Di sana sempat beberapa kali kami keluar masuk, karena beberapa kali pula gempa susulan mengguncang kami. Di sekitar kompleks ini juga ada beberapa bengunan yang ambruk, karena memang sudah tua atau memang yang strukturnya kurang bagus. Tapi kebanyakan masih kokoh berdiri, hanya genting-genting saja yang pecah dan tembok yang sedikit retak.

Setelah Shalat Dzuhur kami menuju kampusnya di Jl. Taman Siswa. Beberapa genting pecah, tembok pun retak bahkan sampai berkeping jatuh ke halaman. Lebih kaget lagi, ketika kami melihat, tepat di depan kampusnya satu gang, bangunannya banyak sekali yang rubuh, bahkan menurut keterangan yang kami dapatkan ada 3 orang korban jiwa. Satu orang anak kecil berumur 2 tahunan yang meninggal seketika karena tertimpa tembok rumahnya saat ia bermain sepeda bersama kakaknya. Selain itu bangunan sekolah, tempat ibadah juga banyak yang roboh di sekitar Yogya kota.

Mereka berkumpul disepanjang gang, sedang menikmati makan siang seadanya. Apa yang memang mereka punya. Yang rumahnya masih kokoh, menggelar tikar dan duduk teras rumah mereka. Tidak ada yang berani tinggal di dalam rumah, karena mereka masih ketakutan kalau-kalau akan terjadi lagi gempa. Begitupun dengan yang lain. Banyak warga yang sengaja berkumpul di depan rumah, di sepanjang gang, atau bahkan di lapangan-lapangan, berikut barang-barang yang berharga bagi mereka.

Dipingggiiran jalan mereka berdiri melihat keadaan sekitar. Sepanjang jalan Kaliurang macet. Pom bensin yang ada dipoenuhi antrian motor dan mobil yang mengantri mengisi bahan bakar kendaraan mereka. Begitupun dengan kios-kios penjual bensin. Bahkan ketika hari sudah siang, sekitar pukul 1 siang bensin di kios-kios dijual sampai dengan harga Rp10.000 satu liter. Bahkan menurut berita terakhir yang didapatkan dari obrolan dengan Walubi di Yogya, ternyata penjarah-penjarah yang hadir memang bukan dari korban sendiri melainkan orang luar. Dengan taktik yang memang sudah direncanakan dengan matang. Dengan bermodal beberapa kardus mie mereka dapat mendapatkan lebih dari itu. Mmmmh…Kenapa masih ada saja orang-orang yang memanfaatkan kesulitan orang lain? Indonesia…. Indonesia….Dimana rasa kemanusiaan itu?***

Jaiponganku Sayang Jaiponganku Malang….

Posted by: Irma Essanovia on: Saturday, 6 September, 2008

Blak ting pong….Blak ting pong…Blaktuk..blaktuk..

Menggema di ruang ini. Bulu kuduk merinding seakan mendengar sesuatu yang sudah lama tak terdengar. Suara-suara ini mengingatkan penulis pada puluhan tahun yang lalu, sewaktu penulis kecil dan sempat diajari tetangga menari jaipongan bersama beberapa orang teman. Sekitar tahun 1988 waktu itu, penulis masih duduk di kelas 1 SD. Sekian tahun yang silam melodi-melodi itu hampir tak terdengar lagi, rupanya waktu dan orang-orang semakin berlari menjauh meninggalkannya. Sampai akhirnya jaipongan hanya menjadi sebuah kenangan kejayaan masa silam. Mataku tertegun…waktu sekan membeku, dan memori-memori lama seolah dibangkitkan kembali ketika kulihat 1 remaja dan dua orang anak kecil yang sedang menari jaipongan. Di depan mereka duduk bersila seorang guru perempuan dekat sebuah tape yang dengan seriusnya memperhatikan gerakan ketiga muridnya. Ya….inilah padepokan seni Jugala.

Dari luar kita tidak akan pernah menyangka kalau disini ada pojok-pojok yang berbau seni. Labelnyapun tidak nampak dari depan, padahal letaknya pinggir jalan. Masuk sedikit ke dalam, sepi….sebuah rumah biasa di Jl. Kopo No 17, Tapi ternyata di dalamnya banyak nafas kegiatan mulai dari EO, travel, sanggar tari, sampai istana seorang seniman legendaris pencipta Jipongan yang mendirikan padepokan Jugala di era 80-an. Ada sebuah gang kecil yang mengelitik mengajak kita mengikuti alur lorongnya, menaiki satu per satu anak tangga sampai suara-suara gamelan terdengar menggema di ruangan itu, lantai 2 bangunan itu. Ya…ruangan inilah, ruang berukuran lumayan besar, dengan lantai kayu plitur sebagai alasnya, berlangit-angit tinggi dengan deretan cermin di satu sisinya yang menjadi tempat Yayah dan murid-muridnya berlatih Jaipongan.

Didirikan sekitar tahun 80-an ketika Jaipongan lahir menambah keragaman seni tari tradisional Indonesia, khususnya di dataran Parahyangan. Gugum gumbira lah pendirinya yang juga pencipta tari pergaulan ini. Tarian yang kini sudah menjadi tarian identitas Jawa Barat. Mungkin ini pula yang akhirnya membuat Jaipongan ini ditinggalkan begitu saja karena hanya menjadi sebuah identitas. Orang Sunda cukup mengenal tarian ini….sudah itu selesai. Kini hanya pada acara kebudayaan saja Jaipongan ini dipertunjukkan. Tidak seperti dulu, dimana ada keramaian, disitu Jaipong dipertontonkan. Bagaikan tarian wajib yang harus ada di setiap acara. Mulai dari acara hajatan sampai pada acara-acara besar yang bersifat nasional sampai bertaraf internasional.
Semua orang ingin bisa menari jaipongan, semua orang berlomba-lomba mencari guru jaipongan yang paling hebat. Sanggar-sanggar tari jaipongan pun bermunculan bak jamur di musim penghujan. Sampai para selebrtitis kita, yang berasal dari dataran pasundan pada masa itu beradu cepat menguasai gerakan-gerakan dalam tari jaipongan. Sebut saja Tati Saleh (Alm), Camelia Malik, dan banyak lagi yang lainnya. Hampir di setiap pelosok ada penari jaipong yang ingin menularkan keahliannya dalam mengolah rasa dan raganya dalam gerakan-gerakan yang lincah, riang dan dinamis yang menjadi ciri khas dari tari Jaipongan karya Gugum Gumbira ini.

Jaipongan ini memang unik, selain menyenangkan untuk ditarikan, ditonton, geraka-gerakanya yang lebih ke gerakan pencak silat menurut penciptanya ini, dapat membuat penarinya banyak menggerakan otot-otot, dari kepala sampai ujung kaki, sehingga mengelurakan keringat lebih banyak dibandingkan tarian klasik yang cenderung lemah gemulai, sehingga disadari atau tidak, dengan berlatih jaipongan secara rutin, membuat penarinya memiliki badan yang bagus, terutama untuk wanita. Dengan menari Jipongan, selain melestarikan budaya Sunda yang hampir punah ini, anda juga akan mendapatkan badan yang bagus.

Tapi tidak semudah itu, untuk menjadi seorang penari, anda harus menguasai gerakan-gerakan jaipongan yang beragam, jangan pernah bermimpi anda akan langsung diajari menari dengan musik jika anda belajar di Jugala. Sebelumnya anda akan diajari gerakan-gerakan dasar yang nantinya akan diaplikasikan pada gerakan dalam tarian Level-1 pada Lagu “Oray Welang” dan jika sudah menguasai gerakan ini, akan mudah untuk naik ke level selanjutnya dengan gerakan yang lebih rumit dan beragam. Tidak hanya gerakan saja yang harus dikuasai seorang penari jaipongan, ia juga harus kuat fisik dan mental. Karena untuk menjadi seorang penari profesional anda harus tak kenal lelah dari melatih gerakan-gerakan, apalagi bosan. Berikutnya baru belajar menjiwai gerakan-gerakan itu, dengan begitu, sebuah tarian jaipongan menjadi utuh, ada roh jaipongan pada penarinya. Walhasil terian yang anda tarikan menjadi indah dan mempunyai daya tarik tersendiri bagi penionton. Dijamin penonton tidak akan berkedip melihat anda menari.

“Dulu tuh dalam satu hari kita bisa sampai 6 kali manggung, dalam satu minggu ga ada yang kosong.” Kenang Yayah Rokayah, pentolan dari penari Jugala yang kini menjadi instruktur tari di padepokan almamaternya ini, menceritakan pengalaman wanita yang berkelahiran 8 Maret 1968 ini sewaktu ia masih aktif menjadi penari pada era 80-an ketika Jaipongan benar-benar eksis di Indonesia. Khususnya Jawa Barat. Dalam satu kali pertunjukan, biasanya ia membawakan 1-2 tarian jaipongan. Jadi bisa dibayangkan betapa menjanjikannya profesi sebagai penari jaipongan pada masa itu. Padahal baginya, menari sudah menjadi keinginan hatinya dari waktu ia kecil. Dari tari klasik yang dikuasainya sebagai buah dari rengekan wanita kelahiran 8 Maret 38 tahun yang lalu ini kepada ibunya dulu, akhirnya ia memutuskan untuk pindah jalur dan mulai belajar tari jaipongan di padepokan Jugala tahun 1985.

“Baru belajar nari 2 bulan, Bapak(Gugum Gumbira) ngeliat, dan saya langsung ditarik untuk menjadi penari inti di jugala” sebelum ,menjadi penari inti, ia digojlok oleh si pencipta jaipongan, guru besar padepokan Jugala, hingga akhirnya eksis sebagai penari Jugala pada masa itu. Karena ia menari dengan hati,maka ia tidak pernah bosan untuk bergelut di dunia ini. Sampai kini ia mengabdikan diri untuk menjadi guru tari Jaipongan, tidak hanya di Jugala, tapi juga dibeberapa sanggar tari dan sekolah tari.

Di jugala ini, ada 5 level. Setiap level rata-rata memakan waktu 4 bulan. Seteleh diuji dan dinyatakan layak naik tingkat, maka siswa berhak naik level dengan tarian baru yang tentu saja memiliki tentangan yang lebih tinggi, karena tingkat kesulitan gerakan maupun ragam dari gerakan itu. Jika level 1-5 sudah dilalui, selanjutnya akan diuji lagi, jika memang sudah layak untuk menjadi seorang penari maka anda akan dilatih lebih intens lagi oleh Mira Tejaningrum, anak sulung dari Gugum Gumbira sang guru besar, kemudian oleh Gugum sendiri dan setelah melalui penggojlokan itu anda siap bergabung dengan grup Jugala untuk mempertunjukkan tari Jaipongan.

Sampai saat ini, hampir semua benua sudah dijejaki oleh Grup Jugala untuk menampilkan seni tari Jaipongan ini, yang ternyata kini lebih dihargai dan dicintai di negeri orang dibandingkan di negeri kelahirannya sendiri. Ya….begitulah kenyataanya, Jaiponganku sayang Jaiponganku malang….. ***

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Bandung&Beyond’

Kawah Putih Wisata Alternatif Bandung Selatan

Posted by: Irma Essanovia on: Saturday, 6 September, 2008

Kalau kamu udah bosan ke dataran tinggi utara kota Bandung alias Lembang, Coba kita berbalik arah ke Selatan. Di sana juga banyak sekali objek wisata dengan pemandangan alam yang keren abis. Seperti yang akan kita kunjungi kali ini. Mungkin Kamu pernah dengar kalau di Bandung ada kawah yang warna airnya putih terkadang hijau ke biru-biruan seperti warna laut? Jadi orang Bandung yang enggak punya laut bisa menipu mata kita melalui foto, karena jika foto itu kita lihat sangat mirip dengan laut, bahkan jika airnya berubah putih akan terlihat seperti hamparan salju di negeri Sakura. Keren kan?

Letaknya 46 KM dari Bandung kota. Terus ke selatan melewati Dayeuh Kolot, Banjaran sampai pada satu cabang yang akan menentukan pilihan kemana kita akan pergi. Ke Pangalengankah atau ke Ciwidey. Kali ini kita pilih Ciwidey kan? So…kita arahkan setir ke kanan melewati pesawahan, perumahan sampai akhirnya bertemu dengan Kabupaten Bandung yang terletak di Soreang, kemudian mulai masuk ke kawasan Ciwidey yang kini sudah mulai dilengkapi dengan sarana umum, seperti pasar, taman kota, bahkan pom bensin yang baru saja dibangun yang akan melayani kita selama 24 jam, jadi kita nggak usah kuatir keabisan Bahan bakar di perjalanan.

Lewati beberapa hotel dan penginapan dikiri kanan jalan semakin ke atas, buat kamu yang suka strawbery di sepanjang jalan juga dapat kamu temukan penjual strawbery yang buahnya dapat kita petik sendiri, serasa punya kebun strawbery deh….Jangan keenakan panen Strawbery dulu, karena kita belum menemukan apa yang kita cari. Dingin nya sih sudah mulai terasa, Kaliurang aja lewat……Jadi siap-siap aja pake jaket tebal untuk membuat tubuh kita tetap hangat, atau pastikan AC mobil kita masih berfungsi dengan baik. Tapi tenang….Dingin yang kita rasakan akan sebanding dengan apa yang akan kita liat nanti. Jadi nggak akan rugi deh!

Akhirnya….setelah 46 KM kita sampai juga di Objek Wisata Kawah Putih. Dari arah Bandung, di sebelah kiri jalan dapt kita temukan plang yang bertuliskan “Kawah Putih”. Mari kita masuk, dan sudah tentu membayar uang masuk yang pasti terjangkau abis…untuk seorang Rp 3.500,- dan mobil Rp 3.000,- buat kamu yang lebih senang berpetualang dengan sepeda motor cukup bayar Rp1.000 saja, daripada harus naik ke atas dengan mobil angkut dengan tarif Rp 6.000,-per orang, bahkan kalo memang sedang sepi mau tidak mau kamu harus memborong mobil itu yang bisa sampai 70-80 Ribu pulang pergi sampai ke Kawah yang berjarak ±6 KM. Seperti yang dituturkan Beny (23Tahun) sebagai Guide di tempat wisata ini.
*

Setelah menyusuri jalan-jalan kecil yang berkelok, naik, naik, dan naik…….terus, akhirnya kita sampai di kawah putih yang terletak di gunung patuha ini. Disebut patuha konon berasal dari kata “Pak Tua”, sehingga orang-orang setempat sering menyebutnya dengan “Gunung sepuh”, sepuh adalah bahasa Sunda yang artinya tua. Kawah yang berketinggian 2,434 diatas permukaan laut ini membentuk sebuah danau yang luasnya sekitar 5 hektar ini memang mempunyai air yang bisa berubah warna, hal itu disebabkan kandungan belerang yang ada di dalamnya. Jika sedang musim hujan air bisa naik ke atas dan membuat danau belerang bertambah luas. Dan jika hujan tiba…kawah bahkan tidak tampak, tertutupi kabut tebal yang menyelimutinya. Danau ini dipagari oleh tebing yang terjal disekelilingnya, kecuali tempat kita masuk yang memang sudah dibuat sedemikian rupa.

Kini hanya tinggal menuruni satu persatu anak tangga yang lumayan banyak untuk sampai ke kawah. Kalau kita datang di hari Sabtu atau Minggu kita dapat menikmati fasilitas lebih, seperti warung yang menjual makanan-makanan pengganjal perut atau bahkan ‘Bandrek Abah’ yang dapat menghangatkan tubuh anda. Karena di sini, di sekeliling kawah….udara jauh lebih dingin dibandingkan ketika kita masih di bawah (red: gerbang masuk). Selain itu, ada juga jagung manis bakar yang wuenak banget kalo disantap hangat-hangat sambil menikmati keindahan kawah. Untuk memanjakan telinga kita, ada seorang kakek tua yang memainkan tembang-tembang parahyangan dengan petikan kecapi-kecapinya (Red: alat musik khas Sunda dari kayu dan dawai yang dimainkan dengan cara dipetik ) membuat suasana semakin bertambah gimana……gitu…..

Dengan pemandangan yang luar biasa indah ini, tak jarang pasangan-pasangan yang akan menikah bersama fotografer mereka mengambil foto pra-wedding di tempat ini, selain memang biayanya cukup murah dibandingkan dengan wisata alam lain, di sini juga memang memiliki tidak dikenakan tarif foto. Kecuali kalau untuk iklan dan film yang sudah berkali-kali dilakukan di tempat ini. Nggak cuman mereka yang mau nikah aja boleh difoto di sini, kamu-kamu juga bisa membuat foto-foto keren kamu di tempat ini. Bisa berpose sepuasnya dengan pilihan view yang lumayan banyak. Buat nambah koleksi foto kamu, kenapa nggak.. Daripada difoto distudio yang bisa bikin kamu bangkrut karena biayanya yang nggak kuat, lagian background yang alami di sini bener-bener Cool banget. Kamu juga bisa berpose bak bintang iklan shampo dengan tiapan angin sungguhan yang bukan dari kipas angin yang biasanya digunakan distudio-studio foto. Asyik kan? Tapi bawa kamera sendiri ya! Jangan lupa bawa fotografernya, kalo sendirian kayaknya susah juga deh….

Buat Piknik, alias makan bareng…tempat ini juga asyik. Kamu nggak usah khawatir nggak bisa makan dengan nyaman, kerena sudah disediakan beberapa ‘saung’ (red: pendoponya orang sunda) Bau belerang kayaknya nggak jadi amsalah deh, dibandingin nikmatanya makan bareng, rame-rame sama keluarga atau teman-teman kamu. Semuanya pasti jadi nikmat, apalagi makannya ngegelar tikar, nasi anget, ayam bakar, pake lalapan, plus sambal terasi yang pedes… banget……pake tangan pula……Mmmhh……Yummy……Palagi hawanya yang dingin sekalee…, pasti bikin perut kamu lapar dan lapar lagi…..bisa nambah berkali-kali nih….. Pasti kamu-kamu dah pada ngiler duluan ya?….

Selain makan, asyik juga kayaknya kalau jalan-jalan sekitar kawah ini. Sambil menikmati pemandangannya, udaranya, anginnya, dinginnya, sejuknya yang nggak akan kamu dapet di tempat lain, karena kawah putih…ya cuman ada satu di Bandung. Kalau kamu gemar menjelajah hutan….kamu bisa naik ± 2 Km lagi dari situ dan bisa kamu temukan “Kawah Saat” yang bentuknya mirip-mirip Kawah Kalimutu di pulau seberang sana. Kamu juga bisa kemping di sekitar sini, asal jangan sampai melewati ketinggian 25 meter dari bawah, karena itu merupakan hutan liar. Masih banyak macan kumbang dan binatang buas lainnya.

Kalau kamu mau lebih aman lagi, kamu bisa menyewa sebuah dusun di bawah. Namanya ‘Pasanggrahan” dalam bahasa Sunda artinya tempat peristirahatan. Pihak pengelola kawah ini menyediakan beberapa pasanggrahan yang disewakan dengan tarif Rp 250.000,- per malam. Kapasitasnya 50 orang. Fasilitas lengkap, namun dikenakan biaya tambahan, seperti Rp 25.000,- untuk lentera, dll. Tapi untuk kenyamanan kita kenapa tidak?
Selama ini memang cukup banyak mahasiswa atau pelajar yang menggunakan pasanggrahan ini sebagai tempat istirahat mereka dari event-event yang memang sengaja mereka adakan, unuk sekedar refreshing saat liburan atau weekend atau untuk pelatihan-pelatihan. Mereka bisa mengadakan api unggun atau ber-barbeqyu ria di sini, setidaknya tempat ini lebih nyaman dibandingkan dari membuat kemah, karena suhu yang memang sangat dingin, apalagi malam hari, terlebih kalau hujan turun.
**

Kalau udah selesai jalan-jalan, foto-foto, makan-makan, ngobrol-ngobrol, ngapain lagi kalo bukan nyari oleh-oleh. Tenang….nggak usah khawatir, kita biasa dapetin ko di sini. Kalo untuk makanan nanti aja sekalian turun. Kamu bisa beli strawbery yang petik sendiri, manisan kalua yang terbuat dari kulit jeruk, dodol Sirsak, Strawbery atau tomat yang dibungkus kecil-kecil dengan plastik transparan. Buat yang ketagihan minum Bandrek abah, ada ko yang dijual perbotol, jadi kamu tinggal seduh aja dan dijamin perut kamu anget dan bebas masuk angin.
Kamu juga bisa beli peyeum Bandung yang udah ngetop itu, atau beli susu sapi asli di Koperasi di Pasir Jambu Ciwidey, karena di sana banyak juga yang beternak sapi perah… Mmmhh..enak tuh kalo diminum anget-anget ditambah sedikit karamel buat kamu yang suka manis, atau tawar aja buat kamu yang lebih suka susu murni. Buat kamu yang suka ngemil, kerupuk gurilem yang warnanya macem-macem padahal rasanya sama aja, bisa jadi pilihan kamu, lumayan lah buat cemilan di jalan, tapi jangan diabisin. Jangan-jangan nyampe Yogya lagi, oleh-olehnya dah pindah ke perut semua….He he he…Laper apa doyan?

Semua itu bisa kamu dapetin di pasar, atau toko-toko kecil sepanjang jalan Ciwidey. Harganya nggak akan mahal….dijamin….Kamu juga akan dilayani oleh orang-orang Bandung yang terkenal ramah itu. Pasti nggak nyesel deh beli oleh-oleh di sini Selain dapet oleh-oleh yang enak, macem-macem, juga dapet senyum manis gitu, semanis manisannya. Tapi …masih kalah manis lah dibandingin gula jawa.

Gimana asyik kan berwisata ke Kawah Putih? Biar semua rencana kamu berjalan lancar ada beberapa Tips yang pasti berguna banget buat kamu yang mau nyoba ke Kawah putih ini.
 Siapkan kendaraan yang memang bisa dipake untuk tanjakan yang tinggi (yang masih bertenaga lah…) biar kamu bisa sampe atas dengan selamat, Soalnya lumayan loh dari bawah ke atas….tanjakannya gila….
 Biar kamu nggak keabisan bensin mending diisi full aja deh…soalnya, gila aja kalo udah mo nyampe bensinnya abis….Hiks….sedih banget deh kyaknya…
 Bagusnya sih nyampe sananya sekitar jam 11 pagi sampe jam 2 an deh…soalnya kalo sore, atau kepagian berkabut, jadi kurang bagus aja view-nya, bisa-bisa emang nggak keliatan kawahnya.
 Kalo bisa jang pas hujan, pake dong pawang-pawang hujannya, atau ilmu perbintangan kamu, biar nggak hujan pas ke sana. Soalnya Bete aja kalee.. kalo pas ke sana hujan, yang ada kamu malah sakit karena kedinginan. Dan nggak bisa ngapa-ngapain disananya. Rugi banget kan?
 Bawa makanan dari bawah aja…kali aja kamu yang cepet laper gitu, jadi nggak akan kelaperan di atas, soalnya kan belum tentu makanan kesukaan kamu ada di atas, lagian biar hemat juga kali ya….
 Kalo kira-kira udah mulai gelap, mending kamu cepet-cepet turun, selain gernang emang ditutup jam 6 sore, klo udah gelap serem aja di jalannya….soalnya nggak ada penerangan, jadi jalannya gelap gulita sekalee…palagi buat kamu yang penakut…jangan coba-coba deh!
 Jangan lupa bawa kamera, that is the most important thing yang HARUS kamu bawa…..rugi banget deh kalo nggak bawa, apalagi kalo kamu emang sengaja ke kawah putih buat foto-foto….yang bener aja kalee…
 Jangan ngomong sembarangan, mendingan bersyukur aja deh sama yang diatas karena kamu udah dikasih liat karyanya yang indah banget. Padahal itu kan sebenernya hasil letusan di abad X dan XII.

Ok deh….puas rasanya dah jalan-jalan ke Kawah putih…Sekarang Giliran kamu! Selamat Mencoba….dijamin deh sekali coba, kamu pasti ketagihan. Nggak bingung lagi kan? sekarang kamu punya alternatif baru kalo kamu lagi liburan di Bandung. Happy Holiday Guys…..***

Tua Segalanya ‘Hotel Surabaya ’Bangunan Bandung Tempoe Doeloe yang Tak Berubah Fungsi

Posted by: Irma Essanovia on: Saturday, 6 September, 2008

Baru aja kita ngelewatin Imlek. Buat kamu yang merayakan, pasti bermakna banget ya? Gong Si Pa Choi! Ngomong-ngomong tentang Imlek atau tahun baru Cina, jadi inget pecinaan, warna merah, angpaw, lampion, kelenteng dan bangunan-bangunan khas yang berasitektur Cina. Bandung juga masih punya loh bangunan yang berasitektur Cina! Salah satunya ‘Hotel Surabaya’ yang kini menjadi cagar budaya yang juga dilestarikan oleh Bandung heritage. Hotel ini menurut paguyuban pelestarian budaya Bandung di tahun 1997, didirikan pada tahun 1860, namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa hotel ini didirikan tahun 1900-1905 (Moh. Gufron ITB, tahun 1994). Bangunan ini merupakan bangunan perpaduan antara arsitektur gaya Belanda klasik dengan gaya Cina. Berdiri di atas lahan seluas 2.475m2 dengan luas bangunan 1.582 m2.

Dilihat dari luar…hotel ini memang lebih seperti seonggok bangunan tua yang tak terawat, namun siapa sangka, sampai saat ini hotel ini masih berfungsi sebagai hotel, ini uniknya! Dari awal dibangun sampai saat ini fungsinya tak berubah, walaupun jika ditanya masalah persaingan, hotel ini memang bisa dibilang bukan apa-apa dibanding hotel-hotel lain yang banyak bertengger di kota Bandung. Hotel yang menawarkan gaya modern dengan pelayanan serta fasilitas yang juga modern. Dengan fungsinya yang tak berubah, Ia bertahan tegak dengan gagahnya sebagai bangunan bersejarah di kota kembang ini. Tak peduli zaman dan perkembangan meninggalkannya, ia tetap berjalan perlahan dengan sederhana dan seadannya.
Mari kita dekati, sedikit demi sedikit masuk melewati pintu gerbang sebelah kiri yang selalu terbuka. Kita disambut dengan sebuah kios rokok yang juga sudah lama mangkal di situ. Cukup unik, tidak seperti hotel-hotel pada umumnya yang disambut dengan sebuah pos satpam atau security. Naik ke anak-anak tangga yang semuanya berketinggian tak lebih setengah meter, kita temukan resepsionist yang lebih senang menamai mereka sebagai bagian administrasi. Deny dan rekannya yang siang ini, dan hari-hari lain bertugas mencatat orang-orang yang check in dan check out di hotel ini. Mereka duduk di kursi dengan meja yang memang sudah tua, tapi masih terlihat kokoh berwarna cokelat pelitur. Disampingnya ada lukisan keluarga Paramita yang memiliki bangunan ini. Juga denah dan beberapa catatan sejarah mengenai hotel ini dengan bahasa Belanda.

Ia ramah, sampai tahu kalau kuli tinta yang berkunjung, apalagi ketika saya katakan ingin mewawancarainya bekaitan dengan hotel ini sebagai salah satu cagar budaya. Dia angkat tangan, bahkan tidak mengijinkan mengambil foto interior hotel ini, tapi ndak usah kuatir, karena kepala ini cukup menyimpan memori tentangnya. Semoga saya dapat menggambarkan bangunan bersejarah ini dengan sebaik-baiknya, karena untungnya….beliau masih mengijinkan saya untuk menelusuri lekuk-lekuk dari hotel yang konon juga dibuat oleh orang-orang Cina yang memang sengaja didatangkan untuk membangun hotel ini.

Di depan para resepsionist ini ada satu ruangan yang biasanya disebut lobi hotel. Ruang duduk para tamu yang sudah ataupun yang akan masuk hotel ini. Luasnya tidak seberapa, namun cukup nyaman kalaupun kita ingin berlama-lama duduk di sini. Sambil melihat kedua resepsionist tadi tentu saja, karena letaknya memang bersebrangan, otomatis mata kita akan tepat memandang mereka. Kecuali jika kita duduk di sebelah kiri atau di kanannya. Di sini ada lemari dan beberapa lukisan menempel di dinding putih yang mulai pudar mendekati warna krem. Begitupun warna lukisannya yang agak kekuning-kuningan termakan usia. Ya….menjadikannya semakin tua….

Setelah berlama-lama di lobi, mari kita telusuri ruang-ruang lain diantara kamar-kamar hotel yang ada, yang berjumlah 50 kamar, karena memang ada beberapa yang dirubah menjadi ruangan agar interiornya tidak terkesan sempit dan gelap. Kebanyakan menjadi ruang terbuka dengan kursi dan meja untuk nongkrong para tamu. Karena memang sengaja dibuat seperti itu. Hampir setiap blok kamar memiliki minimal sepasang kursi dan meja yang dilengkapi vas bunga, asbak, dan tempat sampah di setiap sudutnya, karena memang aturan yang diberlakukan di hotel ini cukup tegas, begitupun dengan larangan untuk menginap bagi pasangan yang bukan suami istri. Jadi buat yang kalian yang belum menikah, jangan coba-coba menginap satu kamar di hotel ini! Pasti ditolak mentah-mentah deh…

Sebagai bangunan bersejarah, mereka tetap berusaha mempertahankan bentuk-bentuk dasar dari bangunan ini, yang memang perpaduan antara gaya Belanda dan Cina. Gaya Belanda dapat terlihat dari langit-langit dan pintu yang menjulang tinggi. Di setiap kamar kebanyakan tidak berjendela kaca biasa, sehingga jendela hanya difungsikan sebagai aksesoris bangunan saja. Dengan warna kaca-kaca kecil yang beraneka di pintunya. Sampai saat ini yang dilakukan hanya pemeliharaan saja. Dengan karyawan yang kurang lebih 18 orang, hotel ini masih layak untuk dijadikan tempat kita menginap, walaupun memang apa yang mereka berikan memang tidak semegah pelayanan dan fasilitas di hotel lain, karena mereka juga memang tidak meminta banyak dari kocek kita. Dengan Rp 35.000,- saja kita masih bisa menginap di hotel ini. Tapi sendiri, di kamar standar yang hanya 1 kasur kecil di dipan yang juga furniture gaya jaman dulu yang memang masih tampak kokoh di setiap kamar yang dilengkapi dengan lemari meja dan kursi yang lagi-lagi klasik. Untuk yang ingin menikmati kasur dan kamar yang lebih besar, dengan ranjang kayu yang klasik, yang masih dilengkapi dengan kelambu, Jadul banget deh pokoknya….bisa pesen kamar yang lebih besar.
Tidak hanya lukisan, kursi dan meja klasik yang dapat kita temukan di sini, tapi juga peti, lemari, dan benda-benda furniture lain yang terbuat dari kayu, rotan, atau dipadukan dengan elemen-elemen logam di koridor-koridor kamar hotel ini. Mereka ada, tapi sudah tidak difungsikan lagi sebagaimana mestinya, seperti lemari kosong, peti, ataupun rak buku yang dibiarkan kosong tanpa buku pernak pernik dan aksesoris apapun. Mereka hanya dijadikan benda tua dan mati yang menambahkan kesan bangunan tua saja, memang seperti itulah adanya.

Seperti rak buku yang ada di lorong, rak yang cukup unik, karena ditengahnya ada satu kursi dari rotan yang menempel pada rak buku ini. Di lorong ini cukup gelap, pengap, lembab, maklum, mungkin karena membentuk sudut dengan luas yang hanya sekitar 1×3 meter menyerupai leter L menuju ruang berikutnya yang lebih lega. padahal siang hari waktu itu. Tapi tidak usah khawatir kalau malam pasti terang, walaupun suasananya akan sedikit lebih sepi. Ada 2 lampu yang tergantung di situ, satu bulat, satu lagi kotak. Memang hampir di seluruh ruangan terdapat lampu-lampu neon yang bersembunyi di kaca-kaca lampu antik, lebih seperti lampion, bahkan ada yang memang mirip lampion, neon dalam kotak yang garis tepinya merah dengan ukiran besi khas Cina dibeberapa ruangan, seperti yang tergantung anggun di dekat rak buku di lorong tadi.

Di bagian belakang, ada sebuah koridor yang berukuran cukup besar, luasnya sekitar 100 meter persegi yang lebih mirip ruang terbuka atau biasanya orang sebut teras. Namun di sini kita dapat menemukan beberapa set kusi dengan model dan warna yang berbeda satu sama lain. Begitupun dengan mejanya, ada yang dari kayu dan ada pula yang dari marmer yang dilengkapi dengan vas bunga di atasnya. Tepat di pinggirnya, bersandar pada dinding bupet berkaca. Di atasnya ada sebuah frame foto suami istri yang empunya hotel. Koridor ini menghadap halaman belakang yang letaknya tepat didepannya, bagian samping hotel. Tamannya memang biasa saja, tapi cukuplah untuk menyegarakan mata yang baru terjaga dari mimpi, atau untuk menghirup udara segar sambil minum kopi di pagi hari yang memang salah satu fasilitas yang diberikan hotel ini pada para tamunya. Karena untuk makan para tamu biasanya mencari sendiri di luar. Hotel tidak menyediakan fasilitas ini.

Tak jauh dari koridor ini selain di belakang ruang TV kita dapat temukan tangga yang menuju lantai atas. Di atas sini juga terdapat beberapa kamar, yang kini memang jarang terisi, karena tamu-tamu bisanya lebih banyak di bawah, selain karena tamunya yang memang tidak terlalu banyak. “Bisa di hitung jari lah….kebanyakan sales yang kesini, kalau nggak dari Surabaya, dari Yogya, atau Jakara.” Tutur Ishar (50 tahun) yang sudah 7 tahun menjadi Room boy hotel ini.

Di atas suasananya lebih klasik lagi. Selain lantai yang terbuat dari kayu, dindingnyapun berlapis triplek bercat putih. Kamar yang di bagian depan apalagi. Kamarnya lebih tinggi, langit-langitnyapun lebih tinggi dibandingkan dengan ruang bawah, sehingga tekesan lega. Di sini tidak segelap di ruang bawah, karena ruang terbukanya memang lebih banyak. Bahkan ada yang menghadap ke jalan. Jauh lebih sepi, lebih tenang dibandingkan dengan di bawah. Kesendiriannya benar-benar terasa di sudut-sudut ruang ini, apalagi di kamar. Dapat kita jadikan tempat bersepi diri.

Walaupun hotel ini letaknya di pinggir jalan, tapi dalamnya kita akan mendapatkan ketenangan. Adem rasanya berada di dalam. Selain karena udara yang memang adem, suasana dan interiornya yang klasik juga sangat mendukung. Menjadikan bangunan ini tua segalanya. Sampai kapan akan seperti ini? Kita lihat saja nanti!!!***